NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Dari Dendam

Lahir Kembali Dari Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 8: Undangan Sang Mawar Hitam

Udara di ruang kerja kediaman Lane masih terasa berat meski Julian von Ravenstein telah lama pergi. Bau parfum mawar yang ditinggalkan pemuda itu—manis namun memuakkan seperti bau bunga di pemakaman—masih tertinggal di udara. Elara berdiri mematung di tengah ruangan, tangannya meremas surat undangan dengan segel mawar hitam yang kini sudah hancur.

"Dia bukan sekadar utusan," gumam Elara, suaranya hampir menyerupai bisikan. "Julian... matanya tidak memiliki emosi. Dia adalah boneka yang sempurna bagi Isabella."

Alaric melangkah mendekati Elara, tangannya yang besar dan hangat mendarat di bahu Elara, memberikan jangkar emosi yang sangat ia butuhkan. "Ravenstein tidak pernah mengirim pesan tanpa tujuan ganda. Undangan ini adalah sebuah tes. Isabella ingin melihat apakah kau cukup berani untuk berdiri di hadapannya, atau apakah kau hanya seekor kelinci yang kebetulan memiliki taring karena bantuan dariku."

Elara berbalik, menatap Alaric dengan mata pink-nya yang membara karena tekad. "Aku tidak akan menjadi kelinci siapa pun, Alaric. Jika dia ingin teh, aku akan memberinya teh. Tapi dia harus tahu bahwa teh yang dia sajikan tidak akan pernah bisa membunuhku untuk kedua kalinya."

Alaric terdiam, matanya menyipit. "Membunuhmu untuk kedua kalinya? Elara... kau semakin sering menyebutkan hal itu."

Elara menarik napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa lagi menyembunyikan segalanya dari Alaric, pria yang sepertinya sudah tahu lebih banyak daripada yang ia akui. "Di kehidupan sebelumnya, Alaric... bukan hanya Adrian yang menghancurkanku. Adrian adalah pedangnya, tapi Isabella adalah otaknya. Racun yang membakar paru-paruku malam itu... aku baru menyadari sekarang bahwa racun itu berasal dari laboratorium Ravenstein."

Alaric mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Aura haus darah yang begitu pekat mendadak memenuhi ruangan, membuat lilin-lilin di meja kerja bergoyang seolah ditiup angin kencang. "Aku bersumpah, Elara... kali ini, dia tidak akan sempat menyentuh cangkirmu."

Seminggu kemudian, sebuah kereta kuda hitam dengan lambang keluarga Lane bergerak perlahan menyusuri jalanan berbatu menuju wilayah Barat, tempat kediaman utama Ravenstein berdiri. Bangunan itu lebih menyerupai benteng pertahanan daripada rumah tinggal; dinding-dindingnya tinggi dan berwarna kelabu tua, ditumbuhi oleh tanaman merambat berduri yang mekar dengan bunga mawar berwarna merah gelap cenderung hitam.

Elara duduk di dalam kereta, mengenakan gaun sutra berwarna hitam dengan kerah tinggi yang dihiasi renda ungu tua. Penampilannya sangat kontras dengan rambut putihnya yang dibiarkan terurai panjang, memberikan kesan misterius sekaligus elegan. Di sampingnya, Alaric duduk diam, mengenakan seragam militer lengkap tanpa medali, seolah ia sedang bersiap untuk masuk ke medan perang daripada pesta minum teh.

"Kau tidak perlu masuk jika merasa tidak nyaman," ucap Alaric pelan saat kereta mulai memasuki gerbang utama.

"Tidak," sahut Elara tegas. "Aku harus melihat wajahnya. Aku harus tahu seberapa besar kebenciannya padaku hingga ia tega merancang kehancuranku sejauh itu."

Pintu kereta terbuka, dan mereka disambut oleh barisan pelayan yang mengenakan masker kain hitam yang menutupi bagian bawah wajah mereka—sebuah tradisi aneh keluarga Ravenstein yang dikenal sangat terobsesi dengan kebersihan dan kerahasiaan.

Mereka dipandu menuju taman belakang, sebuah labirin mawar yang sangat luas. Di tengah labirin itu terdapat sebuah paviliun kaca yang megah. Di dalamnya, seorang wanita duduk dengan posisi punggung yang sangat tegak. Dia mengenakan gaun berwarna merah darah dengan tudung jaring hitam yang menutupi sebagian wajahnya.

Isabella von Ravenstein.

