NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Peluang Emas Sang Kuli Bengkel

“Mungkin dia lagi di bawah lindungan Tuhan, Pak Bos,” celetuk Pak Hartoko. “Kalau gitu, coba mobil saya siapkan dulu. Saya mau lihat kebersihan di bawah kap mobil. Sudah lama tidak saya cek. Kalau sudah beres, biar nanti anak saya yang jemput di sini.”

Pak Jitomo menyentuh lengan Siman. “Sudahlah, kamu kembali beres-beres lagi sana, Siman. Tadi Pak Hartoko menungguku sudah kelamaan. Kau ganti oli dulu saja. Biar dia tidak menungguku kelamaan. Aku juga ingin menjelaskan tumpukan kerja yang ingin kuberikan kepadamu.”

“Baik, Bos.” Siman mengangguk cepat, menyeka peluh di dahinya dengan lengan. Perasaannya campur aduk. Ia masih belum menjawab tawaran Pak Jitomo, dan sekarang muncul lagi insiden ini. Sebuah bisikan di hatinya mendesak agar dia menunjukkan keahliannya di depan Pak Hartoko.

Siman langsung mengambil peralatannya, lalu segera menuju ke mobil Pak Hartoko yang terparkir. Ia membongkar kap mesin, mengganti oli, dan memeriksa setiap komponen dengan hati-hati. Gerakannya gesit, teratur, menunjukkan ketelatenan yang jarang dimiliki oleh kuli bengkel seusianya. Akik di jarinya terasa hangat, menyalurkan energi tenang yang membuat Siman merasa lebih fokus dan cekatan. Ia menemukan beberapa noda oli di beberapa tempat, itu adalah bagian penting untuk dibersihkan.

Pak Hartoko berdiri di sampingnya, mengamati setiap gerakan Siman dengan cermat. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya, hanya sorot mata tajam yang terus mengikuti.

“Kamu cukup teliti juga, ya, Nak,” puji Pak Hartoko akhirnya, saat Siman selesai membersihkan sisa oli dan mengencangkan baut. “Karyawan di sini kok saya perhatikan rata-rata cuma asal-asalan saja.”

Wajah Siman memerah mendengar pujian itu. Pujian tulus jarang sekali ia dapatkan. “Ah, saya cuma kerja saja, Pak. Kasihan juga Bapak kalau mobilnya rusak nanti.”

Pak Hartoko tersenyum, lalu menyentuh kap mesin yang sudah mengilat. “Omong-omong, Siman. Tadi saya mendengar kamu nyaris tertimpa reruntuhan di gudang itu ya? Kamu kenapa cepat sekali menghindarinya? Kamu seperti punya firasat ya, Nak? Kamu seperti jago silat lho.”

Siman tertawa canggung. “Tidak tahu juga, Pak. Mungkin cuma insting saya aja, seperti… tiba-tiba aja ada dorongan untuk melompat.” Dia tak ingin menceritakan soal akiknya. Apalagi ke orang asing seperti Pak Hartoko.

“Insting, ya? Itu berarti kamu punya sesuatu, Siman.” Pak Hartoko mengangguk-angguk. Ia lantas menatap akik di jari Siman. “Akikmu itu indah sekali, Man. Batu aseli ini? Kayaknya jarang sekali saya temukan, warnanya juga aneh, tapi justru karena aneh itulah saya terpukau.”

Siman mengangkat jarinya, melihat akik yang kini memancarkan cahaya redup. “I-ini… warisan dari nenek saya, Pak.” Bohong lagi. Siman kembali merasakan tusukan di hatinya, namun entah mengapa, kali ini terasa lebih mudah mengucapkannya.

“Warisan yang bagus,” kata Pak Hartoko. Ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, lalu mengelap jari Siman yang sedikit terkena noda oli. Siman tersentak kaget dengan perlakuan Pak Hartoko. Ini adalah sentuhan perhatian yang selama ini ia inginkan dari banyak orang.

“Kamu itu pantas dihargai lebih dari ini, Siman.” Mata Pak Hartoko kembali menatap tajam Siman. “Saya tadi mendengar sekilas dari Pak Jitomo. Katanya kamu baru saja menyelesaikan ujian kesetaraan, ya? Benar itu?”

Siman mengangguk. "Benar, Pak. Baru kemarin sore dapat hasilnya." Siman membulatkan tekadnya. “Saya lulus, Pak.” Siman tersenyum samar. Itu sebuah pengakuan dirinya. Ia berharap Pak Hartoko percaya padanya.

