Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Singgasana Berdarah
Langit di atas Ibu Kota Majapatih seolah seperti jurang kegelapan yang berputar.
Pusaran awan hitam yang pekat, seolah tinta yang tumpah di atas kain sutra, memancarkan kilatan petir berwarna ungu yang menyambar-nyambar puncak menara istana.
Di bawahnya, kota yang dulunya megah itu kini mencekam, sementara suara geraman pasukan Wungkul terdengar bersahutan di setiap sudut jalan, mencari sisa-sisa energi kehidupan yang bisa diisap.
Wira, Sekar, dan Guntur tiba di gerbang utama istana saat fajar seharusnya menyingsing. Namun, matahari seolah enggan menampakkan dirinya, tertutup oleh tabir sihir kuno yang menyelimuti seluruh kota.
"Lihat itu," Guntur menunjuk ke arah gerbang. "Penjagaannya tidak ada. Kalingga sengaja membiarkan jalan terbuka."
"Atau dia sudah merasa menang sehingga tidak perlu lagi menjaga pintu," sahut Sekar. Ia mengeratkan pegangan pada pedang pendeknya.
"Wira, energimu belum pulih sepenuhnya. Kau yakin bisa melakukan ini?" lanjut tanya Sekar dengan khawatir.
Wira menatap lurus ke arah gerbang raksasa yang terbuka lebar. Ia merapikan capingnya yang compang-camping akibat pertarungan melawan Mahesa.
Di dalam kantong bajunya, jimat melati pemberian Ratnawati terasa hangat, memberikan detak ketenangan di tengah badai yang berkecamuk.
"Apa aku punya pilihan lain?" Wira tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak lagi membawa candaan, melainkan keteguhan yang murni.
"Siwa, kau siap menghadapi tuan lamamu?"
"Jangan panggil dia tuanku, Wira. Dia hanyalah pencuri yang meminjam nama keagungan. Mari kita selesaikan ini," suara Siwa bergema mantap.
Mereka melangkah masuk. Halaman istana Majapatih kini berubah menjadi ladang kematian.
Patung-patung penjaga hancur, dan kolam-kolam teratai yang dulunya jernih kini berubah warna menjadi merah pekat.
Di tengah aula utama yang luas, di atas singgasana emas Majapatih, duduk Adipati Kalingga.
Di sampingnya, Sang Raja Majapatih yang asli tampak terkulai lemas, matanya kosong, jiwanya telah ditarik paksa untuk menjadi tumbal ritual.
"Selamat datang, Wisanggeni," suara Kalingga menggema, tenang namun mengandung getaran yang membuat dada sesak.
"Kau tepat waktu. Ritual Sakti Mandala hanya tinggal menunggu satu tetes darah dari seorang penyeimbang untuk membuka pintu abadi," lanjutnya dengan senyuman aneh.
Wira melangkah maju, tongkat kayunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang tenang.
"Kalingga, kau bicara soal takdir dan pintu abadi, tapi yang kulihat hanyalah seorang pengecut yang takut pada kematiannya sendiri sehingga harus mengisap nyawa ribuan rakyat."
Kalingga berdiri. Jubah emasnya berkibar meskipun tidak ada angin.
"Pengecut? Aku adalah orang yang akan menyatukan dunia yang terbelah ini! Dewa di atas sana terlalu sombong, dan iblis di bawah sana terlalu liar. Hanya dengan menyatukan ketiganya di bawah satu perintah, kedamaian sejati akan tercipta!"
"Kedamaian di atas tumpukan mayat?" Sekar menyela, langkahnya melebar ke sisi kiri Wira, sementara Guntur ke sisi kanan.
"Gadis kecil yang berisik," Kalingga mengibaskan tangannya. Tiba-tiba, dari bayang-bayang di balik pilar, muncul sosok-sosok yang mengenakan zirah emas namun dengan wajah yang membusuk.
Mereka adalah Tujuh Pendekar Langit yang asli, yang jiwanya telah diikat secara permanen oleh sihir Kalingga.
"Urus mereka berdua," perintah Kalingga pada pendekar-pendekar itu. "Si Bocah Tongkat adalah milikku."
Pertempuran pun pecah kembali dengan seketika. Sekar dan Guntur terlibat dalam pertarungan hidup mati melawan tujuh mayat hidup yang memiliki teknik bertarung tingkat tinggi.
Guntur menggunakan kemampuannya memasang segel peledak untuk memecah formasi lawan, sementara Sekar bergerak seperti badai perak, menebas setiap serangan yang mengarah pada Guntur.
Di tengah aula, Wira dan Kalingga berdiri berhadapan. Kalingga mencabut sebuah keris hitam yang berlekuk-lekuk, memancarkan aura kegelapan yang bahkan lebih pekat daripada pedang api Mahesa.
"Siwa, lindungi hatiku," bisik Wira.
