AK 47, senjata laras panjang yang kini diarahkannya pada leher suaminya.
"Tambah satu wanita lagi, bangunlah Harem hingga kamu kenyang oleh darah." Sebuah sindiran dari wanita yang tersenyum menyeringai.
Dirinya bereinkarnasi sebagai istri jahat dalam novel pria bertema sistem dan kiamat. Dengan ending kematian tragis.
Sedangkan suaminya hidup bahagia dengan 9 wanita cantik di haremnya.
Berusaha bersikap baik, tidak seperti dalam alur cerita novel. Berharap suaminya tidak akan membangun harem seperti dalam cerita novel.
Tapi tetap saja susu besar membuat pria ini tertarik, paha mulus menggetarkan hatinya.
Daripada menunggu kematian, lebih baik, dirinya menggunakan rudal balistik untuk menghancurkan suaminya.
Dalam dunia kiamat diantara hidup dan mati, dimana makanan adalah lebih berharga daripada emas. Hukum tidak berlaku lagi.
Dunia dimana dirinya dapat membantai pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sarah mengelus perut kucing kecil yang berguling di tanah itu. Kucing yang menggeram merasa nyaman, mungkin karena perutnya gatal.
"Lalu bagaimana kalian bisa bertemu dengan Ren?" pada akhirnya Sarah kembali menanyakannya.
"Pria mengerikan itu sudah pergi. Kami mendekati lokasi, mencari di bawah reruntuhan dan sisa api yang masih menyala. Mungkin ada benda berguna atau bahan makanan yang tersisa. Saat itu Ren muncul dari reruntuhan dalam keadaan lengannya yang terluka. Meminta agar kami membawanya, dia takut berada di tempat itu sendirian. Awalnya kami menolak, sampai dia menunjukkan kemampuannya yang dapat menetralkan pengaruh radiasi." Fred menghela nafas, pada kenyataannya memang itulah yang terjadi.
Semenjak itu Ren adalah anggota terlemah di kelompok mereka. Pekerjaannya adalah menetralkan pengaruh radiasi, kemudian memasak monster menjadi bahan makanan.
Dulu mereka menganggap Ren adalah yang paling tidak berguna dalam kelompok mereka. Dia sudah pasti tidak memerlukan banyak makanan, karena yang memerlukan tenaga untuk memburu adalah Louis, Fred, Gilbert dan Tony. Sedangkan Zero juga memerlukan makanan, bertugas merawat mereka yang terluka.
Ya... itu salah mereka karena memperlakukan Ren dengan buruk. Memberikan jatah makanan paling sedikit, bahkan terkadang tidak memberikan jatah makanan.
"Lalu bagaimana kalian bisa meninggalkannya..." Sarah berusaha keras untuk tersenyum.
"Saat itu monster level S tiba-tiba muncul, kami sama sekali tidak dapat menghadapinya. Ren adalah yang terlemah, karena itu kami memutuskan untuk menjadikannya sebagai umpan. Ya... sebagai ketua kelompok itu adalah kesalahanku dalam menyusun strategi. Seharusnya yang dikorbankan adalah Gilbert atau Tony saja. Jika bukan mati karena monster level S sudah pasti kami akan mati karena kehabisan bahan makanan." Kalimat yang diucapkan Zero tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Dokter gila psikopat!" Gumam Toni berusaha keras untuk tersenyum melihat tingkah pemimpin timnya.
"Tanpa otaku yang selalu berpikiran dingin, sudah pasti semenjak dunia kiamat dimulai kita akan mati." Zero mengangkat sebelah alisnya. Kata-kata yang sama sekali tidak terbantahkan oleh mereka berempat.
Zero lah yang membuat kelompok ini terbentuk, berawal dari gedung pemerintahan yang hancur. Mereka yang bertugas menjaga para pejabat. Zero yang pertama kali mengusulkan untuk pergi dari tugas, kemudian membentuk kelompok meninggalkan negaranya.
"Tapi, Bagaimana Nona Sarah bisa menyelamatkan Ren dari monster level S?" Tanya Zero sama sekali tidak mengerti. Pasalnya, monster yang mereka temui berbentuk ular purba yang mungkin bersembunyi di pedalaman hutan selama ini, kemudian mengganas menjadi monster, memiliki mutasi genetik yang parah akibat pengaruh radiasi nuklir.
"Aku tidak menyelamatkannya, aku hanya menemukan Ren dalam keadaan terluka. Ren tidak banyak bercerita, tapi katanya monster itu sudah terluka terlebih dahulu. Lalu kebetulan mati sebelum berhasil memakan Ren." jelas Sarah pada Zero.
"Aneh ..." gumam Zero.
"Kenapa?" tanya Sarah.
"Monster itu sama sekali tidak terluka oleh serangan kami, tubuhnya begitu keras. Kami sudah menggunakan kemampuan Hunter maupun sisa bahan peledak kami, semuanya sama sekali tidak berhasil. Lalu bagaimana bisa monster ular itu terluka sampai mati?" Zero menghela napas kasar.
"Itu karena aku terlalu panik, tidak sengaja melemparkan dinamit ke dalam mulut ular." Ren mendekat, menuangkan air untuk Sarah."Syukurlah Nona Sarah saat itu melewati tempat itu, kakiku terluka, aku tidak dapat berjalan. Dia adalah penyelamatku..."
