NovelToon NovelToon
Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pemburu Menjadi Buruan

Hutan Kematian tidak bernama demikian tanpa alasan.

Begitu Ye Chen melompati pagar pembatas, suasana berubah drastis. Hujan yang di luar sana terasa dingin dan menyegarkan, di sini terasa berat dan berlendir. Pohon-pohon purba menjulang setinggi lima puluh meter, dahan-dahannya saling membelit seperti jari-jari mayat raksasa yang menutupi langit. Cahaya bulan sama sekali tidak bisa menembus kanopi daun yang tebal, membuat hutan ini gelap gulita total.

Namun, bagi Ye Chen, kegelapan adalah teman lama.

Kakinya mendarat di atas lapisan lumut tebal yang licin. Tanpa berhenti sedetik pun, ia melesat ke depan, tubuhnya bergerak zig-zag di antara batang-batang pohon raksasa.

"Napas mereka mendekat," batin Ye Chen.

Meskipun kultivasinya baru di Ranah Penempaan Tubuh Tingkat 7, indra pendengarannya telah dipertajam oleh Sutra Hati Asura. Di tengah gemuruh hujan yang menimpa dedaunan, ia bisa membedakan suara langkah kaki berat yang mengenakan sepatu bot baja.

Itu adalah Pasukan Pengawal Hitam (Black Guards). Unit elit Sekte Pedang Darah yang khusus menangani "masalah kotor".

"Ada dua belas orang," analisis Ye Chen sambil melompati akar pohon yang menonjol. "Satu pemimpin di Ranah Pemadatan Qi, sisanya di Penempaan Tubuh Tingkat 8 dan 9."

Keringat dingin menetes di pelipis Ye Chen. Ini buruk. Sangat buruk.

Jika ia melawan satu lawan satu, ia mungkin bisa menang melawan Tingkat 9 berkat kekuatan fisik Asura-nya yang tidak wajar. Tapi melawan dua belas orang sekaligus, ditambah seorang ahli Pemadatan Qi? Itu bunuh diri.

Perbedaan antara Penempaan Tubuh dan Pemadatan Qi bagaikan perbedaan antara telur dan batu. Seorang ahli Pemadatan Qi sudah bisa memanipulasi energi alam untuk menyerang dari jarak jauh dan membentuk pelindung tubuh.

"Aku harus memisahkan mereka," gumam Ye Chen.

Ia melihat sebuah tebing batu kapur di depannya yang memiliki banyak celah gua kecil. Namun, bukannya bersembunyi di sana, Ye Chen justru menyobek sedikit lengan bajunya yang terkena darah Wang tadi, lalu mengikatkannya pada ranting pohon rendah yang berduri.

Setelah itu, ia mengubah arah, melompat ke dalam semak belukar berduri yang lebat di sisi kanan, menahan rasa perih saat duri-duri itu menggores kulitnya.

Tiga puluh detik kemudian, sekelompok bayangan mendarat di tempat Ye Chen tadi berdiri.

"Berhenti!"

Suara bariton yang dalam menghentikan pasukan itu. Pemimpin mereka, seorang pria tinggi besar dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya, mengangkat tangan. Namanya Kapten Tie. Ia memegang sebuah golok besar (Dao) yang bersinar dengan aura oranye redup—tanda senjata spiritual tingkat rendah.

Kapten Tie mengendus udara seperti anjing pelacak. "Bau darahnya kuat di sini."

Seorang pengawal maju, menyalakan obor api biru yang tahan air. Cahaya obor menyinari potongan kain berdarah yang tersangkut di ranting.

"Kapten, dia lari ke arah tebing!" lapor pengawal itu.

Kapten Tie menyipitkan matanya. Ia menatap kain itu, lalu menatap jejak kaki samar di lumpur yang mengarah ke tebing.

"Bodoh," dengus Kapten Tie. "Dia pikir bisa bersembunyi di gua? Itu jalan buntu. Kelompok Satu dan Dua, sisir tebing itu. Kelompok Tiga, ikut aku menyebar ke sisi kiri. Jangan biarkan tikus itu lolos. Tuan Muda Han ingin dia hidup-hidup untuk dikuliti, tapi jika dia melawan, potong saja kaki dan tangannya!"

"Siap!"

Pasukan itu berpencar. Enam orang menuju tebing, sementara sisanya menyebar.

Di balik semak belukar berjarak lima puluh meter dari sana, Ye Chen menahan napasnya hingga titik minimal. Jantungnya berdetak sangat pelan, sebuah teknik Hibernasi Kura-kura yang ia pelajari dari ingatan masa lalunya, kini diperkuat oleh aura penekan dari Mutiara Penelan Surga.

"Bagus," batin Ye Chen, matanya berkilat dingin. "Kalian memecah kekuatan."

Enam orang yang menuju tebing kini berada cukup jauh dari Kapten Tie. Ye Chen menunggu dengan sabar seperti ular viper. Ia tidak mengincar Kapten Tie. Ia mengincar yang paling lemah, yang paling belakang.

Salah seorang pengawal dari kelompok tebing tertinggal sedikit di belakang karena harus membetulkan tali sepatunya yang tersangkut akar.

