NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5.Kabar Buruk Yang Datang Sebelum Malam

Cahaya mentari sore di Jayapura mulai merambat perlahan ke bawah langit yang masih berwarna keemasan, menyentuh papan nama kayu berkualitas yang terukir rapi dengan tulisan: Ren’s Cuisine. Cahaya itu membuat setiap serat kayu di papan nama itu tampak hidup, seperti ingin menyampaikan bahwa tempat ini adalah bagian penting dari kehidupan banyak orang. Ren baru saja mengganti seragam sekolahnya dengan kemeja kerja hitam lengan panjang yang selalu ia pakai di restoran – lengan kanannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat dan guratan otot lengan yang terbentuk dari ribuan jam mengayunkan wok di atas kompor panas dan berlatih bela diri bersama ibunya dulu.

Suasana restoran sore hari ini masih terhitung tenang. Hanya beberapa meja yang ditempati oleh pelanggan tetap yang menikmati hidangan sore mereka dengan tenang. Aroma kaldu sapi yang dimasak selama berjam-jam bercampur dengan aroma kayu manis dan pala dari masakan hari ini memenuhi setiap sudut ruangan yang didominasi oleh unsur kayu dengan gaya minimalis yang hangat. Ren sedang menyeka permukaan meja konter dengan kain lap yang sudah agak lusuh namun tetap bersih, gerakannya berirama dan teratur seperti sedang melakukan ritual yang ia lakukan setiap hari setelah sekolah.

Sampai suara pintu dapur terbuka membuatnya menoleh. Ayahnya, Kudo, keluar dari dalam dengan tangan yang sedang melepaskan topi koki putihnya. Rambut hitamnya yang sudah mulai bercabang di sisi pelipis tampak lebih berantakan dari biasanya, dan keringat masih menetes di dahinya.

Kudo tidak menunjukkan senyum lebar yang biasanya ia tunjukkan saat keluar dari dapur. Wajahnya yang biasanya penuh dengan candaan dan keceriaan kini tampak tertutup rapat, ada kerutan di dahinya yang dalam dan tidak bisa disembunyikan meskipun ia mencoba mengangkat alisnya dengan gaya rileks.

"Ren, bisa kita bicara sebentar?" Kudo berkata dengan suara yang lebih rendah dari biasanya, lalu bersandar perlahan di tepi meja kasir sambil menatap ke arah deretan botol saus yang tersusun rapi di rak belakang konter – seolah ada sesuatu yang menarik di sana padahal matanya terlihat kosong.

Ren langsung menghentikan gerakan menyeka nya. Ia meletakkan kain lap itu dengan sangat rapi di sudut konter, lalu menatap ayahnya dengan ekspresi yang mulai menunjukkan rasa khawatir. "Apakah ada masalah dengan pasokan daging sapi dari Pak Haji? Kalau iya, aku bisa hubungi Pak Darmawan dari pasar tradisional untuk cadangan."

Kudo menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Ia menarik napas dalam sebelum mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku apronnya, lalu mengambil selembar surat resmi dengan kop surat yang tampak sangat asing bagi Ren – warna merah tua dengan tulisan besar yang terkesan megah. "Bukan itu yang aku maksud. Ini tentang gedung sebelah kita. Kamu tahu kan, ruko kosong yang ada di sisi timur restoran ini? Tadi pagi aku melihat sebuah truk besar datang dengan logo yang sama dengan kop surat ini. Mereka sudah mulai menurunkan peralatan dapur dari dalam truk – bukan peralatan biasa yang kamu lihat di restoran lain, Ren. Itu peralatan standar industri tinggi, yang biasanya hanya digunakan oleh rantai restoran besar."

Ren mengerutkan dahinya, dan bibirnya sedikit mengerut saat melihat kop surat di atas surat itu. Ia bisa merasakan bagaimana suasana yang tadinya hangat dan tenang di restoran mulai berubah menjadi lebih berat. "Siapa yang akan membuka restoran di sana?"

