NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Pagi itu, Braden diajak oleh sang mama untuk mengunjungi suami sahabatnya yang sedang dirawat di rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan ayahnya Dara. Karena ibu kandung Braden bersahabat dengan ibu kandungnya Dara.

Braden yang berpikir kalau di rumah sakit pasti bakal ada Dara pun jelas langsung menyetujui ajakan sang ibu.

Siapa sangka, sampai di rumah sakit dia malah melihat Dara bersama pria lain. Pria yang dia kira adalah Aiden.

"Ma cepetan!" ujar Braden tidak sabar, takut dia kehilangan jejak.

"Bentar dong. Ini Mama lagi hubungin Erina buat tanya kamarnya ada di lantai berapa," sahut Luna.

"Haish. Ngajak ke sini kirain udah tau." Braden menggerutu.

Sedangkan di kamar rawat inap, Erina sedang membersihkan tubuh Aldi meski hanya diseka saja. Aldi terus menatap wajah cantik Erina, membuat istrinya itu lama kelamaan merasa risih.

"Kamu cantik," ucap Aldi.

Erina malah berdecak. "Cantik mana aku sama selingkuhanmu yang kemarin itu?" tanyanya.

Aldi menghembuskan napas berat. "Maaf," ucapnya.

Aldi merasa tidak punya kuasa untuk mengatakan apa pun kalau sudah menyangkut kesalahannya.

"Lihat. Di saat kamu sakit begini, aku yang ada buat kamu. Bukan selingkuhanmu itu, Mas. Putrimu yang khawatir padamu, bukan selingkuhanmu itu." Erina mengomeli suaminya.

Gerakan tangan Erina yang hendak menyeka perut Aldi terhenti saat Aldi memegang tangannya. Erina menatap wajah tampan suaminya yang kini sudah tidak sepucat kemarin.

"Aku mencintaimu, sangat. Maaf karena aku berulang kali menyakitimu," ucap Aldi.

Erina terdiam sejenak, menatap mata Aldi yang penuh penyesalan. Di dalam hatinya, perasaan marah dan kecewa berbaur dengan cinta yang masih ada untuk suaminya.

"Aku juga mencintaimu, Mas," jawab Erina lirih, suaranya sedikit bergetar. "Tapi mencintaimu tidak berarti aku bisa melupakan semua yang terjadi begitu saja."

Aldi mengangguk pelan. "Aku tahu, dan aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang lebih baik."

Erina menarik napas panjang dan mengangguk. "Aku berharap begitu, Mas. Untuk kebaikan kita semua, terutama putri kita. Aku tidak ingin dia seolah memiliki trauma dan ketakutan akan suaminya yang suatu saat nanti kelakuannya akan sama sepertimu."

Mereka berdua saling menatap dalam keheningan, seolah mencari kepastian dalam mata masing-masing. Erina kembali melanjutkan membersihkan tubuh Aldi, namun kali ini dengan sedikit lebih lembut.

"Aku akan memberikanmu satu kesempatan lagi, Mas. Tapi ingat, ini yang terakhir," ucap Erina tegas. "Kalau kamu kembali melakukan kesalahan yang sama, aku akan langsung pergi!"

Aldi mengangguk penuh syukur. "Terima kasih, Sayang. Aku tidak akan menyia-nyiakannya."

Erina hanya mengangguk, berharap di dalam hatinya bahwa Aldi benar-benar bisa berubah. Mereka berdua tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang, namun setidaknya ada harapan untuk memulai kembali dengan lebih baik.

Pintu terbuka, Dara datang bersama Rafa.

"Ada obatnya, Sayang?" tanya Ibu Erina.

"Ada, Bu. Ini." Dara menyimpan kantung plastik berisi obat yang tadi dia ambil di atas meja.

"Bu, tadi Oma titip ini." Rafa berucap dengan canggung, menyerahkan paper bag berisi makanan yang dia bawa dari rumah.

Ibu Erina menyimpan washlap ke tempatnya dan mengeringkan tangannya menggunakan tissue lalu mengambil paper bag dari sang menantu.

"Ya ampun... kok jadi ngerepotin begini sih? Ibu bisa beli padahal. Tolong bilangin makasih ya buat Oma," ucap Ibu Erina.

Rafa mengangguk dia menatap ayah mertuanya yang tersenyum padanya. "Ayah gimana keadaannya hari ini?"

"Yah... begitulah, Nak. Nyeri bekas operasi mulai terasa kalau gerak," jawab Ayah Aldi.

