Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Taktik di Balik Rekaman
Pagi itu, atmosfer SMA Garuda Kencana terasa jauh lebih berat dari biasanya. Video perdebatan sengit di perpustakaan antara Dean dan Karline telah menjadi viral di grup WhatsApp sekolah. Di kolom komentar, opini terbelah dua, sebagian memuji keberanian Karline yang tidak gentar menghadapi sang Kapten Voli, sementara sebagian lagi terutama para penggemar berat Dean menghujat Karline sebagai adik kelas yang tidak punya sopan santun.
Karline melangkah melewati koridor kelas sebelas dengan wajah setenang air. Ia seolah tidak terpengaruh oleh tatapan-tatapan yang menghujamnya dari segala sisi.
"Karline! Gila, lo keren banget di video itu!" seru salah satu teman kelasnya saat ia baru saja menginjakkan kaki di kelas XI-IPA 2.
"Iya, Karl. Jangan kasih kendor. Mereka emang sering seenaknya karena merasa senior," timpal siswa lain, memberikan jempol sebagai tanda dukungan.
Karline hanya menunduk kecil, memberikan senyum tipis di balik maskernya. "Terima kasih," jawabnya singkat sebelum duduk di bangkunya. Sarah, teman sebangkunya, menggenggam tangan Karline dengan cemas. "Gue dukung lo, tapi jujur gue takut mereka bakal makin nekat, Karl."
Ketakutan Sarah bukan tanpa alasan. Di gedung kelas dua belas, Dean sedang dalam puncak emosinya. Meja di depannya bergetar karena ia baru saja membanting ponselnya setelah melihat video tersebut untuk kesekian kalinya.
"Kita samperin sekarang," desis Dean pada Raka dan Rio.
Clarissa, yang melihat kesempatan emas untuk membalas dendam, langsung menghampiri Dean dengan wajah yang dibuat-buat sedih. "Iya, De. Dia bener-bener udah ngerusak reputasi angkatan kita. Masa lo diem aja dikatain membosankan depan umum?"
Tanpa banyak bicara, Dean melangkah keluar kelas menuju gedung kelas sebelas, diikuti oleh rombongan yang cukup besar. Siswa-siswi lain yang mencium bau keributan segera mengikuti dari belakang, membuat suasana koridor menuju kelas XI-IPA 2 menjadi sangat sesak.
Guru-guru sedang ada rapat mendadak di ruang guru, sehingga jam pertama masih kosong. Dean menendang pintu kelas Karline dengan keras hingga terbuka lebar.
Brak!
"Karline! Keluar lo!" bentak Dean. Suaranya menggelegar, membuat beberapa siswi di barisan depan terlonjak kaget.
Karline, yang sedang merapikan bukunya, menoleh. Matanya yang jernih menatap Dean tanpa ada rasa takut sedikit pun. Sarah dan beberapa teman sekelas Karline mencoba memasang badan, membentuk pagar hidup di depan meja Karline.
"Mau apa lagi, Kak? Ini jam pelajaran," sahut Sarah dengan suara gemetar.
"Minggir! Urusan gue sama si Anak Aneh ini!" Dean maju selangkah, membuat teman-teman Karline sedikit mundur karena intimidasi fisiknya.
Melihat Dean yang semakin mendekat, Karline tiba-tiba berdiri. Namun, bukannya melawan secara fisik, ia justru menyambar tas kecilnya dan berlari keluar melalui pintu belakang kelas.
"Heh! Pengecut lo! Mau lari ke mana!" teriak Rio sambil ikut mengejar.
Dean berpikir Karline takut. Ia merasa menang saat melihat gadis itu berlari kencang menyusuri koridor. Namun, ia salah besar. Karline bukan lari ke kantin atau gudang untuk bersembunyi. Ia berlari lurus menuju gedung utama, tepatnya ke Ruang Bimbingan Konseling (BK).
Tanpa mengetuk, Karline masuk ke dalam. Di sana sudah ada Ibu Maya, guru BK yang terkenal tegas dan tidak pandang bulu, serta Kepala Sekolah yang kebetulan sedang berdiskusi.
