NovelToon NovelToon
Diamonds & Deception

Diamonds & Deception

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."

Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.

Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mansion Serena

Serena akhirnya menyerah. Daripada membiarkan deru mesin Bugatti itu membangunkan seluruh tetangga elitnya atau membuat skandal baru di depan gerbang, ia menekan tombol interkom dan memerintahkan penjaga gerbang untuk membiarkan Nicholas masuk.

Hanya butuh beberapa menit bagi Nicholas untuk mencapai lantai atas. Pria itu tidak membutuhkan pemandu, ia melangkah dengan langkah lebar dan pasti, melewati lorong-lorong megah yang dihiasi lukisan klasik, hingga akhirnya ia membuka pintu kamar Serena.

Nicholas berdiri di ambang pintu, napasnya memburu. Matanya yang sipit berkilat tajam saat menangkap sosok Serena yang masih mengenakan gaun transparan tersebut, berdiri di dekat jendela besar dengan sisa kemarahan di wajahnya.

"Apa maksudmu, Nick?! Masuk ke rumahku seperti pencuri!" teriak Serena, mencoba menutupi kegugupannya dengan suara yang meninggi.

Nicholas tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia melangkah maju, menutup pintu di belakangnya dengan bantingan keras, lalu mendekati Serena hingga jarak di antara mereka hilang. Ia meraih pergelangan tangan Serena, mengangkat ponsel wanita itu yang tergeletak di meja.

"Hapus foto itu, Serena," desis Nicholas, suaranya rendah dan serak, penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Sekarang."

"Tidak! Aku tidak akan menghapusnya hanya karena kau cemburu!"

"Cemburu?" Nicholas tertawa pahit, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Serena. "Ini bukan sekadar cemburu. Apa kau benar-benar ingin ribuan pria asing di luar sana melihat siluet tubuhmu? Apa kau begitu haus akan pujian hingga kau membiarkan mereka membayangkan apa yang dulu menjadi milikku sepenuhnya? Tubuh ini, Serena... setiap inci kulit ini, aku yang pertama kali mengenalnya. Aku tidak akan membiarkan mereka berbagi apa yang seharusnya tetap menjadi rahasiaku."

Serena mendorong dada Nicholas dengan sisa tenaganya, meskipun hatinya bergetar karena kedekatan mereka. Aroma whiskey dan parfum wood-sage milik Nicholas seolah membius logikanya.

"Milikmu?!" Serena berteriak di depan wajah Nicholas, matanya berkaca-kaca karena rasa sakit yang kembali muncul. "Kau kehilangan hak itu saat kau memilih kamera daripada permintaanku tujuh tahun lalu, Nicholas! Kau yang membuatku menjadi milik publik saat kau memberikan bibirmu pada setiap wanita di layar kaca! Jadi jangan datang ke sini dan berakting seolah-olah kau masih memilikiku!"

"Pergi, Nick! Pergi dari kamarku, pergi dari hidupku! Aku membencimu... aku benar-benar membencimu!"

Serena memukul dada Nicholas berkali-kali, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun. Nicholas justru menangkap kedua tangan Serena, menguncinya di atas kepala Serena dan menekannya ke dinding dingin di samping jendela.

"Kau boleh membenciku sesukamu, Serena," bisik Nicholas, bibirnya kini nyaris menyentuh telinga Serena. "Kau boleh memaki Caleb, kau boleh memamerkan tubuhmu pada dunia. Tapi kita berdua tahu, tidak ada satu pun pria di kolom komentar itu yang tahu bagaimana cara membuatmu mendesah hanya dengan satu sentuhan di belakang telingamu. Tidak ada yang tahu rahasia kecilmu selain aku."

Nicholas menundukkan kepalanya, menghirup dalam-dalam aroma lavender yang menguar dari leher Serena, aroma yang sama yang ia kirimkan dalam pesan singkat tadi. "Hapus fotonya, atau aku akan membuktikan padamu malam ini juga bahwa bocah lima tahun ini adalah satu-satunya yang bisa mengendalikanmu."