Rafa mengangguk. "Semoga lekas pulih ya, Yah."

Rafa bergabung dengan Dara yang sedang duduk di sofa sambil berkirim pesan dengan Bebi. Bebi ada meminta maaf padanya dan akan menjelaskan semuanya saat mereka bertemu langsung di sekolah besok.

Dara menyentak napas kasar dan menyimpan ponselnya ke atas meja. Dia melirik ke arah Rafa yang sedang menatapnya.

"Ada apaan?" tanya Dara.

Rafa tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Dia hanya merasa senang bisa melihat wajah Dara lagi. Semalaman hampir tidak bisa tidur gara-gara kepikiran saat malam kemarin tidur bersama istri kecilnya itu.

Dara membersihkan ujung matanya, takut ada belek dan Rafa menertawakannya. Dia mengambil ponsel dan membuka aplikasi kamera lalu mengarahkan kamera depan ke wajahnya.

"Kamu ngapain?" tanya Rafa.

"Takut aja Mas Rafa merhatiin aku karena di mataku ada beleknya." Dara nyengir setelahnya.

"Ck. Gak ada."

Dara memiringkan matanya melihat kantung mata sang suami yang terlihat sedikit menghitam.

"Mas Rafa gak tidur semalaman?" tanyanya.

Kedua alis Rafa naik. Dia tentu tidak ingin Dara mengetahui kalau dia semalam memang tidak bisa tidur karena terus memikirkan istri kecilnya itu.

"Saya nonton film seru semalam. Begadang," kilahnya.

Dara membulatkan mulutnya. Keduanya fokus pada pintu yang terbuka dan seketika Dara melotot melihat siapa yang datang.

"Tante Luna," gumam Dara.

Makin melotot lah mata Dara saat Braden menyusul masuk dan melihat ke arahnya.

"Braden." Kali ini Rafa yang bergumam.

Dengan cepat Dara menjauhkan tubuhnya dari Rafa. Mereka yang semula duduk deketan langsung berjauhan karena Dara tidak ingin Braden curiga padanya dan Rafa.

"Maaf ya baru datang. Aku baru sempet," ucap Luna setelah mencium pipi kanan kiri Erina. Khas seorang wanita kalau bertemu sahabatnya.

"Gak apa-apa. Makasih banyak lho udah nengokin Mas Aldi," sahut Erina.

"Ini kenapa sih bisa kayak gini? Mas Aldi kan biasanya selalu jaga kesehatan, olahraga juga," ucap Luna.

Aldi hanya tersenyum saja. Dia juga kaget karena konstipasi yang dia alami beberapa hari waktu itu ternyata salah satu gejala penyakit yang dideritanya.

Di saat ibunya sibuk mengobrol, pandangan Braden langsung tertuju pada Dara yang ada di sofa. Dara nampak cuek bermain ponsel dan tidak ada menyapanya sama sekali.

"Jadi... yang tadi itu... Pak Rafa? Bukan Aiden?" batin Braden.

"Pak, apa kabar?" Braden menyapa Rafa.

"Baik, kamu...."

"Oh, saya nganter Ibu. Kebetulan Ibu saya sahabat baiknya Ibunya Dara," ucap Braden.

Rafa mengangguk saja. Dia memperhatikan Dara yang nampak cuek meski mantan kekasih istrinya itu datang. Rafa ingin melihat, bagaimana interaksi mereka selanjutnya.

"Dara, gue ikut sedih ya dengan apa yang menimpa Ayah lo," ucap Braden.

"Hm ya. Makasih," jawab Dara tanpa senyum.

Braden mengusap tengkuknya. Jadi kikuk sendiri karena Dara jutek padanya.

"Jadi... kalian beneran saudara

ngeliat kamu. Kamu cantik banget, Sayang."

Luna melirik tajam ke arah Braden. Kesal sekali rasanya kalau mengingat Braden yang sudah selingkuh dari Dara dan hubungan mereka jadi kandas. Padahal, Luna ingin sekali Dara menjadi menantunya.

"Makasih, Tante. Tante juga makin keliatan cantik," puji Dara tanpa dusta. Ibu kandungnya Braden itu memang terlihat semakin cantik di usianya yang terus bertambah.

"Bisa aja kamu, Sayang."

"Ini.. siapa?" tanya Luna pada sosok pria tampan yang ternyata

sepupu?" tanya Braden.

"Iya. Kenapa emangnya?" Dara balik bertanya. Nadanya masih ketus sekali.

"Ya gak apa-apa. Nanya doang," jawab Braden.

