Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Besi
Gemuruh halus mesin Rolls-Royce Phantom itu membelah kesunyian kawasan elite Gangnam, tempat di mana aspal jalanan tampak lebih hitam dan bersih daripada masa depan kebanyakan orang. Di balik gerbang besi tempa setinggi tiga meter yang menjulang angkuh, seolah memberi peringatan bisu bahwa kemiskinan dilarang melintas, terbentang kediaman keluarga Sinclair.
Rumah itu adalah paradoks. Dari luar, arsitekturnya yang dingin dan kaku memancarkan aura eksklusivitas yang mengintimidasi. Namun, di baliknya, gemericik air dari kolam koi raksasa dan lambaian dahan pohon ek tua memberikan kehangatan yang hanya diketahui oleh sedikit orang.
Pintu mobil terbuka secara otomatis. Sebuah sepatu hak tinggi Gianvito Rossi edisi terbatas, yang hanya diproduksi sepuluh pasang di dunia, mendarat dengan anggun di atas paving marmer.
Alessia Seraphina Sinclair keluar dengan napas yang sedikit terburu. Gaun satin berwarna peach lembut yang ia kenakan masih menyisakan wangi khas kue vanila dan tawa anak-anak panti asuhan yang baru saja ia tinggalkan. Padahal, setengah jam lalu, ia baru saja tertawa lepas sambil membagikan kotak makan siang. Namun, satu telepon singkat dari ayahnya, William Sinclair, sanggup meruntuhkan dunianya yang damai.
"Pulang sekarang, Alessia. Nathaniel sudah menunggumu di ruang kerja."
Nama itu. Nathaniel Luca. Hanya dengan mendengar namanya saja, Alessia bisa membayangkan tatapan mata pria itu yang sedingin es dan setajam silet. Nathaniel adalah "mesin" di balik kejayaan Sinclair Mall, pria yang konon tidak punya detak jantung, hanya angka-angka saham di kepalanya.
Alessia melangkah masuk, melewati aula utama yang dipenuhi lukisan maestro dunia. Pelayan menyambutnya dengan tunduk khidmat, namun Alessia hanya membalas dengan senyum tipis yang tulus, ciri khasnya yang tidak pernah luntur meski ia sedang gelisah.
Ia berhenti di depan pintu kayu jati kembar yang menuju ruang kerja ayahnya. Alessia menarik napas panjang, merapikan sedikit rambutnya yang tertiup angin, lalu mendorong pintu itu.
Wangi aroma tembakau mahal dan kayu cendana langsung menyambutnya. Di sana, ayahnya duduk di balik meja besar. Namun, perhatian Alessia langsung tertuju pada sosok pria yang berdiri membelakangi jendela, menatap hamparan kota Seoul dari ketinggian.
Pria itu berbalik. Setelan jas hitamnya tampak tanpa cela, seolah disetrika oleh presisi matematis. Mata tajam di balik bingkai kacamata tipis itu menatap Alessia dari ujung kaki hingga ujung kepala, seolah sedang mengaudit sebuah laporan yang penuh kesalahan.
"Anda terlambat tujuh menit, Nona Sinclair," suara berat itu memecah keheningan. Dingin dan tanpa basa-basi.
Nathaniel Luca tidak sedang menyambut seorang putri. Dia sedang menatap seorang murid yang baru saja gagal di ujian pertama.
William Sinclair menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang berderit pelan. Matanya yang mulai menua menatap putri tunggalnya dengan binar kasih sayang, namun ada ketegasan yang tak terbantahkan di sana.
"Beberapa minggu lalu, Ayah sudah memintamu untuk bersiap, Alessia. Ayah tidak lagi muda, dan Sinclair Mall butuh energi baru. Kamu harus mulai berlatih untuk menggantikan posisi Ayah," jelas William tenang.
Alessia mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak. "Hah?! Tapi kenapa aku, Ayah? Aku... aku tidak terbiasa bekerja. Ayah tahu itu. Aku bahkan tidak tahu cara membaca laporan keuangan!" serunya dengan nada panik yang jujur. Selama ini, dunianya adalah tentang kurasi seni, kegiatan amal, dan kenyamanan yang disediakan keluarganya.
Menjadi CEO? Itu terdengar seperti mimpi buruk yang memakai setelan jas.
