seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26: Melampaui Batas Langit dan Bumi
Lampu-lampu lobi Mahesa Group memantul pada lantai marmer yang mengilap, menciptakan bayangan panjang saat jarum jam dinding besar di sana nyaris menyentuh angka yang kini menghantui pikiran Dave: 13:30 adalah pengingat tentang waktu-waktu suci yang dijalani Shafira. Hujan di luar jendela kaca berukuran raksasa itu turun dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan Jakarta, namun di dalam sini, suasana terasa begitu sunyi dan hangat. Dave berdiri di dekat pilar besar, tangannya menggenggam sebuah kotak kayu kecil berukir yang ia klaim sebagai titipan Pak Rahman.
Shafira muncul dari arah lift, langkahnya anggun namun tetap menyimpan kewaspadaan yang selalu ia miliki di sekitar Dave. Jilbabnya yang berwarna abu-abu lembut tampak senada dengan suasana hujan di luar. Ia berhenti tepat tiga langkah di depan Dave—sebuah jarak yang kini Dave pahami bukan sekadar spasi fisik, melainkan garis kehormatan yang tidak boleh ia langgar tanpa izin Sang Pencipta.
"Ini titipan Ayah, Pak?" tanya Shafira lembut, matanya menatap kotak kayu itu dengan penuh tanya.
Dave tidak langsung menjawab. Ia menatap Shafira dengan intensitas yang sanggup membuat jantung wanita manapun berhenti berdetak. Namun Shafira hanya menunduk, menatap ujung sepatunya. "Ini adalah buku harian Ayahmu yang sempat tertinggal di gudang belakang rumah lama. Aku menemukannya saat memerintahkan tim untuk merapikan aset. Dan di dalamnya... ada sesuatu yang kurasa kau harus tahu."
Dave menyerahkan kotak itu. Saat jemari mereka nyaris bersentuhan, Shafira dengan cekatan menerima kotak tersebut, menghindari kontak kulit sesedikit mungkin. Dave merasakan desiran aneh di dadanya—sebuah rasa lapar akan kedekatan yang selama ini selalu ia puaskan dengan nafsu, namun kali ini, penolakan halus Shafira justru membuatnya merasa lebih hidup. Ia merasa sedang mengejar sesuatu yang suci, bukan sekadar memiliki objek keinginan.
"Pak Dave," Shafira membuka kotak itu dan menemukan sebuah tasbih kayu tua dan beberapa lembar catatan bibit tanaman. "Terima kasih. Ini sangat berarti bagi saya. Tapi saya tahu... Bapak tidak hanya ingin memberikan ini."
Dave tersenyum pahit, ia bersandar pada pilar, membiarkan profil wajahnya yang tegas terlihat di bawah temaram lampu lobi. "Kau terlalu pintar untuk kubohongi, Shafira. Aku ingin memastikan kau sampai di rumah sakit dengan aman. Pak Wijaya... dia mulai bergerak di luar kendaliku. Dan aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kau atau keluargamu tergores sedikit saja karena perang ini."
"Bapak tidak bisa terus-menerus menjadi pelindung saya, Pak," sahut Shafira, suaranya naik satu oktaf karena emosi. "Dunia kita berbeda. Bapak memiliki menara ini, dan saya hanya memiliki doa. Bapak berjuang dengan kekuasaan, sementara saya berjuang dengan kepasrahan. Jika Bapak terus mengejar saya, Bapak hanya akan kelelahan melawan prinsip yang saya pegang."
Dave melangkah maju satu langkah, memperkecil jarak. Aroma kayu manis dan hujan menguar dari tubuhnya. "Lalu katakan padaku, Shafira, bagaimana caranya seorang pria sepertiku—yang seluruh hidupnya dididik untuk menang dan mendapatkan apa yang ia inginkan—bisa menyerah pada wanita yang bahkan tidak mau menatap matanya? Aku sedang melakukan perjuangan yang tidak pernah kuajarkan di sekolah bisnis manapun. Aku sedang belajar cara mencintai tanpa memiliki, cara menjaga tanpa menyentuh. Apakah itu belum cukup?"