Suasana kamar yang tadinya dipenuhi ketegangan panas mendadak berubah menjadi emosional. Serena, yang selama ini membangun benteng keangkuhan setinggi langit, akhirnya runtuh. Air mata yang ia tahan sejak kedatangan Beatrice di lokasi syuting kini mengalir deras, membasahi pipinya yang kemerahan.

"Berapa banyak, Nick?" suara Serena pecah, terdengar serak dan penuh luka. "Berapa banyak bibir wanita lain yang sudah kau hisap hingga bengkak seperti itu di depan kamera 4K? Aku menonton semuanya, Nicholas! Aku melihat bagaimana kau menatap mereka, bagaimana kau menggunakan teknik yang dulu hanya kau gunakan padaku. Aku tidak yakin Caleb tidak terbangun saat kau melakukan adegan-adegan menjijikkan itu dengan mereka!"

Serena memukul bahu Nicholas dengan kepalan tangan kecilnya, meluapkan seluruh rasa cemburu yang selama tujuh tahun ini ia bungkus dengan kata benci.

Nicholas tidak menghindar. Ia justru melepaskan kuncian tangannya dan menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya yang kokoh. Ia membiarkan Serena memukulnya, membiarkan wanita itu menumpahkan seluruh amarahnya. "Kumohon, Serena... maafkan aku. Maafkan aku," bisik Nicholas parau, wajahnya terkubur di rambut harum Serena.

"Tidak! Jangan sentuh aku!" Serena meronta, namun Nicholas justru mempererat pelukannya, seolah takut jika ia melepasnya sedikit saja, Serena akan menghilang selamanya.

"Apa Caleb bahkan sudah merasakan kehangatan dari mereka? Aku mendengar banyak rumor, Nick. Lawan mainmu... mereka bilang mereka bahkan tidak bisa berjalan tegak setelah kau mencium mereka. Mereka bilang kau melakukannya lebih dari sekadar akting!"

Nicholas melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk memegang kedua pipi Serena agar wanita itu menatap tepat ke matanya yang kini memerah.

"Dengarkan aku, Serena Rousseau Mane," suara Nicholas terdengar dalam dan sangat tulus. "Demi Tuhan, tidak pernah. Caleb tidak pernah merasakan siapa pun selain kau. Kau pikir kenapa aku selalu memutuskan kekasih-kekasih cinlok-ku dalam waktu singkat? Karena mereka bukan kau. Teknik yang mereka bicarakan, bibir yang bengkak itu... itu hanya teknik fisik yang aku pelajari agar kamera mendapatkan gambar yang bagus. Tapi Caleb? Dia mati rasa, Serena. Dia hanya menegang untuk satu nama, dan itu adalah namamu sejak kita masih mengenakan seragam SMA."

Nicholas menghapus air mata di pipi Serena dengan ibu jarinya yang kasar.

"Rumah ku, mobil-mobil mewah itu, bahkan karierku... semuanya tidak ada artinya jika setiap malam kau hanya bisa membayangkan ku saat aku bersama wanita lain. Aku mengambil peran intim itu dulu karena aku bodoh dan ambisius, tapi aku bersumpah, tidak ada satu pun dari mereka yang pernah merasakan apa yang kau rasakan tujuh tahun lalu."

Serena menatap Nicholas dengan tatapan ragu, napasnya masih tersengal-sengal. "Kau bohong... kau hanya ingin merayuku agar aku menghapus foto itu."

"Aku tidak peduli lagi dengan foto itu," Nicholas menarik tangan Serena, menuntunnya ke arah dadanya yang berdetak sangat kencang. "Kau bisa mengunggah foto telanjang sekalipun jika itu membuatmu merasa menang. Tapi jangan pernah ragukan bahwa Caleb hanya milikmu. Dia lapar, Serena. Dia sudah kelaparan selama tujuh tahun karena pemilik aslinya menolak untuk memberinya makan."

Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Serena bisa melihat kejujuran di mata sipit Nicholas. Luka lama itu masih ada, namun gairah yang membara di antara mereka jauh lebih besar daripada rasa sakit tersebut.

Kata-kata Serena meluncur seperti sembilu yang membelah keheningan kamar. Nicholas membeku. Tangannya yang masih memegang pipi Serena perlahan merosot, seolah baru saja menyentuh bara api yang paling panas.

