NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Ada sebuah kesalahpahaman besar tentang cara manusia mengukur kebebasan. Kebanyakan orang berpikir bahwa kebebasan adalah tentang sejauh mana kaki bisa melangkah, atau seberapa luas cakrawala yang bisa dipandang tanpa terhalang tembok. Namun, bagi seseorang yang telah menghabiskan seluruh hidupnya di dalam sangkar emas yang disebut istana, kebebasan justru sering kali ditemukan di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter dengan pintu besi yang terkunci rapat. Karena di tempat seperti itulah, untuk pertama kalinya, tidak ada mata yang menuntut, tidak ada naskah yang harus dibaca, dan tidak ada mahkota yang harus dijaga agar tidak miring.

Arlo Valerius berdiri di tengah ruangannya yang remang, menatap sepotong roti gandum yang sudah mulai mengeras di atas meja kayu. Di sampingnya, segelas air putih tampak tidak tersentuh, permukaannya tenang, mencerminkan langit abu-abu dari balik celah jendela menara. Arlo tidak merasa lapar. Perutnya terasa penuh oleh sesuatu yang jauh lebih padat daripada makanan—sebuah rasa puas yang getir sekaligus kecemasan yang terus berdenyut halus di bawah kulitnya.

Ia melangkah perlahan menuju jendela, merasakan dinginnya lantai batu merambat melalui telapak kakinya yang telanjang. Angin pagi ini membawa aroma hujan yang belum turun, bercampur dengan bau garam laut dari arah pelabuhan. Arlo menyandarkan keningnya pada dinding batu yang kasar, memejamkan mata. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia masih bisa melihat noda hitam yang mengalir di wajah singa batu itu. Ia masih bisa merasakan getaran di bahu Kalea saat gadis itu berbisik menyebut namanya untuk terakhir kali.

Tangannya bergerak ke saku celana linennya, meraba selembar kertas kecil yang kini sudah agak lembap karena keringat tangannya. Surat dari merpati itu. Arlo sudah membacanya lebih dari seratus kali sampai ia bisa menghafal setiap lengkungan hurufnya yang kaku.

“Terima kasih karena telah menjadi retakan yang paling nyata dalam hidupku.”

Arlo menarik sudut bibirnya sedikit. Ia tidak pernah menyangka bahwa disebut sebagai “retakan” akan menjadi pujian paling indah yang pernah ia terima. Di dunia di mana segalanya harus terlihat utuh dan sempurna, menjadi sebuah retakan berarti menjadi celah di mana cahaya bisa masuk—atau menjadi jalan bagi kehancuran untuk dimulai.

Suara gesekan kunci besi di balik pintu mengejutkan lamunan Arlo. Ia tidak menoleh. Ia tahu itu bukan jam makan siang. Dan ia tahu langkah kaki siapa yang sedang mendekat. Langkah itu berat, penuh wibawa, dan memiliki jeda yang sangat teratur. Langkah kaki seorang penguasa yang tidak pernah ragu dengan arah tujuannya.

Pintu terbuka lebar, membiarkan cahaya kuning dari koridor luar tumpah ke lantai menara yang kusam. Raja Valerius masuk sendirian. Pria itu tidak mengenakan jubah kebesarannya yang berat, hanya kemeja hitam dengan bordiran emas sederhana di bagian kerah. Namun, auranya tetap sanggup membuat udara di ruangan itu terasa mendadak lebih tipis.

Raja berhenti tiga langkah di belakang Arlo. Ia menatap punggung putranya yang tampak lebih kurus di bawah cahaya temaram. "Kau terlihat betah di sini, Arlo. Apakah hukuman ini terasa lebih ringan daripada pesta dansa?"

Arlo perlahan membalikkan tubuh, tangannya tetap berada di saku, menggenggam kertas surat itu erat-erat. "Di sini tidak ada yang memaksa saya untuk tersenyum pada orang yang ingin saya cekik, Ayah. Jadi, ya, ini jauh lebih ringan."

Raja Valerius mendengus pelan, matanya menyapu seisi ruangan yang berantakan. Ia melihat goresan-goresan kecil di dinding batu—gambar retakan yang dibuat Arlo dengan batu kecil. Raja melangkah mendekati dinding itu, menyentuh permukaannya dengan jemari yang kasar. "Kau sedang mencoba menghitung hari, atau sedang mencoba merobohkan menara ini dengan imajinasi?"

"Saya sedang mencoba mengingat bahwa dunia ini tidak sehalus marmer di aula utama," jawab Arlo tenang.

Raja berbalik, menatap langsung ke mata biru putranya yang kini tampak jauh lebih tajam. "Gadis itu... pencarian di pelabuhan sudah dihentikan. Helena sangat marah, tentu saja. Dia yakin kau terlibat dalam pelariannya. Dan sejujurnya, aku pun punya keyakinan yang sama."

