Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sandrina di tengah situasi genting. Sudah lima jam dia berada di ruang rahasia. Gadis itu tahu sudah lima jam karena jam tangannya masih menyala redup setiap kali ia menekan tombolnya. Dia berada di ruang rahasia yang gelap, lembap, dan entah berada di bawah bagian mana dari kastil itu.
Awalnya Sandrina berjalan dengan percaya diri, menyusuri lorong sempit dengan tangan meraba dinding batu dingin. Ia benar-benar yakin akan menemukan tangga tersembunyi, pintu keluar rahasia, atau setidaknya ventilasi yang mengarah ke taman luar.
Tanpa Sandrina tahu lorong gelap itu bercabang-cabang. Banyak lorong menuju ke berbagai tempat lain di kastil. Bahkan ada lorong yang jalannya buntu. Hal itu sengaja dibuat agar tidak sembarangan orang bisa keluar-masuk kastil.
Sekarang Sandrina duduk bersandar pada dinding batu, napasnya pelan tapi tidak stabil. Baju dan jilbabnya kotor, wajahnya pucat, dan lututnya mulai terasa lemas.
“Hebat, Sandrina,” gumam gadis itu pelan dalam kegelapan. “Kau ingin kabur. Bukannya kau berhasil dari sini, sekarang malah terjebak di dalam ruang bawah tanah.”
Sandrina mencoba tertawa kecil. Walau tidak ada yang lucu. Suara tawanya memantul aneh di ruang sempit itu.
Udara terasa berat. Bau lembap bercampur debu membuat kepala Sandrina pusing. Ia sudah mencoba berjalan kembali, tapi lorong-lorong itu membingungkan. Dalam kepanikan, ia sadar satu kesalahan fatal, ia tidak kembali ke kamar awal. Malah ia terus maju, terlalu yakin bahwa setiap langkah akan membawanya pada kebebasan.
“Kenapa aku selalu terlalu optimis, ya?” ucap Sandrina bermonolog.
Kegelapan seperti punya tekanan. Sandrina mulai merasa dinding-dinding itu menyempit, padahal mungkin hanya pikirannya saja yang panik. Ia duduk memeluk lututnya.
Untuk pertama kalinya sejak diculik, ia merasa benar-benar sendirian. Tanpa ada Rosa. Tanpa suara langkah Gianni. Tanpa suara sepatu mahal Alecio yang biasanya membuatnya kesal.
Alecio. Nama itu muncul begitu saja di kepala Sandrina.
“Kalau dia tahu aku hilang ....” gumam Sandrina pelan.
Sandrina membayangkan pria itu berdiri dengan wajah datar, lalu marah besar. Ia membayangkan mereka bertengkar. Ia membayangkan Alecio menerobos pintu dengan wajah kesal dan berkata, “Kau memang merepotkan.”
Dan anehnya, membayangkan itu membuat dada Sandrina sedikit lebih hangat.
“Sekarang aku bahkan berharap dia mencariku.” Sandrina mendesah pelan. “Padahal biasanya aku ingin dia menjauh.”
Gadis itu menundukkan kepala. “Kalau kau benar-benar tidak peduli, Alecio ... dan aku mati di sini, maka aku akan terus menghantuimu.”
Tempat itu kembali hening. Lalu, perut Sandrina berbunyi keras karena lapar. Ia menatap kegelapan dengan wajah kesal.
“Serius? Bahkan di situasi dramatis begini, perutku minta makan?”
Sandrina bersandar lagi. “Baiklah. Kalau aku mati di sini, tolong pastikan aku terlihat cantik dan anggun.”
Di sisi lain kota Roma, suasana jauh berbeda. Lampu kristal menggantung megah di ruangan privat sebuah hotel bintang lima. Di meja panjang berlapis kayu mahal, Alecio duduk dengan jas hitam sempurna dan ekspresi tanpa emosi.
Di depannya, seorang pria paruh baya dengan wajah tegang terus meremas gelas anggurnya.
