NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 12: PERMAINAN KOTAK-KOTAK

Keesokan harinya, pagi dimulai dengan keheningan yang berbeda. Udara terasa berat, seperti sebelum badai. Aisha bangun lebih awal, memandangi rumah Rafa dari jendela kamarnya. Lampu kamar Arka masih padam. Mungkin anaknya akhirnya tertidur setelah malam yang gelisah.

Pukul 07.00, telepon berdering. Rafa.

"Sudah lihat?" suaranya tegang.

"Apa?"

"Cek surelmu. Pakai akun lama yang dulu kita pakai waktu kuliah."

Jantung Aisha berdebar. Dia membuka laptop tua yang jarang dipakai, masuk ke akun surel mahasiswanya yang sudah sepuluh tahun tidak dibuka. 237 pesan tidak terbaca. Dan yang paling atas, dari pengirim anonim, dengan subjek: "PERMAINAN BELUM SELESAI".

Dia membukanya. Isinya sederhana: sebuah foto hitam-putih dari surat yang tidak pernah dikirim itu suratnya untuk Rafa yang menceritakan kehamilannya. Tapi ada yang berbeda: di bagian bawah surat itu, ada tulisan tangan baru dengan tinta merah:

"Kebohongan pertama. Masih banyak yang menyusul."

Dan di bawahnya, sebuah puzzle kotak-kotak sederhana, seperti permainan anak-anak. Di beberapa kotak ada tulisan: Aisha - 2009, Rafa - 2009, Arka - 2010, Laras - 2014, Nadia - 2016, Arkana - sekarang, Transplant - sekarang. Dan satu kotak kosong besar di tengah dengan tanda tanya.

Arkana. Nama itu membuat Aisha terkesiap. Bayi laki-laki Laras dan Rafa yang masih berusia satu tahun. Rangga bahkan tahu tentang Arkana. Dia mengamati mereka lebih dalam dari yang mereka duga.

"Rafa... dia punya surat aslinya?" bisik Aisha, suara gemetar. "Dan dia tahu tentang Arkana. Dia menyertakan nama bayi itu."

"Sepertinya iya. Dan ini ancaman. Dia akan mengungkap semuanya, kotak demi kotak termasuk melibatkan Arkana."

"Tapi Arkana hanya bayi! Dia bahkan tidak mengerti apa-apa!"

"Itulah yang membuatnya lebih berbahaya. Dia tidak peduli siapa yang disakiti, asal kita menderita."

---

Pukul 08.30, di rumah Rafa.

Mereka berkumpul di ruang keluarga Rafa, Laras, Aisha, dan Arka yang duduk di tengah dengan wajah bingung. Nadia dan Arkana masih tidur, dijaga pengasuh di kamar atas.

"Arka," mulailah Rafa, suara lembut tapi tegas. "Kami perlu bicara serius. Tentang... foto-foto yang Ibu Laras terima. Dan tentang orang yang mengirimnya."

Arka melihat sekeliling. "Orang jahat?"

"Iya. Namanya Pak Rangga. Dia... teman Ayah dan Bunda waktu kuliah. Dan dia sakit hati pada kami."

"Kenapa?"

Karena itulah pertanyaan tersulit. Bagaimana menjelaskan kompleksitas dendam orang dewasa pada anak delapan tahun?

Aisha mengambil alih. "Dulu, Pak Rangga suka pada Bunda. Tapi Bunda memilih Ayah. Dan itu membuatnya marah. Sekarang, setelah bertahun-tahun, dia melihat Ayah dan Bunda dekat lagi meskipun hanya sebagai teman, sebagai orang tuamu dia sakit hati lagi. Dan dia ingin menyakiti kita semua."

Arka mencerna. "Tapi kenapa kirim foto? Kenapa bikin Ibu Laras marah?"

"Karena dengan membuat Ibu Laras marah," jelas Laras sendiri, dengan suara yang mengejutkan tenang, "dia berharap Ayah dan Bunda bertengkar. Berharap kita semua berpisah. Itu yang dia inginkan melihat kita menderita seperti dulu dia menderita."

"Jadi... Bunda dan Ayah tidak pacaran? Tidak bohong?"

"Tidak," kata Rafa dan Aisha bersamaan.

Arka memandangi mereka lama, lalu menunduk. "Tapi... Arka juga sempat senang. Pikir Bunda dan Ayah bakal bersama lagi. Arka bisa punya keluarga lengkap."

Kalimat itu seperti pisau. Keinginan rahasia anak yang tidak pernah terucap. Harapan yang bahkan tidak disadari oleh orang dewasa di sekitarnya.

