Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Nilai Seorang Sekutu
Halaman itu sunyi senyap, hanya diisi oleh suara angin yang bertiup lembut. Di tanah, terbaring mayat Elder Feng, matanya masih terbuka lebar, dipenuhi dengan keterkejutan dan ketidakpercayaan abadi.
Qing'er berdiri membeku di dekat pintu, tangannya menutupi mulutnya, matanya dipenuhi ketakutan. Tuannya... Tuan Mudanya baru saja membunuh seorang tetua dari keluarga Zhang! Ini bukan lagi pertarungan antar junior. Ini adalah perang! Keluarga Zhang akan mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk membalas dendam!
Namun, di tengah ketakutan itu, ia melihat Jiang Chen berjalan mendekati mayat itu dengan ekspresi yang sangat tenang, seolah ia baru saja merapikan perabot yang jatuh, bukan mengambil nyawa seorang ahli tingkat enam.
"Tuan Muda... kita... kita harus lari!" bisik Qing'er dengan suara gemetar. "Keluarga Zhang akan datang! Patriark Zhang sendiri mungkin akan datang!"
"Lari?" Jiang Chen menoleh padanya, sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan terukir di bibirnya. "Qing'er, di dunia ini, lari tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Itu hanya akan menundanya. Satu-satunya solusi adalah menjadi begitu kuat sehingga masalah tidak berani datang kepadamu."
Ia kemudian berjongkok di samping mayat Elder Feng. "Seorang kultivator tingkat enam. Energinya lumayan. Sayang sekali jika dibiarkan membusuk."
Qing'er tidak mengerti apa yang dimaksud Tuan Mudanya.
Jiang Chen meletakkan telapak tangannya di atas Dantian Elder Feng. Ia menutup matanya, dan kekuatan Kuali Primordial Semesta diaktifkan.
Ini bukan untuk alkimia. Ini untuk pemurnian.
WENG...
Sebuah cahaya keemasan redup yang hanya terlihat oleh Jiang Chen menyelimuti mayat itu. Pemandangan yang mengerikan sekaligus ajaib terjadi. Tubuh Elder Feng mulai larut, bukan membusuk, tetapi terurai menjadi partikel-partikel cahaya murni. Pakaian, daging, tulang—semuanya berubah menjadi esensi energi murni yang kemudian diserap langsung oleh Kuali Primordial Semesta melalui telapak tangan Jiang Chen.
Dalam waktu kurang dari satu menit, tidak ada yang tersisa di tanah. Tidak ada darah, tidak ada mayat, bahkan tidak ada sehelai rambut pun. Seolah-olah Elder Feng tidak pernah ada di sana.
"Ini..." Qing'er menatap tanah kosong itu dengan ngeri. Metode apa ini? Ini lebih menakutkan daripada sihir apa pun!
Jiang Chen berdiri, merasakan energi yang baru diserap di dalam Kualinya. Energi dari seorang kultivator tingkat enam, setelah dimurnikan, cukup untuk membantunya membuat beberapa pil lagi atau bahkan mencoba menerobos ke tingkat lima.
"Masalah sudah dibereskan," katanya enteng. "Sekarang, kita selesaikan akar masalahnya."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, ia berjalan keluar dari kediaman, menuju ke arah Paviliun Seribu Ramuan.
Di dalam paviliun, suasana tegang. Tetua Sun sedang mondar-mandir di ruang kerjanya. Ia baru saja mendengar suara ledakan energi dari arah distrik selatan. Ia tahu pertarungan telah terjadi.
"Semoga Tuan Muda Jiang baik-baik saja..." gumamnya cemas.
Tiba-tiba, pintu terbuka dan Jiang Chen masuk dengan langkah santai. Pakaiannya bersih, ekspresinya tenang, seolah baru saja berjalan-jalan sore.
Jantung Tetua Sun mencelos. Ia segera menghampiri. "Tuan Muda Jiang! Anda tidak apa-apa? Tadi... saya merasakan fluktuasi energi yang kuat!"
"Hanya beberapa tikus yang berisik," jawab Jiang Chen acuh tak acuh. "Aku sudah mengurusnya. Tapi aku khawatir akan ada tikus yang lebih besar datang nanti."
Tetua Sun langsung mengerti. "Keluarga Zhang?"
"Aku membunuh tetua mereka yang bernama Feng," kata Jiang Chen langsung, menjatuhkan sebuah bom di ruangan itu.
Wajah Tetua Sun langsung pucat. Mengalahkan junior adalah satu hal. Membunuh seorang tetua adalah hal lain! Ini berarti perang total!