“Dia menculik putri kesayanganku.” Suara pria itu bergetar. “Memperkosanya. Menghancurkan hidupnya.”
Tatapan Alecio tidak berubah. “Nama?” tanyanya datar.
Pria itu menyebutkan satu nama. “Aku ingin dia hilang,” lanjutnya pelan. “Selamanya.”
Sepuluh juta euro. Itu angka yang ditawarkan tanpa ragu.
Alecio tidak berkedip. Uang sebesar itu tidak membuatnya terkesan. Yang menarik perhatiannya adalah kemarahan seorang ayah.
Alecio menoleh sedikit ke arah Max yang berdiri di belakangnya. “Kau dengar.”
Max mengangguk. “Selesai dalam tiga hari.”
Alecio berdiri. “Dua.”
Pria itu tampak lega sekaligus ngeri.
Begitu Alecio keluar dari ruangan, ada sesuatu yang tidak beres dalam dadanya. Ia biasanya tenang, fokus, dan terkontrol, tetapi malam ini pikirannya terus kembali ke sayap kiri kastil.
Gadis yang beraroma sabun. Tatapan mata yang penuh perlawanan. Gadis galak yang selalu menantangnya.
Patrick memperhatikan ekspresinya saat mereka berjalan menuju mobil. “Ada yang mengganggumu?”
Alecio tidak langsung menjawab. “Kita pulang.”
Patrick mengangkat alis. “Sekarang?”
“Sekarang.”
Begitu mobil memasuki halaman kastil, Alecio tidak menuju ruang kerja seperti biasa. Ia langsung berjalan cepat ke ruang kontrol keamanan.
Petugas jaga berdiri tegang. “Bos?”
“Rekaman sayap kiri. Sore ini.”
Beberapa layar menyala. Alecio berdiri dengan tangan di belakang punggung, menatap layar dengan fokus tajam.
Alecio memerintahkan, “Kamera kamar.”
Petugas ragu sepersekian detik. Biasanya area kamar Sandrina tidak pernah dibuka tanpa alasan kuat.
“Buka.”
Layar berganti. Kamar kosong, kasur rapi, mukena terlipat. Tidak ada Sandrina.
Rahang Alecio menegang. “Percepat,” perintahnya.
Rekaman diputar lebih cepat.
Tidak ada yang keluar dari kamar dan tidak ada yang masuk.
Wajah Alecio berubah. Bukan marah, tetapi panik.
“Dia tidak keluar dari pintu utama,” gumam Patrick.
“Putar kamera ke beberapa jam sebelumnya. Cari sampai Sandrina terlihat oleh kamera!” titah Alecio.
Ketika jam satu siang, di layar terlihat Sandrina berjalan di lorong, berhenti di depan pintu tua. Gadis itu membungkuk, beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Patrick menahan napas. “Dia membukanya?”
Alecio tidak menjawab. Ia melihat Sandrina masuk ke dalam. Lalu, Rosa datang. Pintu pun ditutup dan dikunci.
Alecio mendekat ke layar, seolah bisa masuk ke dalamnya. “Dia masih di dalam.”
“Di dalam mana?”
Alecio tidak menjawab. Ia berbalik cepat. “Ke sayap kiri. Sekarang.”
Langkah Alecio panjang dan cepat. Tidak lagi tenang. Di dalam kepalanya, satu pikiran berputar keras.
“Kalau sesuatu terjadi padanya—”
Alecio mendorong pintu kamar Sandrina dengan kasar. Tangannya mengepal.
“Cari Rosa!” perintahnya tajam.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Alecio merasa sesuatu yang lebih berbahaya daripada kehilangan uang atau kekuasaan. Ia merasa takut.
Dan di ruang rahasia yang gelap, jauh di bawah lantai kastil, Sandrina bersandar lemah di dinding batu, menatap kegelapan.
“Kalau kau tidak mencariku, kau jahat Alecio ...,” gumam Sandrina pelan.
Di atas sana, langkah-langkah tergesa mulai memenuhi lorong menuju ke kamar terkunci dan terlarang.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu