Dianggap sebagai sampah karena meridiannya yang hancur, Ling Tian hidup dalam penghinaan dan keputusasaan. Namun, takdirnya yang kelam berubah selamanya saat ia secara tak sengaja membangkitkan Mutiara Naga Kosmik, sebuah artefak ilahi yang menyimpan jiwa Naga Purba dan rahasia ruang-waktu.
Dengan warisan yang menentang langit ini, perjalanan Ling Tian dimulai. Dari seorang pemuda yang dicemooh, ia bangkit untuk membalas dendam, mengguncang sekte, dan menaklukkan kerajaan. Perjalanannya membawanya melintasi dunia fana menuju alam abadi, di mana setiap langkah adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang sampah bisa naik menjadi penguasa kosmos, mengungkap konspirasi universal, dan memegang takdir jutaan dunia di tangannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Sang Juara dan Pialanya
Gelar "juara" yang diucapkan oleh wasit menggantung di udara yang beku, tidak disambut oleh sorak-sorai, melainkan oleh keheningan yang dipenuhi ribuan tarikan napas tertahan. Di atas panggung, Ling Tian berdiri tegak, jubah hitamnya berkibar pelan, kontras dengan sosok Ling Feng yang hancur dan berlumuran darah di kakinya.
Pandangan semua orang tertuju padanya, tetapi tidak ada lagi kekaguman, hanya rasa takut yang murni. Dalam satu hari, ia telah berubah dari sampah yang dilupakan menjadi dewa iblis yang menakutkan di mata mereka.
Keheningan itu akhirnya pecah oleh raungan putus asa yang menusuk hati.
"CUCUKU!"
Grand Elder Ling Wei, dengan mata merah menyala dan rambut acak-acakan, akhirnya berhasil melepaskan diri dari tekanan aura Patriark. Ia melompat dari panggung utama, mendarat di samping Ling Feng. Melihat kondisi cucunya yang lumpuh dan kosong, matanya dipenuhi dengan kebencian yang tak terbatas.
"Ling Tian! Kau binatang! Aku akan membunuhmu!" Ia meraung, dan aura Alam Pembangunan Fondasi miliknya meledak, siap untuk melancarkan serangan mematikan.
Namun, sebelum ia bisa bergerak, sesosok tubuh yang agung muncul di hadapannya seperti hantu. Patriark Ling Zhan berdiri di antara Ling Wei dan Ling Tian.
"CUKUP, LING WEI!" Suara Patriark tidak keras, tetapi membawa kekuatan yang membuat seluruh arena bergetar. "Hasil kompetisi telah diputuskan. Aturan telah diikuti. Apakah kau ingin mempermalukan dirimu sendiri dan seluruh klan di hadapan para tamu kita?"
Tatapan Ling Zhan sedingin es. "Bawa cucumu dan pergi. Jangan biarkan aku melihat wajahmu lagi hari ini."
Grand Elder Ling Wei gemetar karena amarah dan ketidakberdayaan. Ia menatap Patriark, lalu ke Ling Tian yang acuh tak acuh. Akhirnya, dengan ratapan kesedihan, ia mengangkat Ling Feng yang terkulai dan, dibantu oleh beberapa pengikutnya yang pucat, membawanya pergi dari arena, meninggalkan jejak darah dan kebencian.
Dengan perginya faksi Ling Wei, suasana menjadi sedikit lebih ringan, meskipun ketegangan masih terasa. Patriark Ling Zhan berbalik menghadap Ling Tian. Ekspresinya rumit—ada kebanggaan, kelegaan, tetapi juga sedikit kesedihan dan kewaspadaan.
"Ling Tian," katanya dengan suara yang dalam. "Kau adalah juara kompetisi tahun ini. Sesuai janji, ini adalah hadiahmu."
Seorang diaken, dengan tangan gemetar, maju ke depan dan mempersembahkan sebuah kotak giok yang indah.
Ling Tian menerimanya tanpa ragu-ragu dan membukanya. Di dalamnya, terbaring sebutir pil seukuran ibu jari, memancarkan cahaya redup dan aroma obat yang sangat pekat. Pil Pembangunan Fondasi. Ini adalah kunci untuk melangkah ke alam berikutnya, harta yang didambakan oleh setiap seniman bela diri Alam Pemurnian Qi.
Ia juga diberikan sebuah token emas. "Token ini memberimu akses tanpa batas ke empat lantai pertama Perpustakaan Klan," tambah Patriark.
"Terima kasih, Patriark," kata Ling Tian, suaranya tetap tenang seolah-olah ia baru saja menerima hadiah biasa, bukan harta yang bisa mengubah nasib.
Ia menutup kotak itu dan hendak turun dari panggung.
"Tunggu, Ling Tian."
Sebuah suara lembut memanggilnya. Murong Xue, dengan mata merah dan bengkak, telah berjalan ke tepi panggung, ayahnya berdiri di belakangnya dengan ekspresi yang rumit.
"Aku... aku minta maaf," bisiknya, suaranya serak. "Aku salah. Aku salah telah meninggalkanmu tiga tahun lalu. Bisakah... bisakah kita..."
Ling Tian berhenti sejenak. Ia meliriknya, tetapi tatapannya sedingin saat ia menatap Ling Feng. Tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian, hanya ketidakpedulian yang mutlak. Seolah-olah ia sedang menatap orang asing.
"Hubungan antara kau dan aku sudah berakhir pada hari kau mengembalikan token pertunangan itu," katanya dengan suara datar. "Jangan pernah menyebutkannya lagi."
Setiap kata seperti pisau es yang menusuk hati Murong Xue. Ia terhuyung mundur, wajahnya sepucat mayat. Ia akhirnya mengerti. Pria yang berdiri di hadapannya bukan lagi Ling Tian yang dulu mencintainya. Pria itu telah mati tiga tahun yang lalu, dibunuh oleh keputusannya sendiri.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ling Tian melompat turun dari panggung. Kerumunan secara otomatis memberinya jalan, mata mereka dipenuhi rasa takut. Ia berjalan lurus, tidak melirik siapa pun lagi.
Saat ia melewati sudut terpencil arena, ia merasakan tatapan. Ling Xue berdiri di sana, diam seperti biasa. Mata mereka bertemu sejenak. Ling Tian melihat keterkejutan dan analisis yang mendalam di matanya. Ling Xue, di sisi lain, melihat kekuatan yang tak terduga—terutama serangan jiwa yang tak terlihat itu—yang memberinya secercah harapan untuk masalahnya sendiri.
Sebuah anggukan kecil yang nyaris tak terlihat dipertukarkan di antara mereka, sebuah pengakuan diam-diam atas kekuatan masing-masing.
Ling Tian terus berjalan, meninggalkan arena yang kacau di belakangnya. Ia tidak kembali ke halaman kecilnya. Sebaliknya, ia langsung menuju ke gua kultivasi terpencil di gunung belakang Klan Ling.
Ia telah membalas dendamnya. Ia telah mendapatkan hadiahnya.
Sekarang, tidak ada waktu untuk istirahat. Sudah waktunya untuk melangkah ke tingkat berikutnya. Panggung Kota Awan Bambu sudah terlalu kecil untuknya. Dunia yang lebih besar menanti, dan untuk menaklukkannya, ia harus menjadi lebih kuat.
Tujuannya sekarang adalah Alam Pembangunan Fondasi!