NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan wajah sayu Ibu Arlan terus menghantui. Aku tahu Arlan bersalah, tapi orang tuanya selalu memperlakukanku seperti putri mereka sendiri. Akhirnya, dengan sisa keberanian yang ada, aku memutuskan untuk berkunjung ke apartemen yang alamatnya tertulis di kertas itu. Aku ingin tahu kebenaran yang sebenarnya.

Apartemen itu terletak di pinggiran Jakarta, jauh lebih sederhana dibandingkan rumah besar mereka di Jogja dulu. Begitu pintu terbuka, aroma masakan rumahan langsung menyambutku—aroma yang dulu selalu kurindukan.

"Rania! Kamu benar-benar datang, Nak," Ibu Arlan memelukku erat, matanya berbinar bahagia. Beliau segera mengajakku masuk ke ruang tamu yang sempit namun rapi.

"Tante, Rania mau tanya jujur," ucapku setelah kami duduk. "Kenapa Tante dan Om pindah ke sini? Setahu Rania, distro di Jogja sudah sukses besar, cabangnya ada di mana-mana. Kenapa harus ditinggalkan?"

Seketika, raut wajah Ibu Arlan berubah redup. Beliau melirik suaminya yang baru keluar dari kamar membawa tumpukan dokumen medis.

"Distro itu sudah kami jual semua, Rania," bisik Ibu Arlan dengan suara bergetar. "Tiga tahun ini Arlan hancur. Bukan cuma hatinya, tapi fisiknya. Dia... dia sakit, Nak."

Jantungku mencelos. "Sakit? Sakit apa?"

"Gagal ginjal stadium awal dan komplikasi lambung kronis karena stres berkepanjangan dan pola hidup yang hancur sejak kamu pergi," Bapak Arlan yang menjawab, suaranya berat. "Dia harus rutin cuci darah dan periksa ke rumah sakit besar di Jakarta. Itulah alasan kami pindah, agar dia bisa mendapatkan perawatan terbaik sambil bekerja."

Aku terdiam, lidahku kelu. Arlan... sakit? Pria yang terlihat kuat di kantor itu ternyata sedang menyimpan bom waktu di tubuhnya?

"Kami sudah berkali-kali menyuruhnya berhenti kerja, menyuruhnya istirahat total," lanjut Ibu Arlan sambil menyeka air mata. "Tapi dia menolak keras. Dia bilang, hanya di kantor itu dia bisa melihatmu setiap hari. Dia bilang, melihatmu dari jauh adalah satu-satunya obat yang membuatnya sanggup bertahan hidup sedikit lebih lama."

"Siska tidak tahu?" tanyaku spontan.

"Siska tidak tahu apa-apa," jawab Bapak Arlan dingin. "Dia hanya tahu memeras Arlan saat Arlan masih punya uang. Saat Arlan jatuh sakit dan jatuh miskin, dia menghilang, dan hanya sesekali muncul untuk mengancam. Arlan memang bodoh dulu, Rania. Sangat bodoh karena melepaskan mutiara sepertimu demi wanita itu."

Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka. Sosok Arlan muncul dengan wajah yang sangat pucat, kantung mata hitamnya terlihat jelas di bawah lampu ruangan. Tangannya memegang botol obat yang habis. Begitu matanya menangkap keberadaanku, botol itu terjatuh dari genggamannya.

"Rania..." bisiknya lemah. Tubuhnya goyah, seolah kehilangan tumpuan.

Aku berdiri, tas tanganku kupeluk erat. Ada rasa perih yang menjalar di hatiku, namun ego dan lukaku masih menolak untuk luluh. Jadi, ini alasan dia diam saat kutanya soal rahasia di Jogja? Dia tidak ingin aku tahu bahwa dia sedang sekarat dan mengharapkan belas kasihanku?

