Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
10
Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang tenang. Anjeli sedang duduk di lantai dapur, membantu Aris memasang kancing seragam sekolahnya yang hampir terlepas. Di sudut lain, Pak Burhan sedang mencoba menggenggam sebuah bola karet kecil latihan otot tangan yang disarankan Anjeli agar ayahnya tidak kaku saat nanti benar-benar bisa berdiri.
"Kak, kancingnya jangan terlalu kencang, nanti Aris sesak napas kalau lari-lari di sekolah," protes Aris sambil tertawa kecil.
Anjeli mencubit gemas pipi adiknya. "Makanya, makannya jangan banyak-banyak. Nanti bajunya tidak muat lagi. Sudah, ini sudah pas. Belajar yang rajin, ya sayangnya kakak!”
Baru saja Aris hendak menyambar tasnya, suara gaduh terdengar dari depan rumah. Bukan hanya satu atau dua orang, tapi terdengar seperti kerumunan. Anjeli menatap ayahnya dengan cemas. Pak Burhan yang juga mendengar kegaduhan itu segera meraih kursi rodanya, wajahnya tampak waswas.
"Njel, ada apa di luar?"
Anjeli mengintip dari balik tirai. Di sana, Pak RT berdiri dengan wajah serba salah, dikelilingi oleh Bu Sumi, Pak Darmo, dan beberapa warga lainnya. Bu Sumi tampak sangat bersemangat, mulutnya komat-kamit menghasut orang-orang di sekitarnya.
"Ayah di dalam saja bersama Aris. Biar Anjeli yang hadapi," bisik Anjeli. Ia mengusap bahu ayahnya untuk memberikan ketenangan, lalu melangkah keluar.
Begitu pintu terbuka, pandangan semua orang tertuju pada Anjeli. Gadis cantik itu berdiri tegak, meski jantungnya berdebar kencang.
"Ada apa ya, Pak RT? Ramai sekali pagi-pagi begini," sapa Anjeli sesopan mungkin.
Pak RT berdeham. "Begini, Njel. Bukannya Bapak mau berprasangka buruk. Tapi warga, terutama Bu Sumi, mengeluhkan soal kebunmu. Mereka merasa pertumbuhan tanamanmu tidak wajar. Mereka takut ada sesuatu yang tidak bersih dilakukan di sini, yang bisa membawa sial bagi desa."
"Sial apa, Pak RT?!" Bu Sumi menyela dengan suara melengking. "Lihat saja tanahnya! Tanah berbatu kok bisa hijau begitu. Jangan-jangan dia pakai tumbal supaya kebunnya subur! Kami tidak mau desa kita kena kutukan karena pesugihan anak kecil ini!"
Warga mulai berbisik-bisik. Anjeli menarik napas panjang. Ia teringat benih kangkung yang sudah ia siapkan semalam di Ruang Ajaib.
"Bu Sumi, Bapak-bapak, Ibu-ibu semua," suara Anjeli terdengar jernih dan tenang. "Saya mengerti kenapa Bapak dan Ibu bingung. Tapi saya tidak pakai pesugihan. Rahasianya cuma satu bapak-bapak, ibu-ibu yaitu ketelatenan. Saya mengolah pupuk dari kotoran ayam dan sekam yang saya fermentasi sendiri. Kalau Bapak dan Ibu mau tahu caranya, saya tidak akan pelit berbagi."
Anjeli masuk sebentar ke dalam rumah dan keluar membawa sebuah wadah berisi benih-benih kangkung yang sudah ia rendam dengan sedikit Air Rohani semalam.
"Ini adalah benih yang sama dengan yang saya tanam. Siapa pun yang mau coba menanam di rumah masing-masing, silakan ambil. Gratis. Kalau dalam dua minggu benih ini tumbuh bagus di tanah Ibu-ibu, berarti itu bukan pesugihan saya, tapi memang cara tanamnya yang benar," tantang Anjeli dengan halus.
Ibu-ibu yang tadinya ikut menghujat, kini mulai tertarik melihat benih yang tampak bulat dan bernas itu. Satu per satu mereka maju untuk mengambil sejumput benih. Bu Sumi tampak kesal melihat pasukannya justru malah tertarik pada pemberian Anjeli.
"Halah! Kamu jangan menyogok kami dengan bibit itu untuk mengalihkan perhatian kami semua, Njel. Bilang saja, benar bukan kamu pakai persugihan!" bentak Bu Sumi, tapi ia tidak berani berbuat lebih jauh karena warga lain sudah mulai sibuk bertanya tentang campuran pupuk kepada Anjeli.
Setelah warga perlahan membubarkan diri dengan tangan penuh benih, Anjeli masuk kembali ke rumah dengan tubuh lemas. Ia bersandar di balik pintu yang baru saja ia tutup.
Tiba-tiba, sebuah tangan kecil memeluk pinggangnya. Aris.
"Kakak hebat. Aris tadi takut sekali mereka mau marah-marah," bisik Aris.
Pak Burhan mendekati mereka dengan kursi rodanya. Ia meraih tangan Anjeli, mengusap punggung tangan putrinya yang tadi sempat gemetar. "Kamu sudah bersikap dewasa, NAk. Memberi saat dituduh adalah cara paling mulia untuk membungkam mulut yang jahat."
"Anjeli cuma takut mereka merusak kebun kita, Yah. Itu satu-satunya harapan kita buat bayar utang yang di tinggal Ibu," jawab Anjeli lirih.
Pak Burhan menghela napas, matanya menatap tajam ke depan. "Utang itu…Ayah yang akan bantu kamu pikirkan. Tadi, saat kalian di luar, Ayah mencoba berdiri sambil pegangan pinggiran tempat tidur. Ayah bisa bertahan lima detik, Njel. Lima detik!"
Mata Anjeli membelalak bahagia. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. "Ayah... lima detik itu sudah luar biasa! Berarti ayah sudah jauh lebih kuat."
"Semua karena kamu, Njel. Karena sayuran yang kamu masak, karena air yang kamu sediakan," Pak Burhan tersenyum lembut. "Ayo, jangan menangis. Aris, ambilkan air minum buat Kakakmu. Dia pasti haus sudah menghadapi orang sekampung."
Aris berlari ke dapur dengan penuh semangat. "Siap, komandan. Air spesial buat Kak Anjeli tersayang!"
Melihat keceriaan Aris dan kemajuan fisik ayahnya, rasa lelah Anjeli hilang seketika. Ia menyadari satu hal, selama ia memiliki dukungan dari dalam rumah ini, badai sebesar apa pun dari luar tidak akan mampu meruntuhkannya. Cincin di jarinya bergetar pelan, memberikan rasa hangat yang menenangkan, seolah-olah ruang ajaib itu ikut merasakan cinta yang mengalir di rumah sederhana itu.
semangat updatenya 💪💪
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