Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Menampar Martabat Semua Orang
Piring seng berisi singkong rebus nyaris terlepas dari tangan Joko.
Mulutnya menganga. Laki-laki itu baru saja melangkah keluar dari dapur, niatnya mengantar sisa makanan ke kamar belakang, tapi pemandangan gila baru saja lewat di depan hidungnya.
Dua orang tua berlari kesetanan menembus halaman. Teriakan mereka membelah kampung.
"Mati... mati urusannya!" Joko membanting piring ke meja teras. Kakinya tersandung kursi rotan saat berlari ke ruang tengah.
"Bu! Gawat!"
Lasmi baru saja menelan suapan lodeh terakhirnya. Kakang kedua Joko, Prapto, beserta istrinya, Ningsih, ikut menoleh bingung.
"Bapak ibunya Mbak Sukma lari ke balai desa! Teriak-teriak minta tolong! Katanya kita sekeluarga mau bunuh anak mereka demi ngrampas rumah depan!" Napas Joko ngos-ngosan.
Wajah Jamilah pias seketika. Sendok di tangannya jatuh berdentang ke lantai. Rumah berdinding bata merah itu sudah ia tempati sejak nikah setengah tahun lalu. Perabotannya sudah ia tata apik. Mana sudi dia angkat kaki!
"Kurang ajar!" Lasmi menggebrak meja kayu jati sampai mangkuk sayur melompat.
"Dari awal aku sudah larang Mas-mu bangun rumah itu! Sutrisno itu kelewat bucin sama perempuan sialan itu! Selama Sutrisno belum pisah KK, itu rumah masih milikku! Ayo kita labrak ke belakang!"
Rombongan keluarga Priyanto itu bangkit terbakar emosi. Ningsih dan Prapto mengekor panik di belakang.
Hanya Wati, istri anak ketiga, yang memilih pura-pura tuli sambil menyusui bayinya di pojok ruangan.
Di dalam kamar pengap, waktu berdetak cepat.
Telinga Sukma menangkap derap langkah rombongan penuh amarah itu menyusuri lorong tanah.
Otaknya berputar kilat. Jari tangannya menyapu udara kosong di atas dipan.
Sebotol air mineral dingin dan sepotong roti sobek rasa cokelat dari minimarket Jakarta tahun 2026 muncul di telapak tangannya.
Sukma menenggaknya rakus. Rasa sakit di kepalanya sedikit mereda seiring cairan dingin membasahi kerongkongan keringnya.
Buru-buru ia memanggil benda lain dari ruang spasialnya. Bedak cushion warna paling terang dan pelembap bibir warna pucat.
Tangannya gemetar menepuk-nepuk spons bedak ke seluruh wajah, leher, hingga menutupi warna asli bibirnya.
Pintu kayu ditendang terbuka tepat saat Sukma menyembunyikan botol plastik dan bedak ke balik selimut lusuh.
Lasmi berdiri berkacak pinggang di ambang pintu. Mulut keriputnya baru saja terbuka separuh untuk menyemburkan makian, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan.
Jamilah, yang siap menuding dengan telunjuk, malah mundur selangkah menabrak dada suaminya. Ningsih langsung membuang muka, bulu kuduknya meremang hebat.
Di atas dipan, Sukma tampak seperti mayat hidup.
Wajahnya seputih kapas kotor. Bibirnya kelabu. Matanya cekung menatap kosong ke arah langit-langit berjelaga. Keringat dingin merembes dari perban kasar di dahinya.
Itu bukan orang sakit. Itu wujud manusia yang nyawanya tinggal di ujung kerongkongan.
"Mbak... Mbakyu Sukma..." Suara Jamilah bergetar. Niat melabraknya ciut seketika. Rencana awal untuk menangis bombay demi menarik simpati warga kini terasa konyol di hadapan wujud sakaratul maut ini.
"Anak-anakku..." Lirihan Sukma nyaris tak terdengar. Suaranya serak, pecah.
Lasmi gelagapan. "Sukma, kowe..."
"Mana anak-anakku..."
Tepat saat itu, sosok Pak Purnomo muncul menyibak kerumunan Lasmi di pintu. Tangannya menyeret empat bocah bertelanjang kaki. Bau matahari, debu kapur, dan keringat asam langsung menguar memenuhi kamar sempit itu. Pakaian mereka compang-camping, rambut gimbal penuh kotoran burung.
Bocah paling kecil, Syaiful, tiga tahun, langsung menangis kejer melihat wujud ibunya. Ia menyembunyikan wajah mungilnya di balik celana gombrong Pak Purnomo. Sinta, si gadis kecil enam tahun, menggigit bibir bawahnya sampai berdarah, matanya memerah menahan takut.
Namun, bukan mereka yang membuat jantung Sukma mencelos.
Pandangannya membentur sepasang mata milik Sigit dan Sugito. Sembilan dan tujuh tahun. Mata anak-anak itu gelap, pekat, tanpa riak emosi. Ujung bibir Sigit bahkan sedikit berkedut ke atas. Menikmati pemandangan ini.