"Ibu, Bapak, saya ingin melaporkan tindakan perundungan dan intimidasi massal yang sedang terjadi pada saya," ucap Karline dengan napas yang masih sedikit tersengal.
Tak lama kemudian, Dean, Raka, Rio, dan Clarissa muncul di depan pintu Ruang BK dengan wajah penuh emosi. Mereka terhenti seketika saat melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu bersama Karline.
"Bagus kalian datang," suara berat Kepala Sekolah terdengar dingin. "Silakan masuk."
"Tapi Pak, dia yang duluan..." Clarissa mencoba membela diri.
Karline tidak membiarkan Clarissa bicara lebih jauh. Ia mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman suara yang diambilnya secara diam-diam saat Dean masuk dan membentaknya di kelas tadi. Rekaman itu sangat jelas, memperlihatkan nada intimidasi dan kata-kata kasar yang tidak pantas diucapkan oleh seorang kakak kelas.
Karline kemudian menceritakan semuanya secara runut, mulai dari fitnah mading, insiden penyiraman, hingga perlakuan Arlan dan Clarissa.
"Di mana Arlan? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Ibu Maya tajam.
"Arlan... Arlan tidak masuk, Bu. Katanya bagian perut bawahnya cidera serius," jawab Rio dengan wajah memerah.
Ibu Maya menoleh pada Karline. "Kamu yang melakukan itu pada Arlan?"
"Ya, Bu. Karena Kak Arlan mencoba melakukan kontak fisik yang agresif di depan gerbang. Saya dalam posisi siaga dan melakukan pembelaan diri secara refleks. Saya punya saksi dari teman-teman sekelas saya bahwa saya tidak memulai kontak fisik tersebut," jelas Karline dengan logika yang sangat rapi.
Ibu Maya mengangguk. Sebagai guru BK, ia lebih percaya pada fakta dan rekaman daripada teriakan emosional. Baginya, Karline hanyalah seorang siswi yang sedang berjuang mempertahankan diri dari sistem senioritas yang salah.
Setelah melalui diskusi panjang selama hampir dua jam, keputusan akhirnya keluar. Suara Kepala Sekolah menggema melalui speaker sekolah, memanggil seluruh pengurus inti OSIS ke aula.
"Berdasarkan bukti-bukti yang ada, sekolah memutuskan memberikan Surat Peringatan (SP) 1 kepada Deandra, Raka, Rio, dan Clarissa. Selain itu, seluruh pengurus OSIS yang terlibat, termasuk Ketua OSIS Arlan, diberhentikan sementara dari jabatannya selama satu bulan untuk menjalani pembinaan karakter," suara itu terdengar ke seluruh penjuru SMA Garuda Kencana.
Wajah Dean mengeras. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Kebenciannya pada Karline kini mencapai titik tertinggi. Karline tidak hanya menghina dirinya, tapi juga meruntuhkan kekuasaannya di sekolah ini.
Saat mereka keluar dari Ruang BK, Karline berjalan melewati Dean.
"Aku sudah bilang," bisik Karline tanpa menoleh, "jangan urusi hidupku."
Karline kembali ke kelasnya. Teman-teman sekelasnya yang sudah mendengar pengumuman tersebut langsung menyambutnya dengan sorak-sorai dan tepuk tangan. Mereka merasa bangga memiliki teman yang berani menumbangkan "rezim" senior yang arogan.
Namun, di tengah kegembiraan itu, Sarah mendekati Karline dengan wajah khawatir. "Karl, lo hebat banget. Tapi... lo tahu kan Dean dkk nggak akan diem aja? SP 1 itu kayak bensin buat mereka. Mereka pasti bakal makin dendam sama lo."
Karline duduk di kursinya, membuka kembali buku Kimianya seolah tidak terjadi apa-apa. "Biarkan saja. Dendam hanya akan membuat mereka semakin tidak fokus pada hidup mereka yang membosankan itu."
Meskipun bicaranya tenang, Karline tahu bahwa perang yang sebenarnya baru saja dimulai.