Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Janji di Hadapan Maharani
Diam di ruangan itu berlangsung begitu lama, seolah waktu ikut membeku menyaksikan kedua revenant yang berdiri sempurna dan seorang wanita muda yang beberapa menit lalu adalah jenazah renta. Udara terasa padat oleh ketakjuban, kengerian, dan realitas baru yang menghancurkan semua asumsi yang mereka pegang.
Maharani Aurelia adalah yang pertama memecah kesunyian. Dia menarik napas dalam-dalam, suaranya sedikit bergetar namun dengan cepat dikuasainya. Gerakannya lambat, seolah setiap sendi terasa berat. Dia berdiri dari kursinya, tidak lagi duduk di balik meja sebagai penguasa, tapi berjalan perlahan mendekati revenant wanita muda itu. Para pengawal dan penasihatnya bergerak untuk menghentikannya, tapi dia mengangkat tangan, melarang.
Dia berhenti hanya satu langkah dari revenant itu. Matanya yang biru meneliti setiap detail: kulit yang halus, mata yang kosong, napas yang teratur namun tanpa kebutuhan. Tangannya, dengan sarung tangan sutra putih, terulur seakan ingin menyentuh, tapi berhenti di udara sebelum menyentuh kulit revenant.
"Namamu," ucap Maharani, suaranya lembut, hampir seperti berbisik.
"Gwyneth, Yang Mulia," jawab revenant itu langsung, suara datar namun akurat. "Gwyneth dari Desa Willowbrook. Aku melayani di dapur istana selama enam puluh dua tahun."
Maharani mengangguk pelan. "Aku ingat. Kau selalu menyimpan permen ekstra untukku saat aku masih kecil." Ada nostalgia pahit di suaranya. Lalu dia menoleh padaku, dan di matanya sekarang ada campuran yang jauh lebih kompleks dari sebelumnya: rasa hormat yang tertunduk, ketakutan yang mendalam, dan sebuah perhitungan yang dingin namun penuh kekaguman.
"Kau tidak hanya membangkitkan," ucapnya, suara kini lebih tegas, ditujukan ke seluruh ruangan. "Kau memulihkan. Mengembalikan ke puncak kondisi fisiknya. Ini... ini bukan sihir kematian. Ini adalah... penciptaan ulang. Atau paling tidak, restorasi total."
Dia kembali ke kursinya, tetapi tidak duduk. Dia berdiri menghadap meja, menatap semua orang di ruangan itu satu per satu.
"Yang baru saja kita saksikan," lanjutnya, suara menggema penuh wibawa, "bukan sekadar trik atau sihir gelap. Ini adalah sebuah prinsip baru. Sebuah kekuatan yang melampaui pemahaman kita tentang hidup dan mati. Dan kekuatan ini," dia menunjuk ke arahku, "ada di tangan seseorang yang bukan berasal dari dunia kita, yang tidak memiliki loyalitas pada takhta kita, pada tradisi kita, atau pada ketakutan kita."
Magister Valtor, yang masih tampak syok, mencoba berbicara. "Yang Mulia, ini persis mengapa dia harus—"
"Diam, Valtor!" hardik Maharani, dan kali ini ada amarah sejati di nadanya. "Kau masih berpikir dalam kerangka 'menghancurkan ancaman'? Lihatlah!" Dia menunjuk Gwyneth dan Eveline. "Dia bisa, dalam satu malam, mengubah setiap pemakaman, setiap medan perang, setiap eksekusi, menjadi pasukannya sendiri. Bayangkan: pasukan kita gugur, lalu bangkit kembali untuk melawan kita. Atau lebih buruk, dia bisa membangkitkan para pahlawan pendiri kita, atau musuh-musuh terbesar kita, dan mengadu mereka melawan kita. Kekaisaran kita, yang dibangun di atas tulang belulang dan kematian, akan runtuh seperti rumah kartu di hadapan kekuatan seperti ini."
Dia memandangku, matanya tajam. "Itulah yang bisa kau lakukan, bukan, Rian Saputra? Menghancurkan kami tanpa perlu mengangkat pedang pun. Cukup dengan berjalan di antara yang mati."
Semua mata tertuju padaku. Ketakutan di ruangan itu kini bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih dalam: penghinaan eksistensial. Mereka bukan lagi takut pada monster, tapi pada sebuah fakta bahwa seluruh pondasi kekuasaan mereka—yang bertumpu pada akhirat yang pasti—bisa dibatalkan oleh satu orang.
Aku menarik napas. Inilah intinya. "Bisa," aku akui, suaraku tenang di tengah ketegangan yang mencekik. "Secara teknis, aku rasa bisa."
Desahan ketakutan terdengar.