Mereka sedang menunggu ibunya mati.
Napas Sukma tersengal. Kengerian sejati merayap dari ujung jari kakinya. Plot novel itu benar. Rentetan siksaan fisik dan mental yang ditanam Sukma Ayu telah berakar kuat di dada anak-anak ini.
"Ayo, Pul. Lihat Ibumu. Kasihan Ibumu, Le." Pak Purnomo mendorong tubuh kecil Syaiful mendekat ke dipan.
Syaiful memberontak. Tangisnya makin kencang. Jamilah di sudut ruangan memutar bola mata jengah. "Berisik banget sih anak ini!"
Tatapan Sukma langsung menajam, menghunus wajah Jamilah. "Minggir, Jamilah. Jangan halangi pandanganku ke anakku."
Jamilah menelan umpatan, menggeser tubuhnya kaku.
Sukma mengulurkan tangan pucatnya yang gemetar. Jemarinya menyentuh rambut kaku Syaiful. Bocah itu tersentak hebat, bersiap menerima tamparan. Tapi yang mendarat justru usapan lembut yang canggung.
"Maafin Ibu, Le..." Air mata Sukma tumpah sungguhan. Matanya perih akibat obat tetes murah, tapi hatinya jauh lebih ngilu melihat trauma murni balita ini. "Ibu masih terlalu muda pas lahirin kamu... Bapakmu minggat tugas... Ibu bingung, Ibu sendirian. Harusnya Ibu jaga kamu... maafin Ibu."
Syaiful berhenti menangis. Mata bulatnya yang basah menatap wanita di depannya lekat-lekat. Tangan kasarnya mengusap ingus. Sentuhan selembut ini tak pernah mampir di kepalanya. Sinta di sebelahnya ikut gemetar.
"Sinta... Nduk..." Sukma beralih menatap gadis cilik itu. Tangannya merogoh ke bawah bantal, menarik paksa sebuah kantong kain hitam yang sengaja ia siapkan. "Ibu jahat sama Sinta. Ibu sering cubit kamu. Ini... Ibu simpan kain katun motif kembang mawar. Niatnya buat jahit baju lebaranmu. Ibu takut nggak ada umur buat lihat kamu pakai baju ini."
Kain hijau berbahan halus itu berpindah ke tangan dekil Sinta.
Sukma tahu kain itu tadinya ia simpan buat dirinya sendiri. Tidak masalah. Improvisasi yang lebih murah dari apa pun yang ada di ruang spasialnya.
Sinta meremas kain itu. Pertahanannya runtuh. Gadis kecil itu menangis sesenggukan, menenggelamkan wajahnya di tepi dipan.
Di ambang pintu, Sigit meludah pelan. Cih. Akting murahan. Perempuan iblis ini pasti sedang cari simpati agar mereka mau merawatnya. Bukankah kain hijau itu kemarin dipamerkan untuk dibuat celana panjangnya sendiri? Sigit menyilangkan lengan, menatap tajam ibunya.
Sukma menangkap kilatan kebencian di mata sulungnya. Waktunya melempar bom utama.
Napas Sukma dibuat seputus-putus mungkin. Tangannya merangsek makin dalam ke balik selimut. Sebuah lipatan kertas buram bersegel kelurahan dan gulungan uang kertas kusut ditarik keluar.
Ia meraih tangan Sigit paksa. Menjejalkan benda-benda itu ke telapak tangan mungil yang kapalan tersebut.
"Sigit... Gito... ke sini kalian." Sukma mencengkeram pergelangan tangan Sigit kuat-kuat. "Ini sertifikat rumah bata depan. Sama uang lima belas ribu rupiah. Sisa tabungan bapakmu yang belum Ibu sentuh."
Seluruh pasang mata di ruangan itu membelalak. Lasmi nyaris maju menerkam kertas itu kalau saja Joko tidak menahan lengannya. Uang seratus lima puluh ribu dan surat rumah! Itu harta karun!
"Dengar Ibu baik-baik, Sigit." Suara Sukma kini berubah mengancam. "Ibu nggak mau ninggalin utang nyawa. Kalau Ibu mati, bawa adik-adikmu pergi. Ke rumah Kakek Purnomo. Kalau Kakek nggak sanggup, kalian ngemis saja di jalanan. Terserah!"
Tubuh Sukma menegang. Ia memaksa menyeret tubuhnya ke ujung dipan, kakinya menjuntai ke bawah.
"Jangan diam saja di rumah ini! Nenekmu... paman dan bibimu... mereka semua lintah! Mereka bakal sedot darah kalian sampai kering! Rumah bata bapakmu saja diakali jadi milik Jamilah!"
"Heh! Cangkemmu jaga!" Lasmi tak tahan lagi, jari telunjuknya nyaris mencongkel mata Sukma.
Bruk!