William terkekeh pelan, namun tatapannya beralih ke arah pria yang berdiri di dekat jendela. "Oleh karena itu, Ayah menugaskan tangan kanan Ayah untuk mementori kamu secara langsung."
Bulu kuduk Alessia meremang seketika. Ia menoleh perlahan ke arah Nathaniel Luca.
Pikiran Alessia melayang pada kasak-kusuk para staf kantor yang pernah ia dengar saat berkunjung singkat ke Sinclair Mall. Mereka bilang, Nathaniel adalah "Algojo Berdarah Dingin".
Dia jauh lebih seram dan tidak kenal ampun dibandingkan ayahnya sendiri. Meski Alessia sudah mengenal Nathaniel sejak pria itu direkrut ayahnya bertahun-tahun lalu, hubungan mereka tak lebih dari sekadar sapaan formal. Nathaniel selalu tampak seperti robot yang diprogram untuk efisiensi, tanpa emosi, tanpa celah.
"Ayah rasa kalian akan bekerja sama dengan baik," lanjut William, seolah tidak menyadari ketegangan yang mulai merayap di udara.
"Mengingat usia kalian yang tidak terlampau jauh. Nathaniel hanya tiga tahun lebih tua darimu, bukan?"
Benar. Nathaniel baru berusia 30 tahun, sementara Alessia 27 tahun. Namun, berdiri di depan Nathaniel sekarang, Alessia merasa seperti anak kecil yang sedang disidang oleh profesor paling galak di universitas. Perbedaan tiga tahun itu terasa seperti jurang pengalaman yang sangat dalam.
Nathaniel melangkah maju. Suara sepatunya di atas lantai kayu jati terdengar seperti ketukan vonis. Ia berhenti tepat di depan Alessia, aromanya yang maskulin, campuran sandalwood dan sisa kopi pahit, menyerbu indra penciuman Alessia.
"Nona Sinclair," suara Nathaniel rendah, namun setiap katanya memiliki bobot yang menekan. "Mulai besok pukul tujuh pagi, status Anda sebagai 'Putri Sinclair' resmi ditangguhkan di dalam area kantor. Di sana, Anda hanyalah seorang murid yang harus membuktikan bahwa Anda layak menyandang nama belakang Anda."
Nathaniel memperbaiki letak kacamata tipisnya, tatapannya mengunci mata cokelat jernih Alessia. "Saya tidak menerima alasan 'tidak terbiasa'. Di bawah pengawasan saya, Anda akan belajar untuk terbiasa... atau Anda akan gagal."
Alessia menelan ludah. Ia ingin membela diri, tapi tatapan Nathaniel seolah melumpuhkan suaranya. Sang CEO in Training itu baru saja menyadari bahwa kehidupan mewahnya baru saja berakhir, dan "neraka" pribadinya baru saja dimulai.
Alessia menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi ukiran gypsum klasik yang rumit. Kamar ini adalah benteng kenyamanannya, tempat di mana lilin aromaterapi wangi peony selalu menyala dan seprai sutranya terasa seperti pelukan hangat.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan tatapan tajam Nathaniel yang tadi seolah menembus jantungnya.
"Huft... Kak Nathaniel," gumamnya pelan, mencoba menyebut nama itu dengan nada yang lebih akrab di lidahnya sendiri.
"Sepertinya dia tidak segalak yang aku pikirkan deh. Dia kan sudah lama kenal Ayah, sudah seperti keluarga sendiri. Harusnya dia tidak akan terlalu mendesakku besok, kan?"
Alessia membalikkan tubuhnya, memeluk bantal guling kesayangannya. Benar, dia memang manja, mungkin lebih dari 'sedikit', tapi otaknya tidak kosong. Selama ini dia hanya memilih untuk menyalurkan kecerdasannya pada hal-hal yang ia sukai, seperti mengelola yayasan panti asuhannya dengan manajemen yang rapi tanpa perlu koar-koar. Dia hanya butuh waktu untuk beradaptasi dengan tumpukan dokumen legal yang membosankan itu.
"Dia pasti cuma akting di depan Ayah supaya kelihatan tegas," Alessia meyakinkan dirinya sendiri sambil memejamkan mata. Senyum tipis muncul di bibirnya saat ia membayangkan Nathaniel mungkin akan memberinya tugas ringan seperti sekadar memantau display toko di mall di hari pertama.