alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh tujuh
Langit menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku, suara dari dapur terdengar begitu riuh, langit tersenyum, suara luka terdengar saling menimpali dengan suara ibunya. Langit melirik jam tangannya, ternyata masih pagi, namun suara alia dan luka sudah terdengar ramai.
"Luka mau main bundaa!" teriakan suara luka yang terdengar imut di telinga langit, membuat pria itu penasaran, kaki panjangnya melangkah mendekati luka dan alia berada.
"Sarapan dulu baru boleh main, ntar mainan yang dibeli kemarin bunda jual lagi, kalau luka nggak mau sarapan" ancam alia dengan suara lembut.
Tangannya dengan telaten, memakaikan pakaian ke tubuh bocah ganteng itu yang terlihat sudah mandi. Di ambang antara dapur dan ruang depan, langit berdiri, bersandar menyilangkan kakinya dan bersidekap menatap alia dan putranya yang terlihat sedang bersitegang.
Tubuh jangkungnya sungguh terlihat menjulang, langit jadi seperti seorang raksasa di rumah kecil alia.
Luka yang menyadari kehadiran langit, dengan riangnya lari memeluk kaki jenjang pria itu, alia tersentak, tangannya masih akan menyisiri rambut ikal luka, namun bocah itu sudah berlari ke pelukan langit. Langit meminta sisir dari tangan alia yang terlihat canggung mengulurkannya.
"Sisiran dulu anak ganteng, habis tuh sarapan, baru main" kata langit lembut, tangan kekarnya dengan lincah merapikan rambut ikal luka.
Langit duduk mencangkung di depan luka, merapikan rambut bocah tampan yang tidak bisa diam itu, tatapan mata langit penuh kasih, alia hanya berdiri, mengamati langit yang terlihat begitu menyayangi luka.
"Oom, udah sehat?" Tanya luka tiba-tiba, tangan mungilnya terulur meraba kening langit. Mata abu-abu milik bocah tampan itu terlihat perduli, dengan kernyitan lucu di pangkal hidungnya.
Tatapan penuh kekhawatiran dari luka, membuat hati langit seakan meleleh. Ingin rasanya ia memeluk bocah tampan di depannya itu, mata langit terlihat berkabut, dan alia menyadarinya.
Tanpa alia sadari garis senyum terlihat begitu indah terpatri di bibirnya, melihat adegan yang cukup menghangatkan hati itu.
"Ayo om sarapan dulu, biar cepat sembuh" ajak luka menghela tangan kekar langit, menarik pria itu duduk di meja makan tepat di sisinya. Mata elang langit melirik alia yang pagi ini terlihat begitu..cantik.
Wanita itu terlihat sederhana tanpa riasan, namun itu semakin membuatnya terlihat mempesona.
Alia dengan lincah menyiapkan piring yang sudah berisi nasi goreng kampung ke hadapan langit, sementara wanita itu mulai menyuapi putranya yang terlihat begitu riang.
Mulut luka tak henti berceloteh, bocah tampan itu menceritakan hal-hal random dengan riangnya. Langit menimpali dengan lembut dan antusias, sesekali ia menyuapkan nasi gorengnya untuk luka, alia sedikit terperanjat, namun tidak berkomentar apapun.
Beberapa kali alia mencuri pandang, menatap langit yang begitu terlihat manusiawi, rasa kagum terbit di hatinya. Langit, pria itu terlihat sangat sabar menghadapi luka yang banyak tanya dan luar biasa aktif.
"Kamu nggak makan?" Tanya langit mengernyitkan keningnya heran melihat alia yang membereskan piring makannya dan luka yang sudah kosong.
"Nggak..." sahut alia pendek, kepalanya menggeleng,
"Aku tidak pernah sarapan" alia mengangkat piring kotor menuju wastafel,
"Biar aku yang cuci" langit berdiri melangkah menuju wastafel, alia menoleh heran, ia sedikit terkejut melihat pria yang sudah berdiri di sampingnya itu.
"Nggak usah" sahutnya melarang, namun tangan langit sudah meraih spons yang ada di genggaman alia.
"Kamu duduk saja, atau temani luka di depan. Kalau cuman cuci piring, aku bisa kok"
Suara berat langit terdengar begitu lembut, menyelusup ke dalam hati alia yang terlihat salah tingkah.
Dengan segera alia mengusap tangannya yang basah, tanpa menjawab ia meninggalkan langit yang terlihat menikmati pekerjaannya.
Alia melangkah mendekati luka yang sedang membuka mainan yang mereka beli kemarin, alia merasakan sesuatu yang aneh dengan hatinya, ada rasa yang tak dapat alia ungkapkan, pria itu membuat hatinya berdebar, dan sungguh alia tidak nyaman dengan rasa ini.
