Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Markas di Bawah Tanah
Langkah Arlan terasa berat saat ia menuruni tangga beton yang lembap. Di belakangnya, pintu besi berat baru saja dikunci oleh Mira dengan tiga putaran tuas mekanik yang kasar. Suara denting logam itu bergema di sepanjang lorong sempit, menciptakan atmosfer isolasi yang menyesakkan namun anehnya terasa lebih aman daripada dunia di atas sana yang baru saja ia tinggalkan—dunia di mana Sektor Tujuh mulai memudar menjadi statis kelabu yang mengerikan.
"Jangan menyentuh dindingnya, Arlan," Mira memperingatkan tanpa menoleh. "Catnya mengandung timah hitam dan karbon aktif. Itu bagian dari perisai frekuensi kami agar para Eraser tidak bisa memetakan apa yang ada di bawah tanah ini."
Arlan menarik tangannya yang hampir menyentuh permukaan dinding yang kasar. "Seberapa jauh ke bawah kita akan pergi?"
"Cukup jauh untuk membuatmu lupa bagaimana rupa langit hijau-kebiruan yang palsu itu," jawab Mira datar.
Lorong itu berakhir pada sebuah ruang terbuka yang luas, namun silingnya rendah dan dipenuhi jaring-jaring pipa uap serta kabel analog yang berseliweran seperti urat nadi raksasa. Bau oli mesin yang kental dan aroma kertas tua yang lembap langsung menyerang indra penciuman Arlan. Di tengah ruangan, cahaya lampu minyak yang hangat menerangi sebuah meja kayu besar yang dipenuhi peta kertas—peta Lentera Hitam asli tahun 2012 yang penuh coretan tinta merah, jauh sebelum kota itu menjadi salinan yang cacat.
Seorang pria dengan bahu tegap dan rambut yang mulai memutih berdiri di balik meja itu. Dante. Ia tidak memakai seragam, hanya kemeja flanel tua yang lengannya digulung hingga siku. Matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan Arlan.
"Kau terlambat dua menit, Kurir," suara Dante berat, berwibawa, dan tidak menyisakan ruang untuk basa-basi.
Arlan mendengus pelan, mencoba menahan rasa nyeri di telapak tangannya. Perban yang membungkus luka bakarnya akibat Koin Perak yang ia temukan sebelumnya masih terasa berdenyut perih. "Aku harus melewati penjaga tanpa wajah di gerbang sektor yang baru saja fragmentasi. Kurasa itu alasan yang cukup masuk akal."
"Alasan hanya berguna bagi mereka yang sudah mati," balas Dante dingin. Ia melangkah mendekat, auranya menekan ruang di sekitar Arlan. "Mira bilang kau membawa sesuatu dari Sektor Tujuh. Sesuatu yang seharusnya sudah terhapus bersama distrik itu."
Arlan meragu sejenak. Ia meraba saku jaketnya, merasakan bentuk koin perak yang kini berdenyut pelan. Dilema martabat menghantamnya; koin itu bukan sekadar benda, itu adalah residu memori terakhir dari ibunya yang tertinggal di apartemen kumuh itu sebelum semuanya dihapus.
"Koin ini milikku," kata Arlan tegas, matanya tidak beralih dari tatapan Dante.
"Di sini, tidak ada yang milikmu secara pribadi, Arlan. Semua yang kita kumpulkan adalah milik sejarah manusia yang sedang di ambang kepunahan," Dante mengulurkan tangannya yang kasar. "Serahkan koin itu. Kami perlu melakukan audit memori untuk memastikan kau tidak membawa gangguan frekuensi ke dalam bunker ini."
"Dan jika aku menolak?"
Dante menyipitkan mata. "Maka kau dipersilakan kembali ke atas sana. Menunggu sampai molekulmu diurai oleh para Eraser menjadi debu perak yang tidak berjiwa."
Mira yang berdiri di sudut ruangan menatap Arlan dengan tatapan memohon. Ia tahu betapa keras kepalanya Dante, namun ia juga bisa merasakan ketegangan sensorik yang memancar dari tubuh Arlan yang kelelahan.
