NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: LEMBAH ANTARA DUNIA

Tiga hari berlalu di lembah antara dunia.

Atau mungkin tiga minggu. Atau tiga bulan. Di sini, waktu terasa cair—matahari selalu bersinar hangat, langit selalu biru cerah, dan bunga-bunga selalu mekar tanpa layu. Tidak ada malam, hanya senja abadi yang bergradasi jingga keunguan di ufuk.

Ren sudah pulih sepenuhnya. Anak itu berlarian di antara reruntuhan, mengejar kupu-kupu bercahaya yang beterbangan di antara semak-semak. Tawanya riang, suara yang sudah lama tidak terdengar di telinga mereka.

"Ibu! Ibu lihat! Kupu-kupunya bersinar!" teriaknya, berlari menghampiri Sera yang sedang mencuci pakaian di sungai.

Sera tersenyum—senyum tulus yang jarang muncul sejak mereka jatuh ke dunia bawah. "Iya, Nak. Cantik sekali."

Elara duduk di atas batu besar di tepi sungai, mencelupkan kakinya ke air jernih. Lukanya sudah sembuh total, bahkan bekasnya pun hilang. Udara hangat dan damai di sini seperti obat mujarab.

Ia menoleh mencari Aldric. Pria itu duduk agak jauh, di bawah naungan pohon kuno, menatap langit dengan pandangan kosong. Selama tiga hari ini, Aldric banyak diam. Ia berbicara hanya saat diperlukan, dan matanya—matanya selalu menatap sesuatu yang tidak terlihat orang lain.

Elara bangkit, berjalan mendekatinya.

"Aldric."

Ia menoleh. "Ya?"

"Kau kenapa? Tiga hari ini kau seperti... tidak di sini."

Aldric diam. Lalu, "Kau tidak merasakannya?"

"Merasakan apa?"

"Dunia ini." Ia menunjuk sekeliling. "Terlalu sempurna. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang layu. Tidak ada yang mati."

Elara mengamati. Ia memang memperhatikan keanehan itu—bunga yang selalu mekar, rumput yang tak pernah menguning, kupu-kupu yang terus beterbangan tanpa lelah.

"Mungkin itu memang dunia lain," katanya. "Tempat di antara, kata Penjaga."

"Tapi kita tidak bisa tinggal di sini selamanya."

Elara duduk di sampingnya. "Kenapa tidak?"

Aldric menatapnya. "Kau mau tinggal di sini selamanya?"

"Aku mau tinggal di mana pun bersamamu." Jawabannya sederhana, tulus.

Aldric ingin tersenyum, tapi tidak bisa. Di dalam hatinya, api dendam masih membara. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat Darius tersenyum puas di singgasana. Melihat Liana terbujur kaku. Melihat ayahnya diracun.

"Ada sesuatu di sini," katanya akhirnya. "Sesuatu yang memanggilku. Sejak kita masuk, aku mendengar bisikan."

Elara mengerutkan dahi. "Bisikan? Tentang apa?"

"Tentang pilihan."

Malam itu—atau waktu yang disebut malam karena langit mulai gelap—Aldric berjalan sendirian menuju altar kuno yang ia temukan di hari pertama.

Altar itu terletak di tengah lembah, sebuah bangunan bundar dari batu putih yang bersinar samar dalam gelap. Dua belas pilar mengelilingi altar utama, masing-masing diukir dengan simbol-simbol aneh—simbol yang sama dengan pintu masuk kuil.

Saat ia mendekat, ukiran-ukiran itu mulai bersinar.

"Kau kembali."

Suara Penjaga—tua, dalam, tanpa gender. Aldric sudah menduganya.

"Aku ingin bertanya."

"Tanyalah."

"Kenapa kau beri kami tempat ini? Kenapa kau lindungi kami?"

Hening sejenak. Lalu suara itu menjawab, "Aku tidak melindungi kalian. Aku menjaga keseimbangan. Di luar sana, terlalu banyak yang ingin membunuhmu. Jika kau mati, keseimbangan akan terganggu."

"Keseimbangan apa?"

"Antara dunia atas dan bawah. Antara manusia dan iblis. Antara terang dan gelap. Kau, Aldric Veynheart, adalah anak keseimbangan—setengah manusia, setengah iblis. Kau unik. Jika kau mati, kekuatan yang membentukmu akan lepas, menciptakan kekacauan."

