Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Iblis
Pagi hari itu sekolah terasa… berbeda.
Bukan karena ada perubahan yang terlihat jelas. Gedung tetap megah, lorong bersih, layar digital menampilkan jadwal seperti biasa. Para siswa berjalan, bercanda, tertawa — semua tampak normal di permukaan.
Namun ada sesuatu yang mengalir di bawahnya.
Bisik-bisik.
Tatapan.
Percakapan yang berhenti saat seseorang lewat.
Dan pusat dari semua itu adalah satu nama.
Aurelia.
Sejak pagi, rumor tentang keluarganya menyebar seperti api yang sulit dipadamkan. Ada yang berbisik ayahnya terlibat transaksi ilegal. Ada yang bilang ini hanya fitnah besar. Ada juga yang memilih diam — tapi tetap memperhatikan.
Di kelas, suasana tidak senyaman biasanya.
Aurelia duduk tegak seperti biasa. Wajahnya tetap tenang, anggun, seolah tidak terpengaruh. Namun jari-jarinya menggenggam ringan ujung meja — tanda tekanan yang hanya bisa dilihat jika benar-benar memperhatikan.
Douma memperhatikan.
Bukan secara mencolok.
Matanya sekilas terangkat dari buku, menangkap detail kecil — napas yang sedikit tertahan, bahu yang tegang, sorot mata yang terlalu fokus.
Rei mencoba mencairkan suasana.
“Ah… rumor sekolah selalu dilebihkan,” katanya santai. “Kalau semua gosip benar, sekolah ini sudah runtuh dari dulu.”
Beberapa siswa tertawa kecil.
Shin menambahkan dengan nada datar, “Reaksi berlebihan biasanya berarti ada sesuatu yang lebih besar di baliknya. Tapi belum tentu yang terlihat.”
Douma tidak berkata apa-apa.
Namun ia merasakan sesuatu yang lain.
Samar.
Seperti tekanan udara yang tidak seharusnya ada.
Sekilas, lorong di luar kelas terasa… bergeser. Bayangan lampu memanjang sepersekian detik. Tidak ada yang menyadari.
Kecuali dia.
Energi dalam tubuhnya menstabilkan ruang tanpa terlihat.
Tekanan itu menghilang.
Pelajaran berlanjut.
Tapi pikirannya sudah mencatat semuanya.
—
Saat jam istirahat, Aurelia berdiri tanpa banyak bicara dan keluar kelas. Langkahnya cepat, terarah.
Douma tidak langsung mengikuti.
Namun beberapa detik kemudian, ia bangkit.
Bukan karena penasaran.
Hanya… memastikan.
Di lorong sepi, Aurelia berhenti di dekat jendela. Perangkat komunikasinya menyala.
Pesan masuk.
Tanpa nama pengirim.
Kalimatnya singkat:
Kalau ingin tahu siapa yang menjebak ayahmu — datang sendiri.
Alamat menyusul.
Distrik bisnis lama.
Aurelia menatap layar lama.
Jantungnya berdetak keras.
Rasionalitas mengatakan ini jebakan.
Namun keputusasaan… lebih kuat.
Ia menutup layar.
Keputusan sudah dibuat.
Douma berdiri di tikungan lorong, ekspresinya netral. Ia tidak melihat isi pesan — tapi perubahan aura Aurelia cukup jelas.
Tekanan emosional.
Tekad.
Bahaya.
Ia menghela napas pelan.
Sore ini… ia akan mengikuti dari jauh.
—
Distrik bisnis lama terasa seperti kota yang tertinggal waktu.
Gedung tinggi berdiri diam, lampu menyala, namun jalanan terlalu sepi. Angin berhembus membawa suara yang terasa jauh.
Aurelia berdiri di depan sebuah bangunan tua. Kaca jendelanya buram, pintu logam setengah terbuka.
Ia masuk.
Douma tiba beberapa detik kemudian.
Begitu melangkah ke area itu, indranya langsung membaca sesuatu yang tidak normal.
Ruang ini… berlapis.
Ada distorsi halus seperti kaca tipis menutup realitas.
Seseorang menyamarkan dimensi.
Ia masuk tanpa suara.
Di lantai atas, Aurelia berdiri di tengah ruangan kosong. Di hadapannya, seorang pria berpakaian rapi dengan senyum profesional.
“Terima kasih sudah datang,” katanya lembut.
Aurelia menahan diri. “Kau yang mengirim pesan?”
“Tentu. Aku hanya ingin… membantu.”
Nada suaranya halus. Terlalu halus.
“Ayahmu hanyalah sebagai pion,” lanjut pria itu. “Permainan yang lebih besar sedang berlangsung. Jika kau berhenti mencari… masalah selesai.”