Shafira mendongak, matanya yang berkaca-kaca kini bertemu dengan mata elang Dave yang mulai melunak. "Itu belum cukup jika Bapak melakukannya hanya untuk saya. Lakukanlah itu untuk Tuhan Bapak. Karena jika Bapak hanya berubah demi saya, saat saya mengecewakan Bapak, Bapak akan kembali menjadi monster yang dulu. Tapi jika Bapak berubah demi Dia, Bapak akan tetap menjadi orang baik, ada atau tidak adanya saya di samping Bapak."
Kata-kata itu menghantam ulu hati Dave. Ia terdiam cukup lama, hanya suara rintik hujan yang mengisi kekosongan di antara mereka. Di luar, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap melintas perlahan di depan lobi. Mata Dave yang tajam menangkap kilasan Pak Wijaya di dalam sana. Ancaman itu nyata, namun di depan Shafira, Dave harus tetap menjadi pelabuhan yang tenang.
"Mari, aku antar," ujar Dave, kali ini tanpa nada memerintah. Ia membukakan payung hitam besar dan berdiri di sisi luar, membiarkan bahu kirinya basah kuyup terkena percikan air hujan demi memastikan Shafira tetap kering sepenuhnya di bawah payung itu.
Di dalam mobil mewah yang kedap suara, perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat panjang. Dave mengemudi sendiri, memulangkan sopirnya karena ia butuh momen ini hanya berdua dengan Shafira. Lagu instrumental klasik berputar pelan di latar belakang. Dave melirik Shafira dari kaca spion tengah. Wanita itu sedang menggenggam tasbih kayu milik ayahnya, bibirnya bergerak-gerak pelan—ia sedang berzikir.
Dave merasa ada tembok transparan yang begitu tebal di antara mereka. Ia adalah penguasa ekonomi, namun di depan Shafira yang sedang berzikir, ia merasa seperti rakyat jelata yang tidak memiliki apa-apa. Ia merasa cemburu pada Tuhan yang bisa mendapatkan perhatian Shafira sedalam itu.
"Apa yang kau bicarakan dengan-Nya?" tanya Dave tiba-tiba.
Shafira menghentikan gerakan jemarinya di atas butiran tasbih. "Saya meminta agar hati Bapak dilapangkan. Agar setiap langkah Bapak dilindungi, bukan karena jabatan Bapak, tapi karena kebaikan yang baru saja Bapak tanam."
"Kau mendoakan musuhmu?" Dave terkekeh pelan, namun ada nada haru dalam suaranya.
"Bapak bukan musuh saya, Pak Dave. Bapak adalah ujian saya," jawab Shafira telak.
Dave menghentikan mobilnya di lampu merah. Ia menatap Shafira dengan tatapan yang sangat emosional. "Lalu, apakah aku lulus ujian itu? Aku sudah membuang egoku, Shafira. Aku sudah membersihkan kantor dari orang-orang Mama. Aku menghabiskan malam-malamku dengan membaca kitab yang kau taruh di mejaku. Aku bahkan mulai mencoba... mencoba untuk bersujud, meski aku merasa sangat kotor untuk melakukan itu."
Shafira tertegun. Ia tidak menyangka Dave akan sejauh itu. Perjuangan Dave yang gigih untuk menyeimbangkan dunianya yang gelap dengan cahaya yang ia bawa benar-benar membuat dinding pertahanan Shafira retak. "Bapak tidak pernah terlalu kotor untuk bersujud, Pak Dave. Justru sujud adalah cara terbaik untuk mencuci diri."
Tiba-tiba, sebuah truk besar di depan mereka mengerem mendadak. Dave dengan refleks yang luar biasa membanting setir ke kiri untuk menghindari tabrakan, sambil tangan kirinya secara naluriah terentang di depan tubuh Shafira untuk melindunginya agar tidak terbentur dasbor—namun ia tidak menyentuh kulit Shafira sama sekali, ia hanya menahan udara di depan wanita itu. Mobil berhenti dengan guncangan hebat di bahu jalan.
Napas mereka memburu. Wajah Dave hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Shafira. Dalam keremangan cahaya lampu jalan, Dave bisa melihat ketakutan di mata Shafira, namun juga ada rasa aman yang baru muncul. Dave merasakan dorongan kuat untuk merengkuh wanita itu, untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, ia teringat kata-kata Shafira tentang kehormatan. Dengan perlahan, Dave menarik kembali tangannya dan kembali memegang kemudi.
"Kau tidak apa-apa?" suara Dave bergetar.
Shafira mengangguk, ia menyadari perjuangan Dave barusan—refleks untuk melindunginya namun tetap menghormati batasan fisiknya adalah bukti cinta paling elegan yang pernah ia terima. "Saya tidak apa-apa, Pak Dave. Terima kasih."
"Aku akan menghancurkan Wijaya besok pagi," desis Dave, amarahnya meluap karena nyawa Shafira sempat terancam. "Dia sengaja melakukan itu. Dia ingin mengirim pesan padaku bahwa dia bisa menyentuhmu kapan saja."
"Jangan membalas dengan amarah, Pak. Itu yang dia inginkan," Shafira meletakkan tangannya di atas kotak kayu pemberian Dave, memberikan kekuatan lewat kata-kata. "Bapak sudah berada di jalur yang benar. Tetaplah di sana. Jika Bapak jatuh ke dalam cara-cara kotor mereka, maka perjuangan Bapak untuk mendapatkan hati saya akan sia-sia. Karena pria yang saya cintai tidak akan menggunakan darah untuk memenangkan perang."
Pria yang saya cintai. Kalimat itu bergema di telinga Dave seperti simfoni yang paling indah. Meskipun Shafira mengatakannya dalam bentuk pengandaian, bagi Dave itu adalah lampu hijau yang selama ini ia cari. Ia memacu mobilnya kembali dengan semangat baru.
Sesampainya di rumah sakit, Dave turun dan membukakan pintu untuk Shafira. Ia berdiri tegak di bawah hujan, membiarkan tubuhnya basah kuyup sementara ia memayungi Shafira hingga ke pintu masuk. Di sana, sebelum Shafira masuk, Dave berkata dengan nada rendah yang penuh komitmen.
"Shafira, besok adalah rapat dewan komisaris terakhir. Aku mungkin akan kehilangan segalanya jika rencana Wijaya berhasil. Aku mungkin bukan lagi CEO Mahesa Group saat matahari terbenam esok. Apakah kau masih akan menungguku di lobi pada pukul 13:30?"
Shafira menatap Dave lama, lalu ia tersenyum untuk pertama kalinya dengan senyum yang mencapai matanya. "Saya tidak pernah menunggu CEO, Pak Dave. Saya menunggu seorang pria bernama Dave Mahesa yang berjanji untuk belajar tentang keikhlasan. Dan pria itu... selalu saya tunggu di setiap detak waktu saya."
Shafira masuk ke dalam rumah sakit, meninggalkan Dave yang berdiri terpaku di bawah hujan deras. Dave tersenyum lebar, ia merasa lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak takut kehilangan takhtanya, karena ia baru saja memenangkan sesuatu yang jauh lebih abadi: sebuah rasa hormat yang tumbuh dari benih cinta yang suci. Namun, di kejauhan, Pak Wijaya memperhatikan dari balik teropong di dalam mobil hitamnya. Ia tahu, ia harus melakukan sesuatu yang lebih drastis daripada sekadar kecelakaan mobil. Ia harus menyerang titik paling lemah Shafira: Farhan, adik Shafira yang baru saja pulang dari sekolah.
Intrik percintaan mereka kini dibayang-bayangi oleh bahaya yang mengintai orang-orang yang mereka cintai. Dave harus berpacu dengan waktu sebelum jam menunjukkan pukul 13:30 esok hari, atau ia akan kehilangan kesempatan untuk selamanya.
.