"Lulus? Wah, itu berita bagus! Pasti kamu mau lanjut kuliah, kan?" Pak Hartoko tampak antusias.

“Belum tahu, Pak. Belum ada biaya.” Suara Siman kembali mengecil. Luka lama akan status sosialnya seolah terungkit kembali. Ini akan kembali membuat Siman bersikap biasa saja.

Pak Hartoko menatap Siman. Ada senyum tersungging di bibirnya. “Bagaimana kalau kamu bekerja paruh waktu di tempat saya? Usaha fotokopian saya sedang membutuhkan anak muda yang rajin, mau belajar komputer dan desain. Mungkin saya bisa bantu sedikit-sedikit.”

Jantung Siman berdetak kencang, kali ini karena tawaran itu begitu mendadak, begitu tak terduga. Kerja paruh waktu? Mengembangkan kemampuan desain dan komputer? Itu persis seperti mimpi-mimpinya yang utopis beberapa bulan lalu!

“Serius, Pak?” tanya Siman, matanya berbinar. Ia menggenggam erat akiknya, yang kini terasa memanas, berdenyut gembira.

“Serius, Nak. Saya melihat kamu punya potensi. Tadi kamu menolong dengan sangat cekatan. Tidak hanya dari fisik. Kau juga bisa melakukan hal yang detail. Pekerjaan seperti ini di fotokopi butuh kemampuan detail.” Pak Hartoko menepuk bahu Siman, sebuah isyarat kepercayaan yang langka. “Apalagi… tadi Bos Jitomo bilang dia butuh seorang yang cekatan sepertimu. Saya setuju, Bos Jitomo.” Pak Hartoko berteriak ke arah Pak Jitomo. “Jadi nanti kalau ada masalah dengannya, bilang saja saya mau mengambil anak buahmu ini. Hehehe.”

Pak Jitomo, yang sedang berbicara dengan Dedi dan Ujang, melongok kaget, lalu tertawa ringan. “Wah, Pak Hartoko ini, selalu saja begitu! Ya sudah, silakan. Kalau si Siman sudah setuju, biar nanti malam dia akan kembali belajar. Itu niat yang baik, Pak. Jarang ada orang baik sepertimu.”

Tawa renyah Pak Hartoko menggema di bengkel itu. “Jadi, bagaimana, Siman? Mau? Gajinya lumayan, dan kerjanya tidak akan mengganggu waktu belajarmu.”

Siman tidak langsung menjawab. Ia merasa akiknya memanas hebat di jarinya, seolah memberinya energi sekaligus bisikan, “Terima… terima!” Perasaan bingung, antara bangga dan takut tidak bisa menyeimbangkan semuanya, bercampur aduk di dadanya. Tiga pekerjaan? Belajar? Ini terlalu banyak untuknya.

Tapi ia memikirkan senyum ibunya. Ia teringat kehinaan Dina. Ia mengingat janji-janji yang sudah Siman sematkan dalam hati kepada dirinya sendiri. Ini adalah sebuah peluang emas.

"Iya, Pak! Saya mau! Saya terima tawarannya!” Siman menyahut dengan semangat membara, senyumnya kini benar-benar merekah. Akik di jarinya terasa tenang kembali, hangat, seperti telah mendapatkan konfirmasi dari "kekuatan" di dalamnya. Ini bukan hanya sebuah keberuntungan, ini adalah jejak langkah takdir. Ini sebuah pencerahan yang membingungkan tapi ia akan menuntun jalan dirinya. Dia melihat senyum merekah dari Bapak Jitomo, itu adalah sebuah penghargaan yang tak Siman lupakan. Lalu ia mengamati Pak Hartoko yang sedang tersenyum ramah ke arahnya.

Pak Hartoko menepuk punggungnya pelan. "Bagus. Saya tunggu besok sore, ya, sepulangmu dari sini atau nanti sehabis kamu dari urusan yang lain. Ini kartu nama saya." Pak Hartoko menyodorkan sebuah kartu nama glossy berwarna emas. “Pokoknya besok saja ya, biar kamu istirahat yang banyak malam ini.”

Siman memegang kartu nama itu. Kartu nama mewah dari sebuah tempat usaha yang besar, yang akan menjadi tempatnya bekerja, menambah gajinya, dan tempat dia memulai sesuatu. Itu terlalu banyak. Ini sungguh... Siman ingin menepuk punggung Pak Hartoko karena ia begitu senang. Tetapi ia tidak ingin dinilai terlalu lancang. Hatinya berseru riang.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!