"Sialan, hutan ini benar-benar menyusahkan," gerutu pengawal itu.

Itu adalah kesalahan terakhirnya.

Saat ia membungkuk, sesosok bayangan melesat dari kegelapan di atasnya. Ye Chen tidak melompat dari tanah, melainkan turun dari dahan pohon tempat ia diam-diam memanjat.

Ia jatuh tanpa suara, gravitasi menjadi senjatanya.

Ye Chen mendarat tepat di punggung pengawal itu. Tangan kirinya membekap mulut korban, sementara tangan kanannya yang memegang pisau belati (rampokan dari murid sebelumnya) menghujam ke sela-sela tulang leher.

JLEB!

Pisau itu menembus sumsum tulang belakang. Pengawal itu kejang sesaat, lalu lumpuh total. Tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan.

Ye Chen menyeret tubuh itu ke balik pohon besar dalam hitungan detik.

Darah segar mengalir hangat di tangan Ye Chen. Seketika, rasa lapar yang gila muncul dari perutnya. Mutiara Penelan Surga bergetar liar.

"Darah kultivator Tingkat 8... Makanan... Makanan!"

Ye Chen menggertakkan gigi, matanya berubah menjadi merah darah sepenuhnya. "Telan!"

Ia menempelkan telapak tangannya di dada mayat itu.

Wush!

Dalam sekejap, mayat yang tadinya kekar itu menyusut. Dagingnya mengering, darahnya menguap menjadi kabut merah yang tersedot ke tangan Ye Chen. Hanya dalam lima napas, pengawal itu berubah menjadi mumi kering seolah telah mati selama seratus tahun.

Energi murni meledak di dalam tubuh Ye Chen.

Ranah Penempaan Tubuh Tingkat 7... Puncak!

"Belum cukup," desis Ye Chen. Sensasi kekuatan ini memabukkan, tapi juga berbahaya. Ia bisa merasakan sisi Asura-nya mulai mengambil alih, membuatnya ingin membantai segalanya.

Ia mengambil pedang panjang milik pengawal itu—senjata yang jauh lebih baik daripada pedang besi berkarat sebelumnya—dan kembali menghilang ke dalam kegelapan.

Sementara itu, di dekat tebing.

"Hei, San? Di mana San?" tanya salah satu pengawal.

Lima orang lainnya berhenti dan menoleh ke belakang. Hutan di belakang mereka gelap dan sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar.

"Mungkin dia kencing?" sahut yang lain. "San! Jangan main-main! Kapten Tie akan memenggalmu jika kau lambat!"

Tidak ada jawaban.

"Periksa," perintah wakil ketua kelompok itu dengan nada waspada. "Berdua-dua. Jangan sendirian."

Dua pengawal berjalan kembali ke arah jalan setapak. Mereka memegang obor tinggi-tinggi.

"San?"

Sring!

Suara logam beradu dengan angin terdengar sangat pelan.

Obor di tangan pengawal sebelah kiri tiba-tiba padam—bukan karena angin, tapi karena tangan yang memegangnya telah putus.

"AAARGH!"

Sebelum teriakan itu selesai, sebuah pedang menembus dadanya dari belakang. Ye Chen muncul dari balik bayangan pengawal itu sendiri, menggunakan tubuh temannya sebagai tameng.

Pengawal kedua panik. Ia melihat mata Ye Chen yang bersinar merah di kegelapan, tampak seperti iblis yang merangkak keluar dari neraka.

"Musuh! Musuh di si—"

Ye Chen melempar mayat di tangannya ke arah pengawal kedua, membuatnya terhuyung mundur. Ye Chen memanfaatkan celah itu untuk menerjang maju.

Teknik Pedang: Kilatan Halilintar!

Ini adalah teknik dasar Klan Ye yang dulu ia kuasai. Meski sederhana, dengan kekuatan fisik Ye Chen saat ini, kecepatannya mengerikan.

Pedang Ye Chen menebas leher pengawal kedua sebelum ia sempat mengangkat senjatanya. Kepala melayang, darah menyembur seperti air mancur.

Dua lagi tumbang.

"SERANG!" Teriakan terdengar dari arah tebing. Tiga pengawal sisanya menyadari keberadaan Ye Chen. Mereka menerjang bersamaan dengan tombak dan pedang.

Ye Chen tidak lari kali ini. Energi dari mayat pertama tadi masih bergejolak di tubuhnya, menuntut pelepasan.

"Datanglah!" raung Ye Chen.

Ia menangkis tombak pertama dengan pedangnya, membuat percikan api. Getaran benturan itu membuat tangan Ye Chen mati rasa—lawannya berada di Tingkat 9! Kekuatan fisiknya sedikit di atas Ye Chen.

"Mati kau, Budak!" Pengawal tombak itu menyeringai, menekan senjatanya.

Tapi Ye Chen tidak bertarung secara adil. Saat pedang dan tombak beradu, Ye Chen melepaskan pegangan tangan kirinya dari gagang pedang, dan dengan gerakan tak terduga, ia meninju batang tombak itu.

