NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Sisa hari itu dihabiskan dengan kecanggungan yang manis. Setelah insiden "pijat paha" di pagi hari yang membuat wajah Anya semerah tomat dan Kaelan salah tingkah, keduanya bertingkah seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.

Sore harinya, angin laut bertiup sejuk menyapu teras kayu vila. Matahari mulai turun, melukis langit dengan warna jingga keemasan yang memantul indah di permukaan laut.

Anya duduk bersila di atas sofa rotan melingkar yang empuk, menikmati semilir angin. Ia sudah mandi dan mengenakan kemeja linen putih milik Kaelan—karena ia kehabisan baju bersih—yang lengannya digulung dan ujungnya diikat di pinggang, dipadukan dengan celana pendek jeans.

Kaelan keluar dari dalam vila, membawa dua gelas cokelat panas—permintaan khusus Anya yang menolak minum kopi di sore hari. Sang bos mafia itu duduk di sebelah Anya, menyerahkan salah satu gelasnya. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga lutut mereka bersentuhan.

"Terima kasih," gumam Anya, meniup perlahan uap panas dari gelasnya.

Kaelan hanya bergumam pelan sebagai jawaban. Ia menyandarkan punggungnya, menatap hamparan laut luas. Selama beberapa menit, hanya ada keheningan yang nyaman di antara mereka. Tidak ada ancaman pembunuh bayaran, tidak ada Paman Arthur, tidak ada beban klan.

"Kaelan," panggil Anya memecah keheningan. Ia menoleh, menatap profil samping wajah Kaelan yang terpahat sempurna di bawah cahaya senja. "Sisa kontrak kita tinggal sebelas bulan lagi."

Kaelan menghentikan gerakannya menyesap cokelat. Rahangnya tiba-tiba mengeras. Mendengar kata 'kontrak' dari bibir gadis itu mendadak terasa seperti duri yang menusuk dadanya.

"Lalu?" balas Kaelan datar, menoleh menatap Anya dengan intensitas yang membuat napas gadis itu sedikit tercekat.

Anya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kebiasaannya saat sedang gugup. "Aku cuma berpikir... kalau nanti kontraknya selesai, dan kau sudah berhasil mengusir Isabella atau wanita ular lainnya, apa yang akan kau lakukan? Maksudku, kau pasti akan mencari istri yang benar-benar pantas untuk Nyonya Obsidian, kan? Bukan preman pasar sepertiku."

Kaelan meletakkan gelasnya di atas meja kecil dengan sedikit kasar. Suara benturan kaca dan kayu memecah ketenangan senja.

Pria itu menggeser tubuhnya menghadap Anya sepenuhnya. Tangannya terulur, meraih gelas dari tangan Anya dan meletakkannya di sebelah gelasnya. Kini, kedua tangan Kaelan bebas.

Tanpa peringatan, Kaelan mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangan besarnya menangkup wajah Anya, ibu jarinya mengusap pelan tulang pipi gadis itu. Sentuhan itu hangat, posesif, namun sangat lembut.

Anya membeku. Jantungnya berontak di dalam tulang rusuknya. Mata cokelatnya membulat menatap mata hitam legam Kaelan yang kini hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.

"Siapa yang bilang kontrak ini akan berakhir dalam sebelas bulan?" bisik Kaelan, suaranya sangat rendah, berat, dan bergetar karena emosi yang tertahan. "Dan siapa yang berani bilang kau tidak pantas? Jika ada yang bilang begitu, aku akan memotong lidahnya."

"K-Kaelan... kita sudah sepakat—"

"Persetan dengan kesepakatan," potong Kaelan mutlak. Napas hangat pria itu menerpa bibir Anya. "Sejak kau menantang Arthur di ruang makan, sejak kau memelukku di tengah hujan peluru, dan sejak kau menyanyikan lagu pengantar tidur untuk sisi terlemahku... kau sudah terikat denganku, Anya. Selamanya. Tidak ada yang bisa membawamu pergi. Bahkan dirimu sendiri."

Anya menelan ludah dengan susah payah. Sisi dominan Kaelan ini... sungguh sangat memabukkan. Gadis tomboy yang tidak pernah mau tunduk pada siapa pun itu, kini merasa luluh lantak hanya oleh tatapan seorang pria.

"Kau ini sangat egois, Bos Es," bisik Anya, matanya mulai terpejam saat wajah Kaelan semakin mendekat.

"Aku mafia, Anya. Aku mengambil apa yang kuinginkan," balas Kaelan parau.

