NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:58.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Begitu motor Alvar berhenti di halaman puskesmas, beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka. Bisik-bisik muncul hampir bersamaan.

“Itu istrinya Mas Alvar ya?”

“Cantik juga…”

“Kirain Mas Alvar datang sendiri lagi gara-gara Dokter Hesti.”

Kiara melangkah turun dari motor dengan sikap tenang. Tidak berlebihan, tidak menantang. Alvar berdiri di sampingnya, lalu berjalan masuk bersama.

Di dalam, seorang perawat buru-buru mendekat.

“Mas Alvar, Dokter Hesti,” ucapnya tergesa. “Pasien bersalin sudah pembukaan enam, tapi kondisi ibunya lemah.”

Wajah Dokter Hesti langsung berubah fokus.

“Kita ke ruang bersalin sekarang.”

Ia refleks melangkah lebih dulu dan seperti kebiasaan lama tangannya hampir meraih lengan Alvar. Namun, sebelum sentuhan itu terjadi, Alvar bergeser setengah langkah ke samping.

Alvar berbalik, bukan ke Hesti, melainkan ke Kiara.

“Kamu tunggu di ruang tunggu ya,” katanya lembut namun tegas.

“Aku selesaikan dulu di dalam.”

Kiara mengangguk, tidak bertanya, tidak menahan.

“Semangat, Mas. Lakukan yang terbaik.”

Satu kalimat sederhana. Namun, cukup untuk membuat Alvar menatapnya lebih lama dari yang ia sadari. Beberapa perawat saling pandang.

“Mas Alvar … barusan—”

“Iya ya?”

“Dia sengaja menghindar…”

Bisik-bisik makin pelan, makin hati-hati.

Hesti melangkah lebih dulu menuju ruang bersalin, Alvar menyusul di belakangnya, menjaga jarak yang tak biasa bagi mereka yang dulu selalu berjalan berdampingan.

Ruang bersalin itu dingin. Bau antiseptik bercampur keringat dan napas berat seorang ibu yang sedang berjuang.

“Tarik napas, Bu … dorong pelan-pelan,” suara bidan terdengar tegang namun terlatih.

Dokter Hesti berdiri di sisi ranjang. Sarung tangan sudah terpasang, wajahnya tampak fokus dan setidaknya dari luar.

Alvar berdiri sedikit di belakang, bukan di posisi utama. Ia sengaja menjaga jarak, hanya mengamati, siap membantu jika diminta.

“Tekanan darah turun,” lapor perawat.

Hesti mengangguk cepat. “Oksigen tambah dan siapkan infus.”

Tangannya bergerak cekatan, namun matanya tanpa sadar melirik ke arah Alvar.

“Mas Alvar,” panggil Hesti singkat. “Tolong … lihat ini sebentar.”

Alvar melangkah maju setengah langkah. Menatap monitor, bukan Hesti.

“Kontraksi masih belum optimal. Tapi masih aman. Kita bisa lanjutkan normal.”

Jawabannya datar dan profesional. Tanpa nada personal yang dulu selalu ada. Hesti menelan ludah.

“Kalau kamu yang pegang—” Kalimat itu hampir lolos dari bibirnya dan dia berhenti sendiri.

Perawat menoleh, heran.

Hesti menghela napas, lalu menggeleng kecil. “Maksud saya ... saya yang pegang.”

Tangannya sedikit gemetar saat kembali ke posisi. Ia cepat-cepat menyembunyikannya dengan mengatur alat.

“Dok, pasiennya panik,” ujar bidan lagi.

“Aku tahu,” sahut Hesti lebih keras dari biasanya.

Ibu di ranjang meringis, menangis kecil.

“Dok … aku takut…”

Hesti mendekat. “Dengar saya. Kamu kuat, jangan teriak, simpan tenaganya.”

Alvar langsung bicara, suaranya rendah tapi menenangkan.

“Bu, fokus ke napas saya. Tarik … buang pelan. Kamu tidak sendirian.”

Ibu itu mengikuti dan tangisnya mereda sedikit. Hesti membeku sepersekian detik, dia melihat sesuatu yang menyakitkan Alvar selalu seperti itu. Tenang, membumi dan membuat orang merasa aman, dan dulu suara itu untuknya.

“Kamu nggak perlu ikut campur,” ucap Hesti cepat, nyaris seperti bentakan kecil.

Ruangan mendadak sunyi. Alvar menatapnya, bukan marah, dan bukan tersinggung.

“Aku tidak ikut campur,” katanya pelan.

“Aku hanya membantu pasien, itu saja.”

