Area 21 +
Rasa kecewa tak bisa terbendung lagi bagi kedua orang tua Alana kala mengetahui dirinya tengah hamil di luar nikah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu jujur saat ini." Tekan papi Wibowo menatap putrinya yang menangis tersendu sendu. Alana meragu.
~~~~~~~
Alana tak menyangka karena rasa cinta yang begitu sangat dalam membawa nya kejurang yang salah.
Dia harus mengandung tanpa seorang suami di sisinya. Alana memutuskan pergi meninggalkan tanah air tanpa memberitahu anak yang di kandung nya pada ayah biologis.
Alana juga berusaha untuk membuang rasa cinta nya, pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Pada sepuluh tahun kemudian, Alana memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan status yang berbeda.
Bukan single mom.
Tapi sebagai seorang istri dan memiliki seorang putra.
Alana menikah dengan pilihan orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hee_Sty47, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
***
"Mas."
Langkah Rayan terhenti. Pria itu diam tak menyahuti. "Maafkan saya mas, saya hanya belum terbiasa." pria itu membalikan tubuhnya. Ia tatap Alana yang sedang meremas remas jemarinya sendiri. Menandakan wanita itu sangat tak nyaman saat ini.
"Alana, saya tidak main main dengan pernikahan kita. Mungkin kamu atau pun saya tidak ada perasaan saat ini. Tapi setidaknya kita sama sama menjalani rumah tangga ini. Hargai saya sebagai seorang suami. Papi sepenuhnya berharap dengan pernikahan kita ini. Jika kita pisah kamar, atas dasar apa kita bisa menjalani rumah tangga seperti orang tua mu inginkan. Bagaimana kita menjadi bisa dekat , sementara kamu menjaga jarak. Saya kan sudah berjanji, saya tidak akan mengambil hak saya sebagai suami jika di hati kamu masih ada orang lain. Jika memang itu yang kamu takut kan. " Terang Rayan to the point.
"Bukan gitu mas. " Lirih Alana menunduk. Rayan menghela nafas berat.
"Lupakan Alana, saya hanya mengutarakan saja. Kalau memang ingin kamar lain, saya bisa siapkan." Putus Rayan.
"Nggak perlu mas. " sela Alana dengan cepat. "Saya akan tidur di kamar utama sama mas." Bibir Rayan berkedut. Namun pria itu mengangguk saja. Lantas dia memutar tubuhnya dan melangkah kembali ke arah sofa.
Alana mengikuti Rayan dengan menarik nafas dalam.
Wanita itu duduk tepat di samping Rayan membuat pria itu sedikit terkejut. Namun kembali mengekspresikan wajahnya ke semula.
"Asisten rumah tangga mungkin besok sudah ada. Tinggal perlengkapan pakaian kalian saja yang harus di pindahkan. Sebenarnya sudah ada beberapa saya beli baju untuk mu dan Kevin. Dan saya sudah menyusun nya di lemari." Tutur Rayan, Alana langsung menoleh mendengar ucapan Rayan barusan.
"Emang mas tahu ukuran pakain ku." Tanpa sadar Alana mempertanyakan hal itu.
"Tahu dari papi." Jawab Rayan.
"Papi curang, semua tentang saya mas Ray tahu. Sementara tentang mas Ray saya sama sekali tidak mengetahui banyak. " Ucap Alana dengan nada protesnya.
Rayan tersenyum tipis
"Kamu bisa mencari tahu langsung pada sumber nya. " Sahut Rayan, Alana seakan tersihir oleh senyuman itu. Dia turut tersenyum. Senyum yang baru Alana ketahui jika di kedua sisi pipi Rayan memiliki lesung pipi.
Manisnya.. ekhh
Wajah Alana angsung memanas , dia cepat cepat memalingkan wajahnya.
"Saya lupa singgah beli cemilan untuk kita. Sepertinya stok di dapur juga sama sekali tak ada. Saya jarang pulang kesini." Ucap Rayan tanpa menyadari ekspresi Alana yang berubah.
