Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8- Sisi lain Arlan (2)
Arlan, atau kini dikenal sebagai Phantom, pemimpin tertinggi The Shadow, duduk di atas motor hitam legamnya. Helm full-face dengan kaca gelap menutupi wajahnya sepenuhnya. Tidak ada lagi Arlan sang Ketua OSIS yang rapi; yang ada hanyalah sosok intimidatif dengan jaket kulit bersulam gagak perak yang berkilat tertimpa lampu jalan.
Di sampingnya, Barra yang juga mengenakan atribut lengkap mendekat, suaranya terdengar dari intercom di balik helm, tidak lupa dengan Darrel.
"Semua titik perimeter sudah aman, Lan," lapor Darrel, suaranya terdengar tenang namun waspada melalui jaringan intercom. "Anak-anak sudah menyebar di radius dua kilometer. Kalau ada patroli polisi mendekat, kita bakal tahu lima menit sebelumnya."
Arlan hanya mengangguk singkat di balik helm gelapnya. Matanya yang tajam menembus kaca helm, tertuju lurus pada deretan motor berwarna hijau neon di ujung lintasan geng The Garden.
Vero, ketua , memacu motor sport hijaunya maju hingga sejajar dengan Arlan. Berbeda dengan pembalap liar biasanya, Vero tampak lebih rapi, namun sorot matanya penuh dengan kebencian yang mendalam. Ia sengaja melepas kaca helmnya sedikit, hanya untuk memperlihatkan seringai meremehkan.
"Gue nggak nyangka lo bakal turun langsung cuma gara-gara satu kacung lo yang masuk rumah sakit, Phantom," teriak Vero dengan nada meremehkan. "Harusnya lo kirim aja perwakilan, biar lo nggak malu kalau kalah di kandang sendiri."
Arlan memutar gasnya perlahan. Suara mesin Silver Phantom-nya menyahut dengan geraman yang lebih berat dan berwibawa, seketika membungkam suara motor Vano.
Vero mendecih, menutup kaca helmnya dengan bunyi klik yang tajam. Seorang gadis dengan jaket denim melangkah ke tengah lintasan, mengangkat bendera hitam tinggi-tinggi. Suasana seketika vakum dari suara manusia; hanya ada raungan mesin yang saling beradu, memecah kesunyian malam di jalur bypass.
sret
Bendera dijatuhkan.
Dalam sepersekian detik, Arlan melepas kopling dengan sinkronisasi sempurna. Ban belakang Silver Phantom sempat berputar di tempat, menciptakan kepulan asap putih dan bau karet terbakar sebelum akhirnya mendapat traksi penuh dan melesat bak bayangan hitam yang membelah angin.
Vero memimpin tipis di depannya, motor hijaunya meliuk lincah. Namun, Arlan tetap tenang. Ia merunduk habis, dadanya menempel pada tangki motor, mengurangi hambatan angin hingga ia merasa menyatu dengan mesin.
Memasuki tikungan pertama yang terkenal dengan sebutan Dead Man’s Curve, Arlan melakukan late braking. Ia menginjak rem belakang dan menekan rem depan hingga suspensi motornya amblas, lalu memiringkan motornya ke kanan dengan sudut yang ekstrem.
Vero mencoba melakukan manuver terakhir yang sangat berbahaya. Ia sengaja memotong jalur Arlan tepat sebelum tikungan terakhir yang sangat sempit. Ban motor hijau Vero hampir saja menyentuh ban depan Silver Phantom.
Namun, Arlan justru tidak mengerem. Ia malah menambah gas!
Dengan perhitungan yang sangat presisi, Arlan melakukan teknik leaning yang begitu rendah hingga lututnya benar-benar menyentuh aspal. Ia mengambil jalur paling dalam yang bahkan tidak terpikirkan oleh Vero. Dalam satu kedipan mata, Arlan melesat menyalip dari sisi yang mustahil.
Arlan melesat meninggalkan Vero. Jarak mereka melebar jauh. Silver Phantom milik Arlan meraung dengan gagah, membelah garis finish dengan kecepatan yang jauh melampaui motor Vero. Arlan menang telak. Tanpa celah. Tanpa perlawanan berarti di detik-detik terakhir.
