NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

BAB 23: Perjamuan Luka di Tokyo

Langit Tokyo malam itu berwarna ungu pekat, seolah ikut memar meratapi kehancuran yang tak kasatmata. Pesawat jet pribadi keluarga Hohenzollern mendarat di Bandara Haneda dengan deru mesin yang terdengar seperti raungan kemarahan. Begitu pintu kabin terbuka, udara dingin Jepang menusuk kulit, namun tak ada yang lebih dingin daripada sorot mata Aurelius Renzo.

Ia melangkah turun dengan langkah lebar, mengenakan setelan jas hitam legam yang kontras dengan wajahnya yang pucat pasi. Di belakangnya, Julian melangkah dengan terburu-buru, jemarinya gemetar saat memegang tablet, mencoba memproses data tamu undangan yang masuk ke aula pernikahan. Yoto mengikuti di belakang dengan wajah kaku, merasakan aura kematian yang terpancar dari punggung tuannya.

"Mobil sudah siap, Tuan Muda," ucap Yoto pendek.

Aurelius tidak menyahut. Ia masuk ke dalam limosin, matanya menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit. Di tangannya, undangan pernikahan yang sudah kusut itu masih tergegam. Setiap detik yang berlalu terasa seperti duri yang merambat di pembuluh darahnya.

Hotel Imperial Tokyo bersinar seperti mercusuar kemewahan. Ratusan wartawan berkerumun di luar, namun barisan pengamanan ketat segera membelah jalan saat iring-iringan mobil hitam mewah tiba.

Aurelius melangkah masuk ke aula utama. Kehadirannya seketika menghentikan detak waktu. Musik klasik yang mengalun lembut seolah kehilangan nadanya. Para konglomerat dan pejabat tinggi Jepang berbisik-bisik, terkejut melihat sang pewaris tunggal Hohenzollern hadir secara fisik di pernikahan seorang putri dari keluarga Asuka.

Di ujung altar yang dihiasi ribuan bunga lili putih, Hana Asuka berdiri dengan anggun. Gaun pengantinnya yang bertahtakan berlian memantulkan cahaya lampu gantung kristal, membuatnya tampak seperti dewi salju. Di sampingnya, Kaito Tanaka berdiri dengan senyum penuh kebanggaan, menggenggam tangan Hana dengan penuh kasih.

Aurelius berhenti tepat di tengah aula. Jarak antara dirinya dan altar terasa seperti jurang yang tak berdasar.

Saat itu, Hana sedang melantunkan janji sucinya. Suaranya jernih, bergema di seluruh ruangan. Ia tersenyum—senyum yang sangat manis, senyum yang seharusnya hanya milik Ren. Hana menoleh dan mata mereka bertemu.

Hana melihat Aurelius. Ia melihat kekecewaan yang begitu mendalam di mata pria itu, sebuah luka yang menganga lebar. Hana tetap tersenyum, mempertahankan "peran" yang ia mainkan di depan dunia. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bahagia, bahwa ia telah memilih jalannya sendiri. Namun, jauh di lubuk hatinya, setiap kata janji yang ia ucapkan terasa seperti pisau yang mengiris jantungnya sendiri. Ia ingin berteriak, ingin berlari ke arah Aurelius dan mengatakan bahwa ini semua adalah sandiwara untuk melindunginya. Tapi ia tidak bisa. Ia harus tetap berdiri di sana, menjadi pengantin pria lain.

Aurelius tidak sanggup mendengar satu kata lagi. Wajahnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik. Ia tidak menyapa pengantin, tidak memberikan selamat kepada Daichi Asuka, bahkan tidak menoleh lagi.

Ia meninggalkan aula itu secepat ia datang, meninggalkan kehebohan di belakangnya. Dunia baru saja menyaksikan "sang pelindung" pergi dengan patah hati yang paling megah.

"Bawa aku ke Roppongi," perintah Aurelius begitu ia masuk ke mobil. Suaranya parau, hampir hilang.

"Tuan Muda, tapi acara belum—"

"SEKARANG, YOTO!" bentak Aurelius hingga kaca mobil seolah bergetar.

Limosin itu melesat menuju distrik hiburan malam paling elit di Tokyo. Aurelius berhenti di depan Vesper, bar dan klub paling eksklusif di Jepang yang biasanya hanya bisa diakses oleh anggota kerajaan dan miliarder.