Bukan tinju biasa.

Tinju Penghancur Batu!

Krak!

Kayu tombak yang terbuat dari kayu besi itu retak. Ye Chen melanjutkan gerakannya, membiarkan tombak itu meleset ke samping telinganya, dan ia masuk ke dalam pertahanan lawan.

Lutut Ye Chen menghantam selangkangan pengawal itu dengan brutal.

"Ukh!" Mata pengawal itu memutih.

Ye Chen menyudahi penderitaannya dengan menusukkan pedang ke jantungnya.

Namun, dua pengawal lain sudah berada di sisi kiri dan kanannya. Pedang mereka menebas ke arah rusuk dan punggung Ye Chen. Ia tidak bisa menghindar tepat waktu.

Crass!

Pedang lawan menyayat punggung Ye Chen, menciptakan luka panjang yang menganga. Darah segar muncrat.

Rasa sakit itu tidak membuat Ye Chen lemah. Sebaliknya, itu membangkitkan insting Asura lebih dalam lagi. Adrenalin membanjiri otaknya, membuat waktu terasa melambat.

"Sakit..." Ye Chen menyeringai mengerikan, darah menetes dari sudut bibirnya. "Rasa sakit ini... membuatku merasa hidup!"

Dia berputar, mengabaikan pertahanannya sendiri. Pedangnya menyapu horizontal dengan kekuatan penuh, dilapisi sedikit Qi hitam yang mulai bocor dari Dantian-nya.

Tebasan Pembelah Angin!

Kedua pengawal itu terkejut melihat Ye Chen yang bukannya mundur malah menyerang balik dengan gaya bunuh diri. Mereka mencoba menangkis.

Clang! Clang!

Pedang mereka patah. Kekuatan Ye Chen tiba-tiba melonjak dua kali lipat saat emosinya memuncak. Pedang Ye Chen terus melaju, membelah dada kedua pengawal itu sekaligus.

Mereka jatuh berlutut, menatap dada mereka yang terbuka dengan tatapan tidak percaya, lalu ambruk ke tanah berlumpur.

Lima mayat dalam waktu kurang dari satu menit.

Ye Chen berdiri terengah-engah. Luka di punggungnya terasa panas terbakar, tapi Mutiara Penelan Surga berdenyut, mengirimkan aliran hangat yang mulai menutup pendarahan itu secara perlahan.

Dia segera berlutut, menempelkan tangannya ke tanah di mana darah kelima kultivator itu bercampur dengan air hujan.

"Hisap semuanya!"

Pusaran hitam muncul di sekeliling tubuh Ye Chen. Darah dan sisa-sisa Qi dari mayat-mayat itu ditarik paksa, membentuk kepompong energi merah yang membungkus Ye Chen.

Di kejauhan, terdengar lolongan marah.

"SIAPA YANG BERANI MEMBANTAI PASUKANKU?!"

Kapten Tie telah kembali. Dia melihat pemandangan mengerikan itu: lima anak buah terbaiknya tewas, dan seorang pemuda kurus berlumuran darah berdiri di tengah mayat-mayat itu, diselimuti aura merah yang jahat.

Aura Ye Chen melonjak tajam.

Ranah Penempaan Tubuh Tingkat 8!

Ranah Penempaan Tubuh Tingkat 9!

Ye Chen membuka matanya. Warna merah di matanya perlahan memudar, kembali menjadi hitam pekat yang tenang namun mematikan. Dia menatap Kapten Tie yang berdiri dua puluh meter darinya.

"Sekarang," kata Ye Chen sambil mengibaskan darah dari pedangnya. "Giliranku."

Kapten Tie merasakan dingin merambat di punggungnya, sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan selama sepuluh tahun menjadi pembunuh.

Bocah di depannya bukan lagi manusia. Dia adalah monster yang baru saja menetas.

(Akhir Bab 4)

1
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos mantab Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat membara
Aman Wijaya
jooooz pooolll Ye Chen semangat bersama tim
Aman Wijaya
mantab ye Chen bantai tie Shan dan kroni kroninya.bikin kabut darah
Ip 14 PRO MAX
ok bntai,suka mcx kejam sadis
sembarang channel
ok siap
BoimZ ButoN
lanjutkan thhooor semangat 💪🙏
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor
sembarang channel
ok siap,mkasih masukannya🙏🙏🙏🙏
selenophile
bahasa tolong di perbaiki min..
Aman Wijaya
lanjut
Aman Wijaya
makin seru Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
bagus ye Chen semangat semangat
Aman Wijaya
jooooz jooooz pooolll lanjut
Aman Wijaya
joooooss joooooss pooolll lanjut
Aman Wijaya
makin seru ceritanya Thor lanjut terus semangat semangat semangat
sembarang channel: mksh untuk semuanya yang suka dengan ceritanya,jangan lupa kasih bintang 5 y🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
mantab ye Chen lanjut terus
Aman Wijaya
top top markotop lanjut Thor
Aman Wijaya
mantab ye Chen babat semua anggota sekte pedang darah
Aman Wijaya
mantab ye Chen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!