"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Happy reading<<<<<<<
"Tapi, Aku tetap nggak......
"Dia?! Krafina jangan mancing emosi Gue." bentak Aryan walaupun dengan suara rendah tapi sangat dingin dan manis menusuk.
"Baiklah." pasrah I.lie dan kembali berniat mengganti wallpaper itu. Tapi...
"Jangan di ganti." ujar Aryan yang melihat tangan Imlie yang mengotak ngatik hpnya.
"Loh, kenapa Kak?" Kesal Imlie.
"Gue nggak mau Viona ngambek."
"Hah?" kaget Imlie tak terima Aryan hanya bersikap bodo amat.
"Terus, arti Aku buat Kakak apa? Pajangan doang? Atau barang gitu, iya?" kesal Imlie yang langsung menghindar sehingga tangan Aryan yang tadi nya sibuk memijit kepalanya Imlie jadi terhenti.
"Pacar." jawab Aryan santai.
"Pacar nggak kaya gini Kak. Bahkan Kakak lebih mentingin perasaanya Viona dari pada Aku." marah Imlie.
"Nggak usah di pikirin... Dia cuman sahabat." jawab Aryan sabtai dan bersandar di sofa sambil menatap intens wajah kesalnya Imlie.
"Sahabat tapi serasa pacar. Yaudaah sana jadiin aja dia pacarnya Kakak dan kita putus." ujar Imlie akhirnya membuat Aryan geram.
Brugh
Grep
"Kak." kaget Imlie karena dengan cepat Aeyan menarik tangannya dan membawa Imlie ke pelukannya sehingga Imlie bersandar di dada bidangnya Aryan.
"Ngomong sekalih lagi Gue cium Lo sampai kehabisan nafas." ancam Aryan dan Imlie hanya diam dengan kekesal yang luar binasa.
"Kenapa diam, hmm? takut?" tanya Aryan.
"Nggak." jawab Imlie ketus.
"Sayang!! Walaupun Viona mau ganti walpapernya pun. Tapi, Gue tetap milik Lo dan Lo tetap milik Gue. Viona itu sahabat Gue.. Jadi, Lo kagak usah cemburu." ujar Aryan mengusap kepalanya Imlie tapi Imlie hanya diam.
"Ck, alasan ini aja terus. Tapi, nyatanya tindakan Kakak mengatakan sebaliknya." batin Imlie kemudian tak lama bunyi dering telfon dari ponselnya Aryan yang sedang Iml pegangin.
Imlie langsung mengangkatnya dan mengsipiaker panggilan itu agar bisa di dengar juga oleh Imlie.
"Ar, nanti malam ada pertunjukan bagus bro. Lo mau ikut kagak?" tanya Ravel dari ujung sana.
"Di mana?" tanya Aryan.
"Tempat biasa. Katanya malam ini bakal beda." jawab Ravel, Imlie tak tau apa yang mereka maksud.
"Oke.."
"Sekalian deh bawah Bu Bos. Skalih kali gitu Bos. Ini kan pertunjukan luar biasa." usul Ravel.
"Gue ajak Viona." jawab Aryan dan Imlie langsung melepaskan pelukan itu dan menatap Aryan kaget.
Tuuut
Panggilan telfon pun di matikan.
"Ck, ajak mak lampir lagi deh. Padahal Buk Bos lebih cantik. Pasti para saingannya Geng blackxavier bakal iri tuh." kesal Ravel.
Sedangkan di tempat Imlie dan Aryan. Imlie nampak protes.
"Aku mau ikut Kak. Kakak kan nggak pernah ngajak Aku." ujar Imlie.
"Nggak, Lo lagi sakit." jawab Aryan.
"Aku udah baikan Kok Kak, sumpah." ujar Imlie.
"Nggak."
"Kak, pliiis." ujar Imlie.
"Gue bilang nggak, ya nggak. Gue tetap pergi sama Viona." bentak Aryan kemudian berdiri dan menatap wajahnya Imlie.
"Tapi Aku juga pengen ikut Kak." ujar Imlie lagi.
"IMLIE... Lo harus paham Lo sama Viona itu berbeda. Kalau Lo pergi ke tempat seperti itu. Maka orang Tua Lo akan semakin membenci Lo sedangkan Viona pergi pun tak apa. Karena orang tuanya menyayanginya, keluarganya pun sangat menyayanginya sedangkan Lo sangat di benci jadi jangan buat mereka semakin benci sama Lo dengan jadi gadis nakal." ujar Aryan membuat Imlie tertegun dengan mata berkaca kaca.
"Ooh berarti Viona gadis nakal gitu Kak. Karena dia pergi ke tempat yang sering Kakak dan geng Kakak kunjungi itu." ujar Imlie.
"IMLIE, jaga mulut Lo sialan. Jangan berani ngehina Viona. Lo sama dia itu berbeda... Ck, pantas saja keluarga Lo sangat benci sama Lo karena sikap kekanak kanakan Lo ini." marah Aryan mengeluarkan kata kata tajam..
"Iya, Aku sama dia berbeda. Iya, dia sempurna dan Aku tidak. Karena Aku di benci keluarga Aku aku anak sialan. Iya, Aku memang Anak sialan. Sehingga mereka membenci ku. Tapi, itu bukan berarti Kakak bisa mengatakan hal itu." ujar Imlie kecewa. Imlie selalu berusaha melupakan itu di saat moodnya lagi bagus tapi justru Aryan membahasnya.
"Sorry." jawab Aryan singkat dan santai tanpa merespon kemarahan dan kekecewaan Imlie. Memang tolol ya si Aryan ini.
"Gue pergi dulu, ingat! Jangan lupa minum obatnya." ujar Aryan dan berniat mengecup keningnya Imlie tapi Imlie mundur.
"Jngan ngelawan." ujar Aryan dan menarik Imlie kemudian mendaratkan kecupan di keningnya Imlie dan menghapus air mata yang jatuh di pipi mulusnya. Kemudian mengecup kedua kelopak matanya Imlie. Tapi, Imlie hanya diam dengan tangan mengepal.
"Gue pergi." ujar Aryan dan keluar kamarnya Imlie dan pintu itupun di tutup kembali.
"Aaakh,,, GUE BENNCII.. GUE BENCII SAMA DIRI GUE SENDIRIM KENAPA SETELAH APA YABG LO PERBUAT GUE MASIH MENCINTAI COWOK SEBRENGSEK LO." teriak Imlie dalam kamar untuk kamarnya kedap suara.
Lagi lagi mentalnya Imlie di aduk aduk layaknya masakan.
Ting
Kemarahan Imlie pun teralihkan dengan deringan ponselnya. Imlie langsung mengangkat telfon itu
dan nama kontak dengan tulisan Bro langsung terpampang.
"Gue udah kirim lokasinya. Nanti Lo datang saja, ingat! Jangan terlambat." ujar Bro dari seberang sana.
"Jam berapa?" tanya Imlie aura dari suaranya nampak gelap.
"Sekitaran jam 9 harus sudah sampai." ujar Bro.
"Baik, persiapkan semuanya.." jawab Imlie dan mematikan sambungan itu kemudian tangannya meremas hpnya dengan kuat.
Imlie pun mengeluarkan sesuatu yang menjadi kebanggaanya selama ini dan mencium aroma yang tertinggal dari benda itu kemudian menyimpangnya kembali ke dalam lemari.
"Lili kangen." lirih Imlie.
Waktu pun terus berjalan setelah tadi siang ketiga sahabatnya datang dan menjenguknya. Kini sang surya sudah beristirahat dan di gantikan dengan sang raja malam. Imlie kini sudah nampak berbeda dengan fashionnya.
"Sempurnah." batinnnya.
Sedangkan di tempat lain kini para geng Blackxabir sudah berkumpul mereka duduk di motor mereka masing masing bukan cuman inti geng blacxabir saja tapi para anggota blackxavier yang berjumlah 10 orang juga ada sehingga ada 15 orang di tambah ketua mereka. Yakni, Aryansyah Xabiru Alvaric. Dengan Viona yang duduk di atas motornya Aryan. Para gadis gadis menatap iri ke arah Viona yang dekat dengan ketua geng Blackxabir yang tampan itu.
Sedangkan di sana geng Ayamjagox06 sedang menatap mereka dengan tatapan tajam. Lebih tepatnya mereka saling menatap tajam..dan ada geng geng yang lainnya geng khusus wanita pun juga ada.
"Ck, ini mau mulai apa tidak? Lama banget dah." ujar Mio.
"Sepertinya mereka masih menunggu peserta yang lainnya." jawab Xavier.
"Ck, sangat tidak konsisten." decak Bobop.
"Kalian santai aja pasti tak lama lagi bakal di mulai kok." ujar Viona yang ingin dekat dengan mereka.
"Ck, diam dulu deh Mak lampir.. Kagak usah sok asik." ujar Ravel dan Aryan menatapnya tajam tapi Ravel pura pura tidak tau.
