Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacaran Resmi, Tapi Aneh
Hubungan Raka dan Lala resmi dimulai tiga hari yang lalu.
Tiga hari.
Dan sampai sekarang Raka masih belum terbiasa dengan status barunya.
Pacar.
Ia duduk di warung kopi dekat kantor sambil menatap layar ponselnya.
Di WhatsApp ada satu chat dari Lala.
Lala:
"Pacar aku lagi ngapain?"
Raka menatap kata pacar aku seperti membaca sesuatu yang sangat asing.
Ia bergumam pelan.
“Pacar… aku?”
Doni yang duduk di depannya mengernyit.
“Lu kenapa?”
Raka menunjukkan layar HP.
Doni membaca chat itu lalu tertawa.
“Anjir… akhirnya ada juga cewek yang mau sama lu.”
“Kurang ajar.”
“Tapi serius, rasanya gimana?”
Raka berpikir sebentar.
“Aneh.”
Doni tertawa lagi.
“Kenapa aneh?”
“Biasanya gue chat dia mikir dulu 20 menit.”
“Sekarang?”
“Sekarang gue mikir satu jam.”
Doni menepuk meja.
“LU MAKIN PARAH!”
Raka menghela napas.
“Gue takut salah ngomong.”
Doni menyeringai.
“Tenang aja.”
“Apa?”
“Lu pasti salah ngomong.”
Sementara itu di rumahnya, Lala sedang duduk di sofa sambil menatap ponselnya.
Sudah lima menit.
Belum dibalas.
Ia menyipitkan mata.
“Raka…”
Ia mengetik lagi.
Lala:
"Pacar aku lagi sibuk ya?"
Di warung kopi, ponsel Raka bergetar lagi.
Raka langsung panik.
“GUE HARUS BALAS APA?”
Doni menggeleng.
“Lu kayak lagi ujian nasional.”
Raka mulai mengetik.
Lagi ngopi.
Ia berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Lagi kerja.
Hapus lagi.
Akhirnya ia mengetik:
Raka:
"Lagi mikirin kamu."
Doni melotot.
“Wih.”
Raka menelan ludah lalu menekan send.
Beberapa detik kemudian Lala membalas.
Lala:
"Kamu sakit?"
Raka memandang layar dengan wajah kosong.
Doni tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.
Malamnya Raka dan Lala bertemu di angkringan.
Raka duduk sambil terlihat gugup.
Lala menatapnya sambil tersenyum jahil.
“Kamu hari ini romantis banget ya.”
Raka menggaruk kepala.
“Maaf ya kalau aneh.”
“Kenapa minta maaf?”
“Soalnya gue belum pernah pacaran serius.”
Lala tertawa kecil.
“Tenang.”
“Apa?”
“Aku juga.”
Raka kaget.
“Serius?”
Lala mengangguk.
“Iya.”
Raka memandangnya.
“Berarti…”
“Berarti kita sama-sama belajar.”
Raka tersenyum lega.
“Baguslah.”
Lala mengangkat alis.
“Tapi satu aturan.”
“Apa?”
“Jangan kebanyakan mikir.”
Raka tertawa.
“Itu susah.”
Lala menggenggam tangannya.
“Ya mungkin besok kamu bisa.”
Episode 27 — Cemburu Pertama
Hubungan mereka berjalan dua minggu dengan damai.
Sampai suatu sore.
Lala datang ke kantor Raka membawa makanan.
Ia masuk ke ruang kerja Raka.
Dan berhenti di pintu.
Raka sedang berbicara dengan seorang perempuan cantik.
Perempuan itu tertawa.
Tangan mereka hampir bersentuhan saat melihat dokumen.
Lala berdiri diam.
Perutnya tiba-tiba terasa aneh.
Perempuan itu akhirnya pergi.
Raka baru menyadari Lala berdiri di pintu.
“Eh! Kamu!”
Lala tersenyum tipis.
“Aku ganggu ya?”
“Enggak dong.”
Lala meletakkan kotak makanan.
“Ini aku bawain makan siang.”
Raka terlihat senang.
“Wah makasih!”
Lala pura-pura santai.
“Tadi siapa?”
“Oh itu?”
“Iya.”
“Client.”
“Client apa?”
Raka berpikir sebentar.
“Client penting.”
Lala menyipitkan mata.
“Namanya?”
Raka menjawab santai.
“Clara.”
Lala diam.
Raka membuka makanan.
“Wah ayam goreng!”
Lala tiba-tiba berkata datar.
“Dia cantik ya.”
Raka berhenti makan.
“Hah?”
“Clara.”
“Oh.”
Raka berpikir.
“Lumayan.”
Lala langsung berdiri.
“Yaudah aku pulang.”
Raka panik.
“EH KENAPA?”
Lala berjalan ke pintu.
Raka mengejar.
“Lala!”
“Apa?”
“Kamu marah?”
“Enggak.”
“Ini jelas marah.”
Lala menatapnya.
“Kamu tadi bilang dia lumayan.”
Raka bingung.
“Iya… emang lumayan.”
Lala menghela napas.
“Raka…”
“Apa?”
“Kamu tau gak… kalau cewek nanya ‘dia cantik ya?’ itu bukan pertanyaan.”
Raka semakin bingung.
“Terus apa?”
“PERANGKAP.”
Raka membeku.
Beberapa menit kemudian mereka duduk lagi.
Raka menatap Lala dengan serius.
“Aku boleh jujur?”
Lala menyilangkan tangan.
“Boleh.”
Raka menunjuk Lala.
“Dia lumayan.”
Lalu menunjuk Lala lagi.
“Kamu luar biasa.”
Lala menahan senyum.
“Kamu belajar dari siapa?”
Raka menunjuk Doni di ponselnya.
“Google.”
Lala akhirnya tertawa.
Dan perangkap itu resmi ditutup.
Episode 28 — Kata yang Menakutkan
Suatu malam mereka duduk di taman.
Angin bertiup pelan.
Lala menatap langit.
“Raka.”
“Iya?”
“Kamu pernah mikir masa depan?”
Raka langsung tegang.
“Masa depan apa?”
“Ya… masa depan.”
Raka menelan ludah.
“Kamu lagi ngomongin…”
Lala menatapnya.
“Pernikahan.”
Raka hampir tersedak minumannya.
“BATUK BATUK.”
Lala tertawa.
“Kenapa panik?”
“Enggak panik.”
“Kamu merah.”
“Enggak merah.”
“Merah.”
Raka akhirnya menyerah.
“Oke panik sedikit.”
Lala tersenyum.
“Aku cuma tanya.”
Raka menatapnya.
“Kamu serius?”
Lala mengangguk pelan.
“Suatu hari.”
Raka diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan.
“Kalau dulu kamu tanya aku…”
“Jawabannya?”
Raka tersenyum kecil.
“Ya mungkin besok.”
Lala tertawa.
“Sekarang?”
Raka menggenggam tangannya.
“Sekarang…”
Ia menatap mata Lala.
“Aku mulai mikirin hari itu.”
Lala tersenyum hangat.
Dan malam itu terasa lebih tenang dari biasanya.
Karena untuk pertama kalinya…
Raka tidak lagi takut dengan kata masa depan.