"Dara, apa kabar kamu sayang?" Luna menghampiri Dara. Membuat gadis itu mau tidak mau langsung berdiri dan mencium punggung tangan Luna.

"Baik, Tante. Tante apa kabar?" tanya Dara.

Luna mengangguk dengan senyum yang terlihat sekali kalau dia merasa senang melihat Dara yang sangat cantik.

"Tante sampai pangling lho

ada duduk di sofa.

"Oh, emm... ini saudara sepupu jauh aku, Tante."

Erina buru-buru menghampiri Dara, tahu kalau putrinya itu kini tengah dilanda kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Luna.

"Ini keluarga jauhnya Mas Aldi, Lun. Kebetulan lagi jenguk Mas Aldi juga," ucap Erina.

Rafa mengangguk kecil sebagai tanda salam dan perkenalan. Memang seperti itulah dia kalau pada orang yang baru dia kenal.

Luna mengangguk paham. Sedangkan Erina kembali ke sisi ranjang di mana suaminya berada seraya menghembuskan napas lega.

Luna memegang kedua tangan Dara. Menatap Dara dengan sendu.

"Maafin kesalahan Braden ya, Sayang. Kamu pasti sakit hati dan kecewa sama kelakuannya," ucap Luna.

Braden diam. Meski dalam hatinya dia merasa malu karena sang mama berkata seperti itu di saat ada orang lain di sana. Orang itu adalah Rafa, gurunya sendiri.

Dara tersenyum kikuk, dia diam-diam melirik ke arah Rafa yang sedang memperhatikannya. Dara tidak bisa tahu suaminya itu bagaimana perasaannya sekarang, karena raut wajahnya datar dan tidak ada ekspresinya sama sekali.

"Gak apa-apa, Tante. Aku udah lupain semuanya kok," ucap Dara.

Luna tersenyum, ada binar di matanya yang menyiratkan kalau dia ingin Dara kembali menjalin hubungan dengan anaknya, Braden.

"Tante masih berharap kamu mau balikan sama Braden. Tante pengen banget suatu saat nanti kamu jadi istrinya Braden," ucap Luna yang memang selalu sat set kalau bicara, langsung ke intinya.

"Ma!" tegur Braden.

Selain malu, Braden juga sudah punya Monica, meski di jauh di lubuk hati kecilnya sana, dia pun mengharapkan hal yang sama dengan ibunya itu.

Tahu kalau Dara cantik begini, dia tentu tidak akan memutuskan Dara waktu itu.

Meski Erina dan Luna bersahabat sejak dulu. Namun, mereka sempat tidak bertemu lama dan bertemu lagi saat Dara dan Braden sudah beranjak remaja.

Erina dan Aldi yang mendengar ucapan Luna pun saling lirik. Dara sudah menikah dan tentu tidak akan bisa bersama pria lain, termasuk Braden. Tapi tentu saja tidak ada yang boleh mengetahui status Dara dan Rafa. Karena Dara masih sekolah.

Sedangkan Rafa menyandarkan punggungnya ke sofa. Menunggu respon yang akan diberikan oleh

Dara.

Dara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia menatap wajah Luna yang bisa dia lihat sorot matanya penuh dengan harapan dia akan kembali menjadi kekasih Braden.

"Maaf, Tante. Tapi aku gak bisa. Aku sama Braden udah pilih jalan masing-masing," ucap Dara.

Braden menunduk, merasa campur aduk antara malu dan rasa bersalah. "Ma, sudahlah," ujarnya pelan, berharap ibunya tidak memaksakan kehendak.

Luna memaksakan senyumnya. Dia mengusap punggung tangan Dara dengan lembut. "Iya. Gak apa- apa. Maaf kalau Tante udah lancang bicara kayak gitu tadi."

Dara langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Jangan bicara kayak gitu, Tante. Tante gak salah sama sekali. Aku yang harusnya minta maaf."

 

Sorenya, Dara memutuskan untuk pulang karena besok dia harus sekolah. Meski berat meninggalkan ibunya yang harus merawat sang ayah seorang diri, tapi dia diingatkan oleh sang ibu kalau punya kewajiban lain yaitu mengurus suaminya sendiri.

"Besok aku ke sini lagi ya, Bu," ucap Dara.

Erina mengangguk dia mengantar anak dan menantunya pergi sampai ke depan pintu lalu kembali masuk.

Di dalam mobil, Dara memperhatikan dengan lekat wajah tampan suaminya yang nampak fokus menatap ke jalanan di depan. Sejak keluar dari rumah sakit tadi, Rafa tidak ada bicara padanya.