"Tapi," lanjutku, dan kata itu membuat mereka semua menahan napas, "aku tidak akan melakukannya."
Aku berdiri, menghadapi mereka semua. "Menghancurkan sebuah kekaisaran? Meruntuhkan kekuasaan? Untuk apa? Apa yang akan kudapat? Kepuasan? Balas dendam? Kalian mengejarku, jadi aku menghancurkan segalanya?" Aku menggeleng, rasa lelah yang mendalam terasa di suaraku. "Itu tidak masuk akal. Aku melihat apa yang terjadi ketika kekuasaan runtuh. Di duniaku, sejarah penuh dengan itu. Dan yang paling menderita, yang mati sia-sia, yang kehilangan segalanya... bukan para penguasa di istana megah ini."
Aku menatap mereka satu per satu—Magister yang sombong, Duke yang dingin, Lord yang penasaran, Komandan yang tegas, dan akhirnya, Maharani yang penuh perhitungan.
"Yang menderita adalah rakyat. Petani yang ladangnya dibakar. Anak-anak yang menjadi yatim piatu. Ibu-ibu yang menangisi anaknya yang dikirim mati untuk ambisi orang lain. Para pengungsi seperti yang aku lindungi di pulau itu—manusia, elf, iblis—yang kehilangan segalanya karena perang dan ketakutan yang diciptakan oleh orang-orang yang berkuasa."
Suaraku semakin tegas, penuh dengan keyakinan yang berasal dari pengalaman langsung. "Aku tidak punya niatan, tidak punya keinginan, dan tidak punya alasan untuk membuat penderitaan seperti itu terjadi lagi. Menghancurkan kekaisaran kalian hanya akan menciptakan lebih banyak Gwyneth-Gwyneth yang mati sia-sia, lebih banyak keluarga yang berduka, lebih banyak anak yang tumbuh dalam kebencian. Itu bukan solusi. Itu hanya memindahkan penderitaan dari satu kelompok ke kelompok lain, dan pada akhirnya, semua orang kalah."
Ruangan itu sunyi. Pernyataanku, yang diucapkan tanpa retorika dramatis namun dengan ketulusan yang dalam dari seseorang yang telah melihat langsung akibatnya, seolah mengguncang mereka dengan cara yang berbeda.
Lord Kaelenor adalah yang pertama bereaksi. Dia tidak lagi memandangku dengan penasaran, tapi dengan penghormatan yang baru. Seperti seseorang yang menemukan prinsip sejati di tempat yang tidak terduga.
Komandan Alistair mengendurkan pegangannya pada pedang. Di matanya, ketakutan belum hilang, tetapi kini bercampur dengan pengakuan. Dia adalah prajurit; dia memahami harga perang lebih dari siapa pun. Dan kata-kataku mencerminkan kebenaran pahit yang dia lihat di medan perang.
Magister Valtor masih ragu, tapi kemarahannya telah mereda, digantikan oleh kebingungan yang mendalam. Baginya, kekuatan selalu berarti ambisi. Konsep kekuatan tanpa keinginan untuk mendominasi adalah asing.
Dan Maharani... dia hanya menatapku. Lama sekali. Ekspresinya yang tadi penuh perhitungan kini meleleh, menunjukkan kelelahan seorang pemimpin yang telah memikul beban terlalu lama, dan mungkin, secercah harapan.
"Jadi," ucapnya akhirnya, suaranya jauh lebih lembut, "kau tidak ingin tahta. Kau tidak ingin balas dendam. Kau hanya ingin... tidak menyakiti orang yang tidak bersalah."
"Dan," tambahku, "aku Cuma hanya ingin pulang. Kembali ke duniaku. Itu satu-satunya keinginanku."
Maharani mengangguk perlahan. Dia kembali ke kursinya, duduk, dan memandang sekeliling ruangan. "Kita telah membuat kesalahan. Kita melihatnya sebagai senjata atau ancaman. Tapi mungkin... mungkin kita harus melihatnya sebagai sebuah fenomena. Sebuah realitas baru yang harus kita pahami, bukan kita takuti atau kita hancurkan."
Dia menatapku lagi. "Rian Saputra, kekaisaran akan menahanmu untuk sementara waktu. Bukan sebagai tahanan, tapi sebagai... tamu istimewa. Kita akan berdiskusi lebih lanjut. Tentang kekuatanmu, tentang asal-usulmu, dan tentang... kemungkinan-kemungkinan yang bisa kita eksplorasi tanpa menimbulkan penderitaan yang kau khawatirkan."
