NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Pukul dua dini hari. Keheningan di dalam laboratorium bawah tanah itu terasa begitu tebal dan menekan, seolah udaranya sendiri punya berat yang menjerat setiap bagian tubuh yang ada di dalamnya. Hanya suara statis yang lembut dari monitor jantung Lusy yang memecah kesunyian itu.

Axel berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk di depan meja kerjanya yang penuh dengan kertas dan peralatan eksperimen, matanya menatap ponsel cerdas yang digenggam erat di tangannya. Ibu jarinya tertahan di atas layar sentuh, sebelum menyentuh nomor kontak yang sudah ia simpan dengan nama 'Sam'. Ia tahu dengan sangat jelas bahwa setiap langkah yang ia lanjutkan dari sini akan berarti menyeret orang lain ke dalam pusaran dosa yang ia ciptakan sendiri dengan tangan kirinya.

Namun, saat ia melihat kembali grafik metabolisme Lusy yang melonjak dengan sangat abnormal di layar monitor medis yang terletak di sisi meja, ia sadar bahwa kecerdasan dan kemampuannya sendiri tidak akan cukup untuk mengatasi masalah yang sudah berkembang menjadi begitu besar ini.

Setelah beberapa saat berpikir dengan sangat dalam, ia akhirnya menekan tombol panggil dengan hati yang penuh dengan keraguan namun juga tekad yang kuat. Suara nada dering yang terdengar dari ponselnya seolah menjadi suara pemanggil yang akan membawa mereka ke dalam jurang yang lebih dalam lagi.

"𝘏𝘢𝘭𝘰? 𝘈𝘹𝘦𝘭? 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘫𝘶𝘳𝘯𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘳𝘪𝘴𝘦𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘶𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮!"

Suara Samuel penuh rasa kantuk dan sedikit kesal terdengar dari sisi lain sambungan telepon, membuat Axel merasa semakin bersalah karena harus mengganggu waktu istirahat sahabatnya yang satu-satunya ini.

Namun tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Axel segera memotong kalimat Samuel dengan suara yang terdengar sangat serius yang tidak pernah dengar oleh Samuel sebelumnya.

"Sam, datang ke rumahku sekarang juga. Gunakan kode Merah. Jangan pernah mencoba lewat pintu depan rumahku, gunakan pintu samping yang terletak dekat gudang kayu di belakang rumah. Jangan beritahu siapapun bahwa kau akan datang kesini. Ini sangat penting."

Keheningan sesaat terjadi di seberang sana sebelum Samuel akhirnya merespons dengan nada yang mulai menunjukkan kesadaran bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres. Samuel mengenal nada suara itu dengan sangat baik. "Baiklah, aku berangkat sekarang juga. Aku akan sampai dalam sepuluh menit."

Tepat dua belas menit kemudian, pintu laboratorium yang tertutup rapat itu terbuka perlahan dan Samuel muncul di ambang pintunya dengan napas tersengal akibat berlari cepat dari rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sini.

Ia masih mengenakan kaus oblong berwarna biru muda dan celana jins yang jelas merupakan pakaian tidur yang tidak sengaja dikenakan untuk keluar rumah. "Ada apa sebenarnya? Apa Tuan Doni sakit parah? Ataukah kau menemukan sesuatu yang sangat besar dalam risetmu yang membuatmu harus memanggilku di tengah malam seperti ini?"

Namun langkah Samuel tiba-tiba terhenti begitu saja ketika matanya secara tidak sengaja tertuju pada ruang isolasi berkaca tebal yang terletak di sudut paling jauh dari laboratorium itu.

Di sana, di bawah sorot lampu halogen yang tajam dan membuat setiap detail terlihat jelas, Lusy terbaring dengan tubuh yang sedikit kaku di atas brankar medis yang ada di dalamnya. Namun, ini bukanlah Lusy yang biasanya Samuel kenal—wanita itu terlihat sangat berbeda dari biasanya.

Meski sedang tertidur karena pengaruh obat bius yang diberikan, sisa-sisa mutasi yang mengerikan masih sangat terlihat dengan jelas; kulitnya yang pucat hampir tampak transparan, memungkinkan siapapun yang melihatnya untuk bisa melihat jalur urat-urat berwarna keunguan yang tampak sedang berdenyut dengan sendirinya di bawah kulitnya yang tipis. Setiap denyutan urat itu membuat tubuh Lusy sedikit bergemetar, menunjukkan bahwa proses mutasi yang terjadi di dalam tubuhnya belum benar-benar berhenti.

