Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
London kembali terjebak dalam rutinitasnya yang membosankan bagi manusia biasa, namun bagi Kenzie, setiap langkah di sekolah pagi ini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang tak terlihat. Kabut fajar baru saja terangkat saat ia berjalan memasuki gerbang. Suasana sekolah masih sepi, namun ia tahu Julian sudah ada di dalam sana.
Julian telah berangkat lebih awal, sebuah keputusan taktis untuk meredam desas-desus yang sempat meledak setelah absennya mereka berdua selama dua hari. Julian harus kembali menjadi sosok pria dewasa yang dingin, misterius dan menjaga jarak, sosok yang mematuhi aturan taruhan basket konyol itu di depan mata publik. Meskipun secara batin, benang energi biru yang mengikat mereka kini berdenyut lebih kuat dari sebelumnya, menciptakan resonansi yang hanya bisa dirasakan oleh keduanya.
Kenzie menarik napas dalam, merapikan lengan jaket kremnya yang panjang hingga menutupi buku jarinya. Di bawah kain itu, ia sengaja melilitkan perban yang sedikit lebih tebal pada lengannya. Luka itu memang sudah sembuh total secara ajaib berkat pengorbanan Julian, namun Kenzie butuh bukti fisik untuk memuaskan logika manusia di sekitarnya. Tanpa perban itu, kesembuhannya yang terlalu cepat akan menjadi tanda tanya besar yang berbahaya.
Begitu Kenzie melangkah masuk ke ruang kelas, suasana mendadak senyap sebelum akhirnya bisikan-bisikan mulai terdengar. Namun, ada satu orang yang tidak peduli pada sekitar. Hallen yang biasanya tampil gagah dengan jaket basket kebanggaannya, kini tampak berantakan. Rambutnya tidak tertata dan matanya merah karena kurang tidur.
Hallen langsung berdiri dari kursinya saat melihat sosok Kenzie. Ia berlari kecil, hampir tersandung kaki meja, hanya untuk segera mencapai di depan Kenzie.
"Kenzie..." suara Hallen pecah. Ia berhenti hanya beberapa senti dari hadapan gadis itu. Tubuhnya gemetar hebat dan untuk pertama kalinya, Kenzie melihat air mata yang benar-benar jatuh dari mata sang kapten basket. "Kau kembali. Demi Tuhan, kau kembali. Aku pikir... kau sudah mati. Aku pikir aku sudah membunuhmu."
"Hallen, tenanglah. Aku di sini." ucap Kenzie datar, mencoba menjaga nada suaranya agar tetap stabil di tengah kerumunan siswa yang mulai memperhatikan mereka.
"Maafkan aku, Kenzie. Aku benar-benar minta maaf." Hallen menutup wajahnya dengan telapak tangan, bahunya terguncang oleh isak tangis yang tertahan. "Malam itu, semuanya salahku. Jika aku tidak bertindak bodoh di dekat pagar itu, kau tidak akan terluka. Aku melihat darahnya, Kenzie. Sangat banyak. Aku tidak bisa tidur selama dua hari karena terus membayangkan kau sekarat sendirian."
Hallen menurunkan tangannya, matanya yang basah menatap lengan Kenzie yang terbungkus jaket. Secara insting, Hallen mengulurkan tangan, jemarinya bergetar ingin menyentuh lengan Kenzie untuk memastikan keberadaannya.
"Boleh aku lihat? Apa lukanya sudah dijahit? Apa masih sakit?" tanya Hallen dengan nada memelas yang sangat tidak biasa baginya.
Kenzie dengan cepat menarik lengannya ke belakang, menciptakan jarak. "Jangan, Hallen. Jangan disentuh. Ini masih sangat sensitif."
Tangan Hallen terhenti di udara. Kekecewaan terpancar di wajahnya, namun ia segera mengangguk paham. "Tentu. Maaf. Aku hanya sangat khawatir."
"Aku sudah ke dokter. Semuanya sudah ditangani. Perban ini hanya untuk memastikan tidak ada infeksi." Kenzie memberikan senyum tipis yang dipaksakan, topeng kemanusiaan yang ia gunakan kembali untuk menenangkan kegelisahan Hallen. "Aku tidak apa-apa, Hallen. Jangan menyalahkan dirimu lagi. Itu hanya kecelakaan."
Hallen menghela napas panjang, tampak sedikit lebih lega meski wajahnya masih menyimpan trauma. "Kau benar. Terima kasih, Kenzie. Kau menyelamatkanku, padahal aku adalah orang yang membahayakanmu."
Di ujung kelas, Julian berdiri di dekat jendela, memegang sebuah buku tanpa benar-benar membacanya. Pemandangan Hallen yang hampir menangis di depan Kenzie seharusnya memicu amarahnya, namun Julian memaksa dirinya untuk tetap dalam peran. Julian tidak boleh mendekat. Ia harus tetap menjadi pria yang kalah dalam taruhan itu.
Julian menatap Kenzie sekilas. Kenzie merasakan tatapan itu, sebuah dorongan energi yang menenangkan melalui ikatan mereka. Kenzie memberinya kode lewat kedipan mata bahwa ia bisa mengatasi Hallen.
Hallen kini duduk di bangku depan Kenzie, ia terus menatap gadis itu seolah-olah Kenzie adalah artefak rapuh yang bisa pecah kapan saja. "Lyana belum masuk juga hari ini." gumam Hallen tiba-tiba. "Setelah festival itu, dia juga ikut menghilang. Aku mencoba menghubunginya tapi ponselnya mati. Apa kau melihatnya?"
Kenzie menggeleng. "Tidak. Aku menghabiskan dua hari untuk beristirahat total."
"Aneh." Hallen merenung. "Dia sangat bersemangat saat aku menceritakan tentang kau yang menyetujui ajakanku untuk pergi ke festival itu, tapi sekarang dia tidak ada kabar. Aku merasa ada yang tidak beres dengannya, Kenzie. Dia bersikap sangat aneh beberapa hari terakhir."
Kenzie mendengarkan dengan seksama. Ia tahu persis di mana Lyana, mungkin kini ia sedang menjalankan eksperimen dengan darahnya atau merencanakan sesuatu yang lebih buruk bersama Stefanny. Kenzie harus menjaga agar Hallen tetap dalam kegelapan, semakin sedikit Hallen tahu, semakin aman nyawa manusia itu.
"Mungkin dia sedang sakit, Hallen. Fokuslah pada pelajaranmu. Sebentar lagi ujian akhir." ucap Kenzie mengalihkan pembicaraan.
Hallen tersenyum tipis, sebuah binar harapan kembali muncul di matanya. "Kau benar. Aku bersyukur kau tidak membenciku. Aku akan menjagamu sekarang, Kenzie. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi, bahkan pria sombong di sana itu." Hallen melirik tajam ke arah Julian yang masih mematung di dekat jendela.
Julian hanya memalingkan wajah, pura-pura tidak mendengar. Namun dalam hati, ia tahu bahwa kedamaian di kelas ini hanyalah permukaan yang tenang di atas pusaran air yang mematikan. Julian tidak tahu bahwa Seraphine sedang mengawasi dan ia tidak akan membiarkan sandiwara ini berlangsung lama.
...•••...