Wanita itu tampak tidak menua sama sekali. Kulitnya sepucat porselen, dan meski usianya seharusnya sudah memasuki kepala lima, ia tampak seperti wanita di awal tiga puluhan. Hanya matanya yang berwarna abu-abu dingin yang menunjukkan bahwa ia telah menyaksikan terlalu banyak kematian.

"Nona Elara Lane. Dan... keponakanku yang tersayang, Grand Duke Alaric," suara Isabella lembut, namun memiliki daya tekan yang luar biasa. "Terima kasih sudah memenuhi undangan seorang wanita tua ini."

Alaric menarik kursi untuk Elara sebelum ia sendiri duduk dengan waspada. "Berhentilah bersandiwara, Bibi. Kau tidak pernah merasa tua, dan kau tidak pernah mengundang siapa pun hanya untuk sekadar minum teh."

Isabella tertawa pelan, suaranya seperti denting kaca yang pecah. "Kau selalu begitu kasar, Alaric. Tapi mungkin itulah yang disukai Nona Lane darimu. Kepolosan yang dibalut kekejaman."

Isabella menuangkan teh ke dalam cangkir porselen yang sangat tipis. Uapnya mengepul, membawa aroma melati yang dicampur dengan sesuatu yang sedikit... tajam.

"Nona Elara," Isabella mengalihkan pandangannya pada Elara. "Aku harus mengakui, aku terkejut. Adrian adalah pion yang kupilih karena ia tampak menjanjikan. Tapi kau menghancurkannya dalam waktu kurang dari sebulan. Bagaimana rasanya? Menghancurkan pria yang pernah kau cintai?"

Elara mengambil cangkir teh itu, memutarnya perlahan, namun tidak meminumnya. "Rasanya sama seperti membersihkan debu di atas meja, Nyonya Isabella. Awalnya menyebalkan, tapi setelah bersih, kau akan merasa lebih segar."

Mata abu-abu Isabella berkilat. "Jawaban yang menarik. Tapi kau tahu, Elara... Pelabuhan Utara adalah aset yang terlalu besar untuk dikelola oleh seorang wanita muda sepertimu. Keluarga Ravenstein memiliki sumber daya untuk mengembangkannya sepuluh kali lipat lebih cepat daripada keluarga Lane."

"Aku tidak meragukan kemampuan Ravenstein untuk mengeksploitasi sesuatu," balas Elara tenang. "Tapi pelabuhan itu adalah warisan ibuku. Dan aku tidak punya niat untuk menyerahkannya pada siapa pun, terutama pada seseorang yang mengirim Julian hanya untuk mengancamku."

Isabella bersandar, menyesap tehnya dengan anggun. "Julian adalah anak yang impulsif. Tapi pesannya benar. Dunia ini kejam, Elara. Adrian hanyalah kerikil kecil. Jika kau terus menggenggam pelabuhan itu, kau akan berhadapan dengan tembok yang tidak bisa kau hancurkan hanya dengan kecantikanmu."

"Aku tidak mengandalkan kecantikanku," Elara mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang pink menatap tajam ke arah Isabella. "Aku mengandalkan kenyataan bahwa aku tahu siapa kau sebenarnya, Isabella. Aku tahu tentang laboratorium di bawah tanah ini. Aku tahu tentang eksperimen racun yang kau lakukan. Dan aku tahu... bahwa kau adalah orang yang memberikan 'hadiah' terakhir pada ibuku sepuluh tahun lalu."

Suasana di paviliun itu mendadak menjadi sangat dingin. Alaric meletakkan tangannya di atas meja, siap untuk merobohkan paviliun itu jika perlu. Isabella terdiam sejenak, senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi yang sangat datar.

"Kau tahu terlalu banyak untuk ukuran seseorang yang seharusnya sudah mati," bisik Isabella.

"Itu karena aku menolak untuk tetap mati," sahut Elara.

Isabella tiba-tiba berdiri, membuat kursi di belakangnya berderit. "Teh ini sudah dingin. Julian!"

Julian muncul dari balik tirai bunga mawar, membawa sebuah nampan berisi sebuah kotak kecil. Isabella mengambil kotak itu dan meletakkannya di depan Elara.

"Anggap ini sebagai peringatan terakhir," ucap Isabella. "Di dalam kotak ini ada sebuah kunci. Kunci menuju rumah aman di mana ayahmu, Marquess Lane, sering menghabiskan waktunya. Jika kau tidak menandatangani surat pengalihan hak guna pelabuhan itu dalam tiga hari, rumah itu akan menjadi makam baginya. Ayahmu sangat rapuh, Elara. Apakah kau ingin kehilangan orang tua kedua dalam satu kehidupan?"