"Demi Tuhan... itu Lusy bukan?" Kata Samuel penuh dengan kengerian.

Ia mendekat perlahan ke arah kaca isolasi yang kuat itu, wajahnya yang tadinya hanya menunjukkan rasa kantuk kini berubah menjadi pucat pasi dan penuh dengan ketakutan. Ia menyentuh permukaan kaca dengan tangan yang mulai bergetar, seolah ingin memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah khayalan semata.

"Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Kenapa dia terlihat seperti... seperti mayat yang sedang bermutasi di depan mata kita?"

"Percikan zat itu, Sam." Ia tidak berani melihat wajah sahabatnya. "Zat kimia yang kita lihat bersama-sama di data tempo hari itu—zat yang kita sepakati tidak akan pernah digunakan untuk uji coba pada manusia. Dia meminumnya tanpa sengaja saat kita sedang tidak memperhatikan."

Samuel berbalik dengan sangat cepat. Matanya melotot dengan sangat lebar. "Dia meminumnya? Zat ilegal yang belum pernah teruji keamanannya itu? Axel, kau benar-benar gila! Kita harus segera membawanya ke pusat dekontaminasi yang ada di rumah sakit utama kota sekarang juga! Kita harus melapor ke pihak berwenang tentang apa yang terjadi—ini sudah benar-benar di luar kendali kita!"

Samuel segera merogoh saku belakang celananya dengan panik, mencari ponselnya yang biasanya selalu ada di sana. Jemarinya yang gemetar mencari-cari di dalam saku hingga akhirnya menemukan benda persegi kecil itu. "Aku akan segera menelpon ambulans dan unit darurat rumah sakit. Mereka pasti punya protokol khusus untuk menangani kasus paparan zat kimia berbahaya seperti ini—"

"Jangan kau berani melakukan itu!" Axel mencengkeram pergelangan tangan Samuel.

"Kalau kau berani menelpon mereka, Lusy akan langsung diambil dariku. Dia akan dijadikan kelinci percobaan oleh pemerintah atau lembaga penelitian mana pun yang menangkapnya! Mereka tidak akan pernah berusaha untuk menyembuhkannya, Sam—mereka hanya akan membedahnya dan menggunakan tubuhnya untuk eksperimen seumur hidupnya!"

"Tapi dia bisa saja mati di sini, Axel! Atau yang lebih buruk lagi dari itu—dia bisa menyakiti orang lain yang tidak bersalah!" Samuel berteriak dan tubuhnya mencoba dengan sekuat tenaga untuk melepaskan cengkeraman Axel.

"Lihat dia dengan matamu sendiri! Itu sudah bukan lagi manusia yang kita kenal dan cintai! Ini bukan lagi masalah yang bisa kita sembunyikan atau atur sendiri—ini adalah masalah pidana yang bisa membuatmu terjeblos di balik jeruji besi untuk waktu yang sangat lama, Axel!"

Melihat wajah Samuel yang bersikeras untuk melakukan apa yang ia anggap benar dan tepat menurut hukum serta etika medis, seluruh kekuatan yang ada di dalam kaki Axel seolah tiba-tiba menguap dan menghilang tanpa jejak.

Ia dengan sangat lambat melepaskan tangan yang sedang mencengkeram pergelangan tangan Samuel itu, kemudian tubuhnya perlahan menjatuhkan diri ke lantai. Axel berlutut di depan sahabatnya yang sudah dikenal sejak masa kuliah itu, menundukkan kepalanya hingga dahinya nyaris menyentuh bagian atas sepatu Samuel.

"Aku mohon padamu, Sam... sebagai sahabat terbaikku yang sudah bersama-sama menjalani segala sesuatu selama bertahun-tahun ini. Jangan pernah berpikir untuk melapor ke polisi atau pihak berwenang mana pun tentang apa yang terjadi pada Lusy dan apa yang telah kulakukan ini."

"Aku yang melakukan semua ini padanya—aku yang tidak hati-hati dan menyebabkan dia meminum zat itu secara tidak sengaja. Jika dia benar-benar dibawa pergi dari sini oleh mereka, aku tidak akan pernah punya kesempatan sedikit pun untuk memperbaiki kesalahan yang telah aku buat. Aku hanya butuh bantuanmu untuk melakukan riset guna menemukan penawar yang bisa menyembuhkannya. Kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tahu cara kerja laboratorium ini selain diriku sendiri."