"Nggak apa apa mas, lagian kita baru selesai makan siang. " Rayan mengangguk seraya menyandarkan punggung sepenuh nya di sofa. Ia melirik ke arah Alana.
"Apa yang ingin kamu ketahui tentang Alana? " Alana menoleh
"Umur mas Ray berapa?"
"Umur saya memasuki 35 tahun, tahun ini." Alana mengangguk. "Kalau soal keluarga tentu kamu sudah tahu kan. " Alana mengangguk lagi.
Mengenai keluarga Rayan, tentu dia sudah mengetahui dari cerita mamah mertua, dan kakak iparnya. Hanya saja masa lalu pria itu tidak ia ketahui secara detail.
"Mmm soal mantan istri mas. " Rayan langsung terdiam.
Alana jadi tak enak hati. Mengingatkan kembali masa lalu pria itu. "Kami menikah 8 tahun yang lalu. Pernikahan kami hanya bertahan satu tahun. Karena saya sangat sibuk, jarang pulang. Membuat dia memilih dengan pria lain. "
"Mas dia selingkuhi? " Tanya Alana spontan. Rayan mengangguk kepala.
"Ya dia berselingkuh dengan teman seangkatan saya jaman SMA. "
"Jadi mantan istri mas teman sekolah mas dulu. " Tebak Alana tepat sasaran. Karena Rayan mengangguk tanda mengiyakan.
Pasti cinta pertamanya. Arumi membatin.
Percakapan kedua nya terpotong lantaran Kevin bergabung dengan mereka.
"Mau jalan jalan. " Tawar Rayan. Mumpung dia ada waktu. Apalagi mengingat Alana dan Kevin baru saja berada di Jakarta.
"Mau mau. " Seru Kevin langsung. Alana tersenyum dan mengangguk kala Rayan meminta persetujuan dari nya.
***
Alana menatap keluar jendela, kota metropolitan yang lama tak ia lihat. Rasa rindu masa masa remaja dulu seketika mencuat.
Banyak yang ia lewat kan selama sepuluh tahun ini, namun Alana sudah tak menyesalinya sama sekali.
Bagaimana takdir cinta yang sangat rumit, bahkan sampai harus terjebak hingga saat ini.
Perasaan itu masih terjebak di sana.
Pemilik cinta yang tak akan pernah terbalaskan sampai kapan pun.
Alana langsung mengusap sudut mata nya yang tanpa sadar sudah berair. Sementara Rayan yang sering melirik ke arah Alana menangkap itu semua.
Sementara Kevin sudah beberapa kali menanyakan apa saja yang di lihat nya, dan Rayan dengan senang hati menjawab serta menjelaskan pada Kevin.
Sampai mobil yang di kendarai Rayan melipir pada area penghijauan. Di mana ada danau buatan di sana.
Ketiga nya keluar dari mobil Rayan. Dan langsung melangkah memasuki area garden. Sangat asri dan bersih.
"Saya baru tahu ada tempat seperti ini mas." Kata Alana sambil melangkah beriringan dengan Rayan dan Kevin.
"Ya Alana, ini baru di buka dua tahun yang lalu." Alana mengangguk kepala.
Dia kesini dengan siapa ya. Batin Alana bertanya tanya sendiri dalam hati.
Ketiganya berkeliling, dengan Alana yang membidik kamera nya, yang menurut nya keren.
"Kevin , mas Ray, coba liat sini." Pinta Alana pada kedua nya. Rayan dan Kevin yang semula berbincang sambil menatap ke arah lain, menoleh bersamaan. Saat itu juga Alana mengambil foto candid keduanya. Senyum Alana merekah, melihat keterkejutan keduanya. Namun hasil nya sangat bagus.
"Pose dulu, biar mommy foto." Pinta nya kembali. "Mas Ray juga, foto sama Kevin. " Kata Alana kala Rayan hendak menggeser tubuhnya. "Buruan mas. " Serunya kembali.