Aldric tidak menyangka. Ia hanya alat? Penyeimbang?

"Tapi kau juga manusia. Kau punya pilihan."

"Apa pilihanku?"

"Tinggal di sini selamanya. Hidup damai bersama orang-orang yang kau cintai. Tidak ada pertarungan, tidak ada kematian. Hanya kedamaian abadi."

Tawaran itu—tawaran yang sangat menggoda. Aldric membayangkan hidup bersama Elara, melihat Ren tumbuh besar, menemani Sera di usia tua. Tanpa perang, tanpa pengejaran, tanpa kematian.

"Atau..." lanjut Penjaga, "kau bisa pergi. Kembali ke dunia luar, hadapi musuhmu, balas dendam. Tapi kau tidak bisa kembali ke sini. Pintu ini hanya terbuka sekali untuk setiap jiwa."

Aldric terdiam. Pilihan yang mustahil.

"Kau tidak perlu memutuskan sekarang. Ambil waktumu. Tapi ingat—di luar, mereka menunggu. Pasukan kerajaan, Shadow Council, dan Darius yang haus darah."

Penjaga diam. Ukiran-ukiran meredup.

Aldric berdiri di altar sendirian, bergulat dengan pilihannya.

Kembali ke reruntuhan, Elara menunggunya dengan cemas.

"Kau ke mana?"

"Ke altar. Bicara dengan Penjaga."

Elara menatapnya. "Dan?"

Aldric menceritakan semuanya—tawaran Penjaga, pilihan yang harus ia buat.

Elara mendengarkan dengan tenang. Setelah Aldric selesai, ia bertanya, "Kau mau tinggal?"

"Aku tidak tahu."

"Aku mau tinggal." Elara meraih tangannya. "Di sini aman. Kita bisa hidup damai. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."

Tapi di mata Elara, Aldric melihat keraguan. Ia tahu Elara juga merindukan dunia luar—keluarganya, teman-temannya, kehidupannya sebagai manusia biasa.

"Kau yakin?" tanyanya.

Elara tidak menjawab.

Keesokan harinya, Sera datang pada Aldric dengan wajah serius.

"Ren bicara sesuatu tadi malam," katanya. "Dalam tidurnya."

Aldric mengerutkan dahi. "Apa?"

"Dia bilang... 'Om harus pergi. Ada yang menunggu di luar.'" Sera menggenggam tangannya sendiri. "Aldric, aku takut. Mungkin Varyn mencoba memengaruhinya lagi."

Aldric bergegas menemui Ren. Anak itu sedang bermain sendiri di dekat sungai, menyusun batu-batu kecil menjadi menara.

"Ren."

Ren menoleh. "Om!"

"Kemarin malam, Ren mimpi apa?"

Ren mengerutkan kening—ekspresi lucu yang tidak sesuai usianya. "Mimpi... mimpi ada om besar. Om Varyn. Dia bilang... bilang..."

"Bilang apa?"

"Dia bilang, 'Bilang Aldric, dunia bawah butuh dia. Aku butuh dia. Jangan lupa janjinya.'"

Aldric terdiam. Varyn mengingatkannya pada janji—membebaskannya dari jurang.

Janji itu belum ia tepati.

Malam itu, Aldric duduk di altar lagi.

"Aku harus pergi," katanya pada Penjaga.

"Kau sudah memutuskan?"

"Aku punya janji. Pada Varyn. Pada keluargaku yang mati. Pada diriku sendiri."

"Dendam."

"Bukan hanya dendam. Tapi tanggung jawab."

Penjaga diam lama. Lalu, "Kau berbeda dari manusia lain, Aldric Veynheart. Kebanyakan akan memilih kedamaian."

"Aku tidak bisa. Bayangan mereka—ayah, ibu, Liana—akan selalu menghantuiku. Satu-satunya cara menghilangkan bayangan itu adalah dengan menegakkan keadilan."

"Keadilan? Atau balas dendam?"

"Terkadang, keduanya sama."

Penjaga tidak membantah. Ukiran-ukiran di altar mulai bersinar terang.

"Jika kau pergi, kau tidak bisa kembali. Ingat itu."

"Aku ingat."

"Dan kau harus membawa yang lain? Atau kau pergi sendiri?"