Wira melesat. Gerakannya kini tidak lagi tertangkap oleh mata manusia. Siwa menghantam keris hitam itu, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan pilar-pilar besar di aula.
Kalingga bukan hanya seorang penyihir, ia adalah petarung yang luar biasa. Setiap tusukan kerisnya mengincar titik buta Wira.
"Bocah! Jangan hanya menyerang fisiknya! Dia menggunakan energi rakyat yang tersisa di dalam istana ini sebagai tameng!" teriak Siwa.
Wira menyadari hal itu. Setiap kali ia berhasil mengenai tubuh Kalingga, luka itu tidak muncul di tubuh sang Adipati, melainkan muncul di tubuh sang Raja yang sedang disandera.
"Kau licik, Kalingga!" teriak Wira.
"Inilah kenyataan dunia, Wisanggeni! Orang kuat akan selalu menggunakan orang lemah untuk melindungi dirinya! Hahaha..." Kalingga tertawa gila, kerisnya menyambar lengan Wira, meninggalkan luka bakar ungu yang menjalar.
Wira terdorong mundur hingga ke dekat jendela besar yang menghadap ke arah alun-alun kota. Ia melihat ke bawah, di sana ribuan rakyat Majapatih mulai berkumpul secara paksa karena pengaruh sihir, menatap ke arah istana dengan tatapan ketakutan.
"Wira! Kita tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi!" teriak Sekar yang kini bahunya sudah berdarah akibat tebasan salah satu pendekar mayat hidup.
Wira menarik napas panjang. Ia teringat akan mimpinya. Pesan langit tentang menjadi timbangan semesta.
Ia menyadari bahwa ia tidak bisa menang dengan cara bertarung biasa.
Ia harus melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan siapa pun, mematahkan rasa takut rakyat secara massal.
Wira membuang capingnya. Ia berdiri tegak di ambang jendela besar agar seluruh rakyat di bawah bisa melihatnya. Ia mengangkat Siwa tinggi-tinggi ke arah langit yang gelap.
"Rakyat Majapatih! Lihat aku!" suara Wira menggelegar, tidak hanya di telinga, tapi merasuk ke dalam jiwa setiap orang yang mendengarnya.
Kalingga tertegun. "Apa yang kau lakukan, Bodoh?!"
"Kalian tidak perlu takut pada kegelapan ini!" lanjut Wira.
"Dia hanya kuat karena kalian memberinya kekuatan lewat rasa takut kalian! Aku, Wira Wisanggeni, berdiri di sini bukan untuk membalas dendam, tapi untuk mengambil kembali cahaya kalian!" teriaknya memantapkan jiwa-jiwa rakyat yang terhanyut dalam kegelapan.
Wira memejamkan mata. Ia melepaskan seluruh segel energi di tubuhnya.
Aura biru langit meledak dari tubuhnya, namun kali ini ia tidak memadatkannya untuk menyerang. Ia membiarkan energi itu menyebar luas, menjadi butiran-butiran cahaya yang jatuh seperti hujan di atas seluruh kota.
"Wira! Apa kau gila? Kau membagikan energimu pada mereka?! Kau akan mati kehabisan sukma!" Siwa berteriak panik.
"Aku tidak membagikannya, Siwa. Aku hanya menjadi jembatan agar mereka bisa mengingat kembali cahaya di dalam diri mereka sendiri," jawab Wira dalam hati dengan wajah yang mulai gemetar.
Butiran cahaya itu menyentuh setiap warga Majapatih. Seketika, pengaruh sihir Kalingga runtuh. Mata rakyat yang tadinya kosong kembali berbinar. Ketakutan mereka berganti menjadi keberanian.
Saat rasa takut itu hilang, perisai energi yang melindungi Kalingga pun lenyap.
"Tidaaak! Beraninya kau!" Kalingga menyerang Wira dengan membabi buta.
Namun Wira sudah siap. Ia menangkap keris hitam Kalingga dengan tangan kirinya, membiarkan telapak tangannya tertembus bilah hitam itu, sementara tangan kanannya menghujamkan Siwa tepat ke jantung sang Adipati.
"Ini untuk ayahku. Ini untuk ibuku. Dan ini untuk setiap ubi yang tidak bisa dimakan rakyat dengan tenang karena ulahmu!"
BOOM! BOOM! BOOM!
Cahaya putih murni meledak dari titik benturan itu. Kalingga berteriak saat tubuhnya mulai hancur menjadi debu putih, dimurnikan oleh energi Siwa yang kini menyatu sepenuhnya dengan kemurnian jiwa Wira.
Keris hitam itu hancur berkeping-keping, dan awan hitam di langit Majapatih mulai tersibak, menampakkan sinar matahari pagi yang sesungguhnya.
Wira terjatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal, dengan darah mengalir deras dari telapak tangannya.
Sekar dan Guntur segera berlari mendekat setelah berhasil menumbangkan pendekar mayat hidup yang kini telah kembali menjadi debu setelah tuannya musnah.