Hidung mereka bersentuhan. Kaelan memiringkan kepalanya sedikit, pandangannya terkunci pada bibir Anya. Jarak mereka kini tersisa satu inci. Kaelan bisa merasakan napas Anya yang terengah pelan. Ia memejamkan mata, memangkas jarak terakhir itu untuk menyatukan bibir mereka—

BIP! BIP! BIP! BIP!

Suara dering elektronik yang melengking, tajam, dan sangat tidak wajar membelah suasana romantis itu seperti pisau bedah.

Kaelan dan Anya tersentak mundur seketika.

Anya mengatur napasnya yang memburu, wajahnya semerah stroberi matang. Kaelan mengumpat keras dalam bahasa Italia, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Seseorang baru saja mencari mati dengan merusak momennya.

Dari arah pintu geser vila, Ragas berlari tergopoh-gopoh. Wajah pelayan tua yang biasanya tenang itu kini pucat pasi dan dipenuhi peluh. Di tangannya, ia memegang sebuah telepon satelit hitam yang tebal dan kokoh—jalur komunikasi darurat tingkat tertinggi yang hanya digunakan jika klan berada di ambang kehancuran.

"Tuan Kaelan! Maafkan saya, tapi ini sangat darurat!" seru Ragas, napasnya tersengal.

Aura Kaelan berubah 180 derajat dalam hitungan detik. Kelembutan dan gairah yang tadi memancar dari matanya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh tatapan sedingin es kutub dan aura pembunuh yang pekat. Bos Mafia Obsidian telah kembali sepenuhnya.

Kaelan berdiri, merampas telepon satelit itu dari tangan Ragas.

"Bicara," desis Kaelan ke arah speaker.

Anya bangkit dari sofa, merapikan kemejanya dengan perasaan campur aduk. Ia menatap Kaelan. Semakin lama pria itu mendengarkan suara di seberang sana, semakin gelap raut wajahnya. Rahang Kaelan mengeras sedemikian rupa hingga Anya takut gigi pria itu akan retak.

"Berapa orang yang mati?" tanya Kaelan dingin. Jeda sejenak. "Amankan wilayah utara. Aku kembali malam ini."

Kaelan memutuskan sambungan sepihak, lalu membanting telepon satelit itu ke sofa hingga terpental. Dadanya naik turun menahan amarah yang luar biasa.

"Kaelan? Ada apa?" tanya Anya, melangkah mendekat dengan waspada.

Kaelan berbalik menatap Anya. Tatapannya menembus jiwa gadis itu, dipenuhi kekhawatiran dan amarah yang mendidih.

"Arthur bergerak lebih cepat dari perkiraanku," ucap Kaelan dengan suara sedingin baja. "Dia tahu aku sedang melemah dan keluar kota. Malam ini, dia mengirim puluhan anak buahnya menyerang markas selatan. Dante dan Leo tertembak saat mempertahankan wilayah itu."

Anya terkesiap. Dua pengawal raksasa yang melindunginya tempo hari... tertembak? Darahnya mendidih seketika.

"Arthur bukan hanya mengincar posisiku, Anya," Kaelan melangkah maju, memegang kedua bahu Anya dengan sangat erat. "Dia menyewa sniper profesional. Target utamanya malam ini bukan hanya aku, tapi kau. Dia tahu kau adalah kelemahanku sekarang."

Anya tidak gemetar. Ia tidak menangis. Preman pasar itu justru mengusap wajahnya kasar, matanya menyipit dengan kilat kemarahan yang menyala-nyala.

"Jadi, liburan kita di surga ini sudah selesai?" tanya Anya dengan nada tajam.

Kaelan mengangguk pelan. "Pesawat jet sudah disiapkan. Kita kembali ke kota sekarang juga. Aku akan menghancurkan Arthur hingga ke akar-akarnya malam ini."

Anya mendengus, sebuah seringai miring yang mematikan terukir di bibirnya. Ia memutar lehernya hingga terdengar bunyi 'krek' yang pelan, persis seperti yang selalu ia lakukan sebelum terlibat tawuran besar di pasar.

"Bagus," desis Anya, menatap tajam ke arah laut yang kini mulai gelap. "Tuan Mafia, kurasa sudah saatnya Nyonya Obsidian menunjukkan pada si tua bangka itu bagaimana cara preman pasar membalas dendam."

Senja yang romantis itu telah terampas. Kini, yang tersisa hanyalah genderang perang yang mulai ditabuh. Darah akan tumpah malam ini, dan Anya siap berdiri berdampingan dengan suaminya untuk menghancurkan siapa pun yang berani mengancam mereka.

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!