"Sewa seluruh tempat ini. Usir semua orang," ucap Aurelius dingin sambil melempar kartu hitamnya ke manajer bar yang gemetar. "Aku tidak ingin melihat wajah siapa pun kecuali pelayan."

Dalam waktu kurang dari lima belas menit, bar yang biasanya penuh sesak itu menjadi sunyi senyap. Hanya ada Aurelius yang duduk di sofa beludru merah di sudut paling gelap. Julian dan Yoto berdiri beberapa meter di belakangnya, merasa seperti sedang menjaga seekor singa yang sedang sekarat.

Aurelius mulai meneguk botol pertama anggur merah seharga ratusan ribu dolar seolah-olah itu adalah air putih. Ia tidak menggunakan gelas. Ia meminumnya langsung dari botol, membiarkan cairan merah gelap itu menetes di sudut bibirnya, menodai kemeja putih mahalnya.

Ia menyalakan sebatang rokok, lalu batang lainnya. Asap mengepul tebal, menyelimuti dirinya dalam kabut nikotin yang pekat.

"Julian," bisik Yoto pelan, matanya tidak lepas dari Aurelius yang kini sudah menghabiskan setengah botol anggur ketiga. "Bagaimana ini? Aku belum pernah melihatnya sekacau ini. Di Berlin, dia dingin, tapi dia tetap terkendali. Sekarang... dia seperti ingin menghancurkan dirinya sendiri."

Julian menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Sebagai adik bungsu, ia tahu betapa keras Aurelius berjuang untuk Hana. "Dia merasa dikhianati, Yoto. Dia pikir pengorbanannya di Eropa dianggap sampah oleh Hana. Jika dibiarkan... aku takut dia akan melakukan hal bodoh."

Tiba-tiba, Aurelius mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Yoto.

"Yoto," panggil Aurelius. Suaranya terdengar berat oleh alkohol dan amarah. "Bawa wanita paling mahal ke sini. Sekarang. Siapa pun. Aku tidak peduli siapa namanya, aku hanya ingin seseorang yang bisa membuatku lupa bahwa wanita bernama Hana itu pernah ada."

Yoto tertegun. "Tuan Muda, Anda tidak—"

"LAKUKAN!" Aurelius melempar botol kosong ke arah bar hingga hancur berkeping-keping. "Bawa dia kemari! Aku ingin melihat apakah uang Hohenzollern bisa membeli kesetiaan yang lebih baik daripada apa yang diberikan Hana!"

Yoto memandang Julian, yang hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah pucat. Yoto segera menghubungi agensi elit. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik dengan gaun merah minim dan riasan sempurna masuk ke dalam bar. Ia adalah wanita simpanan kelas atas yang biasa melayani para elit politik.

Wanita itu mendekati Aurelius dengan senyum menggoda, mencoba menyentuh bahu Aurelius. Namun, begitu tangannya menyentuh kulit Aurelius, Aurelius tersentak. Ia menatap wanita itu dengan kebencian, namun ia menarik wanita itu untuk duduk di pangkuannya.

Aurelius kembali menuangkan anggur, merokok tanpa henti. Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena air mata yang ia tolak untuk jatuh. Di tengah kebisingan musik jazz yang diputar pelayan, Aurelius berteriak dalam diam.

Setiap kepulan asap rokoknya membawa bayangan Hana yang tersenyum di altar. Setiap tegukan anggurnya membawa rasa pahit dari pengkhianatan yang ia rasakan. Ia sedang berada di puncak kekacauan, menghancurkan martabat dan kesehatannya hanya untuk menutupi rasa sakit yang tak tertahankan.

"Hana..." bisiknya sangat pelan di tengah dekapan wanita asing itu. "Kenapa kau melakukan ini padaku?"

Malam itu, di bar paling mewah di Tokyo, sang kaisar dari Eropa kehilangan mahkotanya. Ia bukan lagi Aurelius yang ditakuti, ia hanyalah seorang pria yang hancur berkeping-keping, menenggelamkan diri dalam dosa dan alkohol untuk membunuh kenangan tentang seorang gadis yang baru saja menjadi milik pria lain.

Apakah Anda ingin lanjut ke Bab 24? Kita bisa menceritakan malam pertama Hana yang tersiksa dalam kepalsuan bersama Kaito, sementara ia mendengar kabar tentang kekacauan Aurelius di bar, atau pertemuan konfrontasi berdarah antara Aurelius dan Kaito keesokan harinya. Mana yang Anda pilih?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!