NovelToon NovelToon
Jodoh Sang Letnan

Jodoh Sang Letnan

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:83.4k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022

Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.

Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.

Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?

Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Liontin Yang Menjadi Utuh

     Pagi itu, suasana di kampus UIN Bandung terasa sedikit berbeda dari biasanya Syafina. Meskipun matahari bersinar cerah dan angin sejuk pegunungan membelai kulitnya, konsentrasinya buyar total.

     ​Kemarin siang, sebuah nomor asing menghubunginya. Jantung Syafina seolah berhenti berdetak saat suara bariton yang berat namun sopan terdengar di seberang sana.

     ​"Assalamualaikum, Syafina. Ini saya, Erlaga. Maaf jika mengganggu waktumu."

     ​Hanya dengan kalimat sederhana itu, pertahanan yang dibangun Syafina selama setahun runtuh seketika. Meski ia berusaha menjawab dengan nada sedatar mungkin, tangannya yang gemetar tidak bisa berbohong.

     Erlaga menghubunginya meminta izin untuk menjemputnya di kampus hari ini. Syafina sempat ragu, sebab ia harus meminta izin dari sang Papa.

     Ketiak ia bicara pada Dallas, sang Papa justru tertawa kecil.

     ​"Laga sudah telepon Papa lebih dulu kemarin pagi, Fin. Dia minta izin pada Papa untuk jemput kamu di kampus. Papa izinkan, asal jam delapan malam kamu sudah di rumah," begitu kata Dallas.

     ​Syafina mendesah pelan. Ternyata pergerakan sang perwira lebih cepat dari dugaannya.

     ​Tepat pukul empat sore, di depan gerbang kampus, sebuah mobil SUV berwarna navy terparkir dengan gagah. Syafina berjalan keluar gerbang dengan langkah yang sengaja ia perlambat. Dari kejauhan, ia melihat sosok pria berdiri bersandar di pintu mobil.

     ​Erlaga masih mengenakan seragam PDL (Pakaian Dinas Lapangan). Penampilannya benar-benar mencolok di antara kerumunan mahasiswa. Baret hijaunya terselip di pundak, lengannya yang kokoh terlihat jelas di balik seragam loreng yang tergulung rapi. Wajahnya yang sedikit mengurus dan kulit yang lebih gelap justru menambah kesan maskulin dan matang.

     ​Saat mata mereka bertemu, Erlaga segera menegakkan tubuhnya. Ia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Syafina.

     ​"Selamat sore, Syafina. Maaf, saya tidak sempat ganti baju setelah dari kesatuan, jadi langsung ke sini," ujar Erlaga dengan senyum tipis yang tulus.

     ​Syafina hanya mengangguk pelan dengan wajah yang masih datar, meski pipinya mulai memanas. "Tidak apa-apa," jawabnya. Tidak ada senyum ramah atau sikap luwes seperti setahun lalu.

     ​Syafina masuk ke dalam mobil. Aroma parfum maskulin bercampur sedikit bau khas kain seragam militer langsung menyerbu indra penciumannya.

     Selama perjalanan menuju pujasera, suasana terasa canggung sekaligus mendebarkan. Tidak ada percakapan panjang, hanya suara radio yang memutar instrumen pelan, seolah memberi ruang bagi dua orang ini untuk mengatur napas mereka yang tidak beraturan.

     ​Tiba di pujasera, tempat yang penuh kenangan pahit setahun lalu, Erlaga memesan makanan yang sama dengan yang pernah mereka makan dulu. Setelah makanan tersaji dan suasana mulai sedikit mencair, Erlaga meletakkan sendoknya. Ia menatap Syafina dengan tatapan dalam, tatapan seorang prajurit yang sedang bersiap mengakui kekalahannya di medan perasaan.

     ​"Syafina," panggilnya lembut.

     ​Syafina mendongak, akan tetapi tangannya masih sibuk memainkan ujung sedotan minumannya

     ​"Saya ingin meminta maaf. Atas apa yang terjadi setahun yang lalu," Erlaga menarik napas panjang. "Saat di kedai bakso itu... saya melihatmu tertawa bersama seorang pria muda. Saya tidak tahu kalau itu Dalfas, yang ternyata saudara kembarmu. Ego saya sebagai laki-laki terluka, dan saya merasa tidak punya hak untuk menemuimu saat itu."

     ​Syafina terdiam. Ada rasa pedih yang kembali berdenyut saat mengenang hari itu. "Hem...Kenapa saat itu Kak Laga tidak bertanya? Kenapa langsung pergi dan mematikan nomor telepon? Kakak tahu berapa banyak air mata yang keluar karena kebingungan itu?" Akhirnya unek-unek yang selama ini Syafina pendam, keluar juga.