Laras menarik napas dalam. "Arka, sayang... Kadang hidup tidak seperti yang kita harapkan. Kadang keluarga tidak harus tinggal dalam satu rumah untuk menjadi keluarga. Kamu punya Ayah yang mencintaimu. Punya Bunda yang mencintaimu. Punya aku yang... yang juga mencintaimu. Dan Nadia dan Arkana yang menganggapmu kakak. Itu juga keluarga."

Air mata menggenang di mata Arka. "Tapi Arka mau kalian semua tidak bertengkar. Mau kalian semua happy."

"Kita akan berusaha," janji Aisha, memegang tangan Arka. "Tapi kita butuh bantuanmu. Pak Rangga ini... dia berbahaya. Dia mungkin mencoba mendekatimu. Atau Nadia. Atau bahkan Arkana. Kamu harus berjanji: tidak bicara dengan orang asing. Tidak menerima hadiah. Selalu cerita pada kami jika ada yang mencurigakan."

Arka mengangguk, wajahnya serius seperti prajurit kecil. "Arka janji. Arka jagain Nadia dan Arkana juga."

---

Setelah percakapan itu, Aisha dan Rafa pergi ke kantor polisi untuk melapor. Tapi polisi hanya bisa mencatat laporan. "Tanpa bukti kuat, ancaman surel tidak cukup untuk penangkapan," kata petugas.

Mereka keluar dengan perasaan tidak berdaya. Rangga berada di bayang-bayang, mengendalikan permainan, sementara mereka hanya bisa menunggu serangan berikutnya.

"Satu hal yang menggangguku," kata Aisha saat mereka duduk di mobil. "Kotak kosong di puzzle itu. Kotak dengan tanda tanya. Dan Arkana sudah dimasukkan. Siapa lagi yang bisa dia incar?"

"Mungkin... sesuatu yang belum terjadi," tebak Rafa. "Atau seseorang yang belum terlibat tapi akan dia libatkan."

---

Sore harinya, saat Aisha sedang menyiapkan makan malam, bel pintu berbunyi. Dia mengintip melalui jendela tidak ada siapa-siapa. Tapi di depan pintu, ada sebuah kotak kado kecil dengan pita merah.

Dengan hati-hati, dia mengambilnya. Tidak ada nama pengirim. Dia membuka di meja dapur.

Di dalamnya: sebuah boneka kain kecil berbentuk ginjal. Lucu, tapi mengerikan. Dan sebuah kartu:

"Ginjalnya bekerja baik? Aku harap iya. Karena aku punya rencana untuknya. Dan untuk bayi kecil itu juga."

Bayi kecil. Arkana. Aisha menjatuhkan boneka itu, gemetar. Dia mengancam bukan hanya ginjal Arka, tapi juga Arkana. Ancaman langsung pada kedua anak.

Dia langsung menelepon Rafa. "Dia datang ke rumahku. Tinggalkan sesuatu. Dan dia ancam Arkana juga."

"APA? ARKANA? DIA MASIH BAYI!"

"Kotak di puzzle Arkana sudah ada. Dan dia sebut 'bayi kecil' di kartu. Dia sedang mengincar semua anak, Rafa."

"Diam di sana. Aku dan Laras datang. Bawa Arkana dan Nadia juga."

---

Lima belas menit kemudian, Rafa, Laras, dan kedua anak mereka tiba. Laras menggandeng Arkana yang masih mengantuk di gendongannya, wajah pucat ketakutan. Nadia memegangi tangan ibunya erat-erat.

"Kamu tidak bisa tinggal sendirian di sini," kata Laras, suaranya gemetar kali ini. "Dan kami juga tidak aman di rumah."

"Kita harus pisahkan anak-anak," usul Rafa. "Arka ke rumah ibuku. Tapi Arkana... dia masih terlalu kecil, terlalu rentan. Butuh penjagaan ekstra."

"Arkana tetap bersamaku," tegas Laras, memeluk bayinya lebih erat. "Tidak ada yang akan memisahkan aku dari anakku."

Aisha melihat kepanikan di mata Laras ketakutan seorang ibu yang sama seperti yang sering ia rasakan dulu untuk Arka. "Kita semua harus tetap bersama. Berpisah justru membuat kita lebih lemah. Tapi kita perlu tempat yang lebih aman."

Akhirnya, mereka sepakat: Mereka semua akan mengungsi sementara ke rumah ibu Rafa di luar kota. Rumah besar dengan pagar tinggi, tetangga yang jarang, dan bisa dijaga lebih ketat. Bersama-sama.

Bersatu. Menghadapi ancaman bersama.

