Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Oksigen di Ambang Kematian
"Biarkan saja dia mati, Aira! Dengan begitu kau bebas dari kutukan keluarga Malik!" Dion mempererat cengkeramannya di pergelangan tangan Aira, wajahnya tampak gila oleh ambisi.
Aira menatap ke atas balkon. Arkanza sudah terkapar, tangannya mencakar lehernya sendiri, mencoba mencari udara yang tak kunjung sampai ke paru-parunya.
"Lepaskan aku, Tuan Dion! Dia bisa mati!" teriak Aira histeris.
"Itu tujuanku! Jika dia mati, aku ahli waris tunggal! Dan kau... kau akan kusembunyikan sebagai saksi kunciku!"
"TIDAK! SAYA TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKANNYA!"
Tanpa ragu, Aira menarik tangan Dion dan—JLEB!—ia menggigit tangan pria itu sekuat tenaga hingga darah merembes ke bibirnya.
"AAAGHHH! JALANG SIALAN!" Dion menjerit kesakitan dan refleks melepaskan cengkeramannya.
Aira tidak menunggu sedetik pun. Ia berlari kencang menuju pintu belakang mansion, mengabaikan teriakan makian Dion di belakangnya. "Tuan Arkan! Bertahanlah! Saya mohon, bertahanlah!"
Aira mendobrak pintu balkon yang sedikit terbuka. Di sana, Arkanza sudah membiru. Matanya setengah tertutup, dan denyut nadinya melemah.
"Tuan! Tuan Arkan, lihat saya!" Aira menjatuhkan dirinya di samping Arkanza, mengangkat kepala pria itu ke pangkuannya.
"Ugh... p-pergi... kau... pengkhianat..." bisik Arkanza, suaranya hampir hilang, namun tangannya masih berusaha mendorong Aira lemah.
"Saya tidak mengkhianati Anda! Dion bohong! Saya hanya ingin tahu kebenarannya demi Anda!" Aira menangis sesenggukan. Ia segera menarik wajah Arkanza, menempelkan telapak tangannya ke pipi pria itu. "Bernapaslah, Tuan. Saya di sini. Ambil napas Anda dari saya!"
Aira mendekatkan wajahnya, memberikan napas buatan sekaligus membiarkan kulit mereka bersentuhan sedalam mungkin. Ia memeluk leher Arkanza, mencoba menyalurkan kehangatan dan "penawar" yang dibutuhkan tubuh pria itu.
Perlahan, tarikan napas Arkanza yang tadinya patah-patah mulai memberat dan dalam. Bintik merah di lehernya perlahan memudar.
"Hah... hah... Aira..." Arkanza mencengkeram lengan gaun Aira, matanya mulai fokus menatap wajah gadis yang menangis di atasnya.
"Iya, ini saya... maafkan saya, Tuan. Tolong jangan mati..."
Arkanza menarik napas panjang, lalu tiba-tiba ia menarik tengkuk Aira dan menciumnya dengan kasar, penuh kemarahan sekaligus rasa lega yang luar biasa. Ciuman itu terasa asin karena air mata, namun memberi kehidupan kembali bagi Arkanza.
Setelah beberapa saat, Arkanza melepaskannya. Ia masih terengah-engah, namun kekuatannya telah kembali. "Kenapa kau kembali? Bukankah Dion menawarkannya kebebasan?"
"Kebebasan macam apa jika saya membiarkan suami saya mati dibunuh saudaranya sendiri?" jawab Aira sambil menghapus air matanya. "Tuan, Dion yang merusak rem mobil ibu Anda. Dia hanya ingin memfitnah Ayah saya agar Anda membenci saya!"
Arkanza tertegun. Ia mencoba duduk tegak, matanya berkilat penuh dendam saat melihat ke arah taman bawah, di mana Dion masih berdiri dengan tangan terluka.
"Reno!" teriak Arkanza dengan suara yang sudah kembali berwibawa.
Reno dan sepuluh pengawal bersenjata muncul dari balik pintu kamar. "Saya di sini, Tuan Besar."
"Tangkap Dion. Jangan biarkan dia keluar dari gerbang mansion ini hidup-hidup," perintah Arkanza dingin.
"Tuan, jangan membunuhnya! Nanti Anda masuk penjara!" cegat Aira sambil memegang tangan Arkanza.
Arkanza menatap Aira dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mengusap sisa darah di bibir Aira akibat gigitan tadi. "Dia sudah menyentuhmu. Dia sudah membuatmu menangis. Dan dia hampir membunuhku."
"Tuan, saya mohon... gunakan hukum, jangan nyawa," tangis Aira lagi.
Arkanza diam sejenak, lalu ia mendesah kasar. "Reno, bawa dia ke ruang bawah tanah. Aku akan memberinya 'pelajaran' sebelum menyerahkannya ke polisi. Dan satu lagi..."
"Ya, Tuan?"
"Cari keberatan Alan. Bawa dia ke sini. Aku ingin mendengar langsung dari mulutnya tentang malam kematian ibuku."
Arkanza berdiri, lalu ia menarik Aira masuk ke dalam pelukannya. Kali ini, pelukannya terasa sangat posesif, seolah takut Aira akan menghilang lagi.
"Jika kau nekat keluar dari jendela lagi..." bisik Arkanza tepat di telinga Aira, "Aku akan merantai kakimu di ranjangku selamanya. Kau mengerti, Nyonya Malik?"
Aira hanya bisa mengangguk dalam dekapan hangat itu. Meskipun penuh ancaman, ia tahu itu adalah cara Arkanza mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa dirinya.
...****************...
Saat Dion diseret pergi, dia berteriak, "Kau pikir kau sudah menang, Arkan?! Ayahmu tahu segalanya! Tanyakan pada Syarif Malik kenapa dia membiarkan ibumu mati!"
Arkanza membeku. Ia menoleh ke arah pintu kamar, di mana ayahnya, Syarif Malik, berdiri dengan tenang sambil memegang tongkatnya. "Sepertinya kita perlu bicara, Arkanza."