"Mari tetap asing seperti selama ini, Nicholas," ulang Serena dengan nada yang jauh lebih tenang, namun jauh lebih menyakitkan daripada makian sebelumnya. "Jangan lupakan hal itu. Kita adalah dua orang asing yang kebetulan terikat kontrak dan masa lalu yang sudah membusuk."

Nicholas menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Di depannya, Serena kembali mengenakan topeng ratu es-nya. Air mata yang tadi membasahi wajahnya seolah menguap begitu saja, digantikan oleh sorot mata angkuh yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang Rousseau yang tidak bisa ditaklukkan hanya dengan pelukan dan kata maaf.

"Asing?" Nicholas terkekeh getir, suaranya terdengar seperti pecahan kaca. "Setelah semua yang baru saja kita katakan? Setelah kau mengakui kau mengawasi setiap adeganku, dan aku mengakui bahwa aku masih terobsesi padamu? Kau ingin kita kembali menjadi orang asing yang saling melempar hinaan di lokasi syuting?"

"Itu yang terbaik," sahut Serena tegas. Ia berjalan menuju pintu kamarnya, membukanya lebar-lebar sebagai isyarat agar Nicholas segera keluar. "Apa yang terjadi malam ini adalah kelemahan sesaat. Aku tidak akan membiarkan Caleb, atau kau, menghancurkan hidup yang sudah kubangun dengan susah payah tanpa bayang-bayangmu."

Nicholas berdiri diam di tengah ruangan. Ia menatap Serena lama, seolah ingin merekam setiap detail wajah wanita itu sebelum ia benar-benar harus menjadi asing lagi. Ia menyadari satu hal, Serena tidak hanya menghukumnya karena masa lalu, tapi Serena sedang melindungi hatinya sendiri yang masih terlalu rapuh jika harus kembali mencintai Nicholas.

"Baiklah," Nicholas melangkah menuju pintu. Saat ia melewati Serena, ia berhenti sejenak. Ia tidak menyentuhnya, namun kehadirannya begitu menyesakkan. "Kita akan tetap asing. Tapi ingat satu hal, Serena... orang asing tidak akan tahu nama Caleb. Dan orang asing tidak akan merespons ciuman leher di lokasi syuting dengan detak jantung yang menggila."

Nicholas menunduk sedikit, berbisik tepat di samping telinga Serena. "Aku akan bermain peran ini bersamamu. Aku akan menjadi orang asing yang paling kau benci di set besok pagi. Tapi jangan salahkan aku jika orang asing ini kembali membuatmu tidak bisa berjalan tegak dalam adegan selanjutnya, hanya untuk mengingatkanmu siapa pemilik aslimu."

Tanpa menoleh lagi, Nicholas berjalan keluar menyusuri lorong megah itu. Deru mesin Bugatti-nya terdengar beberapa saat kemudian, menjauh meninggalkan kediaman Rousseau yang kembali sunyi.

Serena bersandar di balik pintu yang baru saja ia tutup, merosot perlahan hingga terduduk di lantai. Ia memeluk lututnya sendiri, menghirup aroma parfum Nicholas yang masih tertinggal di udara kamarnya. Ia berhasil mengusir pria itu, tapi ia tahu, ia tidak akan pernah bisa mengusir Nicholas dari dalam dirinya.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear😍😍😍

1
Fbian Danish
ceritanya bagus bgt. aku suka.... satset tanpa banyak drama, tapi alurnya enak untuk diikuti... suka..suka..suka..
Fbian Danish
baguuuuussss bgt ceritanya kak. cerita sat set tanpa banyak drama tapi alurnya enak dan konflik yg tidak terlalu pelik. aku suka bgt asli.....
Fbian Danish
bapaknya memberi jaminan kancing, anaknya gantungan kristal... like father like son😄
Salsabiell Jannah
sukaaaaa bangetttt sama novel ini 😍😍😍😍
Ros_10: Makasih 😍
total 1 replies
Fbian Danish
bagus bgt karyamu Thor... 🔥🔥🔥🔥
Fbian Danish
happy bgt kak❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!