Sukma sengaja menjatuhkan dirinya dari dipan, mendarat dengan lutut menghantam lantai tanah. Pak Purnomo menjerit panik, buru-buru menahan bahu putrinya agar tidak tersungkur.
"Saya mohon... Bu Lasmi... Joko... Jamilah..." Sukma mendongak, wajahnya dipenuhi air mata dan keringat. "Rumah sudah kalian ambil... tolong, kalau aku mati, jangan siksa anak-anakku. Kasih mereka sisa makanan basi juga nggak apa-apa... asal jangan dibunuh."
Tepat saat kalimat memelas itu mengudara, pintu depan rumah digedor kasar. Rentetan langkah kaki berat berjumlah banyak berderap memasuki ruang tengah.
Marni berdiri terengah-engah di ambang pintu kamar. Wajahnya yang coreng-moreng pewarna merah terlihat sangat meyakinkan. Di belakangnya, Kepala Desa Darman dengan seragam safarinya yang lusuh berdiri kaku. Carik Tejo menatap pemandangan di depannya dengan rahang mengeras. Di belakang mereka, belasan warga desa saling melongok mencari tahu.
"Gusti Pangeran... Sukma!" Marni menerjang maju, memeluk tubuh ringkih putrinya.
Lasmi mematung. Darahnya serasa surut ke ujung kaki. Tamat sudah. Reputasi baik keluarga Priyanto hancur berkeping-keping. Pemandangan menantu bersujud meminta belas kasihan mertua dan ipar untuk kelangsungan hidup anak-anaknya ini terlalu sempurna untuk menghancurkan nama baik mereka.
Kepala Desa Darman mendehem keras. "Bu Lasmi. Bisa jelaskan pemandangan ini? Tadi siang istri saya dengar menantu ibu ini cuma lecet sedikit."
Jamilah gelagapan. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. "Pak Kades... ini... ini salah paham! Mbakyu Sukma tadi sehat kok pas sampai rumah! Ini pasti gara-gara Marni sama Purnomo yang bikin dia tambah sakit! Mereka yang provokasi!"
"Iya, Pak Kades!" Lasmi ikut membeo panik. "Marni ini tukang fitnah! Masa dia bilang Joko sama Jamilah ngerampas rumah depan? Wong kita ini bayar sewa dua ribu sebulan ke Sukma!"
Keheningan merayap masuk. Warga saling pandang, kasak-kusuk mulai terdengar. Argumen Lasmi terdengar sangat meyakinkan. Marni memang terkenal suka memeras harta mantu.
Sukma yang bersandar di pelukan Marni perlahan mengangkat kepalanya. Pandangannya menyapu wajah Kades Darman, Carik Tejo, lalu berhenti pada Jamilah yang tersenyum kemenangan.
Senyum miring terbit di sudut bibir kelabu Sukma.
"Terima kasih, Pak Kades... Pak Carik... sudah sudi datang ke gubuk ini." Suara Sukma kini stabil. Sangat stabil. Begitu dingin hingga mematikan kasak-kusuk warga.
"Saya sangat bersyukur. Sangat berterima kasih."
Sukma menatap lurus ke mata Kepala Desa.
"Saya ditabrak sapi milik Bapak Kepala Desa yang lepas dari kendang. Dada saya memar, dahi saya sobek menganga. Tapi saya bersyukur... sapi Bapak tidak lecet sedikit pun."
Wajah Darman pucat pasi seketika.
"Saya diangkat pulang ke mari. Tidak ada satu pun keluarga suami saya yang memanggil mantri. Tidak ada setetes air pun yang masuk ke mulut saya. Empat anak saya kelaparan mencari burung liar di kebun. Tapi saya bersyukur..."
Sukma menoleh ke arah Lasmi dan Jamilah.
"Saya bersyukur Jamilah dan Joko masih bisa mengunyah sayur lodeh dan telur dadar siang ini. Saya sangat berterima kasih, meski sewa dua ribu rupiah per bulan yang Jamilah janjikan tidak pernah sampai ke tangan saya sepeser pun selama enam bulan ini... Jamilah masih mengizinkan saya bernapas di kamar seukuran kandang ayam ini."
Sukma menarik napas panjang, menatap ayah dan ibunya.
"Dan saya paling bersyukur... Bapak dan Ibu saya yang jauh-jauh datang dari seberang sungai, hanya dipukuli dan diusir dari rumah menantunya sendiri."
Hening. Senyap. Hanya embusan angin dari celah bambu yang terdengar.
Warga di belakang Carik Tejo menahan napas. Kalimat itu diucapkan dengan nada datar, tanpa rintihan, tapi menampar martabat semua orang di ruangan itu tanpa sisa.
Kepala Desa Darman menunduk malu. Wajah Jamilah memerah seperti kepiting rebus.
Lalu, di tengah keheningan absolut itu, Sukma memutar matanya ke atas.
Tubuhnya melorot lemas dari dekapan Marni. Jatuh menghantam lantai tanah.