Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENA DAN PERJANJIAN YANG HILANG
"Aku nggak punya pilihan lain selain ngelawan, kan, Kek? Karena lari pun, rasanya percuma kalau seluruh semesta ini udah dikasih 'pagar' sama Ordo."
Nirmala menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara gudang yang terasa berat oleh debu dan aroma kain tua. Ia menatap Alfred dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan dari puing-puing memorinya yang hancur. Di genggamannya, pena perak pemberian Alfred terasa berdenyut, seolah-olah benda mati itu memiliki detak jantung yang sinkron dengan nadinya sendiri.
Alfred tidak segera menjawab. Pria tua itu justru berjalan mendekati salah satu payung yang tergantung rendah—sebuah payung berwarna merah marun dengan gagang kayu yang sudah terkelupas. Ia menyentuh permukaannya dengan ujung jari yang gemetar, dan seketika, sebuah proyeksi cahaya kecil muncul di atas payung itu, menampilkan bayangan seorang pria yang sedang tertawa di bawah gerimis.
"Gudang ini bukan sekadar tempat penyimpanan, Nirmala," Alfred berucap dengan nada baku yang tenang, kontras dengan dentuman keras di pintu depan yang membuat langit-langit bergetar. "Setiap payung di sini adalah kontrak yang gagal. Seseorang pernah mencoba memutar waktu demi momen kecil di bawah hujan, namun mereka menyerah saat melihat harganya. Mereka meninggalkan payung ini sebagai bukti bahwa mereka pernah memiliki keinginan untuk melawan takdir, meski akhirnya mereka memilih untuk tunduk."
Nirmala menelan ludah, matanya menyapu ribuan payung yang bergantungan. "Jadi, kalau aku ambil pena ini, aku nggak boleh menyerah kayak mereka?"
"Kek, stop dulu deh sesi filsafatnya! Itu pintu depan udah mau jebol!" Lukas memotong pembicaraan dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan. Pemuda itu kini berjongkok di balik meja kayu besar, jemarinya menari liar di atas gawai yang kabel-kabelnya terhubung ke instalasi listrik gudang. "Gue barusan cek sensor termal di luar. Sera nggak sendirian. Dia bawa satu unit Eraser tipe berat. Kalau mereka masuk, gudang ini bakal di-format jadi nol dalam waktu kurang dari tiga menit!"
"Berapa lama kamu bisa menahan firewall dimensi ini, Lukas?" tanya Alfred tanpa mengalihkan pandangannya dari Nirmala.
"Nggak lama, Kek! Paling banter dua menit kalau gue pake sisa daya baterai gawai gue!" Lukas mengumpat pelan saat sebuah percikan api muncul dari gawainya. "Sera itu bener-bener gila. Dia nggak nyerang fisiknya, dia nyerang kode dasar tempat ini. Dia mau ngebakar data kita lewat jalur waktu!"
Alfred kembali menatap Nirmala, kali ini dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa telanjang. Ia mengulurkan sebuah buku tua dengan sampul kulit berwarna cokelat gelap. Buku itu tidak memiliki judul, dan permukaannya terasa hangat saat bersentuhan dengan kulit Nirmala.
"Ini adalah Buku Besar yang tidak pernah mereka catat," bisik Alfred. "Gunakan pena itu. Tulis namamu di halaman pertama, namun jangan gunakan tinta biasa. Gunakan esensi dari apa yang kamu rasakan saat ini—amarahmu, ketakutanmu, dan keinginanmu untuk tetap menjadi manusia. Hanya dengan begitu, kamu bisa mengunci identitasmu dari jangkauan Auditor."
Nirmala membuka buku itu. Halamannya kosong, seputih tulang. Ia merasakan dorongan kuat untuk segera menulis, namun di saat yang sama, keraguan kembali menyerang. "Kalau aku tulis nama ku di sini, apa aku bakal bener-bener bebas? Atau aku cuma bakal pindah ke penjara lain yang lebih bagus?"
"Kebebasan itu nggak pernah gratis, Kak!" Lukas berteriak dari balik mejanya, wajahnya kini bermandikan keringat. "Tapi mendingan milih penjara sendiri daripada dipenjara sama sistem yang mau ngapus lo! Cepetan tulis, sebelum kita semua jadi partikel cahaya!"
