NovelToon NovelToon
PERJALANAN SANG LEGENDA:PENDEKAR NAGA

PERJALANAN SANG LEGENDA:PENDEKAR NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:54.4k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.

Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.

Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.

Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?

Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Simfoni di Ambang Kepunahan

​Malam yang tadinya sunyi mendadak terasa mencekik.

Kabut tipis yang menyelimuti manor tua itu berubah menjadi merah redup, pertanda bahwa udara telah jenuh oleh niat membunuh yang sangat pekat.

Tian Shan, yang sedari tadi bersandar dengan botol arak kosong, perlahan membuka matanya. Ia tidak terkejut.

Baginya, kedatangan maut hanyalah seperti tamu yang mengetuk pintu di jam yang salah.

​Dari balik bayang-bayang pepohonan dan atap-atap rumah yang hancur, belasan sosok muncul satu per satu.

Mereka bukan sekadar prajurit atau bandit biasa. Dari fluktuasi Qi yang terpancar, Tian Shan tahu bahwa ia sedang dikepung oleh para elit.

​Di depannya berdiri tiga orang Pendekar Bumi tingkat puncak, di atap manor terdapat dua pemanah dengan busur perak yang kemungkinan adalah Pendekar Langit tahap awal, dan di belakangnya—sesosok pria tua dengan jubah putih yang memancarkan aura setara dengan dirinya: seorang Pendekar Langit tahap menengah.

​"Tian Shan," suara pria tua berjubah putih itu menggetarkan udara. "Kepalamu dihargai dengan lima provinsi dan teknik kultivasi suci. Terlalu banyak darah yang kau tumpahkan, dan hari ini, sejarahmu akan berakhir di reruntuhan ini."

​Tian Shan perlahan bangkit berdiri. Ia mengibaskan debu dari jubah hitamnya yang compang-camping.

Wajahnya tetap datar, tanpa sedikit pun kerutan ketakutan atau amarah. Matanya yang kelabu menatap mereka semua seolah-olah ia sedang melihat sekumpulan patung batu yang tak bernyawa.

​"Sejarah?" gumam Tian Shan. Suaranya kecil namun terdengar jelas di telinga setiap orang yang mengepungnya. "Sejarah hanyalah kebohongan yang ditulis oleh pemenang. Dan bagi kalian, aku hanyalah sebuah angka di atas kertas hadiah. Majulah. Jangan biarkan kesunyian malam ini terbuang sia-sia."

​Pertempuran pecah tanpa aba-aba. Dua anak panah perak melesat dari atap, membelah udara dengan kecepatan suara.

Tian Shan tidak menghindar dengan gerakan besar. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan panah itu memotong sehelai rambutnya, lalu dalam sekejap, tubuhnya menghilang.

​BLINK!

​Tian Shan muncul di udara, tepat di depan salah satu pemanah. Sebelum sang pemanah sempat menarik tali busurnya kembali, tangan Tian Shan sudah mencengkeram lehernya.

​"Kau mengincar langit, tapi kakimu masih takut pada ketinggian." ucap Tian Shan dingin.

​KRAK!

​Dengan satu putaran tangan, leher sang pendekar langit itu patah.

Tubuhnya jatuh menghantam tanah seperti karung gandum.

Pemanah satunya mencoba menembak dari jarak dekat, namun Tian Shan menendang udara, menciptakan gelombang tekanan Qi yang membelokkan anak panah itu dan justru menembus jantung sang pemanah kedua.

​Melihat dua rekan mereka tewas dalam hitungan detik, para Pendekar Bumi di bawah berteriak histeris dan menyerang bersamaan.

Mereka mengeluarkan teknik andalan masing-masing—pedang api, gada raksasa, dan cambuk petir.

​Tian Shan mendarat di tengah-tengah mereka dengan tenang.

Ia tidak mencabut pedangnya. Ia hanya menggunakan telapak tangannya.

Setiap kali tangannya bergerak, ia seolah-olah sedang membelah air.

Namun, setiap sentuhannya menghancurkan meridian dan organ dalam lawannya.