---

Malam itu, saat mengemasi barang-barang dengan tergesa-gesa, Arka bertanya pada Aisha:

"Bunda, kenapa orang jahat itu mau sakiti Arkana? Dia kan bayi. Tidak pernah buat salah."

"Kadang orang jahat tidak memilih, sayang. Mereka mau menyakiti siapa saja yang kita cintai, agar kita lebih menderita."

"Tapi Arka janji lindungi Arkana. Meskipun dia cuma adik bayi, Arka sayang dia."

Aisha memeluknya, tersentuh. Arka yang dulu cemburu pada keluarga ayahnya, sekarang malah bersumpah melindungi adik-adik tirinya. Anaknya benar-benar tumbuh menjadi anak yang berhati besar.

Laras yang mendengar, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Arka. Tapi kamu juga harus jaga diri sendiri. Kamu spesial. Kamu punya ginjal Ayah di dalammu. Itu membuatmu sangat berharga."

Pukul 21.00, dua mobil berangkat menuju rumah nenek di pinggiran kota. Mobil pertama: Rafa, Laras, Nadia, dan Arkana. Mobil kedua: Aisha dan Arka, dengan pengawalan tetangga polisi pensiunan.

Perjalanan gelap, sunyi, penuh kewaspadaan. Setiap mobil yang mendekat membuat jantung mereka berdebar. Rangga bisa mengikuti. Rangga bisa menyerang kapan saja.

---

Tengah malam, mereka tiba di rumah besar ibu Rafa. Ibu Hani sudah menunggu dengan wajah khawatir, tapi langsung bertindak tegas. "Semua kamar di lantai dua sudah siap. Jendela dikunci. Aku sudah hubungi satpam kompleks untuk berjaga-jaga."

Mereka berbagi kamar: Aisha dan Arka di satu kamar, Rafa dan Laras dengan Arkana di kamar sebelah, Nadia dengan neneknya. Keluarga besar yang disatukan oleh ketakutan.

Tapi malam itu tidak tenang.

Pukul 01.47, telepon rumah berdering. Ibu Hani mengangkat. Suara di seberang: Rangga.

"Selamat malam, Bu Hani. Lama tidak berkomunikasi sejak Rafa masih kuliah. Sekarang sudah punya tiga cucu ya? Satu dengan mantan pacarnya, dua dengan istri sahnya. Komplit."

"SIAPA INI? APA YANG KAU INGINKAN?"

"Aku hanya ingin bicara dengan Rafa. Atau Aisha. Terserah."

Rafa mengambil alih telepon. "Rangga. Cukup. Hentikan ini."

"Ah, Rafa. Sang pahlawan. Selalu menyelamatkan orang. Tapi siapa yang akan menyelamatkanmu kali ini? Atau... siapa yang akan menyelamatkan bayimu yang baru? Arkana, kan namanya? Lucu sekali di fotoku."

"Jangan sentuh anakku!"

"Atau apa? Kamu akan lapor polisi? Mereka tidak bisa lakukan apa-apa. Aku seperti angin, Rafa. Tidak bisa ditangkap."

"APA YANG KAU INGINKAN? UANG? KAMI AKAN BERIKAN!"

"Uang? Oh, tidak. Aku ingin sesuatu yang lebih berharga. Aku ingin kamu merasakan kehilangan. Seperti yang kurasakan dulu."

Telepon diputus.

Rafa menatap telepon, lalu melihat Laras yang sedang menimang Arkana dengan mata penuh air mata. Bayinya. Anak yang tidak bersalah. Menjadi target.

---

Pagi hari, mereka berkumpul di ruang makan. Wajah-wajah lelah, tegang.

"Kita tidak bisa terus seperti ini," kata Aisha. "Kita harus menghadapinya. Tapi dengan cara yang aman untuk anak-anak."

"Bagaimana caranya?" tanya Laras, masih menggandeng Arkana.

"Rangga ingin konfrontasi. Dia ingin bertemu. Baik, kita akan bertemu. Tapi di tempat yang kita kendalikan. Dengan jaminan anak-anak aman."

Mereka merencanakan: Ibu Hani akan membawa ketiga anak Arka, Nadia, Arkana ke rumah saudaranya yang lebih jauh, dengan pengawalan. Sementara Rafa, Aisha, dan Laras akan memancing Rangga keluar.

Tapi Arka menolak. "Arka mau ikut. Arka mau lindungi adik-adik."

"Tidak, sayang," kata Aisha tegas. "Ini terlalu berbahaya. Kamu harus pergi dengan nenek."

"Tapi ginjal Ayah ada di Arka! Kalau dia mau sakiti ginjal itu, Arka harus ada di sini!"