Elara merasakan kemarahan yang luar biasa membuncah di dadanya. Namun, sebelum ia bisa berteriak, Alaric sudah berdiri dan menghancurkan meja kaca di antara mereka dengan satu pukulan. Kaca-kaca berhamburan, namun tidak ada satu pun yang mengenai Elara karena Alaric melindunginya dengan jubahnya.

"Cukup, Isabella!" geram Alaric. "Kau pikir kau bisa mengancam Marquess Lane di bawah pengawasanku? Aku telah menempatkan satu resimen ksatria bayangan di sekitar kediaman Lane sejak Julian datang. Jika ada satu rambut pun yang jatuh dari kepala Marquess, aku akan memastikan Ravenstein dihapus dari peta kekaisaran sebelum matahari terbenam."

Isabella tidak tampak takut. Ia justru tersenyum sinis. "Sangat protektif. Tapi Alaric, kau tidak bisa berada di dua tempat sekaligus. Elara adalah target utamaku sekarang. Karena dia... dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Dia mengingat apa yang tidak seharusnya diingat."

Isabella menatap Elara dengan pandangan yang penuh nafsu akan kekuasaan. "Kita akan bertemu lagi di Pesta Musim Dingin Kekaisaran, Elara. Di sana, di depan Kaisar, kita akan melihat siapa yang akan tetap berdiri."

Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi. Elara bersandar di dada Alaric, membiarkan pria itu mendekapnya erat. Tubuhnya sedikit bergetar, bukan karena takut pada Isabella, tapi karena rasa sakit saat ayahnya dijadikan alat ancaman.

"Dia tahu, Alaric," bisik Elara. "Dia tahu aku bereinkarnasi."

Alaric mencium puncak kepala Elara. "Dia tidak tahu secara pasti, dia hanya menebak karena perubahan perilakumu yang drastis. Dia merasa terancam karena dia tidak lagi bisa memprediksi langkahmu."

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Kita menyerang lebih dulu," Alaric menatap jalanan yang gelap di depan mereka. "Isabella sangat bergantung pada dukungan klan-klan kecil di Barat. Jika kita memutus aliran dana mereka, dia akan terisolasi. Dan Elara... aku punya rahasia yang tidak diketahui Isabella."

"Apa itu?"

"Isabella bukan satu-satunya yang memiliki laboratorium. Aku telah melacak asal-usul racun yang membunuhmu dulu. Dan aku telah menemukan penawarnya. Aku akan memastikan kau kebal terhadap segala bentuk serangan kimia darinya."

Elara menatap Alaric dengan penuh rasa terima kasih. "Kenapa kau melakukan semua ini untukku? Sejak awal... kenapa kau begitu mencintaiku, Alaric? Di kehidupan sebelumnya, aku bahkan tidak pernah memberimu kesempatan."

Alaric menghentikan kereta kuda itu di tengah jalan yang sepi. Ia menangkup wajah Elara dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap pipi Elara yang pucat.

"Karena di setiap kehidupan, Elara... kau adalah satu-satunya cahaya yang bisa kulihat. Aku terlahir dengan kutukan untuk mengingat semua kehidupan yang telah kulalui. Aku telah melihatmu mati berkali-kali, dan aku telah bersumpah pada jiwaku sendiri, bahwa di kehidupan ini, aku akan menjadi dinding yang menghalangi maut untuk menjemputmu."

Alaric mendekatkan wajahnya, dan untuk pertama kalinya, ia mencium bibir Elara. Sebuah ciuman yang terasa seperti janji darah—pahit, manis, dan penuh dengan rasa haus akan pembalasan.

Malam itu, di bawah kesaksian bintang-bintang, Elara Lane menyadari bahwa perang ini bukan lagi sekadar tentang dendam pribadinya. Ini adalah perang melawan takdir yang telah mempermainkan mereka selama berabad-abad. Dan kali ini, ia akan menang.

1
Tamyst G
Semangattt
Kustri
pemuda cantik?
qu membayangkan opa"😂
Kustri
alaric jg terlahir kembali
Kustri
tulisan'a rapi, enak dibaca
lanjuuut
Tamyst G: Terimakasih atas supportnya kak
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔
Tamyst G: ini konsep alternate timeline, jadi 2024 versi dunia yang berbeda🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!