"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."
Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.
Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.
Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.
Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Bunga di Atas Pusara
Satu tahun telah berlalu sejak tanah merah itu menimbun raga Nida. Waktu, sang penyembuh luka yang paling lambat namun pasti, telah menyeka sisa-sisa air mata di rumah besar itu. Pagi ini, udara terasa segar di kompleks pemakaman yang tenang. Seorang wanita dengan gamis berwarna salem dan kerudung lebar tampak sedang menata kelopak bunga mawar dan melati di atas sebuah gundukan tanah yang rapi. Di nisan kayu yang sudah mulai menghitam, tertulis nama: Nida Kirana.
Wanita itu adalah Hana.
Wajahnya tidak lagi memancarkan keraguan seperti setahun yang lalu. Di jarinya kini melingkar sebuah cincin perak sederhana, tanda bahwa ia telah memenuhi wasiat terakhir sang pemilik nisan. Pernikahannya dengan Fandy enam bulan lalu tidak dirayakan dengan pesta pora, melainkan dengan sujud syukur dan doa bersama anak-anak yatim.
"Mbak Nida... Syauqi hari ini sudah naik ke jilid enam," bisik Hana pelan pada nisan itu, seolah-olah Nida sedang mendengarkannya dari balik dimensi yang berbeda. "Dia anak yang cerdas, Mbak. Mirip sekali dengannya. Dan Syabila... dia tumbuh menjadi remaja yang sangat anggun. Dia sering memakai mukena putih pemberian Mbak kalau sedang tahajud."
Tak lama kemudian, langkah kaki mendekat. Fandy muncul dengan menggandeng Syauqi, sementara Syabila berjalan di samping mereka membawa sebotol air mawar. Fandy tampak lebih tegap. Meski garis kesedihan di matanya tidak akan pernah benar-benar hilang, ada kedamaian baru yang menghuni wajahnya.
"Ayo, Jagoan. Kita doakan Ibu," ujar Fandy sambil membimbing Syauqi duduk bersimpuh.
Suasana hening sejenak saat mereka tenggelam dalam lantunan surah Yasin. Suara Fandy dan Hana yang bersahutan menciptakan harmoni spiritual yang indah. Di sela-sela doanya, Fandy menatap Hana yang sedang membelai rambut Syauqi dengan penuh kasih. Dalam hati, Fandy mengakui bahwa pilihan Nida adalah mukjizat terakhir dalam hidupnya. Hana tidak pernah mencoba menggantikan Nida; ia justru merawat kenangan tentang Nida agar tetap hidup di dalam rumah mereka.
Setelah selesai berdoa, Syabila mendekati Hana dan memeluknya dari samping. "Kak Hana—maksudku, Ibu... habis ini kita jadi ke toko buku kan? Aku mau cari referensi untuk cerpen baruku."
Hana tersenyum manis. "Tentu, Sayang. Kita ikuti jejak Ibu Nida jadi penulis hebat, ya?"
Fandy berdiri dan menatap langit biru yang cerah. Ia teringat akan masa-masa kelam saat ia begitu keras kepala menolak ide Nida. Ia teringat bagaimana ia hampir terjebak dalam muslihat Anita dan ambisi ibunya sendiri. Sekarang, segalanya telah berubah. Mama Rosa kini sering menghabiskan waktu di rumah mereka, belajar mengaji pada Hana, dan mengakui bahwa kedamaian tidak bisa dibeli dengan saham perusahaan.
"Nida," bisik Fandy dalam hati. "Kamu benar. Kamu tidak meninggalkanku sendirian. Kamu memberiku jembatan untuk tetap sampai ke surga-Nya."
Sebelum meninggalkan pemakaman, Syauqi meletakkan sebuah batu kerikil putih kecil di atas pusara ibunya. "Ibu, Syauqi pulang dulu ya. Besok Syauqi datang lagi kalau sudah hafal satu juz."
Mereka berjalan menjauh dari area pemakaman, membentuk sebuah barisan keluarga yang kokoh. Fandy menggandeng tangan Hana, dan tangan Hana yang lain menggenggam tangan Syauqi. Syabila berjalan di sisi lain Fandy dengan wajah yang kini penuh harapan.
Luka itu memang meninggalkan bekas, namun bekas luka itulah yang menguatkan fondasi iman mereka. Nida telah berhasil menuliskan naskah terbesarnya—bukan di atas kertas, melainkan di dalam hati orang-orang yang ia cintai. "Istri untuk Suamiku" bukan lagi sebuah pengorbanan yang menyakitkan, melainkan sebuah bentuk keabadian cinta yang melampaui batas kematian.
Di balik pohon kamboja yang rimbun, angin berembus pelan, menggugurkan sekuntum bunga tepat di atas nisan Nida. Seolah-olah alam pun memberikan penghormatan terakhir bagi sang pejuang ikhlas yang telah menyelesaikan tugasnya dengan sangat indah. Kisah ini berakhir di sini, namun kehidupan mereka baru saja dimulai dalam keberkahan yang telah direncanakan oleh sebuah sujud yang panjang.