Arlo menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun, namun ia menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar. "Jika Ayah yakin saya terlibat, kenapa pencariannya dihentikan?"

"Karena aku lebih peduli pada stabilitas Aethelgard daripada pada egomu atau ego Helena," Raja berjalan menuju jendela, menatap ke arah pelabuhan yang jauh. "Jika aku memburu gadis itu sampai ke ujung dunia, aku hanya akan membuktikan pada semua orang bahwa Putra Mahkota Aethelgard benar-benar memiliki kelemahan pada seorang tukang cat. Dan itu adalah skandal yang tidak akan pernah aku biarkan terjadi."

Pria tua itu menghela napas panjang, uap tipis keluar dari mulutnya di udara menara yang dingin. "Pernikahanmu dengan Helena akan dilangsungkan tiga hari setelah kau keluar dari sini. Persiapan sudah selesai. Undangan sudah dikirim ke seluruh benua. Tidak ada lagi ruang untuk negosiasi, Arlo."

"Bagaimana jika saya menolak?"

Raja Valerius berputar dengan cepat, matanya berkilat penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Jika kau menolak, kau bukan hanya menghancurkan dirimu sendiri. Kau menghancurkan perjanjian keamanan yang melindungi rakyatmu dari agresi Vandellia di perbatasan utara. Kau ingin menjadi manusia yang jujur? Silakan. Tapi jadilah manusia jujur yang tahu bahwa kejujurannya bisa membunuh ribuan orang lain."

Arlo mengepalkan tangannya di dalam saku. Inilah beban yang selalu digunakan ayahnya untuk mengikatnya. Tanggung jawab. Rakyat. Kedamaian. Kata-kata indah yang digunakan untuk membenarkan ketidakadilan yang dirasakan oleh orang-orang seperti Kalea.

"Ayah bicara seolah-olah perang adalah satu-satunya pilihan jika saya tidak menikahi Helena," Arlo melangkah maju, memperpendek jarak. "Vandellia butuh jalur perdagangan kita sama besarnya dengan kita butuh pasukan mereka. Ayah hanya terlalu takut untuk mencari jalan lain."

"Jangan mengajariku tentang politik, Arlo!" suara Raja meninggi, menggema di dinding menara. "Kau baru saja belajar cara memegang sikat cat, bukan cara memimpin kerajaan. Kau mengasihani seorang gadis yang bahkan tidak bisa membaca, tapi kau menutup mata pada nasib jutaan rakyat yang butuh kepastian."

Raja melangkah mendekati pintu, namun ia berhenti sejenak sebelum keluar. "Makanlah rotimu. Tiga hari lagi, kau akan keluar dari sini untuk menemui perancang busanamu. Aku harap kesunyian di sini sudah cukup untuk membersihkan otakmu dari debu-debu Sayap Utara."

Pintu besi itu ditutup kembali dengan dentuman yang memekakkan telinga. Arlo berdiri mematung di tengah ruangan. Ia bisa merasakan dadanya bergemuruh oleh amarah yang tertahan. Ia benci betapa ayahnya selalu punya argumen yang terdengar logis namun terasa sangat hambar di hatinya.

Ia berjalan kembali ke jendela, menatap langit yang kini mulai meneteskan rintik hujan pertama. Hujan itu jatuh perlahan, membasahi batu-batu menara, mengubah warna abu-abunya menjadi lebih gelap dan mengkilap. Arlo mengulurkan tangannya ke luar jendela, membiarkan tetesan air hujan membasahi telapak tangannya yang lecet.

Ia teringat ucapan Kalea tentang batu yang memiliki ingatan. Jika benar, maka batu-batu di menara ini sedang merekam kemarahan Arlo sekarang. Mereka sedang menyimpan energi dari setiap detik ketidakadilan yang ia rasakan.

"Aku tidak akan menjadi pemburu yang kau inginkan, Ayah," bisik Arlo pada hujan. "Dan aku tidak akan menjadi mangsa yang mudah bagi Helena."

Arlo menarik tangannya masuk, lalu ia berjalan menuju meja. Ia mengambil sepotong roti yang keras itu, menggigitnya sedikit demi sedikit. Rasanya hambar dan sulit ditelan, namun ia memaksa dirinya untuk makan. Ia butuh tenaga. Ia butuh pikiran yang jernih. Jika ayahnya menggunakan rakyat sebagai sandera, maka Arlo harus menemukan cara untuk membebaskan rakyat itu tanpa harus mengorbankan hatinya sendiri.

Sore harinya, saat hujan sudah mereda dan menyisakan aroma tanah yang segar, Lord Cedric datang membawakan lilin baru dan beberapa buku. Pria tua itu tampak sangat lelah, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat lebih jelas dari biasanya.

