NovelToon NovelToon
Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.

Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.

Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu pria yang paling ingin Helena hindari

Helena sengaja mengajak Nael untuk jalan-jalan sore di sekitaran taman dekat rumahnya, kebetulan babysitter Nael sedang pulang kampung karena ayahnya sakit, Diam-diam Helena memberika banyak uang kepada babysitter Nael untuk perawatan Ayahnya yang masuk rumah sakit, melihat bagaimana baiknya Widya selama bekerja, apalagi ia sudah sangat lama bekerja untuk keluarga Farhan.

Farhan sendiri tidak tahu jika Widya harus pulang kampung, karena ia harus pergi ke luar kota selama tiga hari, jadilah Farhan mempercayakan rumah kepada istrinya, Helena.

Nael berceloteh banyak hal, mulai dari hal-hal random sampai menceritakan mainan-mainannya di dalam kamar.

Helena pun menanggapinya dengan sama antusiasnya, ia senang karena Nael sudah semakin dekat dengannya, apalagi ia tidak rewel jika harus ditinggal Widya pulang kampung.

Langkahnya terhenti ketika ia melihat anak kecil yang tidak asing dengannya, Helena hendak berbalik arah sebelum ia terlihat oleh radar penglihatan balita berumur 3 tahun itu.

"Aunty Helen," teriak balita itu ruang berlari menghampiri Helena yang mematung di tempat.

Tubuhnya tiba-tiba saja terasa kaku mendengar suara balita itu meneriaki namanya begitu kencang.

"Aunty kenapa ada di sini?" tanya balita itu tiba-tiba memeluk kaki Helena.

Helena menundukkan kepalanya dan menatap balita laki-laki yang cemberut dengan matanya yang berkaca-kaca.

Helena diam, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat semesta malah mempertemukan lagi dirinya dengan keluarga yang paling ia hindari.

"Mama, tenapa diam?" tanya Nael menoleh ke belakang, untungnya Nael sedang duduk di kursi dorongnya, jadi ia tidak akan bisa melihat bocah umur 3 tahun yang sedang memeluk kakinya ini.

"Aunty, dia siapa?" anak balita itu malah berjalan ke arah Nael sehingga posisi mereka menjadi berhadap-hadapan.

Helena masih diam, tidak tahu harus bagaimana? otaknya berpikir keras bagaimana caranya agar ia cepat bisa pergi dari taman sebelum orang tua dari bocah laki-laki 3 tahun itu tidak bertemu dengannya.

Batu saja Helena akan mengambil ancang-ancang pergi, sebuah suara menginduksinya dari belakang, dan itu semakin membuat Helena tidak bisa berkutik. tanganya tiba-tiba saja bergetar, padahal ia hanya mendengar suaranya, belum melihat orangnya.

"Harlan sedang apa di sini?" suara tegas sekaligus datar itu menyapa indra pendengaran Helena. tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada dugaannya.

"Loh, Helena?" pria itu menatap Helena terkejut, tidak menyangka akan bertemu dengan Helena di sebuah tempat yang tidak terduga.

"Kamu sendiri di sini? Siapa anak yang kau bawa ini? Apa benar berita kami sudah menikahi pria duda anak 3 itu?" rentetan pertanyaan sama sekali tidak Helena gubris, otaknya sibuk berfikir bagaimana caranya ia langsung pergi tanpa mengalami kejadian yang tidak ia inginkan.

Otaknya bekerja cepat, tanpa melirik pria yang berada di sebelahnya, Helena mendorong cepat kursi roda milik Nael sebelum ayah dari bocah laki-laki 3 tahun itu menghentikannya.

"Kau mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?" tanya pria itu menggenggam lengan Helena yang sedang bertengger di pegangan kursi roda Nael.

"Jangan macam-macam Farrel, aku sudah menikah," sengak Helena melepaskan lengannya yang berada di genggaman tangan pria bernama Farrel itu.

"Kenapa buru-buru banget, kita baru bertemu lagi, memangnya kamu tidak merindukan aku?" tanya Farrel dengan tampang yang ingin sekali Helena tampar.

"Jangan membuat kekacauan, aku harus segera pulang," ucap Helena menatap tajam mata Farrel.

