NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Surat pengunduran diri itu sudah diserahkan. Seragam pramusaji yang biasa Citra pakai kini sudah dilipat rapi dan tersimpan di bagian paling bawah lemarinya, mungkin tidak akan pernah tersentuh lagi.

Mulai hari ini, gelar Citra sepenuhnya adalah Nyonya Aditama, tanpa embel-embel pekerjaan lain.

Namun, ada satu hal yang di luar prediksi Putra, Putri, maupun Kinan. Sehari setelah Citra resmi berhenti bekerja, Pak Aditama mengumumkan di meja makan bahwa beliau akan bekerja dari rumah (Work From Home) selama dua minggu ke depan. Alasannya sederhana: dokter menyarankan beliau untuk mengurangi perjalanan bisnis demi menjaga tekanan darahnya.

Bagi Citra, pengumuman itu adalah keajaiban dari langit. Namun bagi ketiga anak kandung Aditama, itu adalah bencana. Rencana mereka untuk menyiksa "sang benalu" secara bebas harus tertunda tanpa batas waktu yang jelas.

Karena tidak bisa menyerang secara terang-terangan, mulailah sebuah perang dingin yang melelahkan.

Citra, yang pada dasarnya tidak bisa diam, berusaha sebaik mungkin mengambil hati keluarga itu. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah bangun. Meski tangan kanannya masih dibalut perban tipis, ia memaksa diri membantu Bibi di dapur menyiapkan sarapan. Setiap kali ia mengiris bawang atau mengangkat wajan, luka di punggung tangannya berdenyut ngilu, mengingatkannya pada kekejaman yang tersembunyi di balik dinding rumah ini. Namun, ia mengabaikan rasa perih itu. Ia meracik bumbu, menata meja makan dengan senyum yang dipaksakan, dan memastikan kopi setiap orang tersaji sesuai selera. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar pajangan yang numpang makan.

Namun, usaha Citra selalu disambut dengan sinis oleh adik-adik iparnya.

Pagi itu, di meja makan, Kinan menatap piring nasi goreng seafood buatannya dengan wajah ditekuk.

"Bi!" seru Kinan, pura-pura tidak tahu bahwa Citra yang memasak. "Ini udangnya kok masih ada sisa ekornya sedikit sih? Bibi tahu kan aku jijik? Mau bikin aku tersedak, ya?"

Citra yang sedang menuangkan air putih untuk Pak Aditama langsung menegang. "Maaf, Kinan. Tadi saya yang kupas udangnya. Mungkin ada yang terlewat karena tangan saya masih sedikit kaku..."

"Oh, pantesan rasanya agak aneh," timpal Putri yang baru saja menyeruput tehnya. Ia meletakkan cangkir itu dengan bunyi denting yang keras, sengaja menunjukkan ketidaksukaannya. "Tehnya juga kelewat manis. Kamu niat bikin aku diabetes, Citra?"

Citra menundukkan kepala, menelan harga dirinya bulat-bulat, bersiap merapikan meja. "Maaf, Putri. Sini tehnya saya ganti yang baru.."

"Tidak usah diganti," suara berat dan tenang Pak Aditama tiba-tiba memotong.

Beliau menyesap teh dari cangkir yang sama dengan yang disajikan untuk Putri. Matanya menatap tajam kedua putrinya bergantian. "Teh ini rasanya pas. Dan udang itu masih sangat layak makan. Kalau kalian merasa masakan Citra tidak selevel dengan lidah kalian, silakan masak sendiri di dapur. Istri kakak kalian ini sedang masa pemulihan, bukan koki pribadi kalian yang bisa kalian caci maki."

Putri dan Kinan seketika bungkam. Wajah mereka memerah menahan kesal dan malu ditegur di depan pelayan. Mereka hanya bisa menunduk sambil mengaduk-aduk makanan dengan garpu, sesekali melempar tatapan mematikan ke arah Citra saat ayah mereka sedang mengunyah.

Dada Citra yang sedari tadi terasa sesak perlahan melonggar. Ia menunduk hormat, menyembunyikan kelegaan di wajahnya. Ia membalas tatapan sinis kedua adik iparnya dengan raut wajah setenang mungkin, meski jantungnya berdebar kencang. Ia mulai belajar dengan sangat cepat bahwa selama ia berdiri di belakang bayang-bayang ayah mertuanya, bisa ia pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyentuhnya.

Namun, jika Putri dan Kinan menggunakan taktik protes pasif di luar kamar, Putra menggunakan cara yang jauh lebih mengintimidasi di dalam kamar utama.

Kehadiran Pak Aditama di rumah membuat Putra tidak berani mengusir Citra keluar kamar atau menyuruhnya tidur di lantai. Bahkan, karena Pak Aditama sempat mengecek kamar mereka dua hari lalu, Putra terpaksa mengizinkan Citra tidur di pinggir ranjang king size itu bersamanya, semata-mata agar tidak menimbulkan kecurigaan ayahnya.

Bagi Putra, berbagi tempat tidur dengan wanita yang sangat tidak ia inginkan adalah sebuah penghinaan besar terhadap egonya. Sebagai balas dendam, ia menciptakan neraka kecil untuk istrinya.

