Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: VISI DEMOKRASI
Sisa-sisa asap dari pertempuran kudeta di Bab sebelumnya telah menguap, namun aroma perubahan yang jauh lebih tajam kini tercium di seluruh koridor Istana Arrinra. Serena Arrinra berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap Ibukota yang sedang berbenah. Di tangannya bukan lagi pedang Raijin yang mendesis, melainkan selembar perkamen tua yang berisi silsilah keluarga Arrinra yang telah berkuasa selama ratusan tahun di wilayah seluas 2.001.103 Km^2.
"Silsilah ini..." Serena bergumam pelan, "adalah rantai yang mengikat leher rakyat, sekaligus beban yang mematahkan punggung penguasa."
Anton masuk ke ruangan membawa nampan berisi kopi pahit kegemarannya dan teh melati untuk Serena. Ia melihat istrinya tampak lebih lelah dibandingkan saat melawan seribu pemberontak semalam.
"Kau memikirkan tentang pidatomu di alun-alun kemarin?" tanya Anton, meletakkan nampan itu di meja kayu jati yang penuh dengan tumpukan draf hukum.
Serena berbalik, matanya yang perak tampak meredup. "Anton, aku menyadari sesuatu saat pedang Kertanegara hampir mengenai Arya. Jika aku jatuh, dan kau jatuh, siapa yang akan menjamin nasib jutaan orang di luar sana? Apakah kita akan membiarkan mereka kembali jatuh ke tangan tirani hanya karena silsilah darah?"
Anton duduk di kursi seberang meja. "Itulah sistem kerajaan, Serena. Kau penguasanya, kau yang menentukan. Tapi kau benar, kita tidak akan hidup selamanya."
"Tepat. Itulah mengapa aku ingin menghancurkan mahkota ini," ujar Serena tegas.
Perlawanan dari Meja Bundar
Keesokan harinya, Serena memanggil Dewan Penasihat Agung. Ruangan itu penuh dengan wajah-wajah pucat. Mereka tahu Serena baru saja mematahkan tulang punggung pemberontakan, namun mereka tidak menyangka bahwa 'serangan' berikutnya justru ditujukan pada kursi mereka sendiri.
"Saya telah merancang sebuah dokumen," Serena memulai, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan. "Saya menyebutnya Piagam Arrinra Baru. Intinya sederhana: Kekaisaran Ser akan bertransformasi. Kekuasaan absolut Kaisar akan dibatasi oleh hukum tertulis yang disetujui oleh perwakilan rakyat dari tiap distrik."
Hening sejenak, sebelum Adipati Wijaya berdiri dengan tangan gemetar. "Yang Mulia... apakah Anda sedang bicara tentang... membagi kekuasaan? Kepada rakyat jelata yang bahkan tidak tahu cara membaca peta?"
"Rakyat yang Anda sebut tidak tahu membaca peta itulah yang membangun tembok istana ini, Adipati," potong Anton yang duduk di samping Serena sebagai Konsorsium. "Mereka mungkin tidak tahu membaca peta, tapi mereka tahu rasa lapar. Dan mereka tahu siapa yang mencuri padi mereka."
"Tapi Tuan Konsorsium, ini melanggar hukum alam!" seru menteri lain. "Langit memberikan mandat kepada Dinasti Arrinra. Jika Anda membaginya, Langit akan murka! Petir Anda adalah buktinya!"
Serena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat para menteri merinding. "Petirku adalah alat untuk melindungi, bukan untuk menindas. Mandat langit bukan diberikan agar aku menjadi tuhan di bumi, melainkan agar aku memastikan keadilan tegak. Dan keadilan tidak bisa tegak jika hanya satu kepala yang memutuskan nyawa jutaan orang."
"Saya mengusulkan pembentukan Majelis Rakyat," lanjut Serena. "Setiap wilayah seluas satu juta hektar akan mengirimkan wakilnya. Mereka yang akan menyusun undang-undang ekonomi. Kaisar hanya akan menjadi simbol kesatuan dan panglima tertinggi pertahanan."
"Ini adalah pengkhianatan terhadap leluhur!" teriak seorang adipati tua dari faksi konservatif. "Anda ingin menghapus monarki?"
"Saya ingin menyelamatkan Arrinra dari kehancuran di masa depan," balas Serena dingin. "Jika kita tidak berubah sekarang secara sukarela, suatu hari nanti rakyat akan menghancurkan pintu istana ini dan mengambil kekuasaan itu dengan paksa. Saya lebih baik menyerahkannya dengan tangan terbuka demi perdamaian."