Brak!
Pintu gudang meledak. Bukan ledakan api, melainkan ledakan cahaya putih yang menyilaukan. Sera melangkah masuk, dikelilingi oleh kabut perak yang berdenyut. Di belakangnya, sosok-sosok tanpa wajah yang disebut Eraser mulai merayap di dinding, menghapus setiap warna yang mereka sentuh. Ke mana pun mereka lewat, kayu gudang yang cokelat berubah menjadi abu-abu kusam yang tidak bernyawa.
"Alfred, kamu selalu punya selera yang buruk soal tempat persembunyian," ucap Sera dengan nada meremehkan. Matanya yang perak langsung tertuju pada Nirmala dan buku di tangannya. "Berhenti, Nirmala. Jangan lakukan itu. Kamu hanya akan memperparah luka di garis waktu ini. Jika kamu menulis namamu, kamu akan memicu ketidakstabilan yang bisa menghapus Jakarta dari peta sejarah."
"Masa bodo sama sejarah kalian yang palsu!" Nirmala berteriak. Ia menekan ujung pena peraknya ke atas kertas putih itu.
Awalnya tidak ada yang terjadi. Namun, perlahan-lahan, cairan biru safir mulai keluar dari ujung pena, mengalir membentuk huruf-huruf yang bergetar. Nirmala menuliskan namanya dengan penuh penekanan, seolah-olah ia sedang memahat batu karang. Setiap goresan pena itu diikuti oleh rasa sakit di dadanya, seperti ada sesuatu yang ditarik paksa dari dalam jantungnya.
"Hentikan dia!" perintah Sera kepada para Eraser.
Makhluk-makhluk tanpa wajah itu meluncur cepat ke arah Nirmala. Namun, Alfred tidak tinggal diam. Ia mengangkat tangan kanannya, dan ribuan payung yang tergantung di langit-langit mendadak jatuh secara bersamaan, membentuk barikade melingkar di sekeliling Nirmala dan Lukas. Payung-payung itu terbuka serempak, memancarkan pendar berbagai warna yang menahan laju para Eraser.
"Lukas, aktifkan protokol pintu keluar!" seru Alfred.
"Udah, Kek! Tapi gue butuh satu input terakhir dari Kak Nirmala!" Lukas segera berlari mendekati Nirmala, menyeret kabel gawainya. "Kak, begitu nama lo selesai tertulis, sentuh payung biru lo! Kita bakal lompat lewat frekuensi emosional!"
Nirmala menyelesaikan huruf terakhir dari namanya. Seketika, buku itu menutup sendiri dengan suara debuman keras. Cahaya biru safir meledak dari dalam buku, merambat ke tangan Nirmala, lalu menuju payung biru kusam yang ia pegang. Payung yang tadinya bengkok dan rusak itu mendadak memadat, rangkanya tersambung kembali dengan suara gemertak logam yang presisi.
"Nirmala, kamu tidak tahu apa yang sudah kamu tanda tangani!" teriak Sera, suaranya mulai terdengar jauh karena distorsi waktu. "Kamu bukan menyelamatkan diri, kamu baru saja menjadi target utama Ordo!"
Nirmala tidak peduli. Ia menggenggam tangan Lukas dan berdiri di samping Alfred. "Target atau bukan, yang penting gue masi bisa ngerasain jantung gue detak, Sera! Dan itu sesuatu yang nggak bakal pernah lo punya!"
Nirmala menyentakkan payung birunya terbuka. Cahaya biru itu menelan mereka bertiga tepat saat para Eraser berhasil menembus barikade payung. Gudang tua itu menghilang, Sera menghilang, dan suara hujan perak di luar pun lenyap.
Beberapa detik kemudian, mereka mendarat di atas permukaan yang keras dan dingin. Aroma udara di sini sangat berbeda—tajam, berbau ozon, dan sangat sunyi. Nirmala membuka matanya dan menyadari mereka berada di sebuah tempat yang sangat tinggi. Di bawah mereka, lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip seperti hamparan berlian yang tercecer, namun semuanya tampak diam, seolah-olah waktu di bawah sana juga sedang tertahan.
