NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Esmeralda Aramoa memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh subjek bernama AL. Namun, fasilitas penelitian itu hancur dan AL menghilang. Suatu ketika Di tengah hutan sunyi, predator itu kembali—lebih besar, lebih buas, dan siap merobek leher Esme.Saat kuku tajam mulai menggores nadinya, dalam keputusasaan maut, Esme meneriakkan kebohongan gila: "Berhenti! Aku adalah istrimu!"

Apakah predator haus darah itu akan percaya begitu saja?
Siapa sebenarnya sosok AL sebelum ingatannya terhapus paksa?
Apakah kebohongan ini akan menjadi pelindung atau justru jebakan mematikan saat insting liar AL mulai menuntut haknya sebagai seorang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Eksperimen Mencuci

Minggu kedua kehidupan baru mereka dimulai dengan sebuah tantangan besar yang menurut Esmeralda Aramoa lebih sulit daripada membedah struktur DNA serigala purba: yaitu mengajari Aleksander cara mencuci baju. Esme menyadari bahwa stok pakaian di rumahnya mulai menipis karena AL sering kali tidak sengaja merobek kaosnya hanya karena ia mencoba meregangkan tubuh atau bersin terlalu keras. Otot-otot pria itu benar-benar tidak berkompromi dengan kain katun murah.

Pagi itu, Esme membawa sebuah ember besar berisi air sabun ke halaman belakang yang tertutup pagar tinggi. AL berdiri di sampingnya, menatap gumpalan busa putih itu dengan mata kuning yang penuh selidik.

"Aleksander, perhatikan Moa. Ini namanya mencuci. Kau ambil baju ini, masukkan ke air, lalu dikucek seperti ini," ucap Esme sambil memperagakan gerakan mencuci yang enerjik. "Lakukan dengan lembut, jangan pakai tenaga raksasamu itu."

AL mengangguk dengan wajah sangat serius, seolah dia sedang menerima instruksi militer yang sangat krusial. Dia mengambil salah satu kemeja kerja Esme yang terkena noda tanah. Dia memasukkannya ke dalam air, lalu mulai menguceknya.

"Srtakk!"

Suara kain robek terdengar sangat jelas. Esme melongo melihat kemeja kesayangannya kini terbelah menjadi dua di tangan AL.

"Moa... kainnya menyerah," ucap AL dengan ekspresi polos tanpa dosa. Dia menatap potongan kain itu dengan bingung. "Aku sudah pelan-pelan, tapi sepertinya air ini membuat kainnya jadi penakut."

Esme memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Bukan kainnya yang penakut, Aleksander! Tenagamu itu yang berlebihan! Kau ini sedang mencuci baju, bukan sedang meremas leher musuh! Coba lagi dengan kaosmu sendiri, dan kali ini, bayangkan kau sedang menyentuh sayap kupu-kupu yang sangat rapuh."

AL mencoba lagi. Dia mengambil kaos hitamnya, memasukkannya ke busa, dan kali ini dia bergerak sangat lambat hingga terlihat seperti robot yang kehabisan baterai. Namun, perhatiannya tiba-tiba teralih pada tumpukan busa yang semakin banyak karena ia terus mengaduk air.

"Moa! Lihat! Awan putihnya keluar dari air!" seru AL dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang baru melihat salju. Dia mengambil segenggam busa sabun dan meletakkannya di atas kepalanya. "Sekarang aku punya rambut putih."

Esme tidak tahan untuk tidak tertawa melihat pria berotot seratus sembilan puluh sentimeter itu berdiri dengan gumpalan busa sabun di atas kepalanya yang baru saja dipotong rapi. "Astaga, Aleksander! Itu sabun, bukan topi! Nanti matamu perih!"

"Tapi ini lucu, Moa. Kau juga harus pakai," ucap AL dengan senyum lebar yang memperlihatkan taring kecilnya. Sebelum Esme sempat menghindar, AL sudah menempelkan segumpal busa ke hidung Esme.

"HEI! Aleksander! Berhenti bermain-main!" teriak Esme sambil berusaha menghapus busa di wajahnya. Namun, ia malah terpeleset lantai yang licin karena air sabun yang tumpah.

"Waaa!"

Esme jatuh terjengkang, namun dengan refleks predatornya, AL menangkap pinggang Esme sebelum wanita itu menyentuh tanah. Posisi mereka kembali menjadi sangat dekat. AL memegang Esme dengan satu tangan kuatnya, sementara tangan lainnya masih penuh busa. Esme menatap wajah AL yang kini berjarak hanya beberapa senti. Wajah pria itu terlihat sangat tampan saat sedang tertawa kecil, sebuah pemandangan yang jarang Esme lihat saat di laboratorium dulu.

"Moa sangat ceroboh. Untung ada suami hebat di sini," bisik AL dengan nada yang terdengar seperti sedang menggoda, meskipun ia sendiri mungkin tidak tahu apa itu menggoda.