Samuel tertegun sepenuhnya melihat sosok dokter jenius yang selama ini selalu menjadi orang yang paling ia kagumi dan hormati kini bersimpuh di kakinya seperti seorang pecundang yang tidak punya harapan lagi. Ia merasa sangat tidak nyaman dan juga sangat sedih melihat keadaan teman baiknya yang sudah seperti ini.

"Xel, bangunlah... jangan melakukan hal seperti ini padaku. Kau tahu betul bahwa aku tidak bisa melihatmu seperti ini."

"Aku tidak akan pernah bangun dari sini sampai kau berjanji bahwa kau tidak akan mengkhianatikanku dan Lusy dengan melaporkan kejadian ini kepada siapapun. Jangan biarkan Lusy menjadi subjek uji coba di tangan orang asing yang tidak pernah peduli dengan dirinya sebagai manusia. Biarkan dia tetap di sini, bersamaku—di tempat di mana aku bisa menjaganya dan terus berusaha untuk menyembuhkannya. Aku akan memberikan segalanya yang kumiliki untukmu, Sam. Nyawaku, hartaku, apa saja yang kau mau. Tapi tolonglah aku untuk menyelamatkannya secara rahasia."

Samuel menatap dengan sangat lama ke arah ruang kaca isolasi yang masih terlihat jelas itu, melihat bagaimana tubuh Lusy yang terbaring di dalamnya masih sedikit bergemetar. Kemudian ia kembali menoleh ke arah Axel yang masih bersimpuh di kakinya.

Ada pertarungan yang sangat hebat terjadi di dalam batinnya antara sumpah medis yang telah ia ikuti sebagai seorang dokter untuk selalu melindungi keselamatan pasien dan melaporkan segala bentuk pelanggaran etika medis, serta ikatan persaudaraan yang telah mereka jalin selama bertahun-tahun lamanya.

Ia tahu dengan sangat jelas bahwa setiap keputusan yang ia ambil sekarang akan menjadi awal dari sebuah bencana yang tidak bisa dihindarkan lagi. Namun ketika melihat betapa dalamnya kehancuran yang dialami oleh Axel, nuraninya yang sudah mulai goyah tidak bisa lagi memaksanya untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan menurut aturan yang ada.

"Tolonglah, Sam..."

Samuel akhirnya menghela napas panjang. Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Kemudian ia membungkuk sedikit dan meraih bahu Axel dengan lembut. "Bangunlah, kau bodoh besar. Kalau Tuan Doni melihat kita seperti ini, dia pasti akan mengira aku sedang merundungmu atau melakukan sesuatu yang tidak baik padamu."

Axel akhirnya mengangkat kepalanya dengan sangat lambat, wajahnya yang sembab dan penuh dengan bekas air mata itu menatap wajah Samuel dengan secercah harapan yang baru saja muncul setelah merasa benar-benar putus asa. Ia tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa melihat ke arah sahabatnya itu dengan mata yang penuh dengan rasa syukur yang luar biasa besar.

"Aku tidak akan pernah berjanji bahwa segala sesuatu yang akan kita lakukan ini akan berhasil dengan baik. Tetapi aku tidak akan menelpon siapa pun tentang hal ini... untuk saat ini saja ya. Sekarang, tunjukkan padaku semua data seluler yang kau punya tentang Lusy. Aku ingin melihat sendiri seberapa besar lubang neraka yang sudah kau gali untuk kita berdua."

Axel segera bangkit dengan sedikit lunglai. Ia menyeka air mata yang masih menetes di pipinya dengan punggung tangan dengan cepat, kemudian bergerak ke arah meja kerja yang ada di sisi lain laboratorium itu.

Ia mulai membuka berbagai file data yang tersimpan di dalam komputer dengan jari-jari yang kembali mulai menunjukkan kecepatan dan presisi yang biasanya dimilikinya sebagai seorang ilmuwan. Namun di balik kaca isolasi yang jelas itu, jari tangan Lusy yang tadinya diam tiba-tiba bergerak sedikit dengan cepat, kemudian mencakar sprei putih yang ada di atas brankar medis dengan gerakan involunter yang sangat tajam dan kuat.

Suara gesekan kuku pada kain sprei itu terdengar sangat jelas di dalam laboratorium, menjadi pengingat yang sangat menyakitkan bahwa waktu yang mereka miliki untuk menemukan penawar sungguhan sangatlah terbatas dan tidak bisa diabaikan lagi.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!