"Tuan Muda... ini... ini masalah besar!" kata Tetua Sun, keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Patriark Zhang, Zhang Qishan, adalah seorang ahli di Alam Transformasi Roh tingkat dua. Dia tidak akan tinggal diam!"
Alam Transformasi Roh adalah dunia yang sama sekali berbeda dari Alam Pengumpul Qi. Perbedaan kekuatannya seperti antara danau dan lautan.
"Aku tahu," kata Jiang Chen dengan tenang. "Itulah mengapa aku datang ke sini. Aku ingin bertanya pada Tetua Sun, menurutmu berapa nilai resep Pil Sembilan Pemurnian?"
Tetua Sun tercengang oleh pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Nilainya... tak terhingga! Itu bisa mengubah lanskap ekonomi seluruh wilayah!"
"Bagus," Jiang Chen mengangguk. "Sekarang, bagaimana jika aku memberimu sesuatu yang seratus kali lebih berharga dari itu?"
Napas Tetua Sun tercekat. Sesuatu yang seratus kali lebih berharga? Apa yang bisa lebih berharga dari resep yang menentang surga itu?
"Aku melihat bahwa kultivasimu telah mandek di puncak tingkat sembilan Alam Pengumpul Qi selama setidaknya sepuluh tahun," kata Jiang Chen, matanya menembus Tetua Sun seolah bisa melihat semua rahasianya. "Fondasi *Qi*-mu tidak stabil karena terlalu banyak mengonsumsi pil berkualitas rendah di masa mudamu. Karena itu, kau tidak akan pernah bisa menerobos ke Alam Transformasi Roh seumur hidupmu."
Setiap kata yang diucapkan Jiang Chen menghantam hati Tetua Sun seperti palu godam. Itu adalah rahasia terbesarnya, rasa sakitnya yang paling dalam. Bagaimana pemuda ini bisa tahu?!
"Tapi..." lanjut Jiang Chen, nadanya berubah. "Bagaimana jika aku bisa membantumu? Bagaimana jika aku bisa memberimu sebuah pil yang bisa membersihkan semua kotoran di meridianmu, memantapkan fondasimu, dan memberimu peluang 70% untuk menerobos ke Alam Transformasi Roh dalam sebulan?"
Gedebuk.
Tetua Sun jatuh terduduk di kursinya. Matanya membelalak, napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Bukan karena takut, tetapi karena harapan dan kegembiraan yang meluap-luap hingga ia hampir tidak bisa menahannya.
Menerobos ke Alam Transformasi Roh! Itu adalah impian seumur hidupnya! Sesuatu yang sudah ia anggap mustahil! Peluang 70%?! Bahkan pil legendaris di ibu kota kekaisaran pun tidak bisa menjamin peluang setinggi itu!
"Pil... pil seperti itu... benar-benar ada?" bisiknya dengan suara serak.
"Tentu saja. Aku menamakannya Pil Kelahiran Kembali Spiritual," jawab Jiang Chen. "Aku bisa memberimu resepnya dan mengajarimu cara membuatnya. Tapi sebagai gantinya..."
Tetua Sun langsung berdiri, membungkuk 90 derajat di hadapan Jiang Chen, sebuah sikap hormat tertinggi dari seorang junior kepada seorang senior, meskipun usia mereka terbalik.
"Tuan Muda Jiang!" serunya dengan suara bergetar karena emosi. "Mulai hari ini, hidup tua Sun ini adalah milikmu! Jangan katakan keluarga Zhang, bahkan jika kau ingin melawan Keluarga Kekaisaran, Paviliun Seribu Ramuan di Kota Awan Bambu akan berdiri di belakangmu tanpa ragu!"
Keluarga Zhang memang kuat. Tapi apa artinya itu dibandingkan dengan kesempatan untuk mencapai alam yang lebih tinggi? Apa artinya itu dibandingkan dengan seorang grandmaster alkimia yang mampu menciptakan keajaiban?
Jiang Chen tersenyum. Inilah yang ia inginkan. Sebuah sekutu yang kuat dan berkomitmen.
"Bagus," katanya. "Kalau begitu, bersiaplah. Aku tidak ingin diganggu oleh tikus besar bernama Zhang Qishan saat aku sedang berkultivasi."
Tetua Sun menegakkan tubuhnya. Rasa takut di wajahnya telah lenyap, digantikan oleh tekad yang membara. Dengan harapan untuk menerobos di depan matanya, Patriark Zhang tidak lagi tampak begitu menakutkan.
"Jangan khawatir, Tuan Muda," katanya dengan suara tegas. "Selama aku, Sun Wuji, masih bernapas, tidak ada seorang pun dari keluarga Zhang yang akan bisa menyentuh sehelai rambut pun di kepalamu!"