Mereka berada di puncak Monumen Nasional (Monas). Pelataran emas di atas sana terasa bergetar, memancarkan energi yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kita nyampe... tapi kok sepi banget?" Lukas berdiri sambil memegangi kepalanya yang pusing. "Gue pikir Monas bakal penuh sama penjaga Ordo."
"Mereka tidak di sini karena mereka tidak menyangka kita akan langsung ke jantung mesin," Alfred berjalan menuju pusat lidah api emas Monas. Ia menunjuk ke sebuah lubang kecil di dasar struktur emas tersebut yang berbentuk persis seperti ujung pena perak Nirmala. "Nirmala, ini adalah titik sinkronisasi. Jika kamu memasukkan penamu di sini, kamu bisa mengunci realitas Jakarta agar tidak bisa di-reset oleh Ordo. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu."
Nirmala mendekati Alfred, napasnya masih tersengal. "Apa lagi, Kek? Jangan bilang ada harga yang harus dibayar lagi."
Alfred menatap Nirmala dengan pandangan yang sangat dalam, sebuah pandangan yang membuat Nirmala merasa bahwa pria tua ini menyembunyikan sesuatu yang sangat besar sejak awal.
"Kalau kamu melakukan ini, pintu menuju masa lalumu akan tertutup selamanya," ucap Alfred pelan. "Kamu tidak akan pernah bisa mencari tahu siapa orang tua biologis 'Materi 001' yang asli. Kamu akan menjadi Nirmala seutuhnya, tanpa akar, tanpa sejarah. Kamu akan menjadi awal dari dirimu sendiri."
Nirmala terdiam. Ia melihat ke arah tangannya yang memegang pena. Memori tentang wajah Nathan yang hangat kembali terlintas, namun kali ini terasa seperti potongan film yang tidak lagi memiliki ikatan emosional dengannya. Ia menyadari bahwa pencariannya selama ini adalah mencari alasan untuk ada, dan sekarang, alasan itu ada di tangannya sendiri.
"Aku nggak butuh akar kalau aku bisa numbuhin pohon ku sendiri, Kek," sahut Nirmala tegas.
Baru saja Nirmala hendak melangkah maju menuju titik sinkronisasi, sebuah tawa dingin terdengar dari kegelapan di balik pilar-pilar emas. Sosok pria jangkung dengan jas hujan transparan muncul. Itu Julian, sang penagih utang, namun kali ini wajahnya tidak lagi dipenuhi luka bakar. Ia tampak utuh, namun di tangannya ia memegang sebuah benda yang membuat Nirmala membeku.
Julian memegang sebuah payung biru yang identik dengan milik Nirmala, namun payung itu memancarkan cahaya merah darah.
"Kamu pikir cuma Nathan yang bisa bikin failsafe, Nirmala?" tanya Julian dengan nada sinis. "Ordo selalu punya salinan dari setiap artefak. Dan payung yang saya pegang ini... punya memori yang baru saja dihapus dari kepalamu."
Nirmala merasakan lututnya lemas. "Memori... memori apa?"
Julian tersenyum tipis, lalu menekan sebuah tombol di gagang payungnya. Sebuah proyeksi muncul di udara, menampilkan adegan sepuluh tahun lalu di sebuah laboratorium bawah tanah. Di sana, seorang pria yang mirip Nathan sedang berdebat dengan seorang wanita.
"Kamu tahu apa yang lucu, Nirmala?" Julian melangkah mendekat, mengabaikan Alfred yang sudah bersiap menyerang. "Wanita di video ini... Arsitek Elena yang kamu benci itu... dia bukan musuhmu. Dia adalah orang yang sebenarnya mencoba mengeluarkanmu dari tabung eksperimen Ordo sebelum Nathan mencurimu."
Nirmala menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang di matanya. "Nggak mungkin... Ayah bilang—"
"Ayahmu berbohong, Nirmala. Dia bukan pahlawan. Dia adalah pencuri yang ingin memiliki Tuhan kecil di dalam rumahnya," bisik Julian tepat di telinga Nirmala. "Jadi, apakah kamu masih mau menyelamatkan dunia yang dibangun di atas kebohongan pencurimu?"