Suasana ruang tamu yang sempit itu mendadak sunyi senyap. Botol obat yang terjatuh dari tangan Arlan menggelinding di lantai kayu, suaranya terdengar begitu nyaring di telingaku. Arlan masih mematung di ambang pintu, napasnya terdengar pendek dan berat. Wajahnya yang biasanya kaku di kantor kini tampak begitu rapuh, seolah satu embusan angin saja bisa membuatnya tumbang.

"Lan, kamu sudah pulang? Kenapa pucat sekali?" Ibu Arlan bergegas menghampiri putranya, memapah lengannya yang tampak lebih kurus dari yang kuingat.

Aku mencengkeram tali tas tanganku erat-erat. Informasi tentang penyakitnya, tentang distro yang dijual, dan tentang alasannya bertahan di kantor terus berputar di kepalaku. Ada rasa sesak yang luar biasa, namun ada juga benteng pertahanan yang berteriak agar aku tidak goyah.

"Tante... Om... Rania rasa, Rania harus pulang sekarang," ucapku dengan suara yang aku usahakan tetap stabil, meski getarannya tak bisa kusembunyikan sepenuhnya.

"Ran, tunggu..." Arlan mencoba melangkah maju, namun ia harus bertumpu pada dinding agar tidak jatuh. "Jangan pergi dulu. Aku... aku nggak bermaksud biarkan Ibu cerita semuanya."

Aku menoleh, menatapnya lurus ke arah mata yang sayu itu. "Kenapa, Arlan? Takut aku merasa kasihan padamu? Takut rahasia 'hebat' yang kamu simpan di Jogja ternyata adalah kehancuranmu sendiri?"

Arlan menggeleng lemah. "Aku cuma nggak mau kamu merasa terbebani. Aku di kantor... aku cuma pengen lihat kamu baik-baik saja. Itu cukup buat aku."

"Cukup?" aku tertawa getir. "Tiga tahun lalu, kamu menghancurkan duniaku tanpa belas kasihan. Dan sekarang, setelah duniamu sendiri hancur, kamu berharap aku akan tersentuh hanya karena kamu diam-diam sakit?"

"Rania, Nak..." Bapak Arlan mencoba menengahi dengan nada lembut, namun aku segera membungkuk hormat sebagai tanda pamit.

"Maafkan Rania, Om, Tante. Keadaan Arlan... Rania turut prihatin. Tapi penyakit tidak bisa menghapus apa yang terjadi di masa lalu. Penjelasan Tante tadi menjawab rasa penasaran Rania, tapi tidak mengubah posisi Rania saat ini."

Aku melangkah menuju pintu. Saat melewati Arlan, aku sempat mencium aroma obat-obatan yang menyengat dari tubuhnya—aroma yang sangat berbeda dengan parfum woody milik Harva atau aroma tanah basah Jogja yang dulu kami sukai.

"Istirahatlah, Arlan," bisikku tanpa menoleh. "Berhenti memaksakan diri di kantor hanya untuk melihatku. Itu tidak akan menyembuhkanmu, justru itu membuatku semakin merasa mual karena terus diingatkan pada pengkhianatanmu."

Aku keluar dari apartemen itu tanpa menunggu jawaban. Aku berjalan cepat menuju lift, menekan tombol dengan jari yang gemetar. Begitu pintu lift tertutup, aku menyandarkan punggungku dan menarik napas dalam-dalam.

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga. Aku menangis bukan karena ingin kembali padanya, tapi karena aku membenci fakta bahwa pria yang kucintai dengan tulus dulu harus berakhir setragis ini. Aku membenci rasa kasihan yang mulai menggerogoti dinding esku.

Di parkiran, aku segera menghidupkan mesin mobil. Saat aku hendak memutar kemudi, sebuah pesan masuk dari Harva.

[Harva Widjaya]:

Besok pagi aku akan menjemputmu. Ada hal penting tentang proyek Tangerang yang perlu kita bahas sambil sarapan. Jangan ada alasan lagi, Rania.

Aku menatap pesan itu lama. Harva adalah masa depanku yang cerah, sementara Arlan adalah masa lalu yang sekarat. Harusnya pilihanku mudah, bukan?

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!