Malam itu, Citra baru saja selesai mandi di kamar mandi tamu bawah (karena Putra tetap melarangnya menggunakan kamar mandi utama). Ia masuk ke kamar dengan langkah pelan, nyaris berjinjit.

Suhu ruangan sudah disetel di angka 16 derajat Celcius senjata andalan Putra untuk menyiksa Citra secara halus tanpa meninggalkan bekas memar.

Putra sedang bersandar di kepala ranjang, membaca dokumen dari tabletnya. Pria itu sudah memonopoli selimut goose down yang tebal, menggulungnya dengan egois menutupi separuh badan hingga ke leher.

Lantai parket terasa seperti balok es di telapak kaki Citra yang telanjang. Ia menatap nanar hamparan kasur king size yang empuk itu. Di sisi kanan, suaminya bergelung nyaman layaknya seorang raja. Sementara di sisi kiri, tempat yang "diizinkan" untuknya, hanyalah ruang sempit beralas seprai dingin tanpa selimut sisa sedikit pun. Piyama katun murah berlengan panjang yang ia kenakan sama sekali tak mampu menghalau udara kutub buatan yang sengaja diciptakan untuk menyiksanya.

"Mas..." panggil Citra ragu-ragu, bibirnya mulai bergetar karena suhu yang menggigit kulit. "Boleh... boleh saya minta sedikit selimutnya?"

Putra bahkan tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun dari layar tablet.

"Saya kedinginan. Kalau kamu tidak tahan, silakan keluar. Tapi kalau Papa sampai melihatmu tidur di luar dan bertanya, kamu tahu jawaban apa yang harus kamu berikan," ancam Putra dengan suara datar yang kejam, tak ada belas kasihan sama sekali.

Citra menelan ludah. Ia tahu persis maksud suaminya. Jika ia keluar, ia harus berbohong bahwa ia yang ingin tidur di sofa luar, bukan diusir. Dan Putra akan memutarbalikkan fakta seolah Citra yang tidak tahu diuntung karena menolak tidur di kasur mewah.

Citra memilih diam, menahan perih di hatinya. Ia merebahkan tubuhnya di ujung paling pinggir ranjang, menjaga jarak sejauh mungkin dari suaminya seolah ada jurang tak kasat mata di antara mereka. Ia meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri erat-erat, mencoba mencari kehangatan semu dari tubuhnya yang mulai menggigil.

Tiba-tiba, Putra melemparkan sebuah bantal guling tepat ke tengah-tengah ranjang, menciptakan dinding pemisah yang tegas.

"Jangan berani-berani melewati guling ini saat kamu tidur," desis Putra tajam, mematikan lampu tidurnya hingga kamar itu gulita dalam sekejap. "Kalau sampai kulitmu menyentuh saya sedikit saja, saya pastikan besok pagi kamu menyesal karena pernah lahir di dunia ini."

Di tengah kegelapan pekat dan udara dingin yang menusuk tulang, air mata Citra kembali menetes dalam diam, membasahi bantalnya. Ia mengutuk nasibnya. Ia berusaha bertahan sebaik mungkin, memasang wajah tersenyum di depan Pak Aditama setiap siang, hanya untuk kembali menjadi tahanan yang tersiksa kedinginan setiap malam.

1
Salfarina Hasimu
lanjut Thor,,,
Reni Anjarwani
lanjut lagi thor
partini
jangan cerai cit hukum aja hukum batin itu luar biasa dampak nya loh biarpun sekarang udah sedikit tapi dia masih menyalakan adik"nya ga ngaca si putra
Reni Anjarwani
lanjut thor
Nesya
nikmati aja penyesalanmu putra, lanjut thor
partini
dihhh put put adekmu ga 💯 salah lah kamu tuh biang kerok nya kalau kamu ga jahat merek juga ga bakal jahat
ga sadar diri, semogaa kamu bucin sama citra untuk sekarang nikmati saja rasa bersalah mu sampai cinta kembali ke pelukan mu
merry
pnjarinn ajj biar kapok tp hidup dlm Kemiskinn juga bgss itu juga ud ksh pljrnnn biar tau gmn rasa ya jdi org miskinn,, biar tau gmn Ngehargai org miskin🙏🙏🙏
Reni Anjarwani
lanjut trs
merry
citra kmu lepsainn juga msh bnyk yg Mau tu con toh tmn mu si Morgan 🤭🤭🤭yakin mau ceraiin citra
Nesya
nyeseek bgt citra
partini
ga usah over deh put,citra cuma butuh waktu ko ga akan kemana mana dia
Nesya
maaf ? preeetlah…
efa herlina
lanjut thor , punya double ya thor. kerennn sekali ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut
partini
berapa lama dinding tembok hati yg di bangunan citra akan runtuh
sorry" to say cit ga yakin deh bakal lama apa lagi move on putra terlalu keren untuk di lupakan 🤭
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
partini
citra hatinya selimut sutra susah kalau di marah atau benci,,putra pantas dapat Shok tetapi dulu biar otaknya berfungsi dengan baik orang ga pernah kehilangan semua yg di mau selalu terkabul jadinya arogan
Novi Kuswarini
lanjut thor.... seru banget ya ampun
......
efa herlina
lanjut thor doubel up dong thor
olyv
citra dan morgan aja dari pada kembali sama putra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!