Yang di tatap tajam malah terkekeh kecil, "Kamu menjadi semakin cantik dengan kain yang kamu pakai di kepala," pujinya membuat Helena ingin muntah saja.

"Minggir!" usir Helena datar, padahal jantung di dalamnya sedang berdetak sangat cepat, ia takut, tapi ia harus melawannya, tidak ingin lagi seperti dulu, anggap saja Helena yang dulu adalah Helena yang bodoh dan jahiliyah.

"Aku serius, kamu lebih cantik saat kamu seperti ini, tapi kamu yang dulu lebih menggoda daripada yang sekarang,"

"Berhenti mengatakan hal-hal menjijikan itu Farrel, kau tidak malu dengan statusmu itu hah? kau tidak malu di sini ada dua anak kecil? " bentak Helena menatap benci pria yang malah terkekeh kecil itu. Benar-benar sangat menyebalkan.

"Harlan, pergi dan cari mami di kedai ice cream!" perintah Farrel kepada anaknya.

Bocah yang di panggil Harlan itu mengangguk dan langsung berlari menuruti perintah papinya.

"Bagaimana, sudah kan?"

Farrel melangkah mendekati Helena, dan Helena pun bersiap untuk berlari dengan tangan yang memegang erat kursi dorong milik Nael.

Tapi pergerakkan Farrel lebih cepat dari Helena, Farrel menahan tangan Helena kencang sampai Helena merasakan tangannya akan remuk jika terus berada di tangan lelaki brengsek seperti Farrel itu.

"Apa yang kau lakukan?" teriak Helena panik begitu tangan Helena diikat dengan sabuk wanita yang ada di dalam saku celananya.

Tidak ada jawaban dari Farrel, ia tetap mengikat kedua tangan Helena kencang, tidak peduli dengan suara teriakkan Helena, karena di taman ini begitu sepi, jadi tidak akan ada orang yang melihatnya.

Nael yang melihat Helena berteriak-teriak panik, menangis kencang, ia berusaha melepaskan ikatan pengaman di tubuhnya agar bisa menghampiri mamanya itu.

"Mama," teriak Nael karena kursi dorong itu terlepas dan bergerak maju ke jalanan.

Helena panik, ia berontak semakin kencang, sampai akhirnya, Helena menendang Farrel dengan kakinya sampai bisa terlepas dari tangan Farrel, Helena berlari untuk menghampiri Nael yang sudah sedikit jauh dari jangkauannya.

"Sayang kamu tidak apa-apa" tanya Helena menatap Nael yang masih menangis karena panik juga ketakutan.

"Mama," panggil Nael meminta di gendong.

"Oke, sebentar ya, kita pergi dulu dari sini, setelah itu mama gendong,"

Nael mengangguk, tangisannya masih juga belum reda.

Helena melirik sebentar ke arah Farrel yang melangkah lebar menghampiri dirinya, Helena cepat-cepat membawa kursi dorong Nael menjauh, ia bahkan sedikit berlari dan berhenti ketika ada warga yang sedang sibuk menyiram tanaman di pinggir jalan.

Helena menoleh ke belakang, dan sudah tidak mendapati Farrel mengejarnya, barulah Helena berusaha melepaskan ikatan di tangannya yang masih terikat kencang.

Seorang wanita melihat Helena yang kesulitan membuka ikatan di tangannya, dengan cepat ia pun membantunya.

"Mbak, saya bantu buka ikatannya, boleh?" tanya wanita itu sopan.

Helena mengangguk, dan menyodorkan tangannya yang terikat, setelah terbuka sempurna Helena mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada wanita baik hati itu.

"Kenapa bisa terikat, mbak?" tanya wanita itu, tapi Helena hanya menggeleng dan tersenyum kecil, wanita itu paham dan langsung meminta izin undur diri.

"Nael, maafkan mama, ya," ucap Helena langsung menggendong Nael yang tangisannya sudah berhenti.

"Mama, cakit?" tanya Nael menatap pergelangan mamanya yang terluka sedikit parah.

Helena menggeleng, "tidak, tidak sakit sama sekali,"

"Nael takut, mama," kedua tangan Nael memeluk erat leher Helena.

Helena kembali meminta maaf seraya mengusap lembut punggung putrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!