Aurelia menatap tajam. “Si..siapa kau sebenarnya?” tanya Aurelia dengan wajah pucat.
Pria itu tersenyum sinis.
Bayangannya di lantai… bergerak.
Bukan mengikuti tubuhnya.
Melainkan berdenyut sendiri — seperti makhluk hidup yang menyeramkan.
Douma melihatnya dari pintu.
Aura iblis.
Disamarkan dengan sangat rapi.
Tujuan makhluk menjijikkan itu jelas.
Menjerat ayah dan anak sekaligus.
Dua pion dalam satu jebakan.
Efisien.
Licik.
“Bekerja sama lah denganku,” lanjut pria itu. “Aku bisa membersihkan nama keluargamu. Sebagai balasan… hanya sedikit kerja sama.”
Ruangan terasa menyempit.
Udara terasa begitu berat.
Aurelia menelan napas. Dadanya terasa sesak.
Pria menyeramkan itu mendekat satu langkah.
Tekanan dimensi meningkat.
Douma bergerak.
Satu langkah.
Energi halus mengalir seperti riak air.
Tak terlihat.
Namun cukup untuk merobek manipulasi ruang.
Udara disana kembali normal.
Bayangan pria itu bergetar.
Matanya menoleh kearah pintu perlahan.
Untuk pertama kalinya… senyumnya retak. Berubah menjadi wajah yang ketakutan.
Ia melihat Douma.
Dan sesuatu dalam dirinya… mengenali ancaman yang tidak bisa dijelaskan.
Bukan manusia biasa.
Insting iblisnya berteriak.
Bahaya!.
Makhluk itu mundur setengah langkah.
Rencananya kali ini gagal. Yah, lebih tepatnya di gagalkan.
“Siapa diaa … Tidak mungkin.. ” gumamnya lirih.
Tubuhnya memudar di kegelapan seperti asap.
Menghilang.
Tekanan ruang lenyap.
Aurelia terhuyung kebelakang. Untung nya Douma sudah berada di dekatnya.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya tenang. Memegang lengan dan bahu Aurelia dengan erat.
Aurelia mengangguk lemah. “Dia… siapa… Kenapa dia menginginkan keluargaku hancur? ”
Douma tidak menjawab.
Perangkat Aurelia berbunyi.
Pesan baru muncul.
Tulisan dingin memenuhi layar:
Jangan membawa siapapun untuk ikut campur!
Atau… bukan hanya reputasi. Nyawa kalian — ayah dan kau — akan lenyap.
Wajah Aurelia memucat.
Tangannya gemetar.
Douma membaca sekilas.
Ancaman.
Langsung.
Keji.
Namun ekspresinya tetap tenang.
“Kita harus keluar dari sini,” katanya singkat.
Di luar gedung, udara terasa lebih ringan.
Aurelia menatap layar lagi. “Apakah mereka serius…”
Douma memanggil taksi tanpa banyak bicara.
Saat kendaraan tiba, ia membuka pintu.
“Pulang,” katanya lembut. “Jangan datang sendirian ke tempat seperti ini lagi.”
Aurelia menatapnya. Banyak pertanyaan di matanya.
Namun ia hanya mengangguk.
Taksi melaju pergi.
Douma berdiri diam di tepi jalan.
Langit senja memerah.
Ia memikirkan semuanya.
Rumor keluarga.
Percakapan ayahnya beberapa malam lalu.
Gangguan dimensi.
Makhluk yang baru saja mundur.
Semua terjadi… terlalu berdekatan.
Pola mulai terbentuk.
Namun belum lengkap.
Apakah ia harus turun tangan?
Atau tetap mengamati?
Ia menutup mata sejenak.
Instingnya berkata ini bukan insiden biasa.
Ini sistem.
Terencana.
Licik.
Dan berbahaya.
Namun… belum waktunya.
Ia akan mengamati.
Mengumpulkan potongan.
Menunggu kesalahan berikutnya.
Douma membuka mata.
Tatapan tenang.
Langkahnya ringan saat berjalan pulang — seperti seseorang yang hanya menyelesaikan hari biasa.
Padahal…
permainan besar baru saja menyentuhnya.
Dan jauh di balik lapisan dimensi—
makhluk yang tadi mundur sedang melapor dengan suara gemetar:
“Ada sesuatu di dunia manusia…”
“Sesuatu yang tidak seharusnya ada…”
Sementara Douma berjalan di bawah cahaya kota, pikirannya kembali ke rutinitas — seolah semuanya hanyalah gangguan kecil.
Namun jauh di dalam dirinya—
kesadaran kuno telah terbangun sedikit.
Dan dunia…
akan segera menyadarinya.
---