Rayan langsung merangkul lengan Kevin. Keduanya mulai tersenyum , langsung Alana mengambil itu dengan cepat.
Duo tampanku.. Alana membatin tanpa sadar sambil melihat hasilnya.
"Mommy kita foto bertiga dong. " Seru Kevin membuat Alana mendongak dan menatap putranya.
"Boleh."
Alana lantas berada di tengah kedua nya. Dan mengarahkan kamera ponselnya untuk foto selfie.
Cekrek... Cekrek... Cekrek....
Alana lantas membidik layar nya beberapa kali dengan dirinya yang cepat mengubah gaya. Sementar kedua laki laki berbeda generasi hanya satu gaya.
"Sini ponsel mommy, biar daddy dan mommy foto berdua. " Kata Kevin langsung meraih ponsel Alana.
"Eh."
"Buruan mommy. " Alana akhirnya mengangguk. "Peluk dong mom, daddy nya." Wajah Alana memanas. Bisa bisa nya putranya itu meminta nya memeluk Rayan.
Alana ragu, jadi dia hanya diam. Namun di lengannya sudah ada tangan yang merangkul. Alana segera melirik pada tangan itu. Jantungnya kembali berdegup melebihi ritmenya. Tubuhnya bahkan serasa kaku.
"Mommy liat sini, senyum. " Alana kembali menatap ke arah Kevin. Dia mencoba tersenyum meskipun sangat kaku.
Arumi bisa bernafas lega kala tangan Rayan sudah tak berada di lengan nya.
"Semua fotonya kirim ke saya Alana. " Ucap Rayan membuat Alana mengangguk mengiyakan.
***
Beberapa hari kemudian. Hari ini Kevin sudah mulai turun sekolah. Begitu pula dengan Alans yang akan mulai mengajar sebagai dosen.
Rayan, Alana dan juga Kevin dua hari ini sudah menempati rumah mereka.
Alana mulai membiasakan diri untuk terus berinteraksi dengan Rayan, meskipun pria itu sudah mulai sibuk dengan tuntutan pekerjaan bersama sang papi.
Alana menoleh kala pintu kamar mandi terbuka. Rayan keluar dengan handuk yang melilit di pinggang sixpack nya, dengan satu tangan yang mengusap rambutnya yang setengah basah menggunakan handuk kecil. Pemandangan seperti ini lah yang selalu membuat jantung Alana akhir akhir ini tak menentu.
"Mas pakaiannya sudah aku siapkan." Rayan mendekat dan mengangguk kepala , dengan seulas senyum di bibirnya. Alana sudah siap dengan setelan kerjanya . Rambutnya di cepol setengah dengan tatanan rapi. Sangat anggun dan cantik di mata Rayan.
"Makasih Alana. " Tangan Rayan bahkan bergerak mengusap pucuk kepala sang istri saat pria itu berdiri di hadapannya.
Alana bahkan sampai menahan nafas.
Sampai pria itu pergi dari sana baru Alana bisa bernafas lega.
Huhh... Jantung gue.
Beberapa saat kemudian Rayan keluar dari walk in closet dengan setelah jas yang melekat di tubuh pria itu.
"Bisa pasangkan dasi?" Alana menoleh dan mengangguk. Lantas wanita itu mendekat pada Rayan, sambil menerima dasi yang di sodorkan suaminya.
Rayan sedikit menunduk kala tangan Alana mulai bergerak. Gavin menatap wajah Alana dengan lekat. Tatapan pria itu begitu dalam.
Sementara Alana mati matian berusaha tetap tenang. Sungguh dia rasanya tak sanggup di tatap seperti ini. Ingin Alana menjerit meminta Rayan memejamkan mata nya. Namun semua ucapan hanya tertahan di tenggorokan.