Keputusan itu jelas tidak disukai semua orang. Tapi setelah apa yang mereka saksikan dan dengar, tidak ada yang berani membantah secara langsung. Ketakutan masih ada, hati-hati masih sangat diperlukan. Tapi setidaknya, sekarang ada sebuah jembatan—rapuh, penuh ketidakpercayaan, tapi ada. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, aku merasa mungkin, hanya mungkin, ada jalan keluar dari labirin kekuatan dan ketakutan ini yang tidak harus berakhir dengan air mata dan darah.
Sebelum para pengawal mendekat untuk membawaku pergi, aku menoleh ke Maharani. "Sebelum aku pergi, ada satu hal tentang revenant ini, Gwyneth." Aku menunjuk wanita yang masih berdiri diam itu. "Dia hanya tunduk pada perintahku. Dan dalam keadaan 'kosong' seperti ini, tanpa arahan yang jelas, dia hanya akan berdiri di sini selamanya, atau berpotensi bereaksi secara defensif jika merasa terancam. Lebih aman jika aku memberikan perintah dasar padanya sekarang."
Sebelum Maharani sempat merespons, Lord Kaelenor, yang masih terlihat waspada, menyela dengan suara tegang. "Tidak bijaksana, Yang Mulia! Bagaimana kita tahu dia tidak menyelipkan perintah tersembunyi? Sesuatu yang bisa diaktifkan nanti untuk membahayakan Yang Mulia atau istana?"
Magister Valtor, yang sudah kembali menemukan sedikit keberaniannya, mengangguk cepat. "Benar! Kekuatan seperti itu... siapa yang bisa memastikan tidak ada mantra atau sugesti tersembunyi dalam kata-katanya? Dia bisa saja memerintahkan revenant itu untuk membunuh kita semua saat kita lengah!"
"SUDAH CUKUP!"
Suara Maharani tidak keras, tapi memotong seperti pedang. Dia memandang kedua penasihatnya dengan tatapan yang membuat mereka langsung menunduk. "Kalian terus-menerus dipenuhi ketakutan dan kecurigaan buta. Dia baru saja menyatakan dengan jelas dan penuh keyakinan bahwa dia tidak berniat merusak. Apakah kalian berpikir dia begitu bodoh untuk langsung membatalkan kata-katanya sendiri dengan sebuah perintah tersembunyi di depan kita semua?"
Dia menatapku, dan di matanya ada kepercayaan yang masih rapuh, tapi nyata. "Berikan perintahmu, Rian Saputra. Saya percaya pada penilaian saya."
Rasa jengkel dan kesal yang tadi menggelegak di dadaku sedikit mereda. Ini sangat melelahkan. Mereka begitu terperangkap dalam permainan politik dan paranoia kekuasaan, hingga sulit melihat sesuatu yang sederhana: kejujuran. Tapi Maharani, setidaknya, berusaha.
Aku mengangguk, lalu menghadap Gwyneth. Aku berbicara dengan jelas, pelan, memastikan setiap kata terdengar.
"Gwyneth. Dengarkan perintahku ini."
Dia menatapku, fokus.
"Pertama: mulai sekarang, sampai aku menarik kembali perintah ini, kau akan mematuhi semua perintah yang diberikan oleh Yang Mulia Maharani Aurelia Theodora van Aethelgard, di hadapanku ini. Kecuali perintah itu bertentangan dengan nilai-nilai dasar menjaga nyawa orang yang tidak bersalah dan tidak menyebabkan penderitaan yang tidak perlu. Jika ragu, tanyakan padanya untuk klarifikasi."
"Kedua: Tugas utamamu adalah melindungi sang Maharani. Amati, pelajari, dan pahami gerak-gerik serta rutinitasnya. Waspadai segala ancaman terhadap keselamatan fisiknya."
Aku berhenti sejenak, memastikan ini penting. "Ketiga: Jika ada orang yang dengan jelas berusaha membunuh atau melukai sang Maharani, lumpuhkan orang itu terlebih dahulu. Cukup hingga tidak bisa melanjutkan usaha pembunuhan."
Napas di ruangan itu tertahan. Aku melanjutkan dengan suara lebih berat.
"Keempat: Dan jika usaha melumpuhkan tidak cukup—jika ancaman itu terus berlanjut, atau jika jelas-jelas niat pembunuhan itu tak terbendung dan langsung mengancam nyawa—maka... lompati batas hanya melumpuhkan. Bunuh ancaman itu. Hanya untuk melindungi nyawa sang Maharani. Hanya dalam skenario itu."
Perintah itu menggantung di udara, keras dan tak terbantahkan. Aku tidak menyukainya, tapi dalam dunia ini, di istana tempat racun dan pisau belati adalah bagian dari keseharian, itu adalah realisme yang diperlukan untuk melindungi seseorang yang baru saja memberiku sedikit kepercayaan.
