Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Arena Berdarah
Alun-alun utama Sekte Awan Hijau, yang biasanya sunyi dan sakral, hari ini berubah menjadi lautan manusia yang mendidih oleh ambisi.
Sepuluh panggung batu bata raksasa, masing-masing seluas lapangan sepak bola, didirikan berjejer. Di sekelilingnya, ribuan murid luar bersorak-sorai. Di atas tribun melayang yang terbuat dari awan padat buatan, para Tetua Sekte duduk mengawasi, ditemani oleh beberapa murid dalam yang turun gunung sekadar untuk mencari hiburan.
Seorang Tetua berjubah putih dengan suara yang diperkuat oleh Qi terbang ke tengah alun-alun.
"Diam!" suaranya menggelegar seperti guntur, langsung membungkam keributan ribuan orang.
"Turnamen Peringkat Murid Luar tahun ini akan dimulai! Babak pertama: Pertarungan Bertahan Hidup. Ada dua ribu peserta. Kalian akan dibagi ke dalam sepuluh arena, dua ratus orang per arena."
Tetua itu menatap dingin ke bawah. "Hanya sepuluh orang terakhir yang berdiri di setiap arena yang berhak maju ke babak utama! Aturannya sederhana: Jangan membunuh, dan jangan lumpuhkan ranah kultivasi (Dantian) lawan secara permanen. Selain itu, segala cara diperbolehkan! Terlempar dari arena, menyerah, atau pingsan berarti gugur!"
Begitu pengumuman selesai, lautan manusia mulai bergerak menuju arena masing-masing berdasarkan nomor token yang telah diundi.
Zhao Yun menepuk bahu Lin Xuan. "Aku di Arena 7, Saudara Mu! Kau di mana?"
Lin Xuan melirik token kayunya. "Arena 4."
"Sayang sekali kita tidak satu arena. Tapi ini lebih baik, kita tidak perlu bertarung satu sama lain di awal," Zhao Yun menyeringai, matanya penuh semangat kompetisi. "Sampai jumpa di babak utama!"
Lin Xuan hanya mengangguk pelan, lalu menarik ujung topi caping bambunya dan berjalan menembus kerumunan menuju Arena 4.
Begitu kakinya menginjak lantai batu arena yang dingin, Lin Xuan langsung merasakan hawa permusuhan.
Dia berjalan ke sudut panggung, berdiri menyender pada salah satu pilar pembatas, bersedekap dengan pedang di pelukannya. Auranya ditarik rapat-rapat, tampak seperti kultivator Qi Condensation Lapisan 4 yang ketakutan dan mencoba mencari aman.
Namun, di matanya yang tersembunyi, dunia bergerak lambat. Dia memindai seratus sembilan puluh sembilan lawan di sekitarnya.
"Tujuh orang memakai ban lengan Fraksi Naga," suara Gu Tianxie berbisik di kepalanya. "Dan mereka semua sedang menatapmu. Sepertinya Tuan Muda manja itu sudah memberikan instruksi khusus."
Benar saja. Di tribun VIP yang agak jauh, Wang Long duduk di kursi bersantai. Ujiannya di Arena 1 sudah selesai dalam waktu lima menit berkat elemen apinya yang menyapu bersih lawan. Kini, dia menatap lurus ke arah Arena 4 sambil memegang cangkir teh, bibirnya menyunggingkan senyum kejam.
TENG!
Lonceng berbunyi. Babak penyisihan dimulai!
Kekacauan meledak seketika. Teriakan, kilatan cahaya elemen, dan suara daging beradu memenuhi sepuluh arena. Darah langsung menodai lantai batu di detik pertama.
Di Arena 4, kebanyakan murid langsung saling serang membabi buta. Namun, tujuh murid dari Fraksi Naga mengabaikan lawan di dekat mereka. Seperti sekawanan serigala yang sudah mengunci mangsa, mereka menerobos kerumunan dan mengepung sudut tempat Lin Xuan berdiri.
Pemimpin kelompok itu adalah seorang pemuda kekar dengan palu godam besar. Dia berada di Puncak Lapisan 5.
"Namamu Mu Chen, kan?" geram si pengguna palu. "Tuan Muda Wang mengirimkan salam. Sayang sekali kau tidak akan bisa berjalan lagi setelah hari ini!"
"Habisi dia! Patahkan kedua lengannya!" teriak anggota lainnya.
Ketujuh orang itu menerjang serentak. Ada yang menggunakan pedang, tombak, dan sihir elemen angin tingkat rendah. Ini adalah formasi pengeroyokan yang didesain untuk menghancurkan kultivator Lapisan 6 sekalipun.
Lin Xuan tidak bergerak. Tangan kanannya bahkan tidak menyentuh gagang pedangnya.
"Kau tidak mau menggunakan pedangmu?" tanya Gu.
"Belum waktunya," batin Lin Xuan dingin. "Membunuh semut tidak perlu memakai pisau jagal."
Tepat saat palu godam raksasa itu berjarak satu jengkal dari wajah Lin Xuan...
Wush.
Sosok Lin Xuan menghilang. Bukan ilusi, melainkan Langkah Hantu Tanpa Jejak. Gerakannya terlalu cepat dan tanpa suara, sama sekali tidak mematuhi hukum inersia.
BAM!
Palu godam itu hanya menghancurkan lantai batu tempat Lin Xuan berdiri sedetik yang lalu.
Si pengguna palu membelalak. "Di mana—"
"Di belakangmu."
Bisikan dingin itu terdengar tepat di telinga si pengguna palu. Sebelum dia sempat menoleh, dua jari pucat Lin Xuan meluncur seperti ular, menusuk tepat di titik saraf di bawah telinga kirinya.
Itu bukan pukulan Qi yang merusak organ, melainkan serangan murni.
Mata si pengguna palu memutih. Tubuhnya yang besar tumbang ke lantai seperti pohon ditebang, pingsan seketika dengan mulut berbusa.
Enam anggota Fraksi Naga lainnya terperanjat. Pemimpin mereka tumbang dalam satu detik tanpa pertukaran jurus sama sekali!
"Bajingan! Serang dia bersamaan!"
Seorang pengguna pedang menebas pinggang Lin Xuan dari kiri, sementara pengguna tombak menusuk dari kanan.
Lin Xuan mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sudut yang tidak wajar. Dia meluncur di bawah tebasan pedang, membiarkan tombak itu lewat hanya satu milimeter di atas punggungnya.
Sambil meluncur, tangan kanan Lin Xuan menangkap pergelangan kaki si pengguna pedang, mengalirkan sedikit saja kekuatan Tulang Besi Hitam-nya, lalu memutarnya ke arah yang berlawanan.
KRAK!
"AAAAAAARGH!"
Tulang kering pengguna pedang itu patah tebu. Lin Xuan menggunakan tubuh orang yang sedang menjerit itu sebagai tameng daging untuk menabrak si pengguna tombak.
Keduanya terlempar keluar arena, jatuh ke tanah dengan tulang rusuk patah.
Tersisa empat orang. Wajah mereka kini sepucat kertas. Ini bukan pertarungan antar kultivator. Ini adalah pembantaian sepihak. Pemuda bertopi caping ini bergerak seperti hantu yang mencabut nyawa tanpa suara.
"I-iblis... dia iblis!" salah satu dari mereka menjatuhkan senjatanya dan berbalik untuk lari.
Lin Xuan menendang gagang tombak yang tergeletak di lantai. Tombak itu meluncur di udara seperti anak panah raksasa, menghantam punggung murid yang melarikan diri itu dengan bagian tumpulnya, mengirimnya terbang keluar panggung hingga memuntahkan darah.
Tiga sisanya mundur gemetar, tapi punggung mereka menabrak murid-murid lain yang sedang bertarung di tengah arena.
Lin Xuan berjalan perlahan mendekati mereka. Langkahnya sunyi.
"Kalian tidak melompat sendiri? Baik," kata Lin Xuan datar.
Dalam lima tarikan napas berikutnya, hanya terdengar suara retakan sendi yang mengerikan. Lin Xuan tidak menggunakan energi spiritual yang mencolok. Dia hanya melumpuhkan sendi bahu, meremukkan pergelangan tangan, dan menendang lipatan lutut mereka dengan presisi seorang penjagal berpengalaman.
Seketika, ketujuh utusan Wang Long tergeletak di luar panggung, mengerang kesakitan dengan tubuh cacat, atau pingsan di dalam arena.
Lin Xuan kembali bersandar di pilar, menyilangkan tangannya seolah tidak terjadi apa-apa. Topi capingnya bahkan tidak miring sedikit pun. Napasnya teratur.
Di tribun tinggi, seorang Tetua berjubah hitam Tetua Mo yang tempo hari menyadari bau darah Lin Xuan mengelus jenggotnya sambil tersenyum misterius.
"Kejam. Sangat efisien dan kejam," gumam Tetua Mo. "Dia tidak membuang satu tetes Qi pun untuk gaya. Setiap serangannya didesain untuk menghentikan fungsi tubuh lawan, ini insting bertahan hidup dari jurang kematian."
Di seberang alun-alun, teh di tangan Wang Long tumpah membasahi jubah mewahnya.
Cangkir giok di tangannya hancur menjadi debu karena cengkeramannya yang menguat. Wajah angkuhnya kini digantikan oleh amarah yang mendidih. Ketujuh anjing peliharaannya dipermalukan di depan ribuan orang dalam waktu kurang dari satu menit.
"Mu Chen..." geram Wang Long, matanya memancarkan niat membunuh yang pekat. "Bagus. Kau memang pantas mati di tanganku sendiri."
Setengah jam kemudian, lonceng berbunyi lagi.
"Babak penyisihan selesai!"
Di Arena 4, hanya tersisa sepuluh orang yang berdiri dengan tubuh berlumuran darah dan napas terengah-engah. Di antara mereka, Lin Xuan berdiri tegak tanpa setetes pun keringat. Jubahnya bersih dari noda.
Di Arena 7, Zhao Yun melambaikan tangannya ke arah Lin Xuan dengan senyum cerah. Wajahnya memar dan bajunya robek, tapi dia berhasil bertahan masuk 10 besar berkat kecepatan elemen anginnya.
Lin Xuan menatap lurus ke arah tribun VIP, matanya menembus kerumunan dan bertemu langsung dengan tatapan Wang Long.
Lin Xuan mengangkat tangan kanannya, mengarahkan jari telunjuknya ke arah Wang Long, lalu menggeser ibu jarinya melintasi lehernya sendiri secara perlahan.
Sebuah isyarat kematian yang jelas dan tidak terbantahkan.
Sorak sorai penonton pecah menggemuruh melihat provokasi murid luar biasa kepada sang jenius sekte. Babak utama belum dimulai, tapi aroma darah sudah menggenang di udara.