"Sudah mas. " Alana langsung mundur dengan wajah memerah. Rayan mengulum bibirnya ke dalam. Sedikit banyak dia tahu Alana sedang salah tingkah saat ini.
Setelah bersiap masing masing keduanya lantas keluar dari kamar. Bertepatan Kevin yang menuruni anak tangga lengkap dengan seragam nya.
"Morning dad, mom. " Alana mengulas senyum. Rayan menyapa balik putra sambung nya itu.
"Selamat pagi Kevin nya mommy. " Seru Alana "Siap untuk hari ini." Kevin mengangguk dan kian dekat dengan sang mommy.
"Yes mom. " Alana mengusap pucuk kepala putranya singkat.
"Semoga kamu betah di sekolah baru ini sayang." Kevin mengangguk. Rayan langsung merangkul Kevin. Mereka melangkah bersama menuju meja makan.
Selepas sarapan baik Rayan dan Alana harus berpisah lantaran mereka menggunakan mobil masing masing.
"Maafkan daddy tidak bisa mengantar mu boy. " Sesal Rayan.
Kevin mengulas senyum. "Tidak apa dad. Lagian Kevin bukan anak kelas satu yang harus di anterin sampai kelas." Rayan dan Alana terkekeh.
"Ya sudah hati hati, kalau ada yang nggak menyenangkan beritahu daddy. " Kevin mengangguk dan mencium punggung tangan Rayan.
"Hati hati nyetirnya. " Alana mengangguk dan mencium punggung tangan Rayan.
"Mas juga hati hati. " Pria itu mengangguk.
Rayan mengekor mobil Alana di belakang , hingga persimpangan dia harus belok arah. Tidak lupa dia memberikan klakson pada mobil sang istri tanda perpisahan arah, yang langsung terbalaskan oleh wanita itu .
***
Alana tiba di Universitas tempat nya bekerja. Wanita itu berjalan anggun usai menjauh dari mobilnya yang terparkir. Alana mengulas senyum pada mahasiswa mahasiswi yang berpapasan dengan nya.
"Gila cantik banget, apa dia mahasiswi baru?. "
"Sepertinya bukan. "
"Kemungkinan dosen baru yang di infoin. "
"Semoga aja masuk di kelas kita. "
"Semoga aja, biar betah. "
Gumam gumaman para mahasiswa yang melihat Alana lewat silih berganti.
Alana sudah berkenalan dengan para dosen lain nya, usai menghadap rektor kampus.
Alana masuk ke kelas nya. Awalnya wanita itu gugup.
"Ok guys perkenalkan nama saya Alana Calia Djatikusumo, saya yang menggantikan mata kuliah bapak Mario mulai saat ini. " Kata Alama
"Bu umur nya berapa? " Tanya salah satu mahasiswa laki laki.
"Sudah punya pacar belum? " Sambung lain nya
"Ibu cantik. "
Alana mengulas senyum mendengar celetukan dari beberapa mahasiswa itu.
"Ok tenang, saya akan jawab. Saya umurnya 30 tahun, memiliki suami dan seorang putra." Mereka langsung heboh, banyak tak menyangka jika Alana sudah kepala tiga dan memiliki seorang putra. Wajah yang baby face dengan postur tubuh yang ideal tentu tak menyangka. Sedikit kecewa lantaran Alana sudah memiliki seorang suami.
Usai memperkenalkan dirinya, Alana mulai menjelaskan materinya. Selama mengajar, Alana membiasakan untuk serius namun ada di selingi dengan candaan. Agar mahasiswa mahasiswi yang mengikuti materi tidak begitu bosan.
Sampai di sini mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti cukup menikmati. Alana bukan hanya parasnya yang cantik, namun cara wanita itu menjelaskan atau menerangkan materi membuat mereka mudah memahami.
Alana mengecek ponselnya, ada pop up notifikasi pesan chat masuk dari Rayan Lantas dia membuka nya.
Mas Rayan : Semangat
Mas Rayan : Bagaimana? Semua lancar?