​"Kenapa kalian begitu bersemangat untuk mati?" tanya Tian Shan di sela-sela serangan. "Apakah perak dan emas begitu berharga hingga kalian rela menukarnya dengan napas terakhir kalian?"

​Seorang pendekar dengan pedang api mencoba menebas punggungnya.

Tian Shan menangkap bilah pedang yang membara itu dengan tangan kosong.

Api itu menjilat kulitnya, namun ia tidak berkedip. Ia mematahkan pedang itu menjadi dua, lalu menusukkan patahannya ke tenggorokan sang penyerang.

​Kini, hanya tersisa pria tua berjubah putih. Ia melayang naik, berdiri sejajar dengan Tian Shan di udara. Inilah pertarungan yang sesungguhnya—dua individu yang telah melampaui hukum gravitasi.

​"Kau sangat kuat, Tian Shan. Bakatmu adalah sesuatu yang hanya muncul seribu tahun sekali. Sayang sekali kau tidak memiliki jiwa." ujar pria tua itu sambil menghunuskan pedang panjang yang memancarkan cahaya keemasan.

​"Jiwa hanya akan membuat pedangmu berat." jawab Tian Shan.

​Keduanya melesat, bertabrakan di angkasa. Ledakan Qi dari bentrokan mereka menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan seluruh manor kecil di bawah mereka hingga rata dengan tanah.

Cahaya ungu dan emas beradu, menghiasi langit malam seperti kembang api kematian.

​Pria tua itu menyerang dengan ribuan bayangan pedang, mencoba mencari celah di pertahanan Tian Shan.

Namun, Tian Shan bergerak dengan cara yang aneh—ia seolah-olah mengalir mengikuti celah di antara serangan tersebut.

Bagi Tian Shan, pertarungan ini adalah meditasi. Semakin dekat ia dengan kematian, semakin ia merasa "ada".

​"Mati kau!" Pria tua itu memusatkan seluruh energinya ke satu titik, menciptakan naga cahaya yang menerjang ke arah Tian Shan.

​Tian Shan akhirnya menarik pedang besarnya dari punggung. Ia tidak menggunakan teknik yang rumit.

Ia hanya melakukan satu tebasan vertikal yang sederhana. Sebuah tebasan yang lahir dari kehampaan murni.

​BOOOOMMM!!!

​Naga cahaya itu terbelah menjadi dua. Tebasan itu terus melaju, membelah awan di langit dan membelah tubuh pria tua itu tepat di tengah. Tidak ada teriakan.

Hanya ada keterkejutan terakhir di mata sang pendekar sebelum raga dan jiwanya hancur menjadi serpihan energi.

​Tian Shan mendarat perlahan di atas puing-puing manor yang kini telah hancur total.

Ia berdiri di tengah-tengah kehancuran yang ia ciptakan sendiri.

Darah mengalir dari telapak tangannya yang memegang pedang, menetes satu per satu ke tanah yang haus.

​Ia menatap mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitarnya.

​"Masih tidak ada," bisiknya pada malam. "Kemenangan ini... tetap saja rasanya hampa. Berapa banyak lagi nyawa yang harus kuambil sampai aku merasa cukup?"

​Ia menyarungkan kembali pedangnya, lalu menengadah ke langit yang kini bersih dari awan karena tebasannya tadi.

Bintang-bintang bersinar terang, seolah-olah mereka menertawakan perjuangan sia-sia seorang manusia yang mencoba mencari makna di dunia yang tak peduli.

Sebelum melangkah ia mengambil semua harta orang-orang itu hanya dengan lambaian tangan.

​Tian Shan lalu melangkah pergi dari reruntuhan itu, berjalan lambat menuju kegelapan hutan, meninggalkan jejak kaki berdarah yang perlahan akan hilang dihapus hujan yang mulai turun.

1
Agen One
😴
Agen One
🤣
Agen One
🔥🔥
Agen One
😴
Agen One
🤣
Agen One
🔥
Agen One
👍
Agen One
🙏
Agen One
🤭
Agen One
💪
Agen One
😴
Agen One
🤣
Agen One
🔥
Agen One
👍
Agen One
🙏
Agen One
🤭
Agen One
💪
Agen One
😴
Agen One
🤣
Agen One
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!