"Wira! Kau bodoh! Kau hampir menghancurkan intimu sendiri!" Sekar memeluk Wira, air matanya jatuh di pundak pemuda itu.
Wira terbatuk, lalu tersenyum lemah.
"Tapi... lihat itu, Sekar. Mataharinya bagus, kan?" ucapnya yang masih diiringi tawa.
Raja Majapatih mulai tersadar dari pengaruh sihir. Ia gemetar melihat kehancuran di sekelilingnya dan pemuda yang bersimbah darah di depannya.
Wira pun berusaha bangkit, bersandar pada Siwa, lalu menatap sang Raja dengan pandangan yang sangat tajam dan berwibawa.
"Guntur, kau tetaplah di sini," ucap Wira tegas. "Bantu kerajaan ini bangkit kembali dari puing-puing kebodohan Kalingga. Pastikan rakyat tidak lagi menderita."
Wira kemudian menoleh pada Raja Majapatih. "Mulai saat ini, Majapatih berada di bawah perlindungan dan pengawasan Kerajaan Ayodya Pala. Jangan pernah berpikir untuk membantah, karena hari ini aku telah membeli nyawamu dan nyawa rakyatmu."
Meskipun kata-kata Wira tampak kasar dan tajam, namun niatnya sangat baik, karena Raja Majapatih dan rakyatnya belum tahu saja akan apa yang mereka rasakan di masa depan, yang tanpa mereka sadari, mereka akan berada dalam kehidupan yang damai dan tentram.
Sang Raja, yang merasa berutang budi dan menyaksikan kekuatan yang melampaui nalar, hanya bisa tertunduk lesu dan mematuhi perintah itu tanpa satu kata bantahan pun.
Setelah urusan di istana selesai, Wira yang kondisinya sangat kritis dibawa kembali ke Kerajaan Ayodya Pala oleh utusan rahasia, dan tentu saja Sekar ikut dengannya.
Wira segera ditempatkan di paviliun khusus untuk diobati dan dirawat secara intensif.
Dalam masa pemulihannya, saat Wira mulai bisa duduk, pintu paviliun terbuka.
Untuk pertama kalinya, sosok yang selama ini hanya mengintai di balik bayangan muncul sepenuhnya.
Dewi Ratnawati melangkah masuk tanpa cadar, menampakkan wajah yang begitu jelita hingga sinar matahari pagi seolah malu bersaing dengannya.
Wira pun langsung tertegun terpesona, dengan matanya membelalak kaget.
"Wah... bidadari mana yang tersesat di kamarku?" gumam Wira terpana.
PLAK!
"Aduh!" Wira meringis sambil memegangi kepalanya yang baru saja dipukul oleh Sekar yang berdiri di samping tempat tidurnya.
"Jangan berlebihan, Wira! Ingat kau masih punya banyak luka!" ketus Sekar sambil cemberut, meskipun Ratnawati hanya tersenyum malu melihat tingkah mereka.
Namun, suasana santai itu mendadak sirna. Ruangan paviliun tiba-tiba diselimuti kabut emas, dan bayangan energi Dewi Shinta Aruna muncul di tengah ruangan.
Wajah gurunya tampak sangat serius, penuh dengan luka perang yang nyata meskipun hanya sebuah bayangan energi.
"Wira, dengarkan baik-baik," suara Dewi Shinta terdengar mendesak.
"Dunia atas telah jatuh ke dalam kekacauan besar. Ini sudah terlambat bagi kau untuk menyusulku dan tetaplah di bumi!"
Wira mencoba bangkit. "Tapi Guru..."
"Dengar! Aku mendapat kabar bahwa bumi adalah target selanjutnya yang akan dihisap oleh entitas kuno itu. Jika aku gagal menahannya di dunia atas, kaulah benteng terakhir di sana. Jangan biarkan satu pun nyawa di bumi terserap untuk menguasai semesta!" pesan itu diakhiri dengan hilangnya bayangan Dewi Shinta secara mendadak.
Mendengar pesan itu, Wira mengepalkan tangannya. Tekadnya kembali berkobar lebih kuat dari sebelumnya. Ia menatap Siwa yang tersandar di sampingnya.
"Sepertinya istirahatku harus dipersingkat," ucap Wira serius.
"Sekar, bersiaplah, kita tidak bisa hanya menunggu di sini, kita harus melanjutkan perjalanan ke setiap benua dan kerajaan yang masih dilanda kekacauan iblis dan dewa serakah." lanjutnya kembali.
Wira menyadari bahwa dengan membersihkan sisa-sisa kejahatan di bumi, ia tidak hanya menyelamatkan rakyat, tetapi juga meringankan bebannya sendiri untuk masa depan, jika sosok kuno itu benar-benar turun ke bumi, Wira harus memastikan dunia ini sudah cukup kuat untuk memberikan perlawanan terakhir demi kelangsungan seluruh semesta.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