Diskusi di Kamar Pribadi: Beban Seorang Ibu
Malam itu, di kamar mereka, Serena duduk di depan meja rias, melepas perhiasannya satu per satu. Anton mendekat dan mulai memijat bahunya.
"Kau tahu, para menteri itu akan mencoba menyabotase draf ini melalui birokrasi," ujar Anton.
"Aku tahu. Mereka akan memperumit prosedur, menyembunyikan dokumen, atau memprovokasi kerusuhan di desa-desa," desah Serena. "Tapi yang paling membuatku berat adalah Arya."
"Arya?"
"Dia adalah putra mahkota. Dengan dokumen ini, aku secara teknis 'mencuri' masa depannya sebagai penguasa absolut. Dia hanya akan menjadi warga negara biasa dengan gelar seremonial. Apakah dia akan membenciku, Anton? Apakah anak-anak kita akan merasa aku merampas hak mereka?"
Anton terdiam sejenak, menatap bayangan mereka di cermin. "Tadi sore, aku melihat Arya sedang mengajar anak-anak yatim di paviliun belakang cara menyambung kabel listrik sederhana. Dia tidak terlihat seperti anak yang menginginkan takhta emas. Dia terlihat seperti anak yang ingin berguna."
Tiba-tiba pintu kamar diketuk. Arya masuk, wajahnya tampak serius bagi anak seusianya.
"Ibu, Ayah... boleh Arya bicara?"
Serena mempersilakannya duduk di ujung tempat tidur. "Ada apa, Sayang? Kau belum tidur?"
"Arya mendengar kabar dari pelayan. Katanya, Ibu akan menghapus sistem waris takhta? Katanya, Arya tidak akan jadi Kaisar nanti?"
Serena memandang Anton dengan cemas, lalu memegang tangan Arya. "Arya, Ibu sedang mencoba membuat sistem di mana setiap orang di Arrinra punya kesempatan yang sama. Ibu ingin Arya menjadi pemimpin karena rakyat mencintai dan memilih Arya, bukan karena Arya adalah anak Ibu. Apakah Arya sedih?"
Arya terdiam cukup lama, matanya yang perak—sama seperti Serena—menatap tajam. "Ayah pernah bilang, menjadi kuli itu berat karena beban ada di pundak kita sendiri. Menjadi Kaisar juga berat karena beban jutaan orang ada di pundak satu orang. Jika Ibu membagi beban itu kepada banyak orang, bukankah itu artinya Ibu menyayangi Arya? Ibu tidak ingin Arya menanggung beban itu sendirian?"
Air mata menetes di pipi Serena. Ia menarik Arya ke dalam pelukannya. "Kau benar-benar anak ayahmu, Nak."
Anton tersenyum lebar. "Lihat? Anak-anak kita lebih siap menghadapi demokrasi daripada para menteri tua itu."
Perlawanan Administratif dan Sabotase
Rencana Serena tidak berjalan mulus. Dalam minggu-minggu berikutnya, Kekaisaran Ser dilanda kemacetan administratif. Gaji-gaji pegawai di daerah terhambat, distribusi pangan di wilayah terpencil sengaja diperlambat oleh pejabat-pejabat yang setia pada sistem lama. Mereka ingin rakyat berpikir bahwa 'Demokrasi' atau 'Pembagian Kekuasaan' hanya membawa kekacauan.
"Ini adalah sabotase sistemik, Yang Mulia," Paman Bram melapor di ruang strategi. "Menteri Keuangan sengaja menahan dana untuk Majelis Rakyat yang baru dibentuk. Mereka ingin rencana ini mati sebelum lahir."
Serena berdiri, percikan listrik mulai menari-nari di rambutnya. "Mereka pikir aku hanya bisa bertarung dengan pedang. Paman, siapkan Unit Intelijen Kilat. Kita akan melakukan audit mendadak ke setiap kantor kementerian malam ini juga."
"Aku ikut," ujar Anton. "Banyak dari mereka yang menyembunyikan catatan ganda di gudang-gudang logistik. Aku tahu cara menemukan lubang di bangunan, aku juga pasti tahu cara menemukan lubang di pembukuan mereka."
Malam itu, Serena kembali menjadi ninja. Namun kali ini, targetnya bukan kepala jenderal, melainkan buku besar akuntansi. Ia bergerak secepat kilat dari satu kantor ke kantor lain, menyita dokumen-dokumen yang disembunyikan.
Di kantor Kementerian Logistik, ia menemukan tumpukan karpet mewah yang dibeli dengan dana yang seharusnya untuk pembangunan sekolah.
"Indah sekali," desis Serena di kegelapan kantor saat sang menteri sedang tertidur lelap di kursinya.
Menteri itu terjaga, melihat kilat perak di depan matanya. "Y-Yang Mulia! Apa yang Anda lakukan di sini?"