"Arlan, ini prosedur standar," Mira menyela lembut. "Dante hanya ingin memastikan darah murnimu tidak terkontaminasi oleh proses penghapusan tadi. Mesin audit itu akan memvalidasi bahwa kau memang Arlan yang asli, bukan salinan tingkat tinggi yang dikirim untuk menghancurkan kami."
Arlan menarik napas panjang, sebuah napas manual yang ia kendalikan dengan sengaja untuk meredam amarahnya. Dengan gerakan lambat, ia mengeluarkan koin perak itu dan meletakkannya di telapak tangan Dante yang kering. Saat kulit mereka bersentuhan, Arlan merasakan sensasi yang mengejutkan. Tangan Dante terasa kasar, bertekstur, dan memiliki kehangatan sekitar 37 derajat Celcius. Manusia asli.
"Ikut aku," perintah Dante setelah mengamati koin itu sejenak. "Kita mulai proses auditnya sekarang."
Dante menuntunnya ke sebuah kursi besi di sudut ruangan yang dikelilingi oleh tumpukan tabung vakum dan layar osiloskop tua. Tidak ada komputer digital di sini; semuanya tampak seperti teknologi dari era yang sudah lama ditinggalkan, era di mana manusia masih mengandalkan sirkuit fisik.
"Duduklah," kata Dante sambil menyiapkan beberapa kabel sensor yang ujungnya berupa jarum-jarum halus. "Proses ini akan menarik paksa residu memori dari koin itu melalui darahmu sebagai konduktor. Ini akan terasa sangat menyakitkan bagi seseorang yang belum terbiasa."
Arlan menatap jarum-jarum itu dengan saksama. "Lakukan saja. Aku sudah cukup banyak merasakan sakit hari ini sejak aku menyadari tahi lalat di wajah ibuku berpindah posisi."
Prosedur Inisiasi
Mira mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Arlan. "Fokus pada detak jantungmu sendiri, Arlan. Jangan biarkan frekuensi mesin ini mengambil alih kesadaranmu."
Dante mulai memasang sensor pada pelipis Arlan dan satu jarum kecil pada ujung jarinya yang terluka. Arlan meringis saat jarum itu menembus kulitnya, namun ia menahan diri untuk tidak menarik tangannya.
"Audit dimulai dalam hitungan tiga," ucap Dante sambil memutar tuas pada sebuah alat besar.
Seketika, ruangan itu seolah menghilang dari pandangan Arlan. Suara dengung mesin berubah menjadi jeritan statis yang memekakkan telinga. Ia merasa seolah-olah ditarik paksa kembali ke gang sempit Sektor Tujuh. Ia melihat wajah ibunya, melihat air mata perak yang jatuh di lantai dapur, dan merasakan panas api yang menghanguskan ingatan masa kecilnya.
"Sakit sekali..." erang Arlan, tubuhnya mulai kejang di kursi besi.
"Tahan, Arlan! Jangan memutus koneksinya!" teriak Dante di tengah kebisingan frekuensi.
Di layar osiloskop, garis-garis hijau mulai melompat liar. Dante terkejut melihat pola yang muncul. Itu bukan pola gelombang otak biasa; itu adalah pola yang sangat murni, sangat tajam, seolah-olah Arlan sedang memancarkan energi yang menolak untuk disinkronkan oleh mesin.
"Dante, frekuensinya terlalu tinggi!" Mira berteriak panik. "Mesinnya akan terbakar!"
Arlan merasa otaknya seperti sedang diperas. Beban memori kolektif dari koin itu mulai mengalir masuk, mengancam untuk menghancurkan kewarasannya. Dalam kegelapan mentalnya, Arlan meraba sakunya dengan sisa tenaga yang ada. Ia menyentuh kunci rumah tua tanpa pintu yang selalu ia bawa.
Gunakan kunci itu sebagai jangkar, sebuah suara yang mirip ayahnya bergema di dalam pikirannya.
