Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Tiga Tahun, Satu Kebun
Cangkul itu masuk ke tanah dengan suara yang bersih. Huang Shen mengangkatnya lagi, memutar pergelangan tangan, lalu menghantam permukaan tanah di baris berikutnya. Ritme yang sama sejak pagi, teratur seperti detak jantung. Di kebun belakang rumah kayu ini, tidak ada darah, tidak ada Gerbang yang menyala, tidak ada suara dari dalam dada yang memberi arahan. Hanya tanah, cangkul, dan matahari pagi yang belum cukup tinggi untuk terasa menyengat.
Dari jendela dapur yang terbuka, aroma beras dan jahe mengalir keluar bersama asap tipis.
Mu Qingxue memasak dengan gerakan yang luwes karena kebiasaan. Tangan kirinya mengaduk, tangan kanan menambahkan irisan jahe ke dalam kuah. Sesekali matanya bergerak ke arah jendela, ke punggung Huang Shen yang membelah tanah di luar sana.
Tidak ada yang diucapkan karena memang tidak perlu.
Tiga tahun lalu, malam setelah Wang Teng mati, Mu Qingxue menjual Paviliun Qingxue beserta seluruh isinya dalam waktu dua minggu. Tidak ada penjelasan yang dia berikan kepada siapa pun, dan Huang Shen pun tidak bertanya.
Mereka pindah ke sini. Rumah kayu kecil di pinggir hutan Qingshan, delapan li dari Kota Qingyun, cukup jauh untuk tidak terdengar tapi cukup dekat untuk diakses ketika ada pekerjaan.
Adapun pekerjaan Huang Shen berubah bentuk tapi tidak berubah isi. Dia tidak lagi memburu orang-orang yang pernah menyakitinya satu per satu. Sekarang orang-orang yang ingin seseorang disingkirkan datang padanya, menyebutkan nama, menyerahkan informasi. Sementara Huang Shen memilih yang memenuhi syaratnya, lalu pergi malam hari dan kembali sebelum fajar.
Targetnya selalu orang jahat. Bukan karena dia bermoral, tapi karena darah orang jahat yang sudah terbiasa dengan kekerasan punya kandungan Qi lebih pekat dari rakyat biasa yang hidupnya tenang. Dan itu jauh lebih efisien.
Alhasil, dari Pemurnian Qi tingkat tujuh tiga tahun lalu, Huang Shen kini berdiri di Inti Emas tingkat delapan.
Di dunia Alam Bawah Sembilan Langit, kultivasi dibagi dalam tangga yang panjang. Pemurnian Qi di paling bawah, tahap di mana seorang kultivator baru bisa merasakan Qi di dalam tubuh dan mulai membentuknya. Pembentukan Dasar menyusul setelahnya, di mana fondasi sejati mulai dibangun dan kultivator bisa melayang di atas tanah dalam hitungan menit.
Lalu berikutnya adalah Inti Emas, dan di sinilah bola emas terbentuk di pusat tubuh, menyimpan Qi dalam jumlah yang membuat seorang kultivator sanggup terbang berhari-hari tanpa kelelahan. Di atas itu ada Jiwa Baru, lalu Pembentuk Jiwa, Transformasi Jiwa, dan akhirnya jenjang Abadi yang dimulai dengan Manusia Abadi, Emas Keabadian, Keabadian Agung, Dewa Purba dan yabg terakhir adalah Puncak Keabadian. Semua tingkatan di bawah jenjang Abadi, masing-masing terbagi dalam 10 level berbeda.
Wang Teng, yang dulu membuat Huang Shen terpental dengan satu pukulan, berada di Jiwa Baru tingkat akhir.
Sekarang Huang Shen sudah separuh jalan ke sana.
Dalam tiga tahun. Dengan Gerbang Iblis yang saat ini berada di level satu, fungsi penyerapan darahnya bekerja seperti jalan pintas yang tidak seharusnya ada. Setiap darah yang diserap memasukkan Qi langsung ke dalam Inti Emas, memadatkannya, mempercepatnya. Kecepatan yang tidak wajar untuk jenjang manapun di dunia kultivasi normal.
Tapi efek sampingnya juga nyata.
Semakin banyak darah yang dia serap, semakin lama diperlukan untuk merasakan rasa lapar biasa. Yang terasa justru kehausan yang berbeda. Bukan haus air karena Huang Shen sudah belajar mengenali perbedaannya. Haus itu datang biasanya tiga atau empat hari setelah target terakhir, dan satu-satunya cara meredamnya adalah Resonansi Gerbang yang lambat, atau pekerjaan baru yang lebih cepat.