"Asuka Jaya," gumam Kudo dengan suara yang terdengar seperti tertelan sesuatu yang pahit. "Mereka tidak hanya membuka cabang kecil di sini. Kabar yang aku dapatkan, mereka membawa 'Tim Elite' koki mereka dari Jakarta khusus untuk datang ke Jayapura. Tujuan mereka jelas – mereka ingin mendominasi pasar kuliner di kota ini sebelum acara besar 'Pesta Rasa Nusantara' dimulai bulan depan. Dan dari informasi yang aku dapat, target pertama mereka adalah menghilangkan restoran-restoran keluarga kecil seperti kita yang dianggap sebagai hambatan kecil saja."

Ren terdiam sejenak. Tangannya yang berada di bawah meja secara tidak sadar mengepal kuat, hingga bukuannya menjadi putih karena darah yang terkepung. Bagi Ren, restoran ini bukan sekadar tempat untuk bekerja atau sumber penghasilan keluarga. Ini adalah tempat di mana ibunya, Reina, menghabiskan waktu luangnya untuk menguji resep baru sambil mengajarkan Ren cara memasak dengan cinta. Ini juga tempat di mana Rin tumbuh besar, berlari-lari di antara meja dan selalu ingin mencicipi setiap eksperimen masakan yang mereka buat bersama.

"Mereka punya modal yang sangat besar, Ren. Dengan dana yang mereka miliki, mereka bisa dengan mudah membanting harga hingga jauh di bawah harga pasar dan bahkan mengambil alih semua pemasok bahan utama yang kita andalkan selama ini," lanjut Kudo, suaranya terdengar lelah dan penuh kekhawatiran yang sudah lama ia tahan.

Tepat saat suasana mulai terasa semakin berat, suara dering pintu restoran yang khas terdengar. Ren dan Kudo menoleh bersama, dan kejutan terlihat di wajah Ren ketika melihat siapa yang masuk ke dalam. Bukan pelanggan biasa, melainkan Yumira Keiko – guru matematika yang selalu tampak tegas di sekolah. Kali ini, ia tidak mengenakan kemeja putih kaku dan rok panjang yang biasa dikenakan di kelas. Sebaliknya, ia mengenakan blus berwarna biru muda yang lembut dan celana panjang jeans yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dan feminin. Namun ekspresi wajahnya tetap terlihat serius, seolah ia datang dengan tujuan tertentu.

"Akira-san," ucap Keiko dengan sopan sambil mengangguk pada Kudo, lalu matanya berpindah ke Ren dengan pandangan yang penuh perhatian. "Maaf ya aku datang tidak diundang. Aku tidak sengaja mendengar sebagian pembicaraan kalian saat melewati pintu tadi – pintunya terbuka dan suaramu sedikit terdengar keluar."

"Bu Keiko? Kamu sering datang ke sini?" Ren sedikit terkejut, tidak menyangka bahwa guru yang selalu ketat di sekolah adalah pelanggan restoran mereka.

"Aku sudah jadi pelanggan tetap di sini selama tiga tahun terakhir, Ren," jawab Keiko dengan senyum kecil yang lembut, lalu berjalan perlahan mendekat ke arah konter. Ia meletakkan tas kerja hitamnya di tepi meja, lalu melihat ke arah surat resmi yang masih ada di tangan Kudo. "Asuka Jaya memang bukan lawan yang mudah untuk dihadapi. Secara matematis, berdasarkan data yang aku baca dari laporan industri kuliner, mereka memiliki keunggulan modal hingga lima banding satu dibandingkan restoran keluarga mandiri seperti ini."

Keiko kemudian menatap Ren dengan pandangan yang mendalam, kacamata bingkai logamnya memantulkan cahaya lampu gantung di atas konter sehingga membuat matanya tampak lebih jelas. "Namun, angka dan data tidak selalu bisa menentukan rasa yang sebenarnya. Ren, aku melihat bagaimana kamu bekerja di papan tulis saat pelajaran matematika pagi itu – kamu melihat pola yang tidak terlihat oleh orang lain dan menemukan solusi yang tepat. Selain itu, cara kamu menyelamatkan gelas kopiku dari jatuh menunjukkan refleks yang luar biasa dan perhatian terhadap detail yang tinggi."

Ren tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang, meskipun ia tahu bahwa guru matematikanya yang cerdas itu sedang mencoba membaca kemampuan yang tersembunyi di dalam dirinya. "Itu hanya kebetulan, Bu. Saya hanya bereaksi seperti orang lain saja."

