Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Romantis
Makan malam itu berlangsung dalam suasana yang nyaris sempurna.
Lampu restoran dibuat redup, musik lembut mengalun pelan meja mereka dihiasi lilin kecil dan bunga segar. Lola tampak cantik dengan gaun sederhana namun anggun, senyumnya tak pernah lepas sejak mereka duduk berhadapan.
Lola menatap Baskara begitu dalam, seolah mengumpulkan keberanian.
“Mas,” ucap Lola pelan, suaranya lembut tapi jelas, “aku rasa, aku jatuh cinta sama kamu.”
Baskara terdiam sesaat dia menatap Lola, lalu tersenyum senyum sopan, tenang, tanpa gelombang emosi yang terlalu dalam.
Dia tidak langsung menjawab pernyataan itu. Sebaliknya, dia mengalihkan pembicaraan dengan nada yang terdengar santai,
“Nenek sudah bicara lagi soal Sabtu malam Minggu. Katanya mau sekalian mengumumkan pertunangan kita di acara keluarga.” Ungkap Baskara membahas acara keluarga yang akan berlangsung dalam beberapa hari kedepan.
Mata Lola berbinar. “Iya, aku dengar dari Mama. Semua orang kelihatannya senang.”
Dia berhenti sejenak, lalu menatap Baskara dengan penuh harap.
“Kalau kamu sendiri,gimana Mas, gimana perasaan kamu ?” Lola coba mendalami perasaan Baskara.
Baskara memutar gelas di tangannya perlahan. Beberapa detik hening tercipta di antara mereka. Lalu dia tersenyum, senyum yang sama seperti sebelumnya.
“Aku cukup menikmati,” jawab Baskara singkat.
Jawaban itu tidak sepenuhnya jelas, tapi cukup bagi Lola. Dia tersenyum lega, pipinya sedikit merona dia meraih tangan Baskara di atas meja, menggenggamnya dengan hangat.
“Aku senang dengarnya,” katanya tulus menatap Baskara dengan penuh Cinta.
Baskara membiarkan tangannya digenggam. Dia tidak menariknya, tidak juga membalas dengan genggaman yang lebih erat. Namun dia tetap tersenyum, menjaga suasana tetap hangat.
Saat makan malam hampir usai, Lola mendekat. Baskara menoleh, dan tanpa banyak kata, mereka saling mendekatkan wajah.
Ciuman itu terasa mesra lembut, singkat, dan penuh perasaan di mata siapa pun yang melihat.
Lola menutup matanya, sepenuhnya yakin sementara Baskara, di balik senyumnya, menyimpan sesuatu yang tak dia ucapkan.
Di kepalanya, Sabtu malam Minggu itu bukan sekadar pengumuman itu adalah pembalasan dendamnya.
--------‐------------------------------------
Keesokan harinya, Lola meminta Baskara menemaninya memilih gaun.
Mereka berada di butik eksklusif, deretan gaun tergantung rapi dengan warna-warna lembut dan potongan anggun. Lola keluar-masuk ruang ganti, setiap kali muncul selalu menatap Baskara dengan harap.
“Yang ini gimana, Mas?” tanyanya sambil memutar tubuh pelan.
Baskara menatapnya sekilas lalu mengangguk. “Cocok. Tapi coba yang satunya lagi.”
Lola tersenyum senang, kembali ke kamar ganti.
Tak jauh dari mereka, nenek Baskara duduk bersama ibu Lola keduanya berbisik pelan, sesekali melirik ke arah pasangan itu.
“Mereka cocok sekali, ya,” ujar ibu Lola dengan wajah berbinar.
Nenek Baskara tersenyum puas, anggukan kecil mengiringi ucapannya.
“Iya. Sangat cocok.”
Namun di dalam hati nenek itu berkata lain pernikahan ini akan menguntungkan perusahaan keluarga matanya menyipit penuh perhitungan.
Brata, ternyata anakmu lebih berguna dan pintar dibanding kamu, gumamnya dalam hati, menyebut nama ayah Baskara dengan nada merendahkan. Akhirnya ada juga yang bisa dibanggakan.
Baskara sesekali melirik ke arah neneknya, tatapan mereka sempat bertemu, lalu neneknya tersenyum bangga. Baskara membalasnya dengan senyum tipis senyum yang rapi, terkontrol, dan dingin.
Namun di balik itu, pikirannya bergejolak, bahkan di acara sepenting ini, ibunya tidak dilibatkan tidak diajak tidak dianggap.
Dia menatap punggung neneknya sejenak, lalu mengalihkan pandangan kembali ke Lola yang baru keluar dari kamar ganti dengan gaun lain.
“Yang ini?” tanya Lola penuh harap.
“Bagus,” jawab Baskara singkat.
Di dalam hatinya, satu kalimat berulang tanpa suara, aku membenci keluarga itu benci yang tidak meledak, tidak terlihat, tapi mengendap luka lama yang tak pernah sembuh masih terasa perih hingga detik ini dan dia sudah menyiapkan perannya.