Cedric meletakkan buku-buku itu di atas meja tanpa bicara. Namun, saat ia berbalik untuk pergi, ia menjatuhkan sebuah bungkusan kecil berisi kain kusam di atas tempat tidur Arlo.

Arlo segera mengambil bungkusan itu begitu pintu terkunci kembali. Di dalamnya, ia menemukan sepasang sepatu kain yang sudah lama dan kotor—sepatu yang sering dipakai Kalea—dan selembar peta kuno jalur pelabuhan rahasia Aethelgard yang sering digunakan oleh para penyelundup.

Tidak ada catatan di dalamnya. Namun Arlo tahu ini adalah bantuan dari Cedric. Pria tua itu mungkin sudah mengabdi pada raja selama puluhan tahun, tapi jauh di dalam hatinya, ia masih memiliki sedikit ruang untuk kemanusiaan yang ia lihat pada diri Arlo.

Arlo membentangkan peta itu di bawah cahaya lilin yang bergoyang. Jemarinya menelusuri garis-garis pelabuhan selatan. Ia mencari titik di mana kemungkinan kapal Kalea sedang bersandar sekarang. Ia melihat sebuah teluk kecil yang tersembunyi di balik tebing karang—Teluk Solandis. Di sanalah kapal-kapal dari luar kerajaan biasanya berlabuh tanpa harus melewati pemeriksaan bea cukai.

"Tiga hari," gumam Arlo.

Tiga hari baginya untuk memikirkan langkah selanjutnya. Ia tidak bisa melarikan diri sekarang. Jika ia kabur, ayahnya akan mengirim seluruh pasukan untuk memburunya, dan itu hanya akan membahayakan Kalea di pelarian. Ia harus tetap di sini. Ia harus mengikuti permainan ayahnya sampai ke altar, dan di sanalah, di depan seluruh dunia, ia akan melakukan retakan yang sesungguhnya.

Arlo berdiri, berjalan menuju dinding yang penuh dengan goresan retakan. Ia mengambil batu kecil lagi. Kali ini, ia tidak menggambar garis baru. Ia mulai menggambar pola yang lebih kompleks—pola sebuah singa yang sedang melepaskan rantai di lehernya.

Setiap goresan batu di dinding itu menciptakan suara gesekan yang halus, menyatu dengan suara jangkrik di luar menara. Arlo merasa setiap goresan itu adalah janji. Janji bahwa ia tidak akan membiarkan tangan Kalea tetap kasar selamanya, dan ia tidak akan membiarkan hatinya sendiri tetap beku di balik sutra.

Malam itu, Arlo tidur dengan peta di bawah bantalnya dan koin perunggu Kalea di dalam genggaman tangannya. Ia bermimpi tentang sebuah pantai yang jauh, di mana warna putih bukan lagi berasal dari cat kapur yang menyesakkan, melainkan berasal dari buih ombak yang menyentuh kaki mereka. Di dalam mimpi itu, Kalea tidak memakai baju tukang cat, dan Arlo tidak memakai mahkota. Mereka hanya dua orang asing yang bertemu di tepi dunia, berbagi cerita tentang retakan-retakan yang akhirnya membuat mereka menjadi utuh.

Saat ia terbangun di tengah malam karena suara petir yang menggelegar, Arlo tidak merasa takut. Ia justru merasa bersemangat. Ia menatap kegelapan ruangannya, dan ia menyadari bahwa hukuman di Menara Barat ini bukanlah akhir dari kisahnya bersama Kalea.

Ini adalah periode inkubasi bagi pemberontakan yang jauh lebih besar.

Arlo bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju meja yang gelap. Ia tidak menyalakan lilin. Ia hanya berdiri di sana, merasakan dinginnya udara malam. Ia tahu, di suatu tempat di luar sana, Helena sedang menyiapkan gaun pengantinnya dengan senyum penuh kemenangan. Ia tahu ayahnya sedang merayakan aliansi politiknya dengan anggur terbaik.

Tapi Arlo Valerius punya sesuatu yang mereka tidak punya.

Ia punya kejujuran yang didapat dari noda cat. Ia punya keberanian yang didapat dari ketinggian perancah. Dan ia punya sebuah retakan yang tidak akan pernah bisa mereka tutup kembali.

"Tunggu aku, Kalea," bisik Arlo pelan.

Suara angin kencang di luar menara seolah membawa bisikannya terbang jauh, melintasi lautan, menuju ke arah sebuah kapal yang sedang berlayar menuju kebebasan.

Hari kedua di menara baru saja dimulai, dan Arlo sudah siap untuk meruntuhkan seluruh dunia sutra ini demi satu menit kebenaran yang dijanjikan oleh sang gadis tukang cat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!