Pertanyaan itu menusuk. Aldric belum memikirkannya. Elara, Sera, Ren—mereka punya hak untuk memilih.

"Aku akan tanya mereka."

Ia kembali ke reruntuhan dan mengumpulkan mereka semua. Di bawah cahaya senja abadi, ia menjelaskan situasinya.

"Aku harus pergi. Varyn menungguku. Janjiku belum selesai." Ia menatap Elara. "Tapi aku tidak bisa memaksamu ikut. Kalian bisa tinggal di sini, aman, damai. Aku tidak akan marah."

Elara langsung berdiri. "Aku ikut."

"Elara—"

"Aku tidak akan tinggal di sini tanpamu." Matanya basah. "Aku sudah kehilanganmu sekali. Aku tidak sanggup mengalaminya lagi."

Sera menggendong Ren. "Aku juga ikut."

Aldric menatapnya. "Kau yakin? Ren—"

"Ren lebih aman di luar dengan kita semua daripada di sini sendirian dengan ibunya yang gila." Sera tersenyum getir. "Aku sudah lihat cukup banyak. Dunia luar memang kejam, tapi setidaknya kita bersama."

Ren mengangguk setuju, meskipun mungkin tidak mengerti.

Aldric merasa dadanya hangat—sesuatu yang jarang ia rasakan sejak berubah menjadi setengah iblis.

"Baik. Kita pergi bersama."

Pagi itu—atau saat yang disebut pagi—mereka berkumpul di depan altar. Penjaga muncul dalam wujud samar—bayangan raksasa yang terbentuk dari kabut dan cahaya.

"Kau sudah memutuskan?"

"Kami sudah memutuskan."

"Aku akan membuka pintu. Tapi ingat—di luar, mereka menunggu. Ribuan prajurit, Shadow Council, dan Darius yang haus darah. Kau akan menghadapi mereka semua."

"Aku tahu."

"Semoga kau berhasil, Aldric Veynheart. Atau setidaknya, semoga kau mati dengan terhormat."

Pintu terbuka—bukan pintu batu besar seperti sebelumnya, tapi lorong cahaya yang menembus kabut.

Aldric memegang tangan Elara. Elara memegang tangan Sera. Sera menggendong Ren.

Mereka melangkah bersama.

Saat kaki mereka menginjak tanah di luar, udara dingin gunung langsung menyergap. Salju turun perlahan. Di kejauhan, ribuan obor menyala—pasukan kerajaan berkemah di lereng gunung, menunggu.

Belum sempat mereka bergerak, teriakan terdengar.

"MEREKA KELUAR!"

Dalam hitungan detik, puluhan prajurit berlari mendekat, pedang terhunus. Dari langit, burung-burung hitam berteriak—tanda bagi Shadow Council.

Aldric berdiri di depan yang lain, tubuhnya bersiap.

"Kalian mundur," katanya pada Elara. "Biarkan aku yang—"

Tapi dari dalam kabut, suara aneh terdengar. Raungan yang dikenalnya.

Anjing-anjing neraka—puluhan, mungkin ratusan—keluar dari lorong cahaya di belakang mereka. Mereka bukan menyerang Aldric, tapi justru berbaris di sampingnya, siap bertempur.

Dan di belakang mereka, sesosok bayangan besar muncul—Varyn, dalam wujud avatarnya yang lebih kuat dari sebelumnya.

"Kau pikir aku akan biarkan muridku bertarung sendirian?" Varyn tertawa. "Mari kita beri mereka sambutan."

Aldric tersenyum—senyum pertama yang benar-benar garang.

"Kalau begitu... serang."

--- BERSAMBUNG KE BAB 19: PERTEMPURAN DI LERENG GUNUNG ---

Seribu prajurit kerajaan berhadapan dengan ratusan anjing neraka dan satu setengah iblis yang didampingi iblis tertua di dunia bawah. Salju berubah merah oleh darah. Jeritan memecah keheningan gunung.

Di tengah pertempuran, Elara melihat sesuatu—seorang pria berjubah hitam dengan topeng perak berdiri di atas batu, tidak bergerak, hanya mengamati.

Shadow Council.

Dan di belakangnya, sesosok bayangan lain—lebih besar, lebih gelap, dengan mata merah menyala seperti Varyn, tapi berbeda.

Musuh baru muncul.

Atau mungkin, musuh lama yang selama ini bersembunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!