Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Pagi itu, London tampak lebih bersahabat dengan sinar matahari yang menembus kabut tipis, namun di dalam apartemen, ketegangan sunyi mulai merayap. Freya berdiri di depan cermin ruang tamu, sudah mengenakan masker hitam dan jaket hoodie kebesarannya. Ia berniat untuk tinggal di apartemen, memberikan ruang bagi Lucky dan Renata yang berencana menghabiskan waktu di Hyde Park setelah kuliah pagi Renata berakhir.
"Aku tidak ikut, Luc. Aku harus menyelesaikan laporan untuk label di Berlin," ucap Freya, mencoba memberikan alasan yang logis.
Lucky, yang sudah siap dengan kacamata hitamnya, menghentikan gerakannya yang sedang memakai sepatu. Ia menatap Freya dengan kerutan di dahi. "Laporan itu bisa dikerjakan nanti malam, Frey. Aku ingin kau ikut."
"Luc, ini waktu kalian. Aku hanya akan menjadi orang asing di sana," Freya mencoba bersikap tegas, meski hatinya mencelos. Ia merasa sangat canggung menghadapi Renata setelah makan malam penuh ketegangan kemarin.
Tanpa diduga, Lucky melangkah mendekat. Secara tiba-tiba, ia melingkarkan lengannya di bahu Freya, memeluk asistennya itu dengan cara yang sangat akrab—cara yang selalu membuat jantung Freya serasa berhenti berdetak.
"Frey, aku hanya ingin kau melihatku bahagia," bisik Lucky pelan, suaranya terdengar tulus dan penuh permohonan. "Kau adalah orang yang menemaniku di titik terendahku selama tiga tahun ini. Aku ingin bahagiaku kubagikan denganmu. Kumohon, ikutlah bersama kami. Aku tidak akan tenang jika kau terkunci di sini sendirian."
Freya terdiam. Pelukan itu, permohonan itu... Lucky selalu tahu cara meruntuhkan pertahanannya. Dengan helaan napas panjang di balik masker, ia akhirnya mengangguk. "Hanya untuk beberapa jam, Lucky."
Mereka menjemput Renata di depan kampusnya. Saat Renata melihat Freya duduk di bangku depan mobil, kilatan kekecewaan sempat melintas di matanya yang indah. Ia mengira hari ini akan menjadi kencan romantis yang intim, namun asisten itu kembali hadir seperti bayangan yang tak terpisahkan.
Sesampainya di Hyde Park, suasana awalnya terasa menyenangkan. Namun, saat mereka sedang berjalan menyusuri danau Serpentine, seorang pria jangkung dengan setelan jas rapi berjalan berlawanan arah dan tiba-tiba berhenti.
"Renata? Renata Brox?" pria itu menyapa dengan senyum lebar yang sangat ramah—mungkin terlalu ramah. Tatapannya pada Renata mengandung binar yang tidak biasa, sebuah kekaguman yang jelas terlihat.
Renata tampak sedikit gugup, jemarinya meremas tali tasnya. "Oh, hai... Arthur."
"Lama tidak melihatmu di perpustakaan. Kau sedang bersama teman?" tanya pria bernama Arthur itu, matanya melirik Lucky yang tersembunyi di balik topi dan kacamata hitam.
"Ya, hanya... teman lama," jawab Renata singkat, menghindari kontak mata dengan Lucky.
Setelah beberapa menit basa-basi yang terasa canggung, Arthur pamit pergi. Begitu pria itu menjauh, Lucky langsung menoleh ke arah Renata dengan rahang yang sedikit mengeras. "Siapa dia, Ren?"
"Hanya... senior di kampus, Lucky. Dia sering membantuku dengan referensi hukum internasional," jawab Renata cepat, mencoba meredakan suasana.
Lucky hanya bergumam dingin, namun ia tidak melanjutkan interogasinya. Ia justru berbalik ke arah Freya yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
"Frey! Sini," panggil Lucky.
Tugas Freya hari itu berubah menjadi fotografer dadakan. Renata, seolah ingin menegaskan posisinya, terus-menerus meminta difoto. "Freya, tolong ambilkan foto kami dengan latar angsa itu," atau "Freya, tolong abadikan momen saat Lucky merangkulku di bawah pohon ini."
Freya menuruti semuanya. Ia melihat dunia lewat lensa kamera, melihat bagaimana Lucky menciumi kening Renata—pemandangan yang setiap detiknya mengiris hatinya. Namun, hal aneh terjadi. Meski Renata terus meminta perhatian, Lucky justru lebih sering menggoda Freya di sela-sela sesi foto.
"Frey, kau mengambil fotonya terlalu serius. Kau terlihat seperti fotografer perang," goda Lucky sambil menarik tudung hoodie Freya hingga menutupi matanya. "Mari kita bersenang-senang, Freya, sebelum hari sibuk dimulai besok. Jangan terlalu kaku."
Lucky bahkan sengaja berpose konyol di belakang Renata hanya untuk membuat Freya tertawa pelan. Kata-katanya manis, sikapnya hangat, dan ia seolah tidak ingin Freya merasa terasing, meskipun itu membuat Renata semakin canggung.
Renata berdiri mematung di samping mereka, menyaksikan bagaimana Lucky bercanda dengan Freya—sebuah chemistry yang terasa begitu alami, yang tidak ia miliki bersama Lucky selama tiga tahun ini. Keserakahan di hati Renata mulai memuncak. Sebagai calon pengacara, ia biasa memenangkan apa yang ia inginkan. Dan saat ini, ia ingin Freya sadar diri.
Kau hanya asisten, Freya. Kau hanya pengganggu di antara kami, batin Renata dengan tatapan tajam yang ia tujukan pada gadis bermasker itu.
Freya menyadari tatapan itu. Ia tahu Renata sedang memperingatkannya lewat pandangan mata yang dingin.
Hati Freya Montgomery memberontak; ia ingin sekali berteriak bahwa ia adalah orang yang menjaga Lucky saat Renata pergi. Ia ingin menunjukkan wajahnya dan berkata bahwa ia adalah seorang Montgomery yang derajatnya jauh di atas semua orang di taman ini.
Namun, ia kembali menatap Lucky yang sedang tertawa lebar karena berhasil menjahili Freya. Kebahagiaan Lucky adalah prioritas utamanya. Freya menelan semua harga dirinya, kembali menaikkan maskernya, dan tetap berdiri di sana sebagai bayangan. Ia tidak ingin menghancurkan momen Lucky, meski ia harus menahan perih melihat Renata yang mulai mencoba menggeser posisinya secara perlahan.
Satu hal yang tidak disadari Renata: semakin dia mencoba menjauhkan Freya, semakin Lucky justru menarik Freya untuk tetap di sampingnya. Karena bagi Lucky, kebahagiaan sejati bukan hanya tentang menemukan yang hilang, tapi juga tentang menghargai siapa yang tetap tinggal.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt