Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Dari jendela
Arum memang saat ini sedang menggigil di dalam kamar Karena rasa takut dan juga ada sesuatu di dalam tubuh ini seperti berjalan seolah gigitan itu mengandung sesuatu yang sangat mengerikan, sudah pasti ada rasa takut mati di dalam hati Arum Karena dia sudah melihat secara langsung apa yang telah terjadi di dalam rumah ini.
Dan menurut dia juga aneh bila mendadak saja di dalam kamar muncul sesuatu yang sangat mengerikan dan menggigit dia dengan cara yang tidak dia ketahui secara pasti, tapi yang jelas memang ada yang sudah menggigit Arum sehingga menimbulkan luka serta bekas yang ada di pundak gadis ini.
Cukup seram memang gila tidak dibantu dengan mendekatkan diri kepada Tuhan maka sudah pasti rasa takut itu akan semakin menjadi di dalam diri, jadi Arum memang tidak boleh mengambil tindakan sembarangan karena itu justru akan membuat nyawa dia dalam bahaya saat tidak berhati-hati menghadapi makhluk yang tak kasat mata itu.
Ini tubuh Arum malah merasakan sesuatu yang tidak beres dan dia terus menggigil seolah sedang demam, entah Karena rasa takut atau memang sesuatu itu telah memasukkan racun di dalam tubuh gadis kecil ini sehingga sekarang dia harus menderita dengan rasa dingin luar biasa dan Dina juga masih belum menyadari bahwa Arum telah menggigil kedinginan seperti itu.
Dina tadi mendatangi Vera yang ada di dalam kamar mandi dan meninggalkan Arum sendirian di dalam kamar sehingga gadis ini mulai merasakan takut kembali, tapi untuk bangkit berdiri untuk mencari keberadaan Dina sudah tidak sanggup sehingga Arum hanya bisa pasrah berbaring di atas ranjang ini saja.
"Ibuuu....aku takut." rintih Arum.
Sebagai anak yang bisa di katakan belum seberapa dewasa maka pasti saat sedang sakit seperti ini Arum sangat membutuhkan kehadiran Bu Elma, terlebih lagi Arum adalah anak bungsu dalam keluarga ini sehingga sudah pasti dia lebih di manja bila di banding dengan yang lain.
"Aku ada yang menggigit seperti ini, Ibuuuu." Arum terus aja merintih karena memang terasa sangat sakit di pundak dia.
Braaaaak.
"Ah!" kembali Arum tersentak kaget karena jendela kamar justru terbuka lebar.
Wuuussssh.
Wuuussssh.
"KAKAAAAAK, KAK DINA KAMU ADA DI MANA?!" Arum berteriak memanggil Dina karena dia tidak berani lagi untuk diam sendirian di dalam kamar.
Tadi dia masih berusaha untuk menahan rasa takut dan juga rasa dingin di tubuh ini namun ketika jendela kamar sudah terbuka seperti itu maka Arum tidak sanggup lagi untuk takut ini, mau tidak mau dia harus berteriak agar Dina kembali masuk ke dalam kamar dan menemani dia tidur.
"Kakak aku takut ini, Kak Dina!" Arum kian histeris saja.
Tap.
Tap.
"Apa lagi itu?" seru Arum karena mendengar suara aneh dari luar jendela.
"Huhuuuuu....
"Ada yang menangis, KAKAAAAAAK!" Arum berusaha untuk bangkit dari atas ranjang karena dia memang tidak sanggup lagi untuk menahan rasa takut ini.
Dari pada dia mati ketakutan maka lebih baik bila segera kabur meninggalkan kamar saja agar bisa bertemu dengan orang lain, sebab di luar kamar sudah pasti banyak orang karena rumah ini memiliki banyak penunggu sehingga mereka pasti akan mendengar bila Arum berteriak di luar kamar ini, bila hanya diam di dalam kamar maka dapat di pastikan Arum akan menggigil ketakutan.
Bruughhhk.