Dara mengerucutkan bibirnya. Dia jadi bingung mau bicara apa.

"Kalian pacaran berapa lama?" tanya Rafa.

"Hah?" Dara malah bengong dan itu membuat Rafa berdecak sebal.

"Kamu sama Braden dulu pacaran berapa lama?" Rafa mengulang pertanyaannya.

"Oh. 3 tahun," jawab Dara.

Rafa mengangguk dan suasana jadi hening kembali karena Rafa tidak mengatakan apa pun lagi.

"Cuman tanya kayak gitu doang?" batin Dara.

Keduanya sampai di rumah dan Dara langsung naik ke lantai atas karena saat mencari Oma, katanya Oma sedang istirahat di kamarnya.

Saat hendak masuk ke kamar, Dara kaget karena Rafa juga nyelonong masuk ke kamarnya.

"Mas mau apa? Ini kamar aku," ucap Dara.

"Ya lalu memangnya kenapa? Kamu kan istri saya," sahut Rafa dengan santainya.

Dara masih diam di ambang pintu, memperhatikan Rafa yang mondar mandir seperti sedang mencari sesuatu.

"Gelang yang kemarin, masih kamu simpan?" tanya Rafa.

Dara berjalan masuk dan mengangguk. "Iya. Kenapa emangnya?" tanya Dara dengan polosnya.

"Kenapa kamu bilang? Itu barang dari mantan pacar kamu. Saya kan udah suruh kamu buat buang gelang itu!" ujar Rafa agak kesal.

Dara menyimpan tas kecilnya ke atas meja dan duduk di tepi ranjang. "Kelupaan," jawabnya.

Rafa menengadahkan tangan kanannya meminta gelang pemberian dari Braden yang masih disimpan oleh Dara.

Dara mengambil gelang yang dia simpan di laci meja belajar lalu memberikannya pada Rafa.

"Besok saya beliin yang lebih bagus dari ini," ucap Rafa.

"Oh, sama baju olahraga yang ukurannya lebih besar dari punyamu, besok udah bisa diambil juga. Baju yang kemarin jangan dipake lagi," sambungnya.

Dara diam, dia menggigit bibir

dalamnya karena ingin mengutarakan sesuatu yang mengganjal di hatinya sana tapi ragu. Takut hal itu akan menyinggung perasaan Rafa.

"Lalu barang pemberian dari Mbak Khaylila, apa Mas masih nyimpen semuanya?"

Rafa yang sudah berada di ambang pintu pun langsung menghentikan langkahnya seketika. Dia meneguk ludahnya kasar bingung menjawab pertanyaan Dara.

"Kalau Mas Rafa pengen aku buat gak nyimpen barang pemberian mantan aku, apa aku juga boleh minta Mas Rafa gak nyimpen lagi barang pemberian

dari mendiang Mbak Khaylila?" tanya Dara.

Rafa terdiam sejenak, memandang Dara dengan perasaan campur aduk. Dia tahu betapa pentingnya pertanyaan itu bagi Dara, namun di sisi lain, permintaan tersebut juga terasa sulit baginya.

Melihat Rafa yang hanya diam saja, Dara tersenyum miris. Dara merasa kalau Rafa egois dan tidak memikirkan perasaannya.

Rafa ingin Dara tidak lagi mengingat masa lalunya, sedangkan Rafa sendiri seakan sulit beranjak dan melupakan masa lalunya yang sudah tiada.

Mereka sudah menikah, sudah memutuskan juga untuk mulai menerima hubungan mereka yang awalnya terpaksa. Apakah salah kalau Dara ingin Rafa melakukan hal yang sama seperti dirinya?

"Gak apa-apa kalau emang gak bisa. Aku gak akan maksa kok," ucap Dara dengan hati yang terasa perih.

"Kalau keluar nanti, tolong tutup pintunya ya," pinta Dara. Dia berbalik, berjalan menuju kamar mandi karena ingin membersihkan diri.

Rafa memejamkan matanya erat, dia bimbang dengan keputusan apa yang akan dia ambil. Semua barang kenangannya

bersama Khaylila, selama ini tersimpan rapi di kamarnya. Selama ini dia tidak berani membuangnya.

Pria tampan itu membuka matanya, dia berbalik dan berjalan cepat ke arah Dara yang akan masuk ke kamar mandi.

Dara tersentak kaget saat Rafa tiba-tiba memeluknya dari belakang.

"Mas Rafa...."

"Maaf, maafkan aku," ucap Rafa.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!