NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Menjadi Pengusaha / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.

Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.

Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.

Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.

⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Punya Kesempatan Kedua

Hujan deras mengguyur kaca depan mobil double cabin yang melaju membelah kegelapan jalanan Wonosari menuju Yogyakarta.

Di dalam kabin, kesunyian terasa mencekik.

Hanya ada suara deru wiper yang bergerak ritmis ke kiri dan ke kanan, seolah sedang menghitung mundur waktu menuju kehancuran reputasi Sekar.

Pak Man menyetir dengan tubuh kaku.

Matanya menatap kosong ke jalanan aspal yang basah.

Tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga urat-urat punggung tangannya menonjol.

Sesekali, bahunya tersentak pelan, menahan isak yang tertahan di tenggorokan.

Di kursi penumpang, Sekar Ayu tidak tidur.

Dia duduk tegak, memangku tablet yang layarnya menyala menampilkan grafik dan data.

Namun, pikiran Sekar tidak pada angka-angka itu.

Mode Scientist di otaknya sedang melakukan post-mortem analysis terhadap kejadian penggerebekan tadi siang.

Fakta 1: Rangga dan petugas DLH datang tepat saat aku melakukan pengecekan pH tanah.

Fakta 2: Mereka tahu titik lokasi pengambilan sampel yang paling krusial.

Fakta 3: Petugas lab Rangga (Dr. Herman) memiliki data awal tentang 'cairan hitam' yang diambil dari gudang.

Sekar memalingkan wajah, menatap profil samping Pak Man.

Dia melihat butiran keringat dingin di pelipis orang tua itu, padahal AC mobil menyemburkan udara dingin.

Dia melihat tremor halus pada tangan kiri Pak Man saat memindah persneling.

Respon fisiologis: Vasokonstriksi perifer. Tremor neurogenik. Tanda-tanda stres akut akibat tekanan psikologis berat.

"Pak Man," panggil Sekar pelan.

Suaranya datar, tanpa emosi, namun memotong keheningan seperti pisau bedah.

"D... Dalem, Non?" jawab Pak Man gagap.

Mobil sedikit oleng sebelum dia menguasainya kembali.

"Berapa harga yang mereka tawarkan?"

Pertanyaan itu bukan tuduhan.

Itu adalah pertanyaan kalkulatif.

Pak Man menginjak rem mendadak.

Mobil berhenti di bahu jalan yang sepi, di bawah guyuran hujan lebat.

Pak Man tidak menjawab.

Dia melepaskan sabuk pengamannya dengan tangan gemetar, lalu tiba-tiba memutar tubuh dan bersujud di arah Sekar, kepalanya membentur dashboard.

"Bunuh saya, Non... Bunuh saya..." tangis Pak Man pecah.

Suara tangisannya memilukan, bercampur dengan deru hujan di atap mobil.

Pertahanan mental yang dia bangun sejak kemarin runtuh total.

"Saya pengkhianat... Saya iblis..." raung Pak Man, memukuli kepalanya sendiri. "Non Sekar sudah begitu baik... tapi saya malah menjual Non ke Gusti Rangga..."

Sekar tidak bergerak.

Dia membiarkan Pak Man mengeluarkan emosinya selama satu menit penuh.

Dalam psikologi, intervensi saat subjek sedang breakdown justru akan memblokir aliran informasi.

Biarkan tekanannya keluar dulu.

Setelah tangisan Pak Man mereda menjadi isakan kecil, Sekar mengambil kotak tisu dari dashboard dan menyodorkannya.

"Duduk tegak, Pak. Hapus air mata Bapak. Saya butuh data, bukan drama," ujar Sekar tegas namun tidak kasar.

Pak Man mengangkat wajahnya yang basah dan sembab.

Malu, takut, dan hancur lebur.

"Kenapa, Pak? Bapak sudah ikut keluarga kami dua puluh tahun. Variabel apa yang membuat Bapak berubah?"

"Budi, Non... Anak saya..." Pak Man bercerita dengan suara serak, terputus-putus.

Dia menceritakan tentang utang pinjol 75 juta.

Tentang video penyanderaan.

Tentang pisau di leher anaknya.

Dan tentang Rangga yang datang bak pahlawan kesiangan menawarkan pelunasan instan hanya demi "jadwal penyiraman".

"Saya pikir cuma jadwal, Non... Saya pikir Gusti Rangga cuma mau memantau..." Pak Man terisak lagi. "Saya tidak tahu kalau mereka mau memfitnah Non Sekar pakai racun..."

Sekar menghela napas panjang.

Dia menyandarkan punggungnya ke kursi.

Analisisnya selesai.

Motif: Ekonomi dan keselamatan keluarga (Survival Instinct).

Pelaku utama: Rangga (Manipulasi psikologis).

Sekar tidak bisa marah pada seorang ayah yang berusaha menyelamatkan nyawa anaknya.

Itu adalah hukum alam.

Parental Investment Theory.

Tapi, pengkhianatan tetaplah pengkhianatan.

Harus ada konsekuensi.

Dan dalam kamus Sekar, konsekuensi terbaik adalah penebusan, bukan hukuman.

"Hutangnya sudah lunas?" tanya Sekar.

"Sudah, Non. Kemarin sore langsung lunas."

"Bagus. Setidaknya pengkhianatan Bapak ada harganya," gumam Sekar sinis, membuat Pak Man semakin menunduk dalam.

Sekar menatap rintik hujan di kaca jendela.