Arlan mencengkeram kunci itu erat-erat. Ia membayangkan seluruh kelebihan beban energi dari mesin audit dialirkan keluar dari kepalanya, masuk melalui lengannya, dan terperangkap ke dalam besi tua kunci tersebut. Arlan melakukan manipulasi ruang batin yang tidak ia pahami, sebuah solusi ketiga untuk menyelamatkan otaknya tanpa memutus validasi data Dante.
Perlahan, getaran hebat di tubuh Arlan mereda. Garis-garis di layar osiloskop mulai stabil dan membentuk pola yang sangat indah serta beraturan.
"Dia berhasil menstabilkan bebannya," gumam Dante dengan nada yang tidak percaya. "Dia menggunakan kunci itu sebagai pembuangan muatan statis."
Mira menghembuskan napas lega sambil menyeka keringat di dahi Arlan. "Kau baik-baik saja?"
Arlan membuka matanya perlahan. Napasnya masih manual, berat dan terukur. Ia menatap Dante yang kini berdiri mematung di depannya sambil menatap layar.
"Apa kau sudah melihat apa yang kau inginkan?" tanya Arlan dengan suara parau.
Dante melepaskan sensor dari pelipis Arlan dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati dari sebelumnya. Ia menatap Arlan dengan sorot mata yang kini dipenuhi rasa hormat yang enggan.
"Audit selesai," ucap Dante pelan. "Darahmu murni. Tidak ada satu pun baris kode Peniru di dalam selmu. Kau benar-benar manusia asli terakhir yang tersisa dari Sektor Tujuh."
Visi di Balik Meja Kayu
Dante menarik kursi kayu tua dan duduk di hadapan Arlan. Ia meletakkan koin perak yang kini telah mendingin di atas meja, tepat di titik tengah peta Lentera Hitam tahun 2012. Cahaya lampu minyak bergoyang pelan, menciptakan bayangan yang memanjang di dinding bunker yang dipenuhi rak-rak arsip fisik. Keheningan di bawah tanah ini terasa sangat padat, seolah-olah waktu sendiri enggan bergerak di sini.
"Sekarang kau tahu kenapa kami begitu waspada, Arlan," Dante memulai dengan nada yang lebih rendah, hampir seperti sebuah pengakuan. "Dunia di atas sana bukan lagi tempat untuk manusia. Setiap inci aspal dan setiap tarikan napas warga di distrik itu sedang dipantau oleh frekuensi Prime."
Arlan mengusap ujung jarinya yang masih terasa berdenyut akibat tusukan jarum audit. "Pria tua di Zona Netral tadi... dia bilang koin ini adalah beban. Dia bilang aku akan mulai meragukan air mataku sendiri. Apakah itu yang terjadi padamu, Dante?"
Dante terdiam sejenak. Ia menatap peta di depannya, jarinya menelusuri garis jalan di Sektor Tujuh yang kini sudah tidak ada lagi di dunia nyata. "Beban itu nyata. Saat kau menyerap fragmen memori, kau tidak hanya melihat gambar; kau merasakan duka, ketakutan, dan harapan orang lain. Jika jiwamu tidak cukup kuat, kau akan hancur dan menjadi sama kosongnya dengan para Peniru itu."
"Tapi Arlan berhasil mengalirkan bebannya ke kunci itu," sahut Mira sambil mendekat membawa dua cangkir logam berisi cairan hitam pekat yang beraroma kopi asli. "Itu sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kau memiliki kapasitas 'wadah' yang tidak wajar, Arlan."
Arlan menerima cangkir itu. Rasa hangatnya merambat ke telapak tangannya, memberikan kenyamanan sensorik yang sangat ia butuhkan. "Aku hanya tidak ingin memori ibuku hilang begitu saja. Meski dia mungkin hanya sebuah salinan yang cacat di akhir hidupnya, rasa kasih sayangnya terasa nyata bagiku."
"Kasih sayang itulah jangkar kemanusiaanmu," kata Dante tegas. "Para Peniru bisa menyalin wajah, suara, bahkan sidik jari. Tapi mereka tidak bisa menyalin pengorbanan yang tulus. Itulah alasan kenapa darahmu menolak mesin tadi. Darahmu mengandung integritas sejarah yang tidak bisa diinterupsi oleh kode biner."