Pesan di kirim beda waktu, Alana lantas membalas pesan suaminya. Dia mengatakan semua berjalan lancar sejauh ini.
Namun selang beberapa saat ada panggilan masuk dari Rayan. Alana lantas keluar dari ruangan usai meminta ijin pada murid nya.
"Hallo mas. " Di seberang sana Rayan langsung tersenyum. Sembutan mas untuk nya, mampu membuat hati Rayan selalu menghangat.
Maaf saya ganggu?
"Tidak mas, ada apa? "
Papi mengatakan jika nanti malam kita akan menghadiri acara. Kamu bisa dampingi saya.
"Tentu saja bisa mas. "
Terdengar hembusan nafas lega di seberang sana. Makasih, kalau gitu saya matikan telponnya.
"Iya mas." Sahut Alana.
Selamat bekerja Alana.
Panggilan berakhir. Alana menatap ponselnya yang sudah mati. Lalu wanita itu kembali ke ruangan.
***
Di sekolah Kevin cukup menyukai lingkungan serta teman sekelas nya yang welcome terhadap nya.
Bahkan Kevin sudah memiliki teman bernama Nino dan Raka.
Selama pelajaran sekolah Kevin menikmatinya, sangat mudah untuk dia pahami.
Sampai akhirnya jam belajar berakhir. Kevin menyimpun perlengkapan sekolahnya ke dalam tas.
"Kevin kamu pulang sama siapa?" Tanya Raka
"Di jemput mommy, kamu sendiri?" Balik Kevin bertanya.
"Kita naik sepeda Kev. "
"Rumah kalian nggak jauh?"
"Rumah ku sedikit jauh dari rumah Nino. " Sahut Raka.
"Rumah kamu di mana Kevin?"
"Di perumahan bambu asri, kapan kapan main kerumah aku. " Kata Kevin pada Raka dan Nino yang di balas anggukan. Rumah Kevin lumayan jauh dari rumah mereka.
Ketiganya keluar dari kelas dan melangkah di koridor menuju arah luar. Kevin memisah dengan Nino dan Raka, lantaran keduanya ke parkiran. Sementara Kevin memilih ke arah pos. Bertepatan mobil Alana yang sudah ada di sana, Alana melambai membuat senyum Kevin mengembang.
Lantas dia segera ke arah mobil sang mommy.
"Nyaman sekolah nya?" Tanya Alana sambil menjalankan mobilnya meninggalkan area sekolah Kevin.
"Nyaman mom. " Kevin pun menceritakan kegiatannya dan pertemanan nya antara Raka dan Nino. Alama senang Kevin dapat berbaur dengan anak lainnya. Tadi sempat kepikiran mengenai Kevin di sekolah.
Sebenarnya Alana ingin memasukan Kevin ke dalam lingkungan atas. Sekolah bertaraf internasional. Tapi ternyata papi, Rayan dan Kevin sudah berdiskusi. Di mana keputusan sekolah sekarang ini adalah real keinginan Kevin.
Ia mau berbaur dengan teman teman yang biasa saja.
"Kita makan di luar ya sayang, tante Miskin dan tante Lauren udah nunggu kita soalnya. "
"Kevin ngikut aja mom. " Alana melirik dan mengulas senyum.
Alana memang sudah janjian tadi akan bertemu dengan kedua sahabatnya itu. Wanita itu juga sudah meminta ijin pada Rayan. Dan pria itu membebaskan Alana dalam arti Alana harus memberitahu nya.
Tiba di resto Alana dan Kevin keluar bersamaan. Wanita menggandeng tangan putra nya. Kevin sama sekali tak menolak. Keduanya melangkah masuk, Alana sambil mencoba menghubungi Lauren dan menanyakan di mana keberadaan mereka.
Sementara tak jauh dari Alana dan Kevin saat ini, ada seseorang yang tak sengaja melihat nya.
"Ala." Lirih nya