Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Lilitan emosi yang tertahan selama bertahun-tahun seolah meledak dalam satu titik. Ciuman itu tidak lagi ragu; Regas menekannya lebih dalam, menumpahkan segala rasa frustrasi, rindu, dan kepemilikan yang selama ini ia pendam di Jakarta. Lia, yang awalnya kaku, perlahan luluh dan membalas dengan intensitas yang sama, tangannya meremat rambut Regas, mencari pegangan di tengah badai yang juga mengamuk di dalam dadanya.
Udara di dalam gubuk itu terasa kian panas meskipun hujan badai di luar membawa suhu dingin yang menusuk. Dalam kegelapan total setelah lilin padam, hanya ada suara napas yang memburu dan detak jantung yang beradu. Regas mengangkat tubuh Lia perlahan, membawanya menjauh dari tempat tidur Ghea menuju sudut ruangan yang lebih tertutup, beralaskan tikar pandan yang kasar namun hangat oleh kehadiran mereka.
Sentuhan Regas berpindah ke leher Lia, meninggalkan jejak panas yang membuat wanita itu mengerang lirih. "Lia... aku tidak bisa kehilanganmu lagi," bisik Regas parau di sela napasnya.
Malam itu, di bawah atap rumbia yang berderit ditiup angin Bali Utara, segala batasan dan ketakutan akan masa depan seolah luntur. Mereka menyerah pada gairah yang sudah lama terkunci rapat. Pergulatan emosional itu berubah menjadi penyatuan fisik yang intim, seolah masing-masing sedang menuliskan janji di kulit satu sama lain bahwa mereka tidak akan saling melepaskan, apa pun badai yang menunggu di Jakarta nanti.
Ketika semuanya mereda, hanya tersisa suara rintik hujan yang mulai mengecil. Regas mendekap Lia erat di balik selimut tipis, mencium puncak kepalanya dengan penuh perasaan.
"Tetaplah bersamaku, Azzalia. Jangan pernah lari lagi," gumam Regas, sementara Lia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada pria itu, menyadari bahwa mulai malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Pagi menyingsing dengan sisa-sisa aroma tanah basah dan laut yang tenang. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah dinding bambu, menyinari wajah Lia yang masih bersandar di lengan kokoh Regas. Lia membuka matanya perlahan, merasakan beratnya kenyataan yang kini menghimpit dadanya. Penyatuan semalam bukan hanya tentang gairah, tapi tentang penyerahan diri yang membuat posisinya kini semakin rumit.
Regas terbangun, merasakan pergerakan Lia. Ia mengeratkan pelukannya, seolah tak ingin fajar memisahkan mereka. "Selamat pagi, calon istriku," bisiknya dengan suara serak khas bangun tidur.
Lia terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. "Regas, semalam... itu tidak mengubah fakta bahwa ada acara tujuh bulanan di Jakarta minggu depan. Dan ada Elena di sana."
Regas bangkit, duduk bersandar pada dinding bambu dengan dada bidangnya yang masih polos. Tatapannya berubah serius. "Aku tahu. Aku akan pulang ke Jakarta lusa. Aku harus menepati janji pada Elena agar dia tetap memegang kesepakatan kita untuk membiarkanku bersamamu. Tapi aku ingin kamu ikut, Lia. Bukan ke rumah besar itu, tapi ke apartemen kita yang dulu. Aku tidak mau meninggalkanmu di sini sendirian lagi."
"Tidak, Regas," potong Lia cepat. Ia bangkit dan mulai mengenakan pakaiannya dengan jemari gemetar. "Aku akan tetap di sini. Ghea akan ikut bersamamu, dia butuh melihat adiknya lahir nanti. Jika aku ikut, keberadaanku hanya akan memancing kemarahan ibumu. Biarkan aku di sini, menjadi guru sastra yang tenang, sampai semua urusanmu dengan Elena selesai."
"Ibu Lia? Papa?" suara mungil Ghea terdengar dari balik tirai kamar, membuat keduanya tersentak.
Lia segera merapikan penampilannya dan keluar menemui Ghea yang sedang mengucek mata. "Iya, Sayang. Ibu di sini. Mari kita cuci muka, anak-anak nelayan sudah menunggu di sekolah pesisir."
Regas menyusul keluar, menatap pemandangan itu dengan getir. Ia melihat Lia yang begitu telaten mengurus Ghea, sosok ibu yang seharusnya mendampingi putrinya setiap hari. Namun, ia juga sadar, ada badai besar yang menantinya di Jakarta. Elena bukan wanita yang mudah ditebak, dan ibunya pasti sudah menyiapkan rencana lain jika tahu Regas berhasil menemukan Lia.
Saat mereka sarapan dengan nasi bungkus sederhana yang dibelikan Pak Wayan, sebuah mobil hitam mewah—yang sangat kontras dengan pemandangan desa—berhenti tepat di depan gubuk Lia.
Seorang pria berjas turun, wajahnya tampak panik. Itu adalah Abimana, asisten kepercayaan Regas.
" Regas! Maaf saya harus menyusul kemari tanpa perintah," ujar Abimana terengah-engah. "Nyonya Besar tahu kamu di Bali. Dan... kesehatan Elena menurun drastis. Dokter bilang ada komplikasi pada kandungannya. Nyonya Besar memerintahkan Tuan segera kembali hari ini juga."
Wajah Lia memucat. Ia menatap Regas yang kini juga tampak tegang. "Pergilah, Regas. Tugasmu ada di sana sekarang," ucap Lia lirih, menyadari bahwa ketenangan yang ia bangun di Bali baru saja berakhir.