Gwyneth mengangguk, sekali, tajam. "Dipahami. Tugas utama: patuhi dan lindungi Yang Mulia Maharani Aurelia Theodora van Aethelgard. Prioritas: keselamatannya. Eskalasi respon: lumpuhkan, lalu bunuh jika diperlukan untuk mengamankan target utama. Batasan moral: hindari perintah yang menyebabkan penderitaan tidak perlu pada yang tidak bersalah."
Responnya yang analitis dan tepat seperti mesin membuat para bangsawan lain merinding. Mereka melihat sebuah senjata hidup yang sempurna, diprogram dengan presisi.
Lord Kaelenor tampak pucat. Duke Frostweaver mengamati dengan mata sipit, seolah mencoba memecah kode di balik kata-kataku. Magister Valtor masih tidak percaya, tapi tidak berani protes lagi.
Kini, sebelum pergi, aku merasa perlu menyampaikan satu hal terakhir. Aku menoleh ke Komandan Alistair, lalu kembali ke Maharani.
"Ada satu permintaan... atau lebih tepatnya, pengingat," ucapku, suara tenang namun serius. "Aku ada di sini atas jaminan dan pilihan untuk percaya. Jika terjadi sesuatu padaku di sini—jika aku 'hilang', 'sakit', atau apapun yang mencurigakan—aku tidak bisa menjamin reaksi Ratri, dewi yang mengancam kekaisaran kalian. Dia... sangat protektif. Dan kemarahannya bukan ancaman kosong. Aku tidak ingin itu terjadi. Aku tidak ingin kekaisaran ini hancur karena kesalahpahaman atau pengkhianatan terhadap janji damai ini."
Seketika, kemarahan meledak.
"BERANI KAU MENGANCAM LAGI?!" teriak Magister Valtor, berdiri dengan wajah merah padam.
"Kau pikir kami takut pada dewi palsumu?!" sambung Lord Kaelenor, meski nadanya kurang meyakinkan.
Bahkan Komandan Alistair mengerutkan kening, tidak nyaman dengan nada yang terdengar seperti pemerasan.
Aku mengangkat tangan, berusaha menenangkan. "Bukan ancaman! Ini peringatan! Aku juga tidak ingin itu terjadi! Aku tidak ingin Ratri, karena marah dan khawatir, melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali! Aku tidak ingin ada lebih banyak darah yang tertumpah! Ini adalah pengingat untuk kita semua, termasuk untukku, bahwa ada konsekuensi di luar tembok istana ini jika kepercayaan ini dihancurkan!"
Suaraku terdengar hampir putus asa. "Aku tidak ingin mendominasi siapa pun. Aku tidak ingin mengontrol kekaisaran ini. Aku cuma orang tersesat yang ingin pulang. Tapi aku juga tidak ingin, karena aku ada di sini, malah memicu bencana yang lebih besar."
Keheningan kembali jatuh. Mereka melihat ekspresiku yang tulus, frustrasi, dan keinginan tulus untuk mencegah malapetaka.
Maharani yang akhirnya berbicara. Suaranya tenang, namun berisi kepastian mutlak. "Cukup. Rian Saputra, selama kau mematuhi aturan yang berlaku di dalam istana ini, tidak melarikan diri, dan tidak menggunakan kekuatanmu untuk mengancam atau memanipulasi, maka keselamatanmu dijamin atas nama saya dan kekaisaran. Tidak ada yang akan menyakitimu. Itu adalah janji saya."
Dia memandang para penasihatnya dengan tatapan yang tidak meninggalkan ruang untuk negosiasi. "Dan itu berlaku untuk semua orang. Informasi tentang keberadaan dan kemampuan tamu kita ini adalah rahasia tertinggi. Tidak ada yang bocor. Tidak ada tindakan di luar perintah saya. Apakah jelas?"
Mereka semua membungkuk, meski dengan berat hati. "Ya, Yang Mulia."
Aku menghela napas lega. Itu yang kuharapkan. Sebuah jaminan, sekalipun rapuh, dari penguasa tertinggi.
"Terima kasih, Yang Mulia," ucapku, memberikan sedikit angguk hormat.
Komandan Alistair memberi isyarat, dan dua pengawal mendekat. "Silakan ikuti kami, Tuan Rian. Kamar sudah disiapkan."
Aku berbalik, mengikuti mereka keluar dari ruang rapat, meninggalkan Maharani dengan dua revenant setianya—satu yang telah lama berdiri, dan satu yang baru saja mengubah segala pemahaman mereka tentang kekuasaan dan kematian—serta sekelompok petinggi kekaisaran yang pikiran mereka pasti berputar kencang, mencerna sebuah realitas baru di mana ancaman terbesar mereka ternyata hanya menginginkan satu hal: untuk pergi, dan tidak ingin menyakiti siapa pun di prosesnya.