"Jangan pernah menggunakan kata 'kebetulan' di depanku, Akira Ren," sela Keiko dengan nada yang tegas namun tetap lembut, suaranya bahkan merendah hingga hampir seperti bisikan yang hangat. Ia kemudian menjangkau tangan kanannya dan menepuk pelan bagian belakang tangan Ren yang masih berada di atas permukaan konter – sebuah gerakan yang sangat tidak lazim bagi seorang guru terhadap muridnya, namun terasa begitu nyaman dan seperti dukungan yang tulus dari seorang teman lama yang peduli.

"Jika mereka memilih untuk menyerang dengan harga yang rendah dan strategi bisnis yang keras, maka kita harus menyerang dengan sesuatu yang tidak bisa mereka beli dengan uang – yaitu kualitas yang otentik dan cinta yang ada di setiap hidangan yang kita buat," lanjut Keiko dengan tatapan yang penuh keyakinan.

Ren merasakan kehangatan dari telapak tangan Keiko yang menepuk tangannya. Ia bisa melihat dengan jelas sedikit noda tinta biru di ujung jari guru itu – bekas dari mengoreksi kertas ujian siswa yang ia lakukan sebelum datang ke restoran. Hal itu membuatnya menyadari bahwa Keiko benar-benar peduli dengan nasib mereka – bukan hanya peduli dengan nilai akademik Ren di sekolah, tapi juga dengan kelangsungan hidup tempat yang menjadi "rumah" kedua bagi Ren dan keluarganya.

"Terima kasih banyak, Bu," ucap Ren dengan suara yang tulus dan penuh rasa hormat. Ia tidak menarik tangannya jauh, memilih untuk merasakan dukungan yang diberikan guru itu sebentar lagi. "Asuka Jaya boleh saja memiliki peralatan yang mahal dan dana yang banyak, tapi mereka tidak akan pernah bisa memiliki sesuatu yang kita miliki – jiwa yang kita masukkan ke dalam setiap piring makanan yang kita sajikan."

Kudo melihat interaksi antara putranya dan guru matematika itu dengan mata yang penuh rasa lega. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya, seolah sebagian besar beban yang ada di bahunya terangkat setelah melihat bahwa Ren memiliki seseorang yang bisa memberikan dukungan dan pandangan yang berbeda. "Yah, setidaknya kita tahu bahwa ada pendukung setia yang tidak akan menyerah begitu saja melihat kita kesusahan."

Tiba-tiba, suara kaki berlari yang cepat terdengar dari arah ruang belakang restoran. Rin muncul dengan wajah yang cerah dan penuh semangat, tangan kirinya membawa sebuah piring putih berisi beberapa potong kue cokelat yang bentuknya tidak terlalu rapi namun aromanya sangat manis dan menggoda. "Kak Keiko! Kakak sudah datang ya! Coba ini dong! Rin baru saja belajar membuat kue cokelat sendiri dengan bimbingan Ayah!"

Keiko segera melepaskan tangannya dari tangan Ren, pipinya sedikit memerah karena tersentuh oleh kedekatan sebelumnya, lalu menyambut Rin dengan senyuman lebar yang jarang sekali ia tunjukkan di lingkungan sekolah. "Wah, benar-benarkah? Kakak sudah tidak sabar untuk mencicipinya. Pasti sangat lezat ya karena dibuat dengan cinta oleh Rin."

Ren melihat pemandangan hangat itu – adiknya yang penuh semangat, ayahnya yang mulai menunjukkan ekspresi lebih rileks, dan guru matematikanya yang sedang tersenyum dengan tulus sambil mencoba kue yang dibuat Rin. Pada saat itu, ia membuat keputusan dalam hati. Restoran ini, keluarga yang dicintainya, dan orang-orang baik yang mulai masuk ke dalam hidupnya – ia tidak akan pernah membiarkan perusahaan besar semacam Asuka Jaya merusak semuanya. Jika mereka ingin memulai perang di dunia kuliner Jayapura, Ren akan memastikan bahwa mereka akan mencicipi kekalahan yang paling pahit dan tak terlupakan – dengan rasa yang otentik dan jiwa yang tidak bisa dibeli dengan uang.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!