"Aku sedang melakukan tugas seorang 'pelayan rakyat'," jawab Serena dingin. "Ternyata kau lebih peduli pada kelembutan kakimu daripada perut rakyat di perbatasan. Besok pagi, kau akan menjelaskan ini di depan Majelis Rakyat sementara."
Debat Publik Pertama
Serena mengambil langkah berani. Ia tidak melakukan eksekusi rahasia. Sebaliknya, ia menggelar pengadilan terbuka di alun-alun ibukota. Ribuan rakyat berkumpul. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Arrinra, seorang menteri diadili bukan oleh Kaisar secara pribadi, tapi di depan mata rakyat.
"Rakyatku!" suara Serena menggelegar melalui teknik batinnya. "Para menteri ini mengatakan bahwa membagi kekuasaan akan membawa bencana. Namun lihatlah dokumen ini! Bencana yang sebenarnya adalah saat mereka mencuri hak kalian di balik tembok kantor yang tertutup!"
Anton berdiri di samping menteri yang tertunduk itu. "Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, menteri ini bilang dana untuk jembatan kalian habis. Tapi kami menemukan emas senilai sepuluh jembatan di bawah lantai rumahnya! Apakah kalian masih ingin kekuasaan tetap hanya ada di tangan orang-orang seperti ini?"
"TIDAK!" teriak massa serempak.
"Inilah visi Demokrasi," lanjut Serena. "Kalian punya hak untuk bertanya. Kalian punya hak untuk tahu ke mana setiap keping koin pajak kalian pergi. Mulai hari ini, istana bukan lagi tempat yang rahasia. Istana adalah milik kalian!"
Guncangan dukungan rakyat begitu masif sehingga para bangsawan yang tersisa tidak punya pilihan selain tunduk. Mereka menyadari bahwa Serena tidak sedang melemahkan kekaisaran; ia sedang membangun fondasi yang jauh lebih kuat dari sekadar kekuatan militer—ia membangun kepercayaan.
Merancang Konstitusi
Berbulan-bulan dihabiskan Serena dan Anton untuk menyusun Konstitusi Ser. Anton memberikan banyak masukan tentang hak-hak buruh dan perlindungan bagi petani.
"Kita harus memastikan bahwa kuli bangunan memiliki asuransi kecelakaan," ujar Anton saat mereka berdiskusi hingga larut malam. "Dan anak-anak mereka harus bisa masuk sekolah tinggi tanpa harus membayar upeti pada kepala desa."
"Aku setuju," sahut Serena. "Dan aku ingin menambahkan pasal tentang pergantian kepemimpinan. Masa jabatan kepala distrik tidak boleh seumur hidup. Harus ada regenerasi."
"Bagaimana dengan posisimu sendiri, Serena?" tanya Anton pelan.
Serena meletakkan penanya. Ia menatap ke luar, ke arah langit malam. "Aku akan menetapkan referendum. Sepuluh tahun dari sekarang, rakyat akan memilih: apakah mereka masih menginginkan monarki seremonial, atau republik total. Dan pada saat itu, aku dan kau akan mengundurkan diri sepenuhnya."
"Kau benar-benar siap melepaskan dua juta kilometer persegi ini?"
Serena menggenggam tangan Anton. "Aku melepaskan wilayahnya, tapi aku memenangkan jiwanya. Lagipula, aku lebih suka menghabiskan masa tua di rumah kecil bersamamu, melihat anak-anak kita tumbuh sebagai manusia merdeka, daripada mati di atas takhta emas yang penuh darah."
Dialog Penutup Bab
Paman Bram masuk ke ruangan, membawa kabar bahwa draf undang-undang pendidikan telah disetujui oleh Majelis Rakyat yang baru.
"Ini adalah langkah besar, Serena," ujar Bram bangga.
"Ini baru permulaan, Paman," jawab Serena. "Bab berikutnya adalah yang tersulit: mendidik rakyat agar siap menerima tanggung jawab ini. Demokrasi tanpa pendidikan hanya akan melahirkan demagog baru."
Serena menoleh pada Anton. "Siap untuk hari-hari selanjutnya?"
Anton tersenyum, menyeka sisa debu dari tumpukan kertas di mejanya. "Selama ada kopi pahit dan kau di sisiku, aku siap membangun apa pun, bahkan sebuah negara baru dari nol."
Di luar, kilat menyambar pelan di ufuk timur. Bukan sebagai tanda murka, tapi sebagai fajar baru bagi Arrinra. Ratu Kilat telah memutuskan untuk memadamkan cahayanya sendiri agar jutaan lampu kecil milik rakyat bisa menyala.