Alia tidak menyukai rasa ini, walau ia tahu ada yang mencair di hatinya. Alia duduk di sofa mata indahnya memang menatap ke arah putranya, namun sorot matanya tak dapat berbohong, alia sedang termenung.
"Aku ingin bicara denganmu alia" kehadiran langit yang tiba-tiba duduk di hadapannya, cukup mengejutkan alia yang sedang termenung.
Mata indah alia menatap langit yang terlihat begitu serius. Ia menegakkan tubuhnya, menanti langit berbicara. Pria itu terlihat gugup,
"Alia.." panggil langit lembut, kedua tangannya terkait saling meremas, kegugupannya terlihat sangat jelas.
"Sebelumnya aku minta maaf, ini..ini tentang video" wajah langit terlihat ragu, ucapannya yang terputus-putus, menunjukkan bahwa langit benar-benar gugup.
"Video yang kamu maksud itu, sebenarnya..sebenarnya tidak pernah ada" suaranya terdengar lirih, kepalanya menunduk, langit tak mampu menatap alia.
Keheningan sesaat melanda mereka, alia terdiam begitu juga langit yang tertunduk semakin dalam.
"Aku sengaja mengatakan memiliki video itu, agar kamu mau bicara denganku, maaf, maafkan aku alia" pinta langit dengan suara yang semakin lirih.
Alia tetap terdiam, entah mengapa ucapan langit tidak membuatnya risih dan marah, ia bingung dan merasa kesal dengan apa yang terjadi di hatinya saat ini.
"Bicaralah alia!, jangan diam, marah lah, marah lah padaku, kumohon" tatap langit dengan mata penuh rasa bersalah, alia melengos jengah, hatinya berdebar karena tatapan mata elang langit itu.
Alia tiba-tiba berdiri, langit mendongakkan kepalanya menatap alia, ia terkejut, ada rasa takut terlihat di mata langit.
"Kalau begitu, kamu sudah tidak ada keperluan lagi denganku kan?, sekarang kamu sudah boleh pulang" ujar alia lembut tapi cukup tegas, namun matanya masih belum berani menatap langit lama.
Langit menganggukkan kepalanya pelan, tubuhnya berdiri lesu, tubuh jangkungnya terlihat kuyu dan tak bertenaga.
"Apakah kamu tidak marah?"
"Aku marah, tapi sudahlah, yang penting urusan di antara kita sudah selesai, aku tidak lagi memiliki hutang rahasia padamu" tutur alia lugas hendak melangkah namun urung, langkah kakinya tertahan, alia melirik pergelangan tangannya.
Cekalan tangan langit terasa erat, alia menatap mata pria itu, mereka saling menatap, namun tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka. Alia menarik tangannya, namun cekalan tangan langit belum juga terlepas,
"Maafkan aku alia.., maafkan aku!" Pinta langit berulang-ulang, alia tidak menjawab namun wajahnya tidak terlihat marah, sorot mata alia tidak lagi terlihat benci, namun jujur langit takut, wajah ramah alia membuatnya takut.
"Mandilah, sebelum kamu pulang, makan siang dulu" perintah alia terdengar lembut.
Alia meninggalkan langit yang termangu menatap alia tidak percaya, langit mengira alia akan marah dan memaki dirinya, namun ucapan wanita itu barusan memberikan setitik harapan di hati langit.
"Terima kasih, alia, terima kasih" bisik langit lirih, begitu alia meninggalkannya sendirian.
Mata elangnya yang biasanya selalu menatap tajam, kali ini terlihat sendu. Langit tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa yang sedang bergejolak di hatinya saat ini, tapi dengan pasti langit bisa mengucapkannya dengan lantang, ia bahagia, ia merasa saat ini dirinya adalah makhluk yang paling bahagia di dunia ini.
Mata elangnya masih mengikuti langkah kaki alia, ingin rasanya langit meneriakkan sebuah kalimat.
'Tuhan aku bahagia, tuhan bolehkah aku bahagia seperti ini, tuhan kumohon ijinkan aku bahagia'
Tanpa langit sadari senyum manis yang tersungging di bibirnya tak lepas dari perhatian bocah tampan berusia 5 tahun itu, yang menatapnya dengan binar bahagia. Langit tersentak kaget, luka tiba-tiba memeluk kaki jangkungnya hangat.
"Om, boleh nggak luka, panggil oom, ayah?"
Mata abu-abu milik bocah ganteng itu berbinar indah penuh harap, bibirnya yang mengerucut dengan rambutnya yang jatuh di kening, membuat langit terkesima, namun senyum indahnya mengembang.
Tanpa menjawab, langit mengangkat tubuh gempal itu dan memeluknya erat.
'Aku memang ayahmu, lukaa, aku ayahmu naakk' batin langit dalam hati.
Bersambung...