Ia melakukan drifting halus saat mengerem, memutar motornya 180 derajat hingga berhenti tepat di hadapan kerumunan yang kini terdiam karena terpukau oleh dominasi Phantom.
Arlan turun dari motornya dengan gerakan yang tenang namun penuh wibawa. Ia berjalan mendekati Vero yang baru saja sampai dengan motor yang berasap karena dipaksa bekerja keras. Vero turun dengan kaki gemetar, wajahnya pucat pasi di balik helm.
Vero melempar helmnya ke aspal dengan kasar hingga kaca pelindungnya retak. Napasnya memburu, matanya merah menatap ban motornya yang masih mengeluarkan uap panas. Kekalahan telak ini bukan hanya soal kecepatan, tapi soal harga diri yang diinjak-injak di depan ratusan pasang mata.
Arlan tidak butuh melihat tangisan atau sisa amarah musuhnya. Begitu perintahnya dijatuhkan, ia langsung memutar kunci motornya.
"Barra, Darrel, kita cabut. Urusan di sini sudah selesai," ucap Arlan melalui intercom.
Tanpa sepatah kata lagi, trio pimpinan The shadow itu memacu motor mereka, meninggalkan kepulan asap tipis dan aroma ban terbakar di hadapan anggota The Garden yang masih mematung. Arlan melesat membelah kegelapan malam, menghilang di balik tikungan bypass seperti hantu, meninggalkan musuh-musuhnya dalam kehampaan.
Vero mengepalkan tinjunya hingga gemetar, menatap lampu belakang motor Arlan yang kian mengecil. "Sialan! Mereka bener-bener anggep kita sampah!" teriaknya frustrasi.
"Cukup untuk malam ini," gumam Arlan lirih di balik helmnya saat Silver Phantom membelah jalanan kota yang mulai lengang.
Ia memisahkan diri dari Barra dan Darrel di persimpangan utama, membiarkan kedua sahabatnya itu kembali ke rumah masing-masing sementara ia melaju menuju kawasan perumahan elit di pinggiran kota.
Begitu sampai di depan gerbang tinggi sebuah rumah bergaya modern tropis, sensor otomatis mengenali motornya dan gerbang terbuka tanpa suara. Arlan memarkirkan motornya di garasi rahasia yang letaknya terpisah dari koleksi mobil mewah sang ayah. Ruangan itu kedap suara, tempat ia menyimpan sisi gelapnya dengan aman.
Ia turun dari motor, melepas helm full-face-nya, dan menyugar rambutnya yang basah oleh keringat. Napasnya masih terasa berat, sisa adrenalin dari balapan maut tadi masih mengalir di nadinya. Arlan bersandar di tangki motornya sejenak, menatap bayangan dirinya di cermin besar garasi.
Sorot matanya masih tajam, masih menjadi Phantom.
Arlan mulai menanggalkan satu per satu perlengkapannya. Jaket kulit bersulam gagak perak itu digantung dengan rapi di lemari besi tersembunyi. Ia menggantinya dengan kaus santai, memastikan tidak ada bau aspal atau bensin yang tertinggal di kulitnya.
Ia melangkah masuk ke rumah melalui pintu belakang, bergerak seringan kucing agar tidak membangunkan asisten rumah tangga atau sistem keamanan yang sensitif. Suasana rumah sangat sepi, hanya ada suara detak jam dinding mewah di ruang tengah.
Ia masuk ke kamar, merebahkan tubuhnya di atas kasur king size tanpa menyalakan lampu. Pikirannya melayang pada Bagas yang masih di rumah sakit, lalu pada tatapan penuh kebencian Vero tadi malam. Namun, di antara semua itu, Lagi-lagi wajah Aluna tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, entah kenapa belakangan ini wajah Aluna selalu melintas dalam pikirannya.
Arlan menutup matanya rapat-rapat. Besok adalah hari yang panjang, dan ia harus memastikan perannya sebagai Ketua OSIS tetap sempurna, seolah-olah kemenangan telak di jalur bypass hanyalah sebuah mimpi buruk bagi orang-orang seperti Vero.