Otaknya berputar cepat menyusun strategi Counter-Attack.

Rangga sekarang merasa di atas angin.

Dia punya bukti (palsu), dia punya dukungan media, dan dia merasa sudah mematikan langkah Sekar.

Kelemahan terbesar Rangga adalah arogansinya.

Dia percaya dia sudah menang.

Dan saat seseorang merasa menang, mereka lengah.

"Pak Man," panggil Sekar.

"Inggih, Non. Pecat saya, Non. Laporkan saya ke polisi. Saya rela dipenjara."

"Jangan bodoh," potong Sekar tajam. "Kalau Bapak dipenjara, siapa yang menyetir truk untuk saya malam ini?"

Pak Man mendongak, bingung. "Malam ini?"

Sekar memutar tubuhnya menghadap Pak Man sepenuhnya.

Tatapan matanya tajam, berkilat dengan determinasi yang menakutkan.

"Bapak ingin menebus dosa Bapak?"

"Ingin sekali, Non! Demi Allah!"

"Kalau begitu, jadilah Double Agent," perintah Sekar.

"Dabel... apa, Non?"

"Mata-mata ganda. Dengarkan baik-baik."

Sekar mendekatkan wajahnya, suaranya merendah menjadi bisikan konspirasi.

"Rangga berpikir dia sudah menghancurkan saya. Dia pasti menunggu reaksi saya. Dia ingin melihat saya panik, menangis, atau mencoba menyembunyikan barang bukti."

"Sekarang, saya ingin Bapak menghubungi orang kepercayaan Rangga lagi. Menangislah di telepon seperti tadi. Katakan bahwa Bapak ketakutan karena saya mengamuk."

Pak Man menelan ludah, menyimak dengan seksama.

"Lalu berikan mereka 'bocoran' lagi," lanjut Sekar.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin.

"Bilang pada mereka: 'Non Sekar panik. Malam ini jam 11, dia menyuruh saya memindahkan drum biru berisi Konsentrat Kimia Utama dari gudang rahasia di Bantul untuk dibuang ke laut sebelum polisi datang menggeledah besok pagi'."

Mata Pak Man membelalak. "Tapi Non... kita kan tidak punya gudang di Bantul? Dan drum biru itu..."

"Drum biru itu ada," sela Sekar. "Isinya adalah fermentasi urin kelinci yang gagal minggu lalu. Ingat baunya?"

Wajah Pak Man berubah menjadi hijau saat mengingat bau busuk yang membuat satu kampung tutup hidung itu.

"Ingat, Non. Baunya seperti bangkai dicampur amonia."

"Tepat," Sekar mengangguk puas. "Itu yang akan kita jadikan umpan. Rangga haus akan bukti. Jika dia mendengar saya berusaha 'membuang barang bukti utama', dia pasti akan datang sendiri untuk menangkap basah saya. Dia ingin menjadi pahlawan yang menggagalkan pembuangan limbah."

Sekar kembali menatap ke depan.

"Kita akan memancing buaya keluar dari rawa, Pak Man. Dan saat dia menggigit umpan itu... dia akan menyesal seumur hidup."

Sekar menoleh lagi ke arah sopirnya.

"Hapus air mata Bapak. Jalankan mobilnya. Kita harus mampir ke kandang kelinci sekarang. Kita harus meracik 'parfum' spesial untuk Gusti Rangga."

Pak Man menghapus air matanya kasar dengan lengan baju.

Rasa bersalah di dadanya perlahan berganti menjadi semangat membara.

Dia punya kesempatan kedua.

Dia tidak akan menyia-nyiakannya.

"Siap, Non!" jawab Pak Man tegas.

1
Annisa fadhilah
bagus bgt
tutiana
ya ampun mimpi apa semalam Thor, trimakasih crazy up nya
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
tutiana
gass ken arya,,, tumbangin rangga
🌸nofa🌸
butuh energi buat menghadapi Dhaning
🌸nofa🌸
mantap arya
tutiana
wuenakkk banget kan ,,Rangga,,Rangga kuapok
Aretha Shanum
upnya good
borongan
lin sya
keren sekar, bkn hnya jenius tp cerdik, mental baja, pandai membalikan situasi yg hrusnya dia kalah justru musuhnya yang balik menjdi pelindung buat para kacungnya daning 💪
gina altira
menunggu kehancuran Rangga
🌸nofa🌸
waduh malah nantangin😄
🌸nofa🌸
judulnya keren banget😄
sahabat pena
kapan nafasnya? teror trs .hayo patah kan sayap musuh mu sekar.. biar ga berulah lagi
INeeTha: seri 2 ini memang di stel mode tahan nafas ka🙏🙏🙏
total 1 replies
INeeTha
Yang nyariin Arya, dia nungguin kalian di bab selanjutnya 🤣🤣🤣
gina altira
Aryanya kemana inii,, kayakanya udah dijegal duluan sama Dhaning
sahabat pena
kurang greget sama Arya ya? kasian sejar selalu berjuang sendiri
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Sekar keren banget 😍😍😍😍😘
sahabat pena
rasakan itu rangga 🤣🤣🤣🤣rasanya mau bersembunyi di lubang semut🤣🤣🤣🤣malu nya.. euy🤣🤣
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Rangga terlalu bodoh untuk melawan seorang profesor 😏😏🙄🙄
🌸nofa🌸
wkwkwkwkwk
kena banget jebakan sekar buat rangga😄
🌸nofa🌸
kebalik padahal😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!