Sumpah di Antara Oli dan Debu
Dante berdiri, ia melangkah menuju sebuah lemari besi besar di pojok ruangan dan membukanya dengan kunci fisik yang tergantung di lehernya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah jaket kurir yang berbeda dengan milik Arlan. Jaket ini berwarna kelabu gelap, terbuat dari serat sintetis yang tampak tahan api dan memiliki banyak saku tersembunyi untuk menyimpan koin-koin memori.
"Arlan, kurir barang hilang adalah pekerjaan lamamu di dunia simulasi," Dante meletakkan jaket itu di atas meja. "Di sini, kami menyebut diri kami Archivist. Tugasmu bukan lagi mengantar paket-paket tanpa arti, tapi mengumpulkan kembali potongan-potongan dunia yang tercuri sebelum Walikota menutup gerbang realitas secara permanen."
Arlan menatap jaket itu dengan bimbang. "Aku bukan tentara. Aku hanya seorang kurir yang ingin tahu kenapa ibuku terlihat berbeda di dapur."
"Justru karena kau bukan tentara, kau adalah ancaman bagi mereka," Mira menimpali, suaranya mengandung keyakinan yang kuat. "Kau memiliki insting untuk mendeteksi detail kecil yang dilewati oleh algoritma mereka. Kau melihat tahi lalat yang salah, Arlan. Itu adalah bakat yang tidak bisa diajarkan."
Arlan berdiri perlahan, merasakan sisa kelelahan di kakinya. Ia menatap Dante, lalu beralih ke Mira. Di bunker yang berbau oli dan kertas tua ini, ia merasa martabatnya sebagai manusia kembali utuh. Ia bukan lagi sekadar data yang menunggu untuk dihapus; ia adalah saksi hidup dari sebuah perlawanan.
"Jika aku bergabung, apa yang harus kulakukan pertama kali?" tanya Arlan.
"Kau harus belajar melihat tanpa mata," jawab Dante sambil menyandarkan tangannya di bahu Arlan. "Mulai besok, kau akan masuk ke pelatihan Tingkat Dua. Kau harus belajar melihat Echo—bayangan asli yang tertinggal di permukaan reflektif. Kau harus bisa membedakan siapa yang bernapas secara manual dan siapa yang benar-benar hidup di tengah keramaian."
Arlan mengangguk perlahan. Ia mengambil jaket kelabu itu dan merasakannya di tangannya. Beratnya terasa pas, sebuah tanggung jawab baru yang ia terima dengan sadar.
"Selamat datang di faksi manusia asli, Arlan," ujar Dante, kali ini dengan jabat tangan yang mantap dan hangat. "Sektor Tujuh mungkin telah hilang, tapi di sini, kita akan memastikan bahwa sisa dunia tidak mengalami nasib yang sama."
Mira tersenyum tipis, sebuah binar harapan terpancar dari matanya yang lelah. "Kau sudah aman sekarang, Arlan. Untuk malam ini, beristirahatlah. Realitas yang sebenarnya sangat melelahkan."
Arlan berjalan menuju bilik kecil yang disediakan untuknya di sudut bunker. Ia meletakkan kunci tua dan koin peraknya di atas meja kecil di samping tempat tidur. Sebelum memejamkan mata, ia melihat pantulan wajahnya di sebuah cermin retak yang tergantung di dinding. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya lebih tajam, namun ia tahu bahwa pria yang menatap balik dari cermin itu adalah Arlan yang asli—seorang kurir yang kini telah menemukan tujuannya di dalam kegelapan bawah tanah.
Sesi pencarian identitas pribadinya telah berakhir di sini, namun perburuan besar melawan para penghapus realitas baru saja dimulai. Di bawah perlindungan perisai frekuensi, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arlan tidur tanpa takut bahwa saat ia bangun nanti, dunia di sekitarnya akan berubah menjadi statis yang dingin.