"Kamu tidak dendam pada kami kan?" tanya Zero memastikan.
"Tentu, kenapa aku harus dendam pada kalian. Aku sama sekali tidak menyimpan dendam." kalimat polos begitu baik hati dari Ren. Hal yang membuat Sarah menghela napas.
Ternyata tipenya bukan pria macho bertubuh kekar, atau pria yang bagaikan CEO sombong begitu dingin, seperti Kelvin. Tipenya adalah pria sebaik malaikat, entah kapan Ren akan menyatakan perasaan kepadanya.
Wanita yang menikmati air yang diberikan oleh pemuda ini, bahkan hanya air jika dibuatkan oleh pria ini rasanya begitu nikmat. Wajah itu membuatnya tidak dapat mengalihkan pandangan sungguh memikat hati.
"Ren, Sudah aku bilang jangan terlalu baik. Jika ada yang jahat padamu kamu juga berhak jahat pada mereka. Kamu boleh menyimpan dendam." Nasehat pelan yang diucapkan oleh Sarah.
"Tapi jika aku menyimpan dendam, Sarah juga akan memiliki banyak musuh. Lebih baik Sarah memiliki banyak teman, aku bisa memaafkan siapapun demi Sarah." itulah yang diucapkan oleh Ren, terlihat sedikit menunduk tidak bersalah.
Semua orang hanya dapat menghela napas. Mengetahui memang beginilah sifat seorang Ren.
"Cih... bolehkah aku mengumpat?" batin sang kucing menatap dengan wajahnya yang polos.
"Kami senang kamu memaafkan kami. Aku berharap, kita dapat menjalin hubungan yang lebih baik kedepannya." Zero menghela napas, inilah intinya pilihan terbaik untuk mendapatkan banyak bahan makanan. Mengulurkan tangan yang hendak berjabatan tangan dengan Ren.
Ren menerima jabatan tangannya dengan ragu."Iya! Aku harap kita dapat menjalin hubungan baik ke depannya..."
Mungkin tidak ada yang menyadari, ada rantai yang bergerak di bagian bawah kaki Zero.
"Miau...miau..." Sang kucing segera berkeliaran di dekat kaki Zero. Ingin majikannya lebih menjaga emosi.
Ya memang, rantai itu kembali bergerak ke dalam tanah. Entah apa tujuan sebenarnya dari Ren.
Sedangkan Sarah menatap segalanya sebagai hal yang baik. Kini dirinya memiliki kelompok sendiri untuk menghadapi Kelvin dan final boss.
***
Api unggun pada akhirnya mati, semalaman mereka bergantian untuk menjaga. Ini lebih efektif jika memiliki kelompok yang besar.
Waktu istirahat lebih panjang. Karena akan ada satu orang yang berjaga bergantian sedangkan lainnya beristirahat.
Hingga, sudah tiba waktunya untuk melanjutkan perjalanan.
Semuanya mulai berkemas, termasuk Sarah. Ren yang membawa perbekalan, sementara Sarah membawa persenjataan.
"Kita akan kemana?" Pertanyaan pertama dari Zero membenahi letak kacamatanya. Sudah pasti wanita ini memiliki rencana dan tujuan. Sudah setahun lebih sejak kiamat akibat perang dunia berkepanjangan terjadi. Atau lebih tepatnya hampir dua tahun. Sudah pasti wanita ini memiliki tempat berlindung, tidak seperti mereka yang pengembara.
"Ke bungker milik Kelvin." Jawaban pertama yang diucapkan oleh Sarah. Dirinya akan memastikan satu hal terakhir sebelum melanjutkan perjalanannya. Ini tentang sistem yang dimiliki Kelvin. Mungkin dapat memanfaatkan Zero untuk menyusun strategi nanti untuk menghadapi Kelvin.
"Bungker milik Kelvin?" Tanya Zero.
"Kelvin adalah mantan suami nona Sarah. Nona Sarah sudah berpisah dengannya." Itulah kalimat pelan dari Ren.
"Bukan kamu yang menjadi merusak hubungan pernikahan mereka, kan?" Tanya Zero pada spesies teh hijau ini. Pria yang selalu dapat memanipulasi perasaan Sarah.
"Sarah ...A...aku..." Ren menunduk, hampir menangis."A...aku... mereka saling mencintai, aku memang hanya beban."
"Bukan Ren, mantan suamiku memiliki tiga istri lainnya. Jadi aku memutuskan untuk pergi." Ucap Sarah yang juga tidak menyia-nyiakan kesempatan memeluk Ren, bagaikan menenangkannya. Memang nyaman memeluk pemuda ini, tidak terobsesi, tidak juga terlalu banyak menuntut, begitu nyaman dan entah kenapa aroma tubuhnya wangi.
"Nona Sarah mendengar ceritamu aku juga sedih..." Louis berpura-pura menangis, ingin menarik perhatian wanita bertubuh menggoda ini juga.
"Pria bertubuh tegap sepertimu menangis? Cengeng!" Sarah malah menatap jijik.
"Benar-benar pilih kasih betina satu ini..." Batin Miau-miau berubah menjadi harimau putih seukuran gajah.
Hayu Miau...terus provokasi Ren biar panas
up nya udah ada aja nih,thor.
Kamu kalau menilai suka sesukamu aja sih,Miau
Lempar nih...