Pernyataan itu membuat mereka semua terdiam. Arka benar. Rangga mengancam ginjalnya. Dan ancaman itu mungkin bukan hanya kata-kata.

dr. Arman yang mereka hubungi via telepon memperingatkan: "Jika Rangga punya akses ke data medis Arka, dia mungkin tahu obat-obatan yang Arka konsumsi. Atau tahu cara melemahkan sistem imunnya. Itu bisa memicu penolakan ginjal."

Ancaman nyawa. Lagi.

---

Mereka akhirnya memutuskan:

Arka akan tetap dengan mereka, tetapi dengan penjagaan ketat.

Nadia dan Arkana akan dibawa ke tempat aman oleh Ibu Hani dan pengawal.

Rafa, Aisha, Laras, dan Arka akan mengirim tantangan pada Rangga untuk bertemu di tempat umum pusat perbelanjaan yang ramai, dengan polisi sipil bersembunyi.

Mereka mengirim surel pada Rangga:

"Kamu ingin bertemu? Baik. Besok, jam 11 siang, di food court Plaza Mandiri. Kami akan ada: Rafa, Aisha, Arka. Datang sendiri. Mari kita selesaikan."

Mereka menunggu. Apakah Rangga akan menerima? Atau akan meminta tempat lain?

Balasan datang cepat:

"Arka ikut? Bagus. Aku ingin lihat ginjalku bekerja. Tapi tidak di plaza. Terlalu banyak orang. Aku punya tempat yang lebih... pribadi. Rumah sakit lama tempat Arka dulu dirawat. Ruang isolasi lantai 3 yang sudah tidak dipakai. Jam 11. Hanya kalian bertiga. Atau Arkana akan mendapat 'kado' khusus."

Ancaman pada Arkana lagi. Dia menggunakan bayi itu sebagai senjata.

Mereka terpojok. Jika mereka tidak menuruti, Arkana dalam bahaya. Jika mereka menuruti, Arka dalam bahaya.

Laras menangis diam-diam di sudut ruangan, memeluk Arkana. "Aku tidak akan biarkan dia sentuh bayiku. Tidak akan."

Tapi pilihan mereka sedikit. Rangga memegang semua kartu.

---

Mereka akhirnya setuju.

Tapi dengan persiapan: polisi akan menyamar sebagai petugas kebersihan dan perawat di rumah sakit lama itu. Dan Laras meski tidak disebutkan dalam daftar akan bersembunyi di mobil di dekat situ, dengan monitor yang terhubung ke kamera kecil yang akan dipasang pada Aisha.

Rencana berisiko. Tapi satu-satunya cara.

Malam sebelum pertemuan, Aisha tidak bisa tidur. Dia duduk di samping tempat tidur Arka yang sudah tertidur, memandangi wajah anaknya yang damai. Delapan tahun lalu, dia berjuang sendirian untuk menyelamatkan nyawa anak ini. Sekarang, mereka berjuang bersama dengan ayahnya, dengan keluarga barunya. Tapi ancamannya lebih mengerikan.

Arka terbangun, matanya setengah terbuka. "Bunda, Arka takut."

"Aku juga takut, sayang."

"Tapi kita bersama ya? Ayah, Bunda, Arka. Seperti dulu waktu di rumah sakit."

"Seperti dulu. Dan kali ini, kita tidak sendirian. Ada Ibu Laras, ada polisi, ada nenek."

"Arka mau ginjal Ayah tetap aman. Karena itu hadiah terbaik."

Aisha menangis. Anak ini terlalu banyak mengerti untuk usianya. Terlalu banyak menderita. Dan sekarang, harus menghadapi teror lagi.

---

Pukul 10.30 pagi.

Mobil mendekati rumah sakit lama itu gedung yang setengah ditinggalkan, menyeramkan. Arka menggenggam erat tangan Aisha dan Rafa.

"Kita akan baik-baik saja," bisik Rafa, tapi suaranya tidak yakin.

Mereka masuk ke lobi yang kosong, berdebu. Suara langkah mereka bergema. Dan di ujung koridor gelap, seseorang berdiri menunggu.

Rangga. Lebih tua, lebih kurus, dengan senyum tipis yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Selamat datang," katanya. "Keluarga bahagia yang direkatkan oleh sebuah ginjal."

---

(Di mobil parkiran, Laras menatap monitor dengan napas tertahan. Di pangkuannya, telepon berdering nomor tidak dikenal. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat. Suara Rangga yang lain atau rekaman? berkata: "Salah alamat, Bu Laras. Aku tidak di rumah sakit. Aku di belakangmu.")

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!