"Kalau aja yang di ajak Bu Bos yang cantiknya itu bikin meleleh." lanjut Ravel lagi dan kali ini Aryan semakin tajam menatap sahabatnya itu.
"Jangan muji milik Gue." ujar Aryan santai tapi dingin.
"Santai dong santai. Gue tau Bu Bos milik Lo." ujar Ravel dan terkekeh pelan berhasil menjahili Aryan dan membuat Viona kesal.
"Ar..." rengek Viona.
"Manja banget... Kapan ya Gue bisa manja manja gitu ke ketua blackxabir."
"Gue juga mau, tapi belum apa apa juga nyali bakal langsung ciut karena melihat tatapan mematikannya. Hanya orang orang beruntung yang melihat sisi lembutnya." ujar para gadis.
"Ck, sama Gue aja. Lagian dia kagak tampan tampan amat." ujar seorang anggota geng Ayamjago06.
"Ck, kalau sama Lo berarti selerah Gue turun drastis dong." ujar gadis itu.
"Heh, enak aja Lo.....
"Udah diam diam." ujar seorang Pria melerai mereka.
"Reza, apakah semua peserta sudah lengkap?" tanya Pria bertubuh kekar pemilik Arena balapan liar itu.
"Belum, masih kurang satu Bang......
BRUM BRUM
BRUUUUUUMMMMMM
Suara gongangan motor terdengar sangat berisik membuat mereka menatap ke ujung jalanan yang kosong terlihat seseorang yang memakai helm dan jaket kebanggaanya. Serta motor legendaris yang sangat di kenal semua anak motor di Arena balap.
semua orang di buat terpesona dengan seseorang di balik helm itu. Saat mendekat mata semua orang langsung terbelalak tak percaya dengan melihat motor legendaris dari jaket dengan lambang yang sudah bertahun tahun tidak muncul di dunia balapan atau dunia motor.
"WOY!!! INI KITA KAGAK SALAH LIHAT? ITU RAJA BALAPAN WOY... JAKETNYA, INI GUE KETINGGALAN BERITA APA GIMANA? KAPAN GENG BLACKCOBRA BALIK WOY.." teriak mereka heboh menatap motor yang melewati mereka.
Brrrruuuuum bruuum
Pengemudi motor itu langsung berhenti di tengah tengah mereka dengan gaya jerennya serta motor yang mengeluarkan banyak asap.
Mereka tidak tau di balik helm itu Cowok apa Cewek. Karena ketua dari blackcobra selalu menyembunyikan identitasnya.
"WOY!!! KEREN BANGET COY." teriak mereka heboh. Para wanita di buat terpesona karena gaya dari ketua geng Blackcobra itu.
"Gue kagak tau di balik helm itu Cewek apa Cowok. Tapi, yang pastinya Gue jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Beruntung banget malam ini geng kita datang. Jadinya kita punya kesempatan untuk melihat geng legendaris yang selalu di bicarakan."
"Iya, kagak sia sia Gue bohongin Emak Gue dan datang ke sini." ujar para gadis.
"Keberuntungan bagi Gue bisa mendapatkan kesempatan ini woy."
"Untung aja tadi Gue kagak jadi mabuk mabukan. Bisa bisa Gue ketinggalan nih."
Reza yang menjadi bawahan dari pemilik Arena ini langsung menghampiri ketua Geng Blackcobra itu.
"Bersiaplah... Lo, di sesi pertama." ujar Reza.
"Oke." jawabnya dari balik helmnya dan menatap ke satu titik dengan intens kemudian tersenyum smirk.
"Wow! Bos kita beruntung banget nih.. bisa lihat ketua dari geng blackcobra kagak sia sia ke sini. Andai saja tadi Bu Bos datang pasti dia bakal saksikan juga.. bukan si uler ini." ujar Ravel yang memang sangat tidak suka dengan Viona entah apa masalanya.
"Arr... Teman Kamu tuh." rengek Viona. Tapi Aryan tidak menggubrinya dan memilih menatap ketua geng blackcobra.
"Hahahha." Ravel, Mio, dan Bobop langsung ngakak melihat wajah sebalnya Viona karena tidak di respon oleh Aryan.
"Makanya jadi orang kagak usah Pd." ujar Bobop.
"Ar, kenapa tiba tiba ketua blaccobra muncul? Lo tau kan mengenai ketua blackcobra?" kini Xavier yang berada di dekat Aryan langsung bertanya.
"Gue cuman tau, kalau ketua Blackcobra itu Cowok." jawab Aryan.
"Tapi di lihat dari postur tubuhnya....