Kata saja itu menusuk lebih dalam dari yang Hesti duga. Ia memalingkan wajah. Mengatur ulang emosinya dengan napas pendek.

“Tolong siapkan kain, kita lanjut.”

Ia memejamkan mata sesaat lalu memaksa diri berdiri tegak.

“Dorong sekarang, Bu. Sekarang.”

Profesionalisme masih ada, tapi retaknya sudah terlihat.

Napas ibu itu tersengal, keringat membasahi pelipisnya.

“Dorong … sekarang, Bu,” perintah Hesti.

Bidan mengangguk, perawat bersiap. Alvar berdiri di sisi monitor, matanya fokus, bukan pada Hesti, tapi pada grafik dan warna wajah pasien.

“Kontraksinya kuat, Dok,” ujar bidan.

Hesti mengangguk cepat. Tangannya bergerak refleks mengambil alat, dan di situlah Alvar menyadari sesuatu.

“Hesti,” panggil Alvar. Suaranya rendah, tegas.

Hesti tak menoleh. “Sedikit lagi, kita percepat.”

Alvar melangkah setengah langkah lebih dekat.

“Belum, kepala belum turun sempurna. Kalau dipaksa sekarang—”

“Alvar.” Nada Hesti naik, bukan marah, tapi tertekan.

“Aku tahu yang aku lakukan.”

Alvar menatap perineum pasien, lalu monitor lagi. Wajah ibu itu memucat.

“Tekanan darahnya turun,” lapor perawat.

“Hesti,” ucap Alvar sekali lagi. Kali ini tidak meminta.

“Berhenti sebentar. Dua napas lagi. Kalau lanjut sekarang, risikonya robekan parah.”

Ruangan hening, Hesti akhirnya menoleh

Tatapan mereka bertemu untuk sesaat, bukan dua dokter yang saling bekerja. Tapi dua orang dengan sejarah panjang yang kini berdiri di titik berbeda.

Hesti menggertakkan rahang, egonya ingin menolak dan perasaannya ingin menang. Namun, profesionalismenya masih hidup.

“Dua napas,” katanya akhirnya, pada bidan.

Bidan mengatur ulang instruksi. Ibu itu bernapas, gemetar, tapi mengikuti.

kontraksi berikutnya datang lebih stabil, posisi bayi membaik.

“Sekarang,” kata Alvar pelan.

Hesti mengangguk, proses berlangsung cepat setelah itu. Tangisan bayi memecah ruangan.

“Bayinya sehat, Dok.” Bahu semua orang sedikit mengendur.

Hesti berdiri kaku, sarung tangannya dilepas perlahan.

“Terima kasih,” ucap bidan pada Hesti. Lalu, dengan tulus menoleh ke Alvar, “Dan terima kasih juga, Mas Alvar.”

Di lorong pukesmas, setelah semuanya selesai. Alvar mencuci tangan, gerakannya tenang, rapi, tanpa tergesa.

Hesti berdiri di dekat pintu, ragu.

“Alvar,” panggilnya.

Alvar menoleh. “Iya,"

Hesti menelan ludah.

“Aku hampir—”

“Aku tahu,” potong Alvar, lembut tapi tegas.

“Dan kamu berhenti. Itu yang penting.”

Hesti menatapnya. “Kalau tadi aku keras kepala—”

“Pasiennya bisa cedera,” lanjut Alvar.

“Tapi kamu memilih berhenti. Itu keputusan dokter, bukan seseorang yang eglis.”

Hesti tersenyum pahit.

“Kamu berubah.”

Alvar menggeleng pelan.

“Bukan. Aku hanya tahu sekarang … ke mana aku harus berpihak.”

Ia melangkah pergi, dan tidak menoleh lagi.

Di ruang tunggu, Kiara bangkit begitu melihat Alvar keluar.

“Gimana?”

Alvar tersenyum tipis,

“Selamat, ibu dan bayinya sehat.”

Kiara menghela napas lega.

“Syukurlah.”

Alvar menatapnya beberapa detik, lalu berkata, pelan tapi pasti,

“Terima kasih sudah percaya sama aku.”

Kiara tersenyum kecil.

“Aku mau lihat bayinya,” ucap Kiara pelan.

Alvar menoleh. “Sekarang?”

“Iya, sebentar saja. Dari jauh juga nggak apa-apa.”

Alvar mengangguk dan hendak mengantar, namun langkah mereka terhenti.

“Tidak bisa.” Hesti berdiri di depan pintu ruang perawatan bayi. Wajahnya kembali profesional dan terlalu kaku untuk disebut wajar.

“Orang luar tidak diperbolehkan masuk,” lanjutnya dingin.