Mu Qingxue meletakkan mangkuk di meja saat Huang Shen masuk dari pintu belakang, menyeka tangannya di kain yang tergantung di pintu.
Tiga tahun membuat dia tidak lagi menghitung berapa kali Huang Shen pulang sebelum fajar dengan darah di tangannya yang sudah hampir kering. Tiga tahun membuat dia tidak lagi bertanya targetnya siapa, berapa, dan bagaimana.
Manakala awalnya matanya masih menolak memandang, sekarang dia hanya perlu satu kedipan untuk kembali fokus pada hal lain.
Dia takut pada Huang Shen. Itu tidak berubah. Tapi rasa takut itu sudah lama berhenti terasa seperti peringatan, dan mulai terasa seperti sesuatu yang menopangnya tetap berdiri.
Kultivasi ganda yang mereka lakukan tidak banyak dijelaskan oleh siapa pun. Huang Shen pernah menyebutnya sebagai cara memadatkan Inti Emasnya dari dua arah sekaligus. Sementara Mu Qingxue menerima penjelasan itu tanpa meminta lebih. Yang dia tahu, setelah setiap sesi, tubuhnya terasa lebih ringan tapi ada sesuatu yang perlahan tidak kembali. Perasaan tertentu yang tidak lagi muncul. Kesedihan atas hal-hal yang dulu pernah membuatnya menangis.
Suatu malam tiga bulan lalu, dia melihat kucing peliharaan tetangga mati di depan pintu dan tidak merasakan apa-apa. Dia berdiri di sana beberapa menit, menunggu rasa sedih yang tidak datang, lalu masuk ke dalam.
Dia tidak memberitahu Huang Shen. Huang Shen jelas tidak bertanya.
Kini suara kuda terdengar dari arah gerbang depan saat Huang Shen sedang menyeruput teh.
Seorang pemuda berpakaian sutra biru muda menuntun kuda putih ke halaman depan. Di bahunya ada hiasan giok berbentuk awan, di jarinya ada cincin emas yang terlalu banyak untuk ukuran jari yang tidak pernah bekerja keras. Wajahnya tampan dengan cara yang menunjukkan dia belum pernah merasakan tidur di luar ruangan.
Tatkala melihat Huang Shen yang keluar dari pintu depan, bangsawan itu berusaha menegakkan bahunya.
“Tuan Huang?” cetusnya, nada hormat yang jelas dipaksakan.
Huang Shen menatapnya sebentar. “Syaratnya sama seperti yang sudah kau dengar dari perantara.”
Bangsawan itu mengangguk cepat. “Tentu. Tentu saja.” Dia menyerahkan gulungan kecil dari dalam jubahnya. “Targetnya adalah kepala desa Sinan. Merampas tanah rakyat sejak empat tahun lalu dan membunuh tiga keluarga yang menolak menyerahkan sawah mereka.” Bibirnya melengkung dengan cara yang membuat bulu kuduk Mu Qingxue yang mengintip dari balik jendela merinding. “Sampah seperti itu pantas mati, bukan?” selorohnya sambil tertawa kecil.
Huang Shen membuka gulungan itu, membacanya sepintas.
Setengah detik, matanya bergerak ke arah jendela dapur. Bukan menatap Mu Qingxue, tapi ke arah itu. Sebentar saja, lalu kembali ke gulungan di tangannya. “Aku akan melakukannya setelah urusan kebunku selesai,” tandasnya.
Bangsawan itu pun meluap kegirangan. “Tuan Huang memang yang terbaik di wilayah selatan ini! Tidak ada yang sebanding dengan… .” dia terus bicara, melanjutkan dengan daftar panjang tentang betapa menjijikkannya sang kepala desa dengan nada yang justru membuat dirinya sendiri tidak jauh berbeda dari yang dia hina.
Sedangkan Huang Shen sudah berbalik ke dalam. Pintu menutup sebelum bangsawan itu selesai bicara.
Kendati demikian, si bangsawan tetap pergi dengan wajah puas, naik ke atas kuda putihnya dan berlalu dengan kepala tegak. Derap kaki kuda perlahan menghilang di antara pepohonan.
Di kebun belakang, suara cangkul kembali terdengar tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Mu Qingxue menarik diri dari jendela dan kembali ke tungku. Tangannya mengangkat sendok sayur, mengaduk perlahan.
Di dadanya tidak ada apa-apa yang bergetar. Dan itu yang paling membuatnya takut. Semakin dia membiarkan Huang Shen melakukan apa yang pemuda itu mau, semakin hilang sedikit moral yang tersisa di dalam hatinya.