Wajah Esme memerah padam. "L-lepaskan! Dan berhenti menyebut dirimu suami hebat! Kau bahkan belum bisa mencuci satu baju pun tanpa merobeknya!"

"Tapi aku bisa menjagamu agar tidak jatuh. Bukankah itu tugas suami?" tanya AL sambil menegakkan tubuh Esme kembali.

Esme ngebatin dengan frustrasi, "Ya Tuhan, kenapa dia jadi sangat manis dan menyebalkan di saat yang bersamaan? Aku tidak boleh baper, dia itu eksperimen! Dia itu predator yang bisa memutuskan kepalaku kalau dia tahu aku berbohong!"

Setelah bencana mencuci baju itu selesai—yang berakhir dengan tiga baju robek dan halaman belakang penuh busa—Esme mengajak AL masuk ke dalam untuk makan siang. Kali ini Esme mencoba mengajari AL cara menggunakan garpu.

"Ini namanya garpu, Aleksander. Gunanya untuk menusuk makanan, bukan untuk mencungkil gigi!" Esme memberikan garpu perak kepada AL.

AL memegang garpu itu seperti memegang tombak. Dia mencoba menusuk sepotong daging sapi, namun karena terlalu bersemangat, garpu itu malah menembus daging, menembus piring keramik, dan menancap di meja kayu.

"Braakk!"

"Moa... garpunya masuk ke dalam kayu," ucap AL sambil mencoba menarik garpu itu kembali dengan wajah yang sangat menyesal.

Esme hanya bisa menyandarkan kepalanya di meja makan dengan pasrah. Ocan si kucing oranye mengeong keras seolah sedang menertawakan piring majikannya yang bolong. "Besok... besok kita makan pakai tangan saja, Aleksander. Aku tidak mau kehabisan piring dan meja sebelum akhir bulan."

"Maaf, Moa. Aku merasa benda-benda di sini sangat lemah. Kenapa manusia membuat benda yang mudah hancur?" tanya AL dengan tulus.

"Karena manusia normal tidak punya tenaga untuk merobek baja dengan tangan kosong, Aleksander!" sahut Esme ketus. "Sudahlah, makan saja dagingmu itu. Dan jangan coba-coba menjilat meja!"

-----

Sore harinya, saat mereka sedang duduk di teras sambil menikmati angin pegunungan, AL tiba-tiba bertanya sesuatu yang membuat Esme hampir tersedak tehnya.

"Moa, kalau kita sudah menikah, kenapa kita tidurnya berpisah? Kau di kamar atas yang empuk, dan aku di lantai bawah yang berbau debu? Di hutan, aku rasa pasangan selalu tidur saling menumpuk agar hangat."

Esme terbatuk-batuk hebat. "Itu... itu karena kau masih dalam masa penyembuhan! Kau sering bergerak-gerak liar saat tidur, aku takut kau tidak sengaja menendangku sampai ke bukit sebelah! Manusia yang sedang sakit harus punya ruang privasi sendiri!"

AL mengerutkan keningnya, tidak terlalu puas dengan jawaban itu. "Tapi aku ingin menjagamu. Kalau ada monster yang datang saat kau tidur, aku tidak bisa mendengarnya dari bawah."

"Tidak ada monster yang lebih menakutkan darimu di bukit ini, Aleksander!" batin Esme pedas. Namun ia tersenyum manis dan berkata, "Percayalah padaku, ini demi kesehatanmu. Nanti kalau kau sudah benar-benar sembuh dan tidak lagi menggeram pada bayanganmu sendiri, kita akan bicarakan lagi soal posisi tidur."

AL akhirnya mengangguk patuh, meski dia tetap menatap tangga menuju kamar Esme dengan pandangan yang sulit diartikan. Di mata AL, Moa adalah pusat gravitasinya. Dia tidak tahu apa itu masa lalu, dia tidak tahu apa itu penelitian, dia hanya tahu bahwa wanita kecil yang sering marah-marah ini adalah miliknya, dan dia harus belajar menjadi "manusia" sebaik mungkin agar Moa tidak membuangnya kembali ke kegelapan hutan yang dingin.

Esme menatap AL yang kini sedang asyik mencoba berbicara dengan Ocan menggunakan bahasa geraman pelan. Ia menyadari satu hal: hidupnya saat ini adalah sebuah komedi tragis yang sangat manis. Dia sedang jatuh cinta—atau mungkin hanya sangat peduli—pada makhluk yang seharusnya ia takuti.

"Satu hari lagi, Esme... kau berhasil melewati satu hari lagi tanpa ada yang tewas," bisiknya sambil tersenyum tipis melihat AL yang kini sedang dikejar oleh Ocan karena mencoba menarik ekor kucing itu.

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!