"Ah ya Allah, Ibu tolong bantu aku." Arum merintih karena dia justru terjatuh karena kaki yang tidak kuat menopang tubuh ini.
Wuuusssh.
Wuussssh.
"Jaga aku dari sana, Bu! tolong lindungi aku." rintih Arum karena dia merasakan angin menerpa masuk.
Braaaaaak.
"Heheeeee...
"Aaaaaggg!" Arum histeris melihat gadis muncul dari jendela.
"Gadis yang malang, kau akan mengalami nasib seperti aku." seringai gadis sayat.
"Ka...Kakak, kalian di mana sekarang?" Arum beringsut tanpa bisa berdiri karena ketakutan.
Tap, Tap.
"Jangan, jangan dekati aku seperti itu!" pekik Arum takut sekali.
Siapa yang tidak takut bila saat ini dia sedang sendirian di dalam kamar namun malah mendadak saja kedatangan tamu tak di undang dengan wajah hancur seperti di sayat oleh sesuatu, Arum rasa ingin kabur dari dalam rumah namun apa daya karena dia memang sudah tidak memiliki kekuatan untuk lari dari sini.
Sedangkan iblis yang muncul dari balik jendela itu tersenyum menyeringai sehingga membuat Arum semakin ketakutan saja, ingin sekali rasanya Arum menjerit namun perlahan suara itu menghilang dan tertelan di dalam tenggorokan saja ketika gadis yang memiliki wajah hancur itu telah tiba di depan mata dengan tetes darah begitu kental serta amis.
"Arum!" Dina menerobos masuk dalam kamar karena mendengar suara menjerit.
"KAKAAAAAAK ADA SETAN!" Arum menangis karena ketakutan.
"Tenang dulu, astaga kamu kenapa panas sekali ini." Dina kaget sudah menyentuh tubuh sang adik.
"Ayo naik saja ke atas ranjang jangan bersimpuh di atas keramik seperti itu karena nanti tambah demam saja." Vera yang memiliki kekuatan besar segera mengangkat tubuh Arum.
"Aku takut sekali karena tadi ada setan masuk lewat jendela itu." Arum menangis sambil menunjuk jendela yang terbuka lebar.
"Ada ini sudah malam tapi malah ribut saja di dalam kamar?!" Siti ikut masuk ke dalam kamar tang keponakan karena dia juga mendengar suara yang begitu berisik.
"Bibi, Arum mengatakan ada sosok mengerikan masuk lewat jendela ini." Dina langsung mengatakan apa adanya.
"Dia sedang demam sehingga wajar saja mengigau seperti itu dan kalian jangan mendengar apa yang dia katakan." Siti datang mendekat dan memegang kening Arum yang memang terasa begitu panas.
Vera hanya diam saja memperhatikan bagaimana gerak-gerik dan juga raut wajah Siti ketika mengatakan bahwa itu semua hanya ilusi semata, padahal bila menuruti kata hati maka dia pasti juga akan mengatakan kepada Siti saat ini bahwa dia juga mengalami hal yang tidak biasa ketika tadi sedang ada di dalam kamar mandi itu.
"Tutup jendela nya dan segera tidur." Siti berkata tegas kepada sang keponakan.
"Fungsi dirimu di dalam rumah ini apa?" Vera bertanya langsung kepada Siti.
"Ha?" Siti menoleh karena terlihat dia agak kaget akan pertanyaan Vera barusan.
"Ku lihat kau hanya adik dari Ibu, tapi kau di rumah ini seolah bertindak sebagai penguasa." Vera maju untuk berhadapan langsung dengan Siti.
Siti terdiam belum menjawab ucapan Vera barusan dan Dina yang ada di sana hanya bisa menghelai nafas panjang Karena dia sudah sangat yakin bahwa sebentar lagi mereka pasti akan bertengkar, sebenarnya juga bukan salah Vera karena tindakan Siti bersikap seperti itu seolah penguasa rumah.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar nya ya.
misi penyelidikan sudah di mula nih 🤣