Kiara menatapnya, tenang. Tidak tersinggung dan tidak terpancing.

“Aku nggak akan menyentuh. Aku cuma ingin melihat. Itu bayi yang baru lahir … aku ingin ikut bahagia.”

“Peraturannya tetap peraturan,” potong Hesti cepat.

Alvar mengerutkan dahi. “Hesti—”

“Ini area steril,” sela Hesti, sedikit lebih keras.

“Maaf, Kiara.” Ada sesuatu di nada itu.

Kiara mengangguk pelan. “Kalau memang tidak boleh—”

“Eh, Mas Alvar?” Seorang bidan yang tadi membantu persalinan keluar sambil tersenyum.

“Oh, ini istrinya ya?”

Kiara tersenyum sopan. “Iya, Bu.”

Bidan itu menatap Hesti sebentar, lalu kembali ke Kiara.

“Nggak apa-apa kok, Mbak. Asal pakai baju steril dan cuma lihat sebentar. Toh tadi Mas Alvar juga ikut bantu.”

Hesti terdiam.

“Pasiennya juga bilang, ingin istrinya dokter yang tadi lihat bayinya,” tambah bidan itu ringan, tanpa tahu badai kecil yang baru saja ia timbulkan.

Kiara menoleh ke Hesti, sopan.

“Hanya sebentar, Dok.”

Hesti menahan napas.

“Silakan,” katanya akhirnya, nada itu dipaksa keluar.

Bidan langsung menyerahkan baju steril pada Kiara.

“Pakai ini ya, Mbak.”

Kiara menurut, saat melewati Hesti, langkahnya mantap.

Di balik kaca inkubator, bayi itu tertidur pulas. Wajahnya merah muda, kecil, dan rapuh.

Kiara terdiam.

“Cantik sekali…” bisiknya.

Tangannya refleks terangkat, berhenti di udara dan tak berani menyentuh.

Matanya berkaca-kaca.

“Kecil sekali,” ucapnya lirih, seperti takut mengganggu dunia baru di depannya.

Alvar berdiri di sampingnya.

“Terima kasih,” kata Kiara pada bidan itu. “Dan … terima kasih juga, Mas.”

Alvar hanya mengangguk, tapi dadanya terasa hangat dengan cara yang aneh.

Di luar kaca, Hesti memperhatikan mereka. Namun, jarak di antara Alvar dan Kiara terasa lebih dekat daripada apa pun yang pernah ia miliki dulu.

1
Lilis Yuanita
aduh keringetan😄😄
Gadis misterius
Ini nanti darius yg jd duri liht dech krn klu setiap hr bertmu bklan ada rs nyaman
Eva Karmita
orang yang kalem ternyata bisa agresif juga ya 😅😅
biby
POV alvar : siapa sih.. ganggu aja, g tau apa org lg berusaha baikan
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng
Aisyah Alfatih: sabar ya kak 🤭 kasih bonus deh nanti bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta juga cemburu ahir nya keluar dri hti alvar yg berahir dgn ciuman yg mungkin awal dri kebahagiaan kalian ,
Ika Wahyuni
wah itu pasti mamanya Kiara yg datang disaat tidak tepat 🤭
iza
up lgi thor
Naufal Affiq
dengar kan omongan orang tua mu kiara,jangan dengar cakap orang belum tentu benar
Nar Sih
hamil di luar nikah kok bangga ,🤣
Naufal Affiq
kau tau lala,pembantu lebuh tinggi lagi di banding kan kau,yang gak ada harga diri,yang hamil di luar nikah,bangga banget kamu,gaya manusia gak berpendidikan kalau ngomong
Teh Euis Tea
yeyyy nganggu aj deh yg ketuk pintu🤭
Ariany Sudjana
betul kata ibumu Kyara, kalau kamu bercerai dengan dokter Alvar, dimana lagi kamu akan menemukan suami seperti dokter Alvar? sudahlah lupakan semua masa lalu kalian, mulai dengan lembaran baru, dan jangan kasih celah buat Darius masuk Kyara, juga Hesty jufa jangan pak dokter Alvar
Wiwi Sukaesih
ahh ganggu aj sgla ad iklan ngetok pintu🤭
Resa05
up kayak gini terus yah min
dyah EkaPratiwi
maaf ya pak dr diganggu sebentar
iqha_24
Ternyata Alvar agresif juga, kira orangnya pendiam malu2 🤭
Lilis Yuanita
mmh...🤭🤭
Cindy
lanjut
Erna Waq
lanjut...
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart//Rose//Rose//Rose/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!