Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10
Mobil melaju tanpa suara berlebihan, hanya gesekan ban dengan aspal yang terdengar samar. Yurie duduk di kursi penumpang, tangannya terlipat di atas paha. Pemandangan kota berganti pelan di balik kaca jendela, tapi pikirannya tertinggal jauh di belakang—di tempat yang ingin ia datangi dan sekaligus ingin ia hindari.
Rumah sakit itu.
Tempat terakhir ibunya bernapas.
Kaiden menyetir tanpa banyak bicara. Sesekali ia melirik Yurie dari sudut mata, memastikan perempuan itu masih baik-baik saja. Ia tahu, perjalanan ini bukan hal sepele. Ada luka lama yang akan kembali dibuka, dan tidak semua luka ingin dikenang.
“Kau masih ingin melanjutkan?” tanyanya akhirnya.
Yurie mengangguk pelan. “Aku harus tahu. Kalau aku mundur sekarang, aku akan terus hidup dengan tanda tanya.”
Kaiden tidak menanggapi dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk, lalu kembali fokus ke jalan.
Mobil berbelok memasuki area rumah sakit lama—bangunan besar dengan cat dinding yang mulai pudar, namun masih berdiri kokoh. Tidak ada yang berubah secara mencolok, tapi bagi Yurie, tempat itu terasa asing sekaligus menyesakkan.
Begitu turun dari mobil, udara terasa lebih berat.
Yurie menarik napas dalam-dalam, menahan getaran kecil di tangannya.
“Kita tidak perlu lama-lama,” ucap Kaiden. “Hanya mencari arsip.”
Yurie mengangguk.
Di dalam, lorong rumah sakit tampak sunyi. Beberapa perawat berlalu-lalang, wajah mereka datar, seolah tidak membawa cerita apa pun.
Kaiden berjalan di samping Yurie, langkahnya tenang, tubuhnya seperti perisai yang tidak terlihat.
Mereka berhenti di bagian administrasi. Seorang pria paruh baya menyambut mereka dengan senyum formal.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Kami ingin mengakses arsip pasien bernama Shella Nazeeran,” ujar Kaiden lugas. “Sekitar tiga belas tahun lalu.”
Pria itu mengernyit. “Arsip lama biasanya disimpan di ruang khusus. Tidak semua bisa diakses.”
Kaiden mengeluarkan kartu identitas dan menyebutkan beberapa nama. Yurie tidak mendengar jelas, tapi perubahan sikap pria itu terlihat jelas. Senyumnya menghilang, diganti sikap lebih berhati-hati.
“Silakan tunggu sebentar,” katanya, lalu masuk ke ruangan belakang.
Yurie berdiri kaku. Detik terasa lambat. Setiap suara langkah membuatnya refleks menoleh.
“Kau boleh duduk,” kata Kaiden pelan.
Yurie menggeleng. “Aku tidak ingin.”
Beberapa menit kemudian, pria itu kembali. “Ikut saya.”
Mereka dibawa ke ruang arsip—ruangan sempit dengan rak-rak besi tinggi, dipenuhi map dan kotak. Bau kertas tua bercampur debu memenuhi udara.
“Ini arsip medis almarhumah Shella Nazeeran,” ujar pria itu sambil meletakkan satu map tebal di atas meja. “Namun… ada beberapa bagian yang tidak lengkap.”
Yurie menahan napas.
Kaiden membuka map itu perlahan. Halaman demi halaman dibalik. Catatan pemeriksaan, hasil laboratorium, jadwal perawatan. Semuanya tampak normal—terlalu normal.
“Penyebab kematian tertulis komplikasi,” gumam Kaiden.
Yurie menggeleng kecil. “Ibuku tidak pernah sakit separah itu.”
Pria itu terdiam, lalu berkata pelan, “Ada satu laporan toksikologi… tapi tidak ada hasil akhirnya.”
Kaiden menatapnya tajam. “Hilang?”
Pria itu mengangguk ragu. “Seharusnya ada. Tapi tidak ditemukan.”
Yurie merasakan dadanya sesak. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. “Ada siapa saja yang menjenguk ibuku saat itu?”
Pria itu ragu. “Pengunjung biasanya tidak dicatat detail, kecuali keluarga inti.”
“Nama Agnesa,” kata Yurie tiba-tiba. “Apakah tercatat?”
Pria itu menelan ludah. “Ada.”
Yurie menatap Kaiden. Tatapan mereka bertemu—singkat, tapi penuh makna.
“Terima kasih,” ucap Kaiden. “Kami cukup.”
Di luar ruangan, Yurie bersandar pada dinding. Napasnya memburu.
“Aku benar,” gumamnya. “Aku tidak berhalusinasi.”
Kaiden berdiri di hadapannya. “Kau tidak gila. Kau hanya terlalu lama dibungkam.”
Mereka tidak langsung pulang.
Kaiden mengajak Yurie ke sebuah kafe kecil tak jauh dari rumah sakit. Tempatnya sepi, hanya beberapa pengunjung. Yurie duduk di dekat jendela, memandangi jalanan dengan mata kosong.
“Kau ingin bicara?” tanya Kaiden.
Yurie menggeleng, lalu mengangguk lagi. “Aku ingat sesuatu.”
Kaiden menunggu.
“Hari itu… Agnesa datang membawa minuman. Katanya dari Ayah. Mama ragu, tapi tetap meminumnya.” Suara Yurie bergetar. “Beberapa jam kemudian, Mama mulai sesak napas.”
Kaiden mengepalkan tangannya di bawah meja. “Dan ayahmu?”
“Dia datang setelah semuanya terlambat,” jawab Yurie lirih. “Dan memilih percaya pada Agnesa.”
Kaiden tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendengarkan—dan bagi Yurie, itu sudah lebih dari cukup.
......................
Sementara itu, di tempat lain, Agnesa duduk di ruang tamu rumah Nazeeran. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
Mereka mulai bergerak.
Agnesa menyeringai. “Biarkan,” gumamnya.
“Selama bukti utamanya masih aman.”
Kayla yang duduk di sampingnya menoleh. “Mereka ke mana?”
“Ke tempat yang seharusnya tidak mereka datangi,” jawab Agnesa tenang. “Dan itu artinya… kita harus bergerak lebih cepat.”
Malam kembali menyelimuti rumah Reynard.
Yurie berdiri di balkon, memandangi langit.
Kaiden menghampirinya, membawa selimut tipis.
“Kau bisa masuk. Udara dingin.”
Yurie menerima selimut itu. “Terima kasih.”
Kaiden bersandar di pagar balkon. “Kau menyesal?”
Yurie menggeleng. “Tidak. Aku hanya… lelah.”
Kaiden menoleh. “Beristirahatlah. Kita tidak sendirian dalam ini.”
Yurie tersenyum samar. “Aku tahu.”
Ia menatap Kaiden, lalu berkata, “Kaiden… jika suatu hari kebenaran itu menyakitkan semua orang, apa kau akan tetap melanjutkannya?”
Kaiden menatap langit gelap. “Kebenaran tidak pernah memilih siapa yang terluka. Tapi kebohongan selalu memilih korban.”
Yurie mengangguk pelan.
Di dalam rumah yang tampak tenang itu, dua jiwa berdiri di ambang perubahan besar. Masa lalu mulai membuka pintunya, dan tidak ada lagi jalan untuk menutupnya kembali.
Dan jauh di balik bayangan, seseorang tengah menunggu saat yang tepat—saat segalanya runtuh bersamaan.