     ​Erlaga menunduk, guratan penyesalan jelas terlihat di wajahnya yang tegas. "Saya pengecut saat itu, Fin. Saya pikir, lebih baik menghilang daripada harus melihatmu dengan orang lain. Tapi, selama setahun di Sudan menyadarkan saya. Jika nyawa saya melayang karena peluru nyasar, yang muncul di pikiran saya bukan rasa takut mati, tapi rasa takut kalau saya belum sempat minta maaf padamu."

     ​Syafina mendongak, menatap sekilas tapi sikapnya masih datar dan menjaga batasan. Ganjalan di hatinya belum sepenuhnya hilang. "Mudah sekali Kakak bicara seperti itu sekarang. Setahun itu waktu yang lama, Kak."

     ​Erlaga tidak bicara. Ia merogoh kantong seragamnya, mengeluarkan sebuah benda logam yang tergantung di kalung identitas militernya. Ia meletakkannya di atas meja. Sebuah potongan logam berbentuk separuh hati yang permukaannya tampak sedikit tergores, namun sangat terawat, ia perlihatkan.

     ​"Benda ini tidak pernah lepas dari dada saya, Fin. Di tengah gersangnya Afrika, saat saya terluka dan harus dioperasi, benda ini adalah nyawa saya. Saya menyimpannya karena saya masih menjaga hati yang sama. Nama yang sama," ucap Erlaga dengan suara yang sedikit bergetar.

     ​Syafina terpaku menatap benda itu. Memorinya berputar pada malam-malam sepi di kamarnya saat ia menggenggam belahan hati yang satunya.

     ​"Apakah kamu... masih menyimpan liontin itu?" tanya Erlaga dengan nada was-was. Matanya menatap Syafina dengan penuh kecemasan, takut jika jawaban yang ia terima adalah liontin itu sudah dibuang ke tempat sampah.

     ​Syafina tidak langsung menjawab. Ia sengaja membiarkan keheningan itu menggantung, membuat detak jantung Erlaga kian tidak beraturan. Perlahan, Syafina membuka tas kecilnya. Dengan jari-jari yang lentik, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil cokelat yang selama ini ia sembunyikan di balik buku tugasnya.

     ​Ia membukanya. Di sana, belahan hati yang lain berkilat terkena cahaya lampu neon pujasera.

     ​"Aku tidak membuangnya, Kak. Meskipun berkali-kali aku ingin membuangnya ke sungai atau menguburnya di halaman rumah," bisik Syafina dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi hatiku selalu menolak. Seolah dia tahu kalau pemilik belahan liontin satunya lagi masih berjuang yang sama seperti yang aku rasakan."

     ​Erlaga mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Sebuah senyuman lebar, yang benar-benar tulus, akhirnya merekah di wajahnya. Ia merasa beban seberat gunung yang menindih bahunya selama setahun ini terbang begitu saja.

     ​"Terima kasih, Syafina. Terima kasih karena kamu masih menjaganya," ujar Erlaga parau.

     "Saya juga ingin minta maaf sama Dalfas. Selama ini bahkan sampai kemarin malam, saya masih berpikir kalau Dalfas adalah kekasihmu. Saya sempat kecewa dan kesal, serta menganggapmu sangat keterlaluan. Sengaja datang ke rumah keluarga saya hanya untuk memperkenalkan kekasihmu. Untuk itu, saya benar-benar minta maaf."

     Syafina terdiam sejenak sebelum ia melontarkan kata-kata. "Kak Laga memang selalu salah paham. Harusnya tanyakan dulu, jangan langsung mengambil kesimpulan."

     Jantung Erlaga langsung tersentak, kata-kata Syafina barusan benar-benar teguran keras untuknya yang pada dasarnya sering melakukan kesalahpahaman.

     "Kakak tahu, Kakak salah. Untuk itu kakak ingin minta maaf pada kamu juga Dalfas." Erlaga tampak sangat menyesal. Kata-katanya kini sedikit luwes. Sebutan kakak kembali disematkan.

     "Iya... aku maafkan. Tapi, sayangnya Dalfas sudah kembali ke Magelang untuk menjalankan tugas pendidikan Akmil." Syafina menjawab tapi sikapnya masih datar.

     Hal itu membuat Erlaga sedih. Tapi, ia bertekad akan mengembalikan senyuman ramah gadis cantik di hadapannya, secepatnya.

     "Sayang sekali, Dalfas sudah pergi. Tapi... tidak apa-apa. Kakak bisa menghubunginya via ponsel. Kamu bisa memberikan nomernya untuk kakak," ucap Erlaga.

     Syafina mengangguk tipis, lalu tangannya memegang sedotan, meneguk sisa air lemon di gelasnya.

     Kecanggungan kembali tercipta. Erlaga tidak bisa berkata banyak lagi selain mengajaknya untuk pulang. Kali ini, ia belum berhasil membuat gadisnya tersenyum ramah seperti dulu. Dan sepertinya perjuangan harus segera dimulai. Ia akan mendapatkan hati Syafina kembali.

     "Oh iya, liontin ini sebaiknya kita satukan kembali. Kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa simpan keduanya menjadi utuh," ucap Erlaga sebelum ia mengajak Syafina kembali.

     Syafina menatap liontin itu yang kini jadi utuh kembali. Hatinya bergetar, ketika liontin itu benar-benar kembali menyatu.

NB; Kita bikin Erlaga tegang dulu ya dengan sikap Syafina yang masih datar. Biar Erlaga benar-benar berjuang.... ☺☺☺

1
Ryan Dynaz
👍💜
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Amang Awang
nahkan kejadian! siap-siap dech itu orok ogah sama bapaknya🤭
Amang Awang
maka dari itu saya tidak mau jadi istri seorang abdi negara, serem soalnya, waktu itu saya masih SMP kakak saya suaminya seorang abdi negara, dan abang ipar saya harus satgas di Timika selama 1½ tahun waktu itu kakak saya hamil kalau gk salam 6bulan, waktu abang ipar saya pulang satgas yang tergolong luar dari waktu yang ditentukan jadi 2tahun gitu penugasannya, ponakan saya malah gk mau sama bapaknya karena gk kenal, lebih mau sama saya dan sampai sekarang anak udah SD kelas 1 masih ogah dekat sama bapaknya, malah lebih dekat sama pacar saya
Lina Zascia Amandia: Sudah tuntutan negara Kak. Dan memang seorang istri tentara harus siap mental jika ditinggal jauh2 sama suaminya. Kalo yg gak siap, bisa2 tidak bisa menahan rindu. Hhehehe....
total 3 replies
Yanti Gunawan
Terimakasih banyak" othor sayang😍 tetap semangattt membuat karya baru 😍
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak... 🥰🥰🥰🥰
total 3 replies
Ariany Sudjana
selalu suka dengan cerita kehidupan tentara, karena saya juga anak tentara, jadi ingat masa kecil dulu. ditunggu karya selanjutnya yah kak 😄
Lina Zascia Amandia: Wahhh... makasih banyak ya Kak udah suka karya2 saya khususnya genre aparat. Senang sekali karya saya dibaca Reader yg ternyata anak seorang Tentara. Sukses sllu buat Kaka...
total 1 replies
eny agustina
dari semua cerita sang abdi negara yang yang gak.sampai punya anak cerita kapten yoga.namun semua berakhir bahagia makasih ceritanya sangat bagus ku baca dari anak tersembunyi sang kapten 😍😍😍😍
eny agustina: 😍😍😍😍😍😍
total 2 replies
Marya Dina
kak gk spill
gmana kabar dista ma keponakan itu.udh berubah belum
Marya Dina: ok d tunggu kak
total 4 replies
Marya Dina
d tunggu karya apik mu thor.ttp semangatt
semoga sukses,,dan trimaksih udh menghadirkan karya apik
Esther
Bahagia selalu Erlaga sekeluarga😍
Terima kasih thor
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak.. 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nar Sih
yah...kok udah habis kak pdhl msih blm puas bca nya ,semagat kak ending yg bagus banget 👍pelabuhan terahir nya erlga cuma fina dan syaga 🥰🥰
Lina Zascia Amandia: Iya Kak.... sudah bahagia.... nantikan kisah terbarunya ya... masih mencari idenya tapi. 🤦‍♀️
total 1 replies
darsih
d tunggu kelanjutan nya ya ka kosah selanjut nya
Lina Zascia Amandia: Makasih.... nantikan ya Kak...
total 1 replies
Ebhot Dinni
ceritanya bagus
Lina Zascia Amandia: Makasih byk Kak... nantikan kisah selanjutnya ya... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nar Sih
semakin di bikin baper nih sama laga dan fina yg tmbh romantis☺️🥰
Lina Zascia Amandia: Iya Kak... smg terhibur....
total 1 replies
Ayudya
makasi kak atas semua karya mu.tak tunggu karya baru mu dengan komplik yg ringan dan kocak🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak. Nantikan kisah terbaru ya.
total 1 replies
Supryatin 123
akhir yg bahagia ❤️❤️❤️d tunggu bonchapnya 🤭🤭🤭n d tunggu juga karya barunya 💪💪❤️❤️j
Supryatin 123: sama2 thor selamat berpuasa
total 2 replies
Arin
/Heart/
Pitria Pipih
selalu settia menunggu karya barunya 😍
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Kasandra Kasandra
lanjut karya baru kk
Patrick Khan
aku suka 😍😍😍
Patrick Khan
Yaaaaa udah tamat.. q tunggu karyabr nya kak